Solo-Trip Pekalongan & Pemalang (2-3 Januari 2017)

Setelah sekian lama ingin menulis kembali di blog ini, akhirnya ada juga sebuah ide tentang apa yang akan ditulis. Daripada tak ada isinya, kenapa tak saya ceritakan saja perjalanan iseng saya di awal Januari 2017 lalu?

Okay. Ini dia.

Ini bukan cerita jalan-jalan yang waw keren bingits seperti yang ditulis banyak travel blogger di luar sana. Sejak awal prosesnya sudah aneh, dan terasa seperti tanpa arah. Walau demikian, di akhir perjalanan saya merasakan ada kepuasan.

Awalnya dari sini. Sepanjang pekan terakhir Desember 2016 itu, saya sedang disibukkan dengan revisi tesis, setelah sukses (?) menjalani ujian sidang magister tanggal 22 Desember 2016. Biasanya saya mengerjakan revisi tesis di tempat kerja, berhubung kegiatan belajar-mengajar sedang vakum. Beberapa teman yang biasa berdiskusi mengobrol di kantor sedang pulang kampung dan ada juga yang sedang jalan-jalan, jadinya kantor agak sepi dan saya bisa bekerja dengan tenang. Tapi proses pengerjaan revisi tesis berlangsung sedemikian membosankan dan saya menjadi suntuk. Harus mencari hiburan, tapi apa? Saat itulah terpikir, kenapa tak pergi jalan-jalan saja di awal tahun nanti?

Benar juga, saya butuh jalan-jalan. Pertanyaan berikutnya, ke mana? Bandung? Males banget lah ke Bandung di musim liburan seperti saat itu. Ramai, sumpek. Ke tempat yang agak jauh dan rasa-rasanya tak terlalu ramai saja.

Pekalongan melintas di benak. Meskipun berada di Jawa Tengah, tapi hitungannya tak begitu jauh dari Jakarta, hanya sekitar 4-5 jam perjalanan dengan kereta api. Tiket kelas ekonomi juga relatif murah, kalau dibandingkan dengan ongkos ke Bandung ya secara real jelas lebih murah ke Pekalongan. Tanpa pikir panjang saya mencari ketersediaan tiket di beberapa aplikasi online. Ternyata kereta ekonomi hampir semuanya penuh, kalaupun ada ya di jam yang tidak menyenangkan untuk sebuah perjalanan dadakan. Namun, rupanya aplikasi T****e***a menyediakan fasilitas waiting list tiket. Jadi tetap bisa pesan walaupun kereta penuh. Kalau misalnya terjadi pembatalan tiket oleh orang lain, otomatis penghuni waiting list mendapat kesempatan untuk memesan tiket.

Saya ambil saja satu pesanan tiket waiting list. Saat itu 28 Desember 2016. Tiket yang saya pesan untuk tanggal 1 Januari jam 23.45. Sengaja pilih jam berangkat malam agar sampai di Pekalongan saat subuh dan bisa langsung main.

Awalnya saya agak pesimis, tak yakin akan dapat tiket dengan cara begini. Jadi saya tak berharap banyak. Sudah pasrah saja, palingan jalan-jalannya batal. Gambling.

Tapi ternyata beberapa jam kemudian saya mendapat notifikasi bahwa pemesanan tiket saya berhasil. Jadinya saya malah pusing sendiri. “Lha beneran ini mau ke Pekalongan? Terus saya ntar ngapain di sana?” pikir saya. Haha.

Batalin aja gitu tiketnya?

No! I need vacation!

Selama seharian itu pikiran bolak-balik, pergi-tidak-pergi-tidak. Sambil lanjut revisi tesis.

Besoknya saya mencari informasi tentang Pekalongan, tempat wisatanya dan juga tempat menginap. Sudah terbayang beberapa hal yang bisa saya lakukan di sana nantinya. Sekalian menentukan waktu dan cara pulangnya. Kalau jadi pergi, masa’ cuma sehari? Kalau 2 hari, bisa sehari wisata kota Pekalongan dan sehari laginya wisata alam di kabupaten Pekalongan. Tapi belakangan saya malah ingatnya Pemalang. Pekalongan ini sebelahan dengan Pemalang, dan seorang teman sedang pulang ke Pemalang. Rasanya bagus juga kalau sekalian jalan-jalan ke Pemalang. G, teman yang cah Pemalang itu, bisa sekalian diajak ๐Ÿ˜.

Saya akhirnya memesan tiket balik ke Jakarta melalui stasiun Pemalang serta mengubah rencana dari yang tadinya hanya kota & kabupaten Pekalongan, sekarang jadi kota Pekalongan & kabupaten Pemalang. Dapat tiket berangkat balik dari Pemalang tanggal 3 Januari 2017 jam 22.50. Saya juga sudah cari hotel murah di Pekalongan, ketemu hotel 300ribuan per kamar per malam yang didiskon sehingga saya hanya perlu bayar 120ribu saja semalam. Asyik ๐Ÿ˜„.

Izin kerja? Ga usah ah, nanti saja diatur. Saya juga ga bilang ke teman-teman kalau mau jalan-jalan. Selain niatnya toh mau jalan-jalan sendirian, saya juga malas kalau nanti ada yang cia cie cia cie.

“Cieeee ke Pemalang!”

Hmpf.

Fix. Berangkat dari Jakarta 1 Januari 2017 jam 23.45. Balik dari Pemalang tanggal 3 Januari 2017 jam 22.50. Artinya, saya bisa jalan-jalan tanggal 2 di Pekalongan, tanggal 3 di Pemalang.

Ngapain aja nanti di Pekalongan? Main aja di kotanya ๐Ÿค”. Ngapain aja ntar di Pemalang? Gak tau, nanti tanya si G aja, haha ๐Ÿ˜…

Dan kemudian tahun pun berganti.

1 Januari 2017

Sepanjang siang saya menyiapkan kamera, packing, dan menyelesaikan beberapa bagian revisi tesis, agar setelah kembali ke Jakarta tak terlalu dipusingkan kembali oleh tesis ini. Pamit ke kakak dan sepupu. Malamnya saya berangkat.

Di kereta, seperti biasanya saya akses dunia online via HP. Antara lain ketemu sebuah gambar yang di-share teman. Tentang kesendirian.

whatsapp-image-2017-01-03-at-21-14-29

Saya agak jarang tertohok oleh kata-kata motivasi dari Facebook. Tapi yang ini lumayan membuat saya berpikir ulang tentang impian-impian masa depan, dan perjalanan kecil yang sedang saya lakukan.

Lalu saya tertidur.

2 Januari 2017

Jam 5 pagi baru tiba di stasiun Pekalongan. Bersih-bersih badan sedikit, lalu shalat subuh. Sekitar jam 6 saya keluar stasiun dan mencari warung untuk sarapan. Jadinya beli bubur ayam saja. Selesai makan, lanjut naik angkot ke … nah lho, mati kau Ed, mau ke mana? Wkwk. Tapi angkotnya ke arah pantai. Ya sudah saya ke pantai. Turun angkot langsung masuk ke Tempat Pelelangan Ikan, lihat-lihat proses bongkar ikan dari kapal nelayan. Karena saya kuliah di Ilmu Kelautan UI, saya sedikit tahu bahwa Pekalongan merupakan salah satu sentra perikanan yang baik di Pantura. Lihat suasana di sana, sepertinya memang pengelolaan pelabuhan ikannya bagus. Mau sekalian ajak orang ngobrol, tapi pada sibuk semua di sana, ya sudah saya lihat-lihat saja sambil memotret.

