How to Not Hurting Woman?

Minggu sore, 26 November 2017, di tengah suntuknya isi kepala (dan hati), saya putuskan untuk menonton film di bioskop. Sejak pukul 5 sore saya sudah standby di Mal Atrium Jakarta, sudah beli tiket nonton di Atrium XXI. Pemutaran filmnya malam, ba’da maghrib. Filmnya? Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Film Indonesia dengan rating IMDb 7,3 (tanggal 26 November 2017).

Film ini sudah ingin saya tonton sejak beberapa hari sebelumnya, gara-gara si @utpux bercerita di status Fb-nya dan tanteu @mmlubis juga bilang di status Plurk-nya pengen nonton film ini. Hah? Plurk? Masih jaman? Ga usah dibahas, haha. Yang jelas, karena dua teman saya ini saya anggap agak kurang mainstream, jadinya saya pun ikut tertarik. Saya juga agak kurang mainstream.

Sinopsis ataupun ulasan tentang film bisa dibaca di tempat lain yang lebih komplit. Saya ga biasa mengulas film, jadi cuma beri gambaran singkat. Begini: Perempuan mengalami nasib malang. Ia mencoba menuntut bela. Tapi kasusnya tak ditanggapi dengan baik. Berakhir dengan perempuannya menyerah tapi masih sempat melawan.

Temanya serius, memang. Beberapa review dan sinopsis yang saya baca banyak mengangkat tema feminisme, atau paling tidak tentang ketidak-adilan pada perempuan.

Di akhir film ada adegan perempuan sedang hamil besar (namanya Novi) membunuh lelaki yang sedang memperkosa rekannya, sang tokoh utama, Marlina. Setelah melakukan aksi itu, Novi melahirkan bayinya dengan dibantu Marlina. Adegannya sebenarnya biasa saja, tapi memang tak perlu dijelaskan bahwa yang namanya proses melahirkan itu mengerikan, bukan?

Nah walaupun ditampilkannya biasa saja, jantung saya berdegup dan mata saya berkaca-kaca melihat rentetan adegan itu. Karena … ada pesan yang terasa sangat kuat. Manusia berjenis perempuan bisa mengalami peristiwa antara hidup dan mati untuk melahirkan seorang manusia lain. Sedangkan laki-laki di sana hanya memperlakukan perempuan sebagai mainan.

Ini filmnya diceritakan dengan gambaran sederhana, bukan dengan plot yang detil dan mengalir. Agak seperti teater saya rasa. Kalau tak terbiasa, bakalan bingung dengan filmnya. Hm, saya termasuk yang agak bingung, tapi untungnya lebih banyak ngertinya hehe. Kekuatan film ini menurut saya adalah pada cerita. Walaupun ditampilkan dalam adegan yang biasa dan dalam alur yang ringkas, ceritanya begitu kuat sehingga kesan yang ingin disampaikan bisa tetap diamati dengan jelas.

Hal lain yang menarik adalah latar film di pedesaan Sumba, NTT. Dipotret dengan metode wide angle, membuat keindahan bentang alamnya tampak jelas. Semoga suatu saat bisa jalan-jalan ke daerah itu.

Menonton film ini membuat saya teringat novel A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini. Di antara kesimpulan yang saya ambil setelah membacanya adalah, laki-laki itu pengecut jika tak mampu bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya pada perempuan di sekelilingnya. Terlebih, jika tanggung jawab itu dinihilkan hanya karena so-called “harga diri” yang sebenarnya hanya berbentuk status sosial.

Khaled Hosseini menekankan penyebutan pengecut itu pada tokoh Jalil yang menghamili salah seorang pembantunya (bernama Nana), dan kemudian menaruh Nana beserta putri yang dilahirkan dari hubungan mereka itu ke suatu tempat terpencil; pada ayah Nana yang tak berbuat apa-apa terhadap perlakuan yang diberikan Jalil kepada Nana; serta pada masyarakat yang memiliki kecendrungan menimpakan kesalahan atas terjadinya perzinaan pada perempuan semata.

Di perjalanan pulang pikiran saya berputar-putar di sekitar pertanyaan yang menjadi judul artikel blog ini. Pertanyaan ini saya munculkan bukan untuk mencari jawabnya, tapi agar saya punya bahan refleksi diri. Ini juga bukan mengenai hal yang ekstrim seperti perkosaan atau lepas tanggung jawab atas derita perempuan. Perbuatan-perbuatan seperti itu sih jelas sekali buruknya. Bahkan terkait pemerkosaan rasanya sikap setiap orang harus jelas: laki-laki sejati tidak memperkosa.

