Ilmuwan Muslim 2: Ibnu Khaldun

Pembukaan
Tulisan ini berkaitan dengan niatan yang telah saya sampaikan sebelumnya di postingan sebelum ini: yakni menulis tentang ilmuwan muslim. Ilmuwan pilihan saya yang kedua setelah Ibnul Haytsam adalah Ibnu Khaldun. Jika sebelumnya adalah ilmuwan eksakta yang juga filsuf, kali ini seorang ilmuwan sosial.

Siapa Ibnu Khaldun?

Beberapa waktu lalu, pendiri social media populer Facebook Mark Zuckerberg membicarakan Ibnu Khaldun di status Facebooknya. Mark membaca buku yang ditulis tahun 1377 oleh Ibnu Khaldun, dan ia mengatakan dirinya mengagumi sang penulis buku. Buku yang dimaksud adalah buku berjudul Muqaddimah, sebuah karya besar yang pernah hadir di jagat ilmu dunia Islam.

Tapi siapa Ibnu Khaldun itu? Ia adalah seorang sejarawan, dan juga ahli sosiologi dan ekonomi. Nama panjangnya Abū Zayd ‘Abdur-Raḥmān bin Muḥammad bin Khaldūn Al-Ḥaḍrami (أبو زيد عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي‎). Ia lahir di Tunis (sekarang ibu kota Tunisia) pada 1 Ramadan 732 H atau 27 Mei 1332 TU. Bukunya, Muqaddimah, merupakan buku tentang sejarah dengan ulasan yang baik tentang perkembangan sosial masyarakat. Buku ini sedemikian terkemukanya hingga sampai jaman modern sekarang ini, 6 abad setelah buku tersebut ditulis, masih ada yang menerbitkan. Bahkan orang mengatakan gelar “bapak ekonomi” seharusnya tidaklah disematkan kepada Adam Smith, namun kepada Ibnu Khaldun. Sebab, Ibnu Khaldun yang hidup beberapa ratus tahun sebelum Adam Smith telah menjabarkan, walaupun secara lebih sederhana, pemikiran yang dikeluarkan oleh Smith. Wallahu a’lam, perkara itu biarlah masing-masing manusia saja yang menilai.

Patung Ibnu Khaldun. Gambar dari Wikipedia.

Patung Ibnu Khaldun. Gambar dari Wikipedia.


Ibnu Khaldun keturunan bangsawan Andalusia—walaupun ada yang meragukan klaim ini. Kita tahu Andalusia: “Spanyol Islam”. Pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan di tengah kegelapan Eropa. Tapi saat Ibnu Khaldun hidup, Andalusia telah mundur dan mulai kalah oleh kerajaan-kerajaan Kristen Spanyol. Keluarganya mengungsi dari Sevilla ke Tunisia yang saat itu dikenal sebagai Maghreb. Di Tunisia, keluarganya mengabdi pada keluarga kerajaan Hafsid.

Sebagai anak orang terpandang, ia sempat mengenyam pendidikan yang baik di Tunisia. Bagus untuknya, sebab dengan demikian ketika dewasa ia menjadi sarjana terkemuka dengan karya yang hebat. Seperti umumnya pendidikan pada jaman itu, ia menguasai banyak hal, baik dalam cabang ilmu agama ataupun ilmu umum.

Pada masanya, di Afrika utara dan di berbagai bagian lain dunia Islam terdapat banyak penguasa-penguasa kecil yang saling berebut pengaruh—mulai dari bangsa penghuni gurun Sahara hingga para penguasa di Maroko, Tunisia hingga Mesir. Hal ini membuat ia berkelana ke banyak tempat, bekerja untuk penguasa satu kemudian berpindah ke penguasa lainnya. Ia berkelana dari Tunisia, Maroko, Granada, kembali lagi ke Tunisia, lalu Mesir. Di setiap kesempatan, sebagai orang terpelajar dan ambisius ia selalu berusaha menerapkan ide-idenya walaupun seringkali orang yang mempekerjakannya murka (itu sebabnya ia jadi sering berpindah-pindah). Pengalaman berkelana ke berbagai tempat itulah barangkali yang membuat pengetahuannya di bidang sejarah, ekonomi dan sosiologi demikian luas.

Hasil Karya

Di antara topik karyanya tentang ekonomi adalah perlunya sistem keuangan Islam yang mata uangnya punya nilai intrinsik, yakni dinar (memiliki nilai emas) dan dirham (memiliki nilai perak). Nilainya juga harus dibakukan dan digunakan dalam berbagai transaksi keuangan Islam. Dengan begitu sistem keuangan Islam seperti misalnya zakat, denda haji, mahar pernikahan dan sebagainya akan menjadi teratur.

Juga di bidang ekonomi ia mengatakan,

Bisnis yang dimiliki oleh pebisnis yang bertanggungjawab dan terorganisasi [dengan baik] pada akhirnya akan mengalahkan bisnis yang dimiliki penguasa kaya.

Saya