Puas di TPI, pindah ke taman wisata bahari di sebelah TPI itu. Bayar tiket 3000 lalu, hm, seperti sudah diduga pantainya biasa aja. Pantura sih ya. Sepanjang Pantura adalah area sibuk sehingga pantainya relatif tercemar. Dan laut Jawa bukan merupakan laut terbuka, jadi ombaknya tidak terlalu besar. Sangat berbeda dengan pantai selatan, seperti di pantai Menganti, Kebumen, yang eksotis. Tapi setidaknya di taman itu ada spot enak buat duduk-duduk menikmati angin pagi, sambil lihat-lihat beberapa warga yang sedang memancing.

Di dalam kompleks wisata bahari itu juga ada semacam museum perikanan. Tempat itu memang dikelola kementrian kelautan dan perikanan, jadi wajar lah ya. Masuk ke dalamnya bayar lagi 4 ribu. Di lantai satu ada beberapa aquarium berisi berbagai jenis ikan. Di lantai dua ditampilkan beberapa jenis kapal dan alat tangkap ikan di laut.

Udahan ah, lanjut. Saat itu sekitar jam 09.30. Saya mau ke museum batik. Naik angkot dari pelabuhan dan nantinya langsung turun di depan museumnya, jadi cuma sekali naik angkot. Sebelum masuk ke museum, saya duduk-duduk dulu di taman depan museum. Jalanan di sana tidak terlalu ramai, dan satu hal yang saya rasa menarik adalah kebiasaan beberapa warga yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Bagus. Semoga pemerintah daerahnya cukup pintar. Pemerintah yang pintar akan membuat warganya tetap senang bersepeda, bukan cuma membangun fasilitas untuk kendaraan bermotor.

Sambil nongkrong saya memesan es cendol. Mas penjual es cendolnya ikutan duduk di kursi taman, mengajak saya mengobrol. Topiknya tentang batik. Wajar, slogan kota ini kan “Pekalongan Kota Batik”. Dari mas itu saya baru tahu, seorang sosialita kenamaan adalah orang Pekalongan dan dia memiliki usaha butik batik di Jakarta. Ia sering datang ke Pekalongan untuk mengambil barang jualan butiknya. Mas penjual cendol juga menunjukkan tempat-tempat untuk mencari batik yang bagus dan murah di Pekalongan.

Saya kemudian masuk ke museum batik. Tak banyak pengunjung hari itu. Karena saya datang sendiri, tidak diberi guide oleh pihak museum, padahal kalau saya baca di beberapa blog katanya bakal dikasih guide. Yasudah tak apa. Isi museum cukup menarik karena memaparkan sejarah dan latar belakang sebuah motif batik, juga menunjukkan ciri khusus batik Pekalongan dibandingkan dengan batik dari daerah lain. Saya aslinya tak terlalu suka batik, tapi apa yang ditampilkan di museum itu menarik.

Puas di museum, saya kemudian berencana ke alun-alun. Shalat zuhur sambil mendinginkan badan di masjid alun-alun, kemudian ke pasar batik Setono. Ke pasarnya naik becak. Agak mahal memang, tapi saya hitung sebagai sebuah upaya berbagi rezeki ke bapak pengayuh becaknya. Di pasar yang mengingatkan saya pada pasar Aua Kuniang di Bukiktinggi itu saya membeli beberapa pakaian batik untuk dipakai sehari-hari oleh keponakan-keponakan saya, baik yang di Jakarta maupun yang di kampung halaman.

Selesai belanja batik, kemudian saya ke hotel. Hotelnya di depan stasiun Pekalongan, jadi tak sulit dicari. Tidur-tiduran, lalu mandi.

Sorenya main lagi aja ke pantai. Semoga dapat sunset. Tapi ternyata cuacanya tidak bagus. Sayang sekali. Saya kembali ke alun-alun untuk shalat maghrib dan makan malam, dan pulang ke hotel.

Di hotel merencanakan agenda di Pemalang. Setelah beberapa lama googling, saya menemukan sebuah tempat yang sepertinya menarik dan mudah dijangkau: jurug (curug/air terjun) Bengkawah. Terletak di kecamatan Randudongkal, kabupaten Pemalang. Baiklah, besok kita ke sana.

Tadinya mau menghubungi G juga, tapi akhirnya ga jadi. Mau bilang apa, mau ngajak dia ikut? Yang bener lah, jalan berdua dengan seorang perempuan. Saya memang oke saja (dan sering) jalan-jalan bareng beberapa perempuan, tapi sejauh ini tak pernah jalannya berdua saja.

Memang ada keinginan jalan bersama G, tapi serasa ada yang berbisik. “Jangan!”

Teringat gambar dari akun Bilal Phillips itu tadi.

Dan kalau cuma sekedar bilang ke dia bahwa saya mau ke Pemalang, ya besok sajalah bilangnya. Kembali ke judul awal perjalanan ini: solo travelling.

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera tertidur.

3 Januari 2017.

Shalat subuh lalu mandi. Dan segera check-out dari hotel. Mau cari angkutan untuk ke Pemalang, tanya-tanya orang kok ya simpang siur—tapi sepertinya karena saya salah nanya. Saya tanya “cara ke terminal Pekalongan yang ada bis ke Pemalang”, karena tadinya mengira bis ke Pemalang bisa dinaiki di terminal Pekalongan. Akhirnya seorang polisi menunjukkan tempat untuk menunggu bis arah ke Pemalang. Tak begitu jauh dari stasiun Pekalongan.

Yang saya naiki juga bukan bis ke Pemalang kota, melainkan bis kecil yang tujuannya ke Comal. Kondektur bisnya bilang silakan naik kalau ke Pemalang, nanti dicarikan bis sambungannya. Bayar Rp15.000 dan ternyata uang segitu sudah termasuk ongkos bis Pekalongan – Comal dan Comal – Pemalang. Baguslah.

Di Pemalang saya turun di tempat bernama Sirandu. Belakangan baru saya tahu kalau tempat itu adalah stadion, tepatnya stadion Mochtar Sirandu. Di sana ada bis dari Tegal arah ke Moga, dan kondekturnya bilang lewat Randudongkal. Jadi saya naik. Perjalanannya tidak jauh, kurang lebih sejam sudah sampai di Randudongkal. Dan pemandangan sepanjang perjalanannya indah.

Jam 9 pagi bis yang saya tumpangi sudah tiba di Randudongkal.

Ke sana Pemalang, ke sini Pemalang juga.

Ke sana Pemalang, ke sini Pemalang juga.

Sarapan dulu di pasar Randudongkal. Ada makanan sejenis lontong yang enak di sana. Selesai sarapan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki ke jurug Bengkawah. Menurut cerita-cerita di berbagai blog, memang jurugnya tidak jauh dari pasar Randudongkal itu. Melewati rumah-rumah warga desa dan setelah itu masuk ke area persawahan.

Waktu melintas di desa, ada seorang bapak yang bicara dalam bahasa Jawa dan bahasa Jawanya saya tidak mengerti, mungkin ngapak ala Pemalangan. Tapi sedikit banyak bisa menangkap maksud si bapak (karena ada beberapa kosa kata dalam bahasa Indonesia), bahwa beberapa hari lalu ada orang-orang yang pacaran ke sana dan ada musibah.

Waktu melintasi persawahan ada cerita lain lagi. Seorang ibu saya sapa dan saya tanya arah ke jurug, lalu beliau menunjuk dengan tangannya. Ia kemudian berbicara dalam bahasa Jawa yang juga terdengar aneh. Karena tak paham, saya bilang, “Maaf bu, saya tak mengerti bahasa Jawa.” Si ibunya kemudian bilang, “Oooh. Gini lho, masnya kok sendirian aja.”