Saya mencoba meninjau ke hal yang lebih sederhana, yaitu bagaimana manner sehari-hari laki-laki pada perempuan. Memberikan tempat di angkutan umum pada perempuan, membantu mengangkut barang berat, suami menggantikan istri yang sedang hamil memasak dan lain-lain mungkin merupakan beberapa sikap yang lazim dilakukan, ya kan? Dalam beberapa kasus ada sedikit kontroversi juga: perempuan juga seringkali tak mau dianggap lemah sampai harus selalu dibantu laki-laki. Nah persoalan seperti ini barangkali ada situasi dan kondisinya sendiri. Tapi memang, meremehkan perempuan itu perbuatan keliru, sih.

Kalau kembali melihat apa yang diceritakan film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini, rasanya sikap seorang laki-laki harus mengambil landasan ini: 1) perempuan punya potensinya sendiri; 2) perempuan merasakan sakit yang tak mungkin dirasakan laki-laki; dan 3) perempuan bukan obyek. Dengan mempertimbangkan hal ini rasanya laki-laki bisa menjaga kewarasannya untuk tidak macam-macam pada perempuan.

Hm 🤔🤔

Advertisements

[Photo] Fishing Village Near Kenjeran, Surabaya

In the last post, I wrote about a photo hunting session with Mr. Ratno, a photographer I met at Taman Suroboyo, Kenjeran, Surabaya. In this post I will show you the result of the photo hunting.

I didn’t take much photo, and only about 17 photos I will show here. Please also visit my Flickr page: https://flic.kr/s/aHsm1TanPi

Menikmati Bali dan Surabaya, 25 – 30 Juli 2017

Setengah tahun berlalu sejak perjalanan solo trip saya ke Pekalongan dan Pemalang awal Januari lalu. Hampir setengah tahun pula blog ini tak mendapat tambahan isi. Untunglah, sekarang saya kembali punya kisah perjalanan yang layak diceritakan.

Saya melakukan perjalanan ke Bali dan Surabaya di akhir Juli 2017 lalu. Tadinya saya cuma ingin mengikuti sebuah simposium di Tanjung Benoa, Bali, untuk mempresentasikan hasil penelitian tesis saya. Sudah mendaftar, memasukkan abstrak serta full-text paper, dan juga sudah bayar biaya pendaftaran. Tapi ya ngapain datang ke Bali kalau cuma buat presentasi? Presentasi semacam itu juga paling cuma 10 menit. Tak mau rugi, jadilah saya merencanakan agenda jalan-jalan. Dari jenis yang not so low budget.

Jadi rencananya begini: Tanggal 26 – 27 Juli simposium berlangsung. Curi-curi waktu sedikit di sela-sela acara agar bisa digunakan untuk jalan-jalan. Jalan mah sendiri aja, saya biasanya lebih senang begitu, karena lebih fleksibel dan saya senang membiarkan pikiran saya lepas bebas saat sedang sendiri. Agar lebih puas, tambahkan satu hari lagi, jadi saya berada di Bali selama 3 hari. Agar perjalanan lebih berkesan, pakai jalur darat dong.

Tapi kalau pakai jalur darat, baik bis ataupun kereta api, perjalanan setidaknya butuh 2 hari Jakarta – Bali saja. Bisa susah dapat izin libur dari tempat kerja karena terlalu lama.

Akhirnya saya putuskan berangkat ke Bali naik pesawat, pulangnya naik kereta api. Ini kombinasi yang cocok. Berangkat naik pesawat tanggal 25 Juli siang, acara tanggal 26-27, lalu tanggal 28 Juli keluyuran di Bali sebelum sorenya berangkat ke Surabaya. Tanggal 29 sampai di Surabaya dan jalan-jalan sebentar di sana sebelum akhirnya berangkat ke Jakarta.

Setelah rencana fix, berburu tiket dimulai dengan memanfaatkan Traveloka flight + hotel. Saya penggemar Citilink, dan untunglah dapet yang harganya lebih murah (biasanya Citilink lebih mahal daripada pesawat low cost yang lain). Hotel juga lumayan murah. Tiket kereta api juga beli di Traveloka, karena ada promo diskon. Tiketnya kereta Mutiara Timur Malam (+ Damri) relasi Denpasar (DEN) – Surabaya Gubeng (SGU) dan kereta Kertajaya relasi Surabaya Pasar Turi (SBI) – Pasar Senen (PSE), masing-masing dapat diskon 25rebu. Lumayan juga hemat perjalanan kereta api 50rebu.

Continue reading

Solo-Trip Pekalongan & Pemalang (2-3 Januari 2017)

Setelah sekian lama ingin menulis kembali di blog ini, akhirnya ada juga sebuah ide tentang apa yang akan ditulis. Daripada tak ada isinya, kenapa tak saya ceritakan saja perjalanan iseng saya di awal Januari 2017 lalu?