Haish ๐Ÿ˜ค ๐Ÿ™„

Gue emang jomblo, trus nape? Mau jadiin gue menantu? Wkwk. Tentu saja saya tak bilang begitu ke ibunya. Cuma ketawa kecil aja. Biterhamend. Bibir tertawa hati mendangis (hilangkan huruf ‘d’ yang memang tak berguna di sini).

Tapi pemandangan sawahnya cantik. Banget. Seperti kamu. Di daerah yang dekat jurug, area persawahannya menurun membentuk lembah. Di ufuk tampak barisan bebukitan yang entah namanya apa. Saya tak tahu gunung Slamet ada di mana, tapi seharusnya kawasan persawahan itu berada di sekitar gunung Slamet. Langit biru, tanaman padi di sawah yang dalam proses berubah dari hijau ke kuning, serta bukit hijau yang sedikit memantulkan kemilau mentari sungguh menyenangkan untuk dilihat. Beberapa kali saya berhenti untuk memotret. Kalimat syukur tak lupa terucap.

Saya tiba di area jurug dengan ditemani seorang warga lokal. Si mas ini bercerita, sekitar 2 hari sebelum saya datang itu ada orang-orang yang datang ke jurug, dan terjadi bencana. Ada dua orang yang hanyut dan diketemukan meninggal. Jadi area jurug itu sebenarnya ditutup, tidak bisa dikunjungi. Tapi kalau mau sekedar lihat masih boleh, katanya. Saat tiba di jurugnya memang ada garis polisi yang menutup akses turun ke jurug dan sungainya, jadi hanya bisa lihat dari jauh. Setelah mengantarkan sampai batas garis polisi itu, saya kasih si mas sedikit uang rokok dan dia kemudian pergi, sedangkan saya mencoba menikmati suasana dari batas garis polisi. Camera on.

Rupanya di air terjun ada dua warga yang sedang memancing. Ah, akhirnya saya nekad turun dan mengabaikan garis polisi. Saya sapa salah satu bapak pemancing, dan mengajaknya mengobrol. Si bapak yang ramah ini kemudian bercerita tentang kejadian dua hari sebelumnya itu, dan beberapa saat kemudian bapak pemancing yang satunya mendekat dan nimbrung ikut bercerita. Jadi, si pengunjung yang jadi korban itu datang bersama pacarnya. Bersama beberapa temannya juga. Dan juga datang dari Jakarta, dapat info tentang jurug Bengkawah dari media sosial. Nah, si bapak sebagai warga lokal dan sudah biasa memancing di sana mengingatkan untuk tidak main di air jurug karena berbahaya, terlebih setelah hujan turun sepanjang malam. Tapi pengunjung ini ngeyel. Dan yah, ending-nya seperti tadi sudah diceritakan. Jenazah korban hanyut hingga sekitar 1 km dari jurug. Padahal kalau saya lihat, sungainya tak terlalu besar, tapi setelah memperhatikan dinding tebing sekeliling jurug, kelihatan jejak batas tinggi air jika debit sungai sedang besar. Si bapaknya yang menunjukkan pada saya batas itu. Memang bisa menghanyutkan.

Sekalian beliau berpesan kepada saya, kalau sedang berada di tempat orang lain, ada kewajiban untuk menghormati tuan rumah. Selalu jaga tata krama. Dan jangan sok tahu, ngeyel. Nah, walaupun etika seperti itu sudah saya ketahui sejak kecil, saat diingatkan kembali oleh si bapak, saya merasa senang.

Saya suka air terjun. “Every teardrop is a waterfall”, kata Coldplay. Saya menikmati deru air di jurug. Menikmati ketenangannya. Kalau dilihat-lihat, jurug ini bentuknya mirip di Amazon. Tentu saja saya tak pernah ke Amazon. Lha terus kenapa bilang suasananya mirip di Amazon? Hehe, biarin. Suatu saat ingin kembali lagi ke tempat ini. Bersama istri ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜๐Ÿ˜š. Ya nggak harus istri juga sih, bersama teman-teman juga seru ๐Ÿ˜…

Setelah puas memotret dan menikmati pemandangan, saya pamitan ke bapak-bapak pemancing, dan beranjak meninggalkan jurug. Menikmati kembali area persawahan, hingga kembali tiba di terminal Randudongkal. Istirahat sejenak sekalian shalat Zuhur di masjid dekat terminal. Lalu naik ke bis, kembali ke kota Pemalang.

Di bis yang ngetem lumayan lama itu, saya sekalian memikirkan mau main ke mana nanti di kota. Palingan ke pantai Widuri sih, yang dekat.

Saya putuskan menghubungi G via WhatsApp. Tanya cara ke pantai Widuri. Eh, dia (tampaknya sambil heran kenapa kok saya tiba-tiba ada di Pemalang) malah bilang pantainya tak ada bagus-bagusnya. Yah …

Saat ditanya ke mana alternatif lain yang bagus dikunjungi sambil nunggu kereta untuk balik ke Jakarta, G bilang gak ada juga. Yaudahlah ke Widuri aja, naik ojek, katanya. Lha piye ๐Ÿ™„๐Ÿ˜‘

Dan yah, demikianlah jadinya. Jam 3 sore tiba di kota Pemalang, lalu saya makan siang Nasi Grombyang di alun-alun, dilanjutkan shalat Ashar di masjid sebelah alun-alun. Selesai shalat, saya lihat-lihat durian yang dijual di sekitar alun-alun sejenak. Tadinya mau beli, tapi ternyata mahal. Batal deh.

Trus tanya beberapa orang gimana cara ke Widuri. Katanya cuma ada moda transportasi becak. Yaudah deh, naik becak lagi aja, seperti di Pekalongan. Dan si G ternyata benar, pantainya itu tidak bagus. Masih agak mendingan yang di Pekalongan kemarin. Yang diceritakan orang di internet (banyak yang bilang bagus) sepertinya area pantai yang masuk ke Widuri Waterpark, sebuah taman bermain di sana. Masuk ke sana bayar. Saya sih ke bagian pantai yang gratisnya wkwk.

Tapi biar tak begitu bagus, warga lokal tetap tampak menikmati main-main air di pantai. Saya akhirnya duduk-duduk mengamati sebuah suasana menarik: sebuah keluarga kecil menggelar tikar di pinggir pantai, menyeruput air kelapa muda, lalu anak-anaknya berenang di pantai. Itu mungkin yang disebut “bahagia itu sederhana”.

Angin sore berhembus lembut.

Jelang maghrib, saya kembali ke alun-alun Pemalang. Numpang mandi di kamar mandi masjidnya. Segar sekali rasanya setelah mandi. Selesai shalat maghrib, cari makan lagi di alun-alun. Ketemunya nasi goreng sih, tapi tak apa. Lalu kembali lagi ke masjid untuk shalat isya. Sementara itu hujan turun dengan deras. Selesai shalat saya selonjoran saja di beranda masjid, sambil menikmati bunyi rintik hujan.

Sekitar jam 9 malam itu, saya beranjak ke stasiun. Masih hujan memang, tapi ada payung. Tadinya mau jalan kaki karena saya pikir tak terlalu jauh, hingga akhirnya saya sadar sudah terlalu banyak jalan kaki selama 2 hari itu. Kaki mulai mengancam, seakan bilang “Naik becak atau copot!”. Oke, saya naik becak lagi.

Di stasiun menunggu kereta. Bosan juga.

Seorang perempuan yang duduk di belakang saya di kursi tunggu stasiun tiba-tiba mengajak saya ngobrol. Ia masih muda, rasanya seumuran dengan saya. Dari awalnya basa basi saling nanya tujuan, akhirnya jadi saling cerita. Well, dia yang cerita, saya sih lebih banyak mendengar sambil beberapa kali menanggapi.

Si mbak ini bukan orang Pemalang, dia ke Pemalang karena ada pesta untuk saudara iparnya yang menikah dengan orang Pemalang. Suaminya, yang bekerja di kapal, tidak ikut karena sedang melaut. Mbaknya ini belum lama menikah, tapi sebelumnya sudah pacaran dengan pria yang sekarang jadi suaminya itu. Secara terbuka si mbak menceritakan bahwa suaminya meminta dia pulang sendiri saja naik kereta, tidak bersama rombongan keluarga sang suami. Ada sedikit konflik antara sang suami dengan keluarganya, karena dulu saat menikah ada semacam penolakan dari pihak keluarga suami. Kata si mbak, keluarga suami (berasal dari suatu etnis di Indonesia timur) menginginkan pesta pernikahan yang “wah” dengan tujuan untuk “menjaga harkat keluarga” sesuai dengan kebiasaan di daerah asal. Sementara pernikahan itu sendiri, sesuai keinginan suami si mbak, berlangsung secara sederhana.

Si mbak juga menyampaikan pendapat-pendapatnya tentang kehidupan rumah tangga, hubungan dengan keluarga (terutama dengan mertuanya) dan beberapa hal lain. Sekalian memberi saya tips memilih istri.

Sebagai orang yang mengaku menikmati kajian sosiologi, saya menikmati mendengarkan cerita seperti ini. Tentu karena kisah orang lain ini mengandung pelajaran juga buat saya. Sayangnya, kereta yang akan membawa ke Jakarta datang. Gerbong yang saya dan si mbak tumpangi berbeda. Ceritanya berakhir deh.

4 Januari 2017

Shalat subuh di stasiun Pasar Senen. Lalu saya menuliskan kata “Alhamdulillahirabbil ‘alamin” dalam tulisan Arab di status Facebook.

Ibrahim Khalilullah

Di setiap momen Idul Adha, kisah tentang nabi Ibrahim (ุฅุจุฑุงู‡ูŠู…) AS selalu terdengar. Di antara 25 rasul yang diyakini umat Islam, nabi Ibrahim AS memang menempati posisi yang penting. Sebagai khalilullah (ุฎู„ูŠู„ ุงู„ู„ู‡), dan sebagai bapak para nabi. Dan penggalan kisah hidup nabi Ibrahim AS diimplementasikan dalam ritual ibadah Islam: Haji dan Qurban.

ibrahim_abraham1

Ritual haji antara lain menggambarkan bagaimana Hajar (ู‡ุงุฌุฑโ€Žโ€Ž), istri Ibrahim, berlari-lari mencari air di tengah gurun pasir antara bukit Shafa dan Marwa agar putranya, Ismail (ุฅุณู…ุงุนูŠู„), yang kehausan dapat segera diberi minum. Ritual itu sekarang dinamakan sa’i. Juga bagaimana Hajar mengusir Iblis yang berusaha menghalangi Ibrahim menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan Ismail. Hajar melempari Iblis dengan bebatuan, dan sekarang ritual melempar batu dinamakan rami al jamarat (ุฑู…ูŠ ุงู„ุฌู…ุฑุงุช).

Selain haji, ibadah lain yang dilakukan saat Idul Adha adalah menyembelih hewan qurban, yang menggambarkan peristiwa saat Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Perintah itu disampaikan melalui mimpi, dan Ismail dengan teguh meyakinkan ayahnya bahwa itu adalah perintah Allah. Ismail ikhlas untuk disembelih. Demikian juga ayahnya (setelah diyakinkan oleh Ismail) serta ibunya, Hajar, keduanya ikhlas untuk mematuhi perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Pada akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor domba besar.

Selain kisah-kisah tersebut, ada kisah lain tentang Ibrahim yang sudah sepantasnya untuk selalu diingat oleh umat Islam. Ibrahim adalah nabi yang keimanannya dipuji oleh Allah SWT, yang oleh karenanya Allah sendiri yang menyatakan Ibrahim sebagai khalilullah, yang berarti kesayangan Allah atau sahabat Allah, dalam Al Quran surat An-nisa ayat 125. Keimanan Ibrahim kepada Tuhan yang Satu, Allah SWT, telah tampak sejak Ibrahim masih berusia muda. Ibrahim muda tidak mau mengikuti keyakinan bangsanya, bahkan orang tuanya sendiri, yang merupakan penyembah berhala.

Gambaran dewa Marduk. Gambar dari Wikipedia.

Gambaran dewa Marduk. Gambar dari Wikipedia.

Sebagian sejarawan meyakini Ibrahim hidup di jaman raja-raja penting di kawasan Mesopotamia. Ia hidup di kota Ur, di kerajaan Chaldea, yang sekarang merupakan bagian dari negara Iraq. Jika ditilik sejarah kerajaan-kerajaan di Mesopotamia, memang jelas bahwa bangsa-bangsa di sana menyembah berhala. Berhalanya bisa berupa raja mereka yang dianggap sangat hebat, atau wujud-wujud lain yang ada ceritanya. Misalnya dewa Marduk yang telinganya dibuat besar dengan makna dewa tersebut merupakan dewa bijaksana.

Ayah Ibrahim adalah seorang pemahat patung berhala. Kisah kecil berikut tidak saya ketahui tingkat kebenarannya (tampaknya ini kisah yang beredar di kalangan sufi), tapi menarik untuk diceritakan. Suatu kala Ibrahim diminta oleh orang tuanya untuk menjual berhala. Oleh Ibrahim, dalam promosi penjualan berhalanya diselipkan sebuah pesan bahwa menyembah berhala adalah suatu bentuk kebodohan. Kira-kira ia berseru seperti ini: “Siapa yang mau beli berhala? Berhala ini tak akan dapat menyakitimu. Bahkan ia takkan bisa melakukan apa-apa kepadamu. Ayo, siapa yang mau beli berhala?” :mrgreen:

Ada juga kisah lain yang lebih valid, yang diceritakan dalam Al Quran surat Al-Anbiya 57-68. Ibrahim menghancurkan berhala di sebuah kuil, kecuali sebuah berhala besar yang memang sengaja dibiarkan utuh. Ketika masyarakat melihat semua berhala di kuil hancur kecuali satu buah, mereka bertanya pada Ibrahim, siapakah yang telah menghancurkan berhala itu. Ibrahim menyuruh mereka bertanya saja pada berhala besar yang masih utuh dan di lehernya ada palu. Tentu saja mereka yang bertanya jadi masygul, bagaimana mungkin mereka bisa bertanya pada patung. Demikian cara Ibrahim menunjukkan betapa bodohnya penyembahan berhala pada masyarakatnya.

Bagi Ibrahim, Tuhan adalah sebuah wujud yang bisa diterima oleh logikanya. Maka, ketika ia bertemu malam dan ia lihat bintang-bintang, ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan. Ketika ia melihat Bulan menyinari malam, ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan. Ketika melihat Matahari yang besar dan terang, kembali ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan. Semua pemikiran itu pada akhirnya terjawab sendiri oleh logikanya: ia tidak akan menyembah sesuatu yang bisa hilang. Tuhan itu haruslah selalu hadir. Matahari, bulan dan bintang semuanya tenggelam dan menghilang. Allah memberikan petunjuk-Nya kepada Ibrahim, dan Ibrahim berlepas diri dari mempersekutukan-Nya. Kisah ini terdapat dalam Alquran surah Al An’am 75-80.

Saya sangat menyukai kisah Ibrahim dalam pencariannya pada Tuhan ini. Betapa Ibrahim hanya mau beriman kepada sesuatu yang layak disembah. Bukan menyembah pada patung-patung yang kisah ketuhanannya direka-reka sendiri oleh manusia. Bukan pula pada benda-benda yang sekedar tampak ajaib seperti mengeluarkan cahaya di tempat gelap, atau memberi panas yang menghidupkan.

Di antara hikmah yang saya ambil dari kisah ini adalah: gunakanlah akal dalam beragama. Bukankah dalam Al Quran juga sering ditemukan Allah SWT berkata “tidakkah engkau (manusia) berpikir?”

Selamat Idul Adha.

Jalan-jalan Kabur (Escape Trip) ke Curug Seribu, 4 Juni 2015

Akhir Mei 2016, kegiatan belajar-mengajar sudah usai. Tinggal melayani siswa yang mau belajar tambahan (konsul) untuk ujian akhir semester dan juga ujian SBMPTN. Saya sudah cukup jenuh dan ingin berlibur. Memang saya berencana akan melakukan beberapa perjalanan kecil sendirian, menikmati alam Sumatra Barat nanti setibanya di kampung halaman. Tapi jadwal pulang kampung masih lama, saya baru akan pulang sepekan jelang Idul Fitri. Keburu stress duluan.

Saya tidak sendiri, btw. Rekan-rekan kerja yang sepemikiran, sebut saja inisialnya BGN dan EZA, mengajak dan meminta saya meng-organize suatu perjalanan singkat untuk melepaskan diri sesaat dari hitam putih Jakarta. Pengen lihat warna hijau, kata mereka. Tentu saja saya mau, pucuk dicinta ulam tiba. Saya juga mau lihat warna hijau dedaunan.

Saya tadinya teringat Sukabumi. Kebun teh dan udara dingin pastinya bermanfaat untuk jiwa-jiwa Jakarta yang kering itu. Teman-teman ini berminat juga setelah browsing sejenak. Oke, saat itu tanggal 31 Mei, dan kita rencanakan berangkat hari Jumat sore tanggal 3 Juni. Masih perlu browsing lebih lanjut untuk memastikan lokasi dan cara aksesnya.

Malamnya saya browsing lagi di rumah, dan menemukan beberapa opsi lain yang lebih nyaman dan murah karena tak perlu menginap. Umumnya lokasinya di kabupaten Bogor, bisa ditempuh hanya dengan modal commuterline dan angkot. Setelah baca-baca, saya tertarik dengan curug Seribu, yang kata orang perjalanan ke sana cukup menantang namun bisa ditempuh dalam waktu tak terlalu lama. Berangkat dari Jakarta Sabtu pagi dan balik ke Jakarta Sabtu sore/malam.

Besoknya saya usulkan lagi ke teman-teman dan semuanya juga setuju. Baiklah. Kita sepakati berangkat Sabtu, berkumpul di Pangkalan Asem (Cempaka Putih) pukul 5 pagi.

Jumat 3 Juni 2016, rencana perjalanan akhirnya mendekati fix. Naik kereta dari stasiun Juanda, disambung dari stasiun Bogor menggunakan jasa sewa mobil online, atau kalau tak ada, angkot. Dengan tambahan dua orang rekan lainnya, inisial MMI dan FMR, biaya perjalanan tentunya bisa dipangkas. Saya dan FMR laki-laki, sedangkan BGN, MMI dan EZA perempuan. Saya sudah menduga sebelumnya, perjalanan yang bakal menggunakan angkutan umum serta jalan kaki ke tempat yang belum dikenali tak bakal menyurutkan keinginan para perempuan ini. EZA dan MMI sudah terbiasa keliling dengan angkutan umum di Jakarta. BGN juga demikian, tapi dia lebih sering naik motor. Dari ceritanya, dia ini memang punya karakter senang bertualang, makanya perjalanan backpackeran begitu enjoy saja.

Sabtu pagi 4 Juni 2016 yang cerah. Sekitar pukul 5.15 sudah ada WA masuk dari BGN da EZA, menanyakan keberadaan anggota. FMR sudah siap di halte TransJakarta Rawa Selatan. Saya baru berangkat dari rumah. BGN, MMI dan EZA juga bersiap berangkat dari tempat kost mereka. Sekitar pukul 05.30 kami semua berkumpul di halte Rawa Selatan dan segera berangkat ke stasiun Juanda. Menanti sebentar di stasiun, dan sekitar pukul 06.10, kereta commuterline yang akan membawa ke stasiun Bogor akhirnya datang.

Kami sampai di Bogor sekitar pukul 07.30, setelah perjalanan kereta yang saya pikir cukup lambat. Karena lapar, singgah dulu untuk sarapan di KFC seberang Taman Topi. Dari hasil perundingan sambil makan, kami menyepakati perjalanan cukup dengan angkot saja, tak perlu sewa mobil online. Selesai sarapan, segera berangkat naik angkot 02 tujuan Bubulak, tapi ternyata supir menyarankan turun di Laladon saja. Saat kami turun dan bayar ongkos dengan selembar uang 20ribuan (untuk 5 orang), bang supir ini terlihat berpikir. Saya agak heran mulanya (teman-teman yang melihat si supir juga), tapi ternyata si abang ini sedang menghitung berapa uang kembaliannya. Ia kemudian menyerahkan kembalian sebesar Rp1500. Ah, tadinya kami kira bakal dibawa kabur seperti banyak angkot di Jakarta yang suka nilep uang kembalian.

Dari Laladon kami segera diarahkan ke angkot jurusan Jasinga yang akan membawa kami ke Cibatok. Dari Cibatok rencananya akan rental angkot ke Gunung Picung. Setelah perjalanan yang dibuat lama oleh kemacetan, kami sampai di Cibatok. Seorang bapak yang tadinya seangkot dengan kami dari Laladon membantu dengan menunjukkan angkot tujuan Gunung Picung. Nego dengan supir angkot untuk antar jemput sampai gerbang Curug Seribu, lalu belanja air minum dan snack, dan berangkat. Tapi, walau judulnya rental, ternyata si bang angkotnya masih menaikkan-turunkan penumpang di perjalanan. Hadeh, tau begitu harusnya tadi nawar angkotnya lebih murah lagi.

Note: Belakangan, saat pulang, saya coba nego lagi ke si abangnya untuk mengurangi kesepatan harga yang tadi, tapi dia ga mau. Males debat lama-lama dan sedang turun hujan pula, akhirnya tetap bayar seharga yang disepakati di awal.

Perjalanan angkot yang terakhir cukup jauh dan menanjak terus. Tapi tak terlalu lama, kami sampai di gerbang Curug Seribu. Singgah sebentar di toilet untuk membuang mantan :mrgreen: lalu berjalan kaki ke Curug Seribu. Matahari bersinar, tapi tidak terasa panas. Udara segar terhirup.

Perjalanan ke curug memang sulit, hanya saja saya kira tak seberapa dibandingkan perjalanan hidup beberapa perjalanan lain yang pernah saya tempuh. Sepanjang jalan sudah diberi bebatuan, sehingga tak harus menginjak tanah licin atau lumpur. Juga sudah dibuatkan pembatas jurang dan pegangan yang cukup memadai. Saya pernah menuruni ngarai Sianok di Bukittinggi hanya dengan batuan akar pohon, jadi saya pikir tingkat kesulitan jalan ke Curug Seribu ini belum ada apa-apanya. Tapi saya sudah lama sekali tak menempuh perjalanan lintas alam, jadi ya lumayan terasa ngos-ngosan juga. Memang kami beruntung saat itu tidak hujan—kalau hujan batu-batunya bakalan licin.

Kira-kira perlu waktu sekitar 1 jam untuk sampai di Curug Seribu. Di perjalanan akan bertemu warung dan gerbang menuju Curug Sawer, lanjut naik sedikit ke atas akan bertemu sebuah camping ground dan baru kemudian ada pos masuk Curug Seribu. di perjalanan akan ada air terjun kecil yang bisa dijadikan spot untuk istirahat dan foto-foto. Sesekali muncul kera dari balik pepohonan. Suara serangga dan burung sesekali terdengar beserta sayup-sayup gemuruh air terjun. Perjalanan menuju ke curug didominasi turunan, karena itu tidak terlalu melelahkan dan hanya perlu hati-hati saja karena di beberapa titik ada bagian yang curam. Untuk pulangnya, tentu saja siap-siap menanjak. Jika ke sana saat hujan, perjalanan akan menjadi lebih sulit.

Setiba di Curug Seribu, langsung kami manfaatkan untuk menikmati pemandangan dan berfoto-foto. Saat itu agak banyak pengunjung, jadinya kita tak bisa bebas menikmati suguhan alam ini sebagai milik sendiri :mrgreen: Tapi suasana di sana memang asyik, indah dan irama alamnya menenangkan. Katanya, Curug Seribu memiliki ketinggian sekitar 100 m dan debit airnya tampak cukup besar, sehingga bisa dibayangkan di bawah air terjun itu pastilah tanahnya terlobangi cukup dalam. Area jatuhnya air merupakan area terlarang untuk bermain, karena berbahaya. Untuk bermain air bisa di daerah aliran air beberapa meter dari air terjun.

This slideshow requires JavaScript.

Sekitar jam 2 siang, cuaca mulai mendung. Sesekali rintik hujan turun. Kami yang sudah agak puas berfoto dan bermain mulai bersiap untuk kembali ke atas, agar bisa mengejar waktu shalat dan mengisi perut sebelum pulang. Seperti sudah diduga, perjalanan pulang lebih berat karena mendaki. Ngos-ngosannya sekarang lebih keras. Trio perempuan ini cukup kuat juga, terlebih lagi EZA yang sepanjang jalan pulang itu seakan terpengaruh iklan motor Yamaha: semakin di depan :mrgreen: Posisinya memang selalu jauh di depan dua rekan perempuan lainnya.

Sampai di atas, kami singgah di warung yang dekat gerbang ke Curug Sawer yang tadinya kami lewati. Pesan makanan, shalat, lalu menikmati makanan berupa indomie rebus dan kopi/wedang jahe/air putih, sesuai keinginan. Selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Kami kemudian beranjak menuju gerbang, dan di sana angkot yang akan membawa kami kembali ke Cibatok sudah menunggu. Perjalanan pulang ditempuh agak lama karena macet sepanjang perjalanan Cibatok — Bubulak (sopir angkotnya akhirnya mengambil jalan alternatif). Dari Bubulak ke stasiun cukup cepat. Tepat waktu maghrib sampai di stasiun Bogor, ambil tiket, shalat Maghrib, belanja oleh-oleh kecil. Perjalanan dengan kereta cukup lama juga.

Saya sendiri sampai di rumah sekitar pukul 10 malam. MMI meneruskan perjalanan ke Tangsel dan berpisah dengan anggota rombongan lainnya di Manggarai. Saya turun di stasiun Gang Sentiong, berpisah dengan FMR, BGN dan EZA yang bertiga meneruskan perjalanan sampai stasiun Senen untuk kemudian menyambung dengan bajaj ke Pangkalan Asem. Hampir semuanya sampai di tujuan masing-masing sekitar pukul 10 malam juga.

Di rumah, tidur berselimut kenangan.

Meskipun lebih banyak waktu habis di perjalanan daripada di tempat tujuan, overall trip kabur ini menyenangkan. Esensi perjalanan itu kan tidak hanya saat sampai di tujuan saja. Saya pribadi cukup puas. Rekan perjalanan yang lain bahkan ingin mengulang lagi perjalanan seperti ini. Ke Kawah Ratu, mungkin? Let’s see.

Oh ini itinerary perjalanan saya. Kali ada yang mau jalan-jalan juga.

  • Ongkos TransJakarta Pangkalanan Asem – Juanda = Rp3.500
  • Ongkos Commuterline Juanda – Bogor = Rp5.000
  • Sarapan di KFC = Rp15.000
  • Ongkos angkot Stasiun Bogor – Laladon = Rp3.500
  • Ongkos angkot Laladon – Cibatok = Rp8.000
  • Beli snack dan air minum (kira-kira) = Rp10.000
  • Carter angkot (Rp200.000) dan bea masuk area wisata Gunung Salak Endah (Rp30.000) @ 5 orang = Rp46.000
  • Bea masuk Curug Seribu = Rp7.500
  • Indomie dan kopi = Rp18.000
  • Ongkos angkot Cibatok – Bubulak = Rp7.500
  • Ongkos angkot Bubulak – Stasiun Bogor = Rp3.500
  • Ongkos commuterline Bogor – Gang Sentiong = Rp5.000

Total silakan itung sendiri, hehe. Masih tergolong murah, ini juga udah kena di biaya carter angkot yang harusnya bisa lebih kecil.

Hari Raya Astronomi: Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

Gerhana Matahari Total (GMT) telah terjadi tanggal 9 Maret 2016 pagi. Semua berjalan sesuai dengan prediksi para ahli perbintangan. Masyarakat Indonesia telah berbondong menyaksikan keajaiban alam tersebut, sebagian dengan mengiringkan takbir melaksanakan shalat gerhana. Timeline media sosial dipenuhi berita, video dan foto-foto gerhana.

Alhamdulillah. Momen ini memang sangat ditunggu oleh mereka, para peminat dan praktisi Astronomi. Saya bisa membayangkan dramatisnya peristiwa ini dari cerita teman-teman pemburu gerhana. Berpacu dengan waktu, bermusuhan dengan cuaca. Juga betapa bahagianya mereka yang bisa berbagi pengetahuan dengan masyarakat umum sejak beberapa hari sebelum gerhana. Berbagi itu sensasinya luar biasa.

Apa itu Gerhana Matahari Total

Saya rasa banyak yang sudah paham apa itu Gerhana Matahari Total (GMT), tapi tak ada salahnya diceritakan kembali. GMT ialah peristiwa tampak tertutupnya piringan Matahari secara penuh oleh piringan Bulan. Hal ini bisa terjadi jika dalam peredarannya di orbit, Bulan dan Bumi membentuk susunan segaris bersama-sama dengan Matahari. Urutannya Matahari – Bulan – Bumi. Dalam Astronomi, susunan segaris dikenal dengan istilah syzygy. Posisi Bulan harus cukup dekat dengan Bumi sehingga diameter piringan Bulan sedikit lebih besar dari diameter piringan Matahari.

Gambaran proses terjadinya Gerhana Matahari. Oleh Cmglee - Own work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=39077179.

Gambaran proses terjadinya Gerhana Matahari. Oleh Cmglee – Own work, CC BY-SA 3.0.

Posisi Bulan yang berada di antara Matahari dan Bumi menyebabkan makhluk hidup yang tinggal di Bumi merasakan cahaya Matahari terhalang, sehingga Matahari yang benderang itu menjadi gelap. Itulah gerhana matahari. Gerhana matahari selalu terjadi di fase bulan mati, yang artinya selalu terjadi di akhir/awal bulan qamariyah.

Walaupun susunan Matahari – Bulan – Bumi selalu terjadi setiap bulan qamariyah (29,5 hari sekali), gerhana tidak selalu terjadi setiap bulan. Hal ini dikarenakan lingkar orbit Bulan memiliki kemiringan sekitar 5ยฐ, sehingga Bulan tak selalu menghalangi cahaya Matahari. Namun peristiwa gerhana selalu terjadi setidaknya 2 kali dalam setahun, dengan tempat yang berpindah-pindah.

Adalah hal yang menakjubkan bahwa posisi bulan saat mengelilingi Bumi sedemikian rupa, sehingga ukuran Bulan saat dilihat dari Bumi kurang lebih sama dengan ukuran Matahari saat dilihat dari Bumi. Diameter angular Matahari berkisar antara 31’31” — 32’33”, sementara diameter angular Bulan berkisar 29’20” — 34’6″. Dengan ukuran yang hampir sama tersebut, saat Bulan menghalangi cahaya Matahari, piringan bulan dapat sepenuhnya menutup piringan Matahari dan menghasilkan GMT.

Fenomena GMT menghasilkan sensasi gelap yang hampir seperti malam. Di balik kegelapan itu, keindahan penciptaan semesta dipampangkan di depan mata. Piringan Matahari yang bercahaya benderang perlahan mengalami penggelapan mulai dari salah satu tepinya. Penggelapan semakin lama akan semakin besar, hingga Matahari tampak seperti kue dorayaki yang sedang dilahap Doraemon. Dan pada puncaknya seluruh permukaan Matahari yang terang itu tertutup, menyisakan kilau cahaya kecil yang menyelip sedikit dari balik piringan Bulan. Cahaya yang menyelip itu sepintas akan terlihat menyerupai berlian yang terpasang pada sebuah cincin. Saat Matahari benar-benar tertutup, yang tersisa untuk dilihat hanyalah pendaran cahaya dari korona serta (jika beruntung) beberapa prominensa.

Proses terjadinya gerhana matahari total dari awal hingga akhir, untuk momen GMT 1 Agustus 2008 dari Rusia. Dari Kalan - menggunakan 38 foto pribadi pemilik, CC BY 3.0

Proses terjadinya gerhana matahari total dari awal hingga akhir, untuk momen GMT 1 Agustus 2008 dari Rusia. Dari Kalan – menggunakan 38 foto pribadi pemilik, CC BY 3.0

Langka

GMT merupakan peristiwa langka walaupun sebenarnya yang namanya gerhana itu cukup rutin terjadi. Gerhana apapun, baik Matahari ataupun Bulan, selalu terjadi setidaknya dua kali dalam setahun. Astronom mengenal istilah “musim gerhana”, yakni suatu waktu ketika beberapa gerhana terjadi dalam selang yang berdekatan. Tapi jenis dan lokasi terjadinya gerhana bisa bermacam-macam. Jadi, satu gerhana cenderung akan berbeda karakteristiknya dengan gerhana lain.

GMT 9 Maret 2016 ini adalah GMT pertama di Indonesia di abad 21. Sebelumnya, terakhir kali Indonesia mengalami GMT adalah pada tahun 1995 yang lalu, itupun jalur totalitasnya hanya melintas di Halmahera. Pada 2009 di Indonesia juga dilintasi gerhana matahari, namun dari jenis Gerhana Matahari Cincin (GMC). Dalam banyak hal, gerhana ini sungguhlah spesial. Wajar jika antusiasme masyarakat tampak tinggi.

Foto GMT hasil pengamatan di Ternate oleh tim dari LAPAN. Kredit: Farahhati @ LAPAN

Foto GMT hasil pengamatan di Ternate oleh tim dari LAPAN. Kredit: Farahhati @ LAPAN

Tampaknya beberapa spot pengamatan GMT sukses mengabadikan momen yang dinantikan. Dari pantauan video streaming, pengamatan di Palu tampaknya sukses besar, demikian juga dengan di Ternate. Saya masih menantikan dirilisnya foto-foto berkualitas dari teman-teman pengamat baik dari ITB ataupun institusi lainnya, termasuk tim peneliti luar negeri.

Saya?

Saya tidak mengamati GMT secara langsung, hanya sempat menyaksikan sepintas Gerhana Matahari Sebagian (GMS) yang memang melanda Jakarta. Selebihnya saya menyaksikan dari display di studio Kompas TV, yang menayangkan livestreaming dari Jakarta, Palembang, Palu dan Ternate.

Eh, Kompas TV? Kok di sana?

Ya, pagi hari saat gerhana sedang berlangsung, saya memang hadir sebagai narasumber di stasiun TV tersebut. Ini di luar dugaan saya, tapi yah, demikianlah kejadiannya. That’s life ๐Ÿ˜€ .

Inilah pengalaman terbaru saya. Merasakan suasana studio berita TV. Dengan host kenamaan pula: Timothy Marbun dan Glory Rosary ๐Ÿ™„ . Lengkap dengan ritme cepatnya, sampai buang air kecil pun harus buru-buru karena jeda yang sempit :mrgreen:

Sejujurnya, saya agak “telat panas” di momen gerhana ini. Pada mulanya saya cenderung tidak antusias, merasa biasa saja dan cukup skeptis melihat upaya komersialisasi gerhana melalui program pariwisata. Belakangan saya sadar telah keliru. Animo masyarakat sedemikian tinggi dan sudah sepantasnya momen ini dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Walaupun tidak merasakan sensasi mengamati GMT di lapangan, saya tetap hampir menangis haru melihat display di studio yang menampilkan gerhana total lengkap dengan korona, Baily’s beads dan diamond effect. Saya memang belum pernah mengamati GMT, dan ketika menyaksikannya di display… whoa … perasaan buncah. Subhanallah. Kekuasaan Allah SWT sungguh besar, Ia tentukan jarak Matahari – Bulan – Bumi sedemikian rupa hingga pertunjukan gerhana ini bisa terjadi. Jika jarak ketiga benda langit tersebut tidak serupa yang sekarang, peristiwa gerhana yang kita amati akan sangat berbeda.

Oh ya, pengalaman mengamati dari stasiun TV ini membuat saya merasa tunai satu tugas: menyampaikan pesan keindahan sains kepada khalayak luas. Saat bercerita saya memang khawatir salah kata, atau terlalu kaku, tak jelas dll. Tapi saat bercerita itu saya coba menyampaikan apapun yang saya ingin orang lain tahu, tentang gerhana ataupun Astronomi secara umum.

Semoga Allah SWT menunjukkan saya jalan yang lurus.

Fisika? Meh!

Kalau mendengar keluhan siswa terkait pelajaran Fisika, saya seringkali tak bisa berkata apa-apa.

Saya tak pernah beranggapan Fisika itu gampang—seandainya gampang, saya tak akan perlu pindah kampus tahun 2007 lalu. Tapi saya ingin selalu beranggapan Fisika itu menyenangkan. Fisika, bagi saya, adalah ilmu pengetahuan yang mengedepankan intuisi dan imajinasi; membuka mata pada besarnya implikasi dari hal-hal yang tampak remeh; dan terlebih lagi, menyadarkan pada betapa kecilnya manusia. Hanya di Fisika-lah orang mencoba menguak segala macam pintu rahasia, mulai dari pintu yang berukuran subatomik hingga pintu seukuran alam semesta.

ba12ef06b7466d49086472bdaf50f486

Tapi, kembali ke paragraf pertama, siswa-siswa ternyata lebih banyak yang mengeluhkan Fisika. Pelajaran tersulit, absurd, ribet, biang masalah. Belum lagi kalau gurunya juga ngajarnya ga jelas, wah lengkaplah penderitaan.

Kalau siswa bertanya bagaimana caranya belajar Fisika agar terasa asyik, jawaban saya palingan “cari hal-hal yang kamu anggap menarik, misalnya kenapa apel jatuh ke kepala rasanya menyakitkan”. Jawaban semacam itu tak memberikan pengaruh besar, ternyata.

Makanya, kalau siswa saya mengatakan Fisika itu blablablabla (komentar jelek semua), saya speechless. Saya pikir Fisika itu menarik, tapi banyak orang yang merasakan hal sebaliknya. Lalu kenapa bagi mereka Fisika ini tak menarik?

Filosofi Belajar

Apa gunanya belajar? Mencari ilmu. Untuk apa? Agar nanti dapat pekerjaan yang bonafid.

1119060_orig

Selesai sudah. Proses kreativitas berhenti di situ. Cukup belajar hingga kita bisa dapat nilai tinggi. Masuklah ke sekolah-sekolah favorit. Kuliah di kampus yang namanya besar. Lulus cepat dengan predikat terbaik. Pekerjaan bergaji besar menanti.

Dan tanpa disadari, hal seperti ini merusak otak siswa-siswa. Orientasinya adalah pada nilai di laporan akhir semester yang bagus serta rangking yang selalu teratas. Bukan pada pemahaman ilmu, kedalaman pengetahuan. Ditambah lagi dengan sekolah yang berburu prestise demi besaran dana bantuan dari pemerintah—suatu kekeliruan lain lagi. Sekolah “bagus” dana bantuannya besar, padahal seharusnya sekolah yang “jelek” yang perlu dibantu agar menjadi bagus. Belum lagi kalau sekolah “bagus” diserahkan pada pasar, seperti dahulu di masa kelam sekolah RSBI dan perguruan tinggi BHMN. Sekolah diberi standar ini itu dan kalau standarnya sudah bagus diberi kebebasan untuk menarik peserta didik seperti menarik konsumen. Tentu saja sistem ini menyebabkan sekolah “bagus” mengincar siswa yang orangtuanya berpenghasilan tinggi.

Puncaknya adalah ketika Ujian Nasional, kecurangan merebak ke mana-mana.

Dampak dari kelirunya filosofi belajar juga terdapat pada buku-buku teks. Untuk pelajaran Fisika, saya sering menemukan buku yang memberikan penjelasan terlalu mendalam, setingkat level penjelasan untuk mahasiswa tingkat 2 jurusan Fisika, atau setidaknya seperti yang diberikan pada siswa yang dilatih untuk olimpiade sains. Lebih parah lagi, ada buku teks yang memberikan soal yang sebenarnya sederhana, namun dengan angka yang sulit sehingga siswa mengalami kesulitan dalam melakukan perhitungan.

Rumus fisika bukan untuk dihafal. Rumus akan teringat sendirinya dengan pemahaman dan latihan yang tepat.

Rumus fisika bukan untuk dihafal. Rumus akan teringat sendirinya dengan pemahaman dan latihan yang tepat.

Ini ngawur. Anak sekolah menengah hanya membutuhkan pemahaman dasar. Ilmu Fisika yang mereka pelajari itu adalah Fisika dasar—seperti halnya Kimia dasar, Biologi dasar, Matematika dasar, Ekonomi dasar, Sosiologi dasar dan semacamnya. Mereka tak perlu sampai diberi penjelasan matematis yang berbelit. Mungkin mereka memang memerlukan mekanisme penurunan rumus agar rumus yang mereka pelajari diketahui asalnya dari mana, tapi berikanlah sesuai dengan kadarnya. Dalam belajar Fisika, sebenarnya bagian terpentingnya adalah memahami konsep atau teori, bukan kerumitan soal dan ketelitian perhitungan.

Ah, penulis buku dan juga guru yang memakai buku mungkin berbeda pendapat dengan saya. Tampaknya banyak kalangan yang berpendapat bahwa siswa yang sukses adalah siswa yang bisa menyelesaikan soal-soal kompleks, bisa menghitung angka desimal yang rumit. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, kemampuan utama yang harus dimiliki siswa sejak SD adalah berhitung. Logika, imajinasi dan moralitas ditaruh di ember bekas saja. Siswa kelas 1 SD yang hafal perkalian 1 hingga 9 dianggap lebih jagoan dibandingkan siswa seumurannya yang bisa membuat lukisan yang, walau tampak jelek, tapi penuh imajinasi.

Intermezzo
Saya dengan sebal menghadapi siswa yang bertanya “Kak, untuk soal ini rumusnya apa?”, padahal rumus itu tertulis di buku sekolah dan bahkan di catatan yang mereka tulis sendiri. Ya, mereka tahu rumusnya, tapi selalu dua kemungkinan ini yang muncul: 1) Mereka malas membuka buku, dan 2) Mereka tak paham dengan apa yang mereka catat dan baca di buku. Tentu saja yang namanya siswa sekolah menengah tak harus bisa memahami semuanya. Minat orang berbeda-beda, maka tentu saja tingkat kepahaman itu berbeda. Tapi setidaknya, usaha personal mereka seharusnya tak tampak sedemikian lemah hingga bahkan untuk rumus pun masih harus bertanya padahal mereka sudah punya.

Saya kasihan pada siswa yang tak mempu membayangkan konteks yang dijelaskan dalam sebuah soal cerita dan kemudian mengaitkannya dengan rumus yang ada. Kasihan karena sistem membuat mereka kehilangan daya nalar dan imajinasi. Saya menyukai mereka yang bertanya, “Kak, ini caranya bagaimana?”, dan saya biasanya mengarahkan siswa seperti ini untuk menemukan cara yang mereka tanyakan. Kalau memang terlalu sulit, saya akan beritahu langkah-langkahnya beserta alasan penggunaan langkah tersebut. Sebagai guru les, saya berusaha membantu mereka menggunakan nalar dan imajinasi. Hasilnya tampaknya belum begitu baik, tapi yah, yang penting harus dilakukan.

Saya suka siswa yang ingin “lebih paham”, bukan sekedar “bisa”. Juga siswa yang menargetkan ilmunya kelak dipakai dan memberi manfaat pada orang lain. “Aku suka pada mereka yang berani hidup. Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam” ~ Chairil Anwar

Tapi mereka yang seperti itu langka. Tergerus sistem.


Saya ingin Fisika di sekolah menengah itu diajarkan sesuai “khittah”nya, yakni sebagai ilmu yang mengedepankan intuisi dan imajinasi. Fisika harus diajarkan juga di laboratorium, bukan hanya di ruang kelas. Fisika harus disertai pengamatan atas fenomena di sekeliling kita, bahkan fenomena sederhana sekalipun. Fisika bukan angka-angka. Fisika adalah imajinasi atas fenomena alam.

Fenomena sederhana, antara lain, bisa ditunjukkan melalui gambar seperti ini.

Fenomena sederhana, antara lain, bisa ditunjukkan melalui gambar seperti ini.

Jadi kenapa banyak siswa benci Fisika? Karena Fisika tak diajarkan sebagaimana mestinya. Ah saya ini apa lah, cuma kaleng-kalengnya …