Okay. Ini dia.

Ini bukan cerita jalan-jalan yang waw keren bingits seperti yang ditulis banyak travel blogger di luar sana. Sejak awal prosesnya sudah aneh, dan terasa seperti tanpa arah. Walau demikian, di akhir perjalanan saya merasakan ada kepuasan.

Awalnya dari sini. Sepanjang pekan terakhir Desember 2016 itu, saya sedang disibukkan dengan revisi tesis, setelah sukses (?) menjalani ujian sidang magister tanggal 22 Desember 2016. Biasanya saya mengerjakan revisi tesis di tempat kerja, berhubung kegiatan belajar-mengajar sedang vakum. Beberapa teman yang biasa berdiskusi mengobrol di kantor sedang pulang kampung dan ada juga yang sedang jalan-jalan, jadinya kantor agak sepi dan saya bisa bekerja dengan tenang. Tapi proses pengerjaan revisi tesis berlangsung sedemikian membosankan dan saya menjadi suntuk. Harus mencari hiburan, tapi apa? Saat itulah terpikir, kenapa tak pergi jalan-jalan saja di awal tahun nanti?

Benar juga, saya butuh jalan-jalan. Pertanyaan berikutnya, ke mana? Bandung? Males banget lah ke Bandung di musim liburan seperti saat itu. Ramai, sumpek. Ke tempat yang agak jauh dan rasa-rasanya tak terlalu ramai saja.

Pekalongan melintas di benak. Meskipun berada di Jawa Tengah, tapi hitungannya tak begitu jauh dari Jakarta, hanya sekitar 4-5 jam perjalanan dengan kereta api. Tiket kelas ekonomi juga relatif murah, kalau dibandingkan dengan ongkos ke Bandung ya secara real jelas lebih murah ke Pekalongan. Tanpa pikir panjang saya mencari ketersediaan tiket di beberapa aplikasi online. Ternyata kereta ekonomi hampir semuanya penuh, kalaupun ada ya di jam yang tidak menyenangkan untuk sebuah perjalanan dadakan. Namun, rupanya aplikasi T****e***a menyediakan fasilitas waiting list tiket. Jadi tetap bisa pesan walaupun kereta penuh. Kalau misalnya terjadi pembatalan tiket oleh orang lain, otomatis penghuni waiting list mendapat kesempatan untuk memesan tiket.

Saya ambil saja satu pesanan tiket waiting list. Saat itu 28 Desember 2016. Tiket yang saya pesan untuk tanggal 1 Januari jam 23.45. Sengaja pilih jam berangkat malam agar sampai di Pekalongan saat subuh dan bisa langsung main.

Awalnya saya agak pesimis, tak yakin akan dapat tiket dengan cara begini. Jadi saya tak berharap banyak. Sudah pasrah saja, palingan jalan-jalannya batal. Gambling.

Continue reading

Ibrahim Khalilullah

Di setiap momen Idul Adha, kisah tentang nabi Ibrahim (إبراهيم) AS selalu terdengar. Di antara 25 rasul yang diyakini umat Islam, nabi Ibrahim AS memang menempati posisi yang penting. Sebagai khalilullah (خليل الله), dan sebagai bapak para nabi. Dan penggalan kisah hidup nabi Ibrahim AS diimplementasikan dalam ritual ibadah Islam: Haji dan Qurban.

ibrahim_abraham1

Ritual haji antara lain menggambarkan bagaimana Hajar (هاجر‎‎), istri Ibrahim, berlari-lari mencari air di tengah gurun pasir antara bukit Shafa dan Marwa agar putranya, Ismail (إسماعيل), yang kehausan dapat segera diberi minum. Ritual itu sekarang dinamakan sa’i. Juga bagaimana Hajar mengusir Iblis yang berusaha menghalangi Ibrahim menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan Ismail. Hajar melempari Iblis dengan bebatuan, dan sekarang ritual melempar batu dinamakan rami al jamarat (رمي الجمرات).

Selain haji, ibadah lain yang dilakukan saat Idul Adha adalah menyembelih hewan qurban, yang menggambarkan peristiwa saat Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Perintah itu disampaikan melalui mimpi, dan Ismail dengan teguh meyakinkan ayahnya bahwa itu adalah perintah Allah. Ismail ikhlas untuk disembelih. Demikian juga ayahnya (setelah diyakinkan oleh Ismail) serta ibunya, Hajar, keduanya ikhlas untuk mematuhi perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Pada akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor domba besar.

Continue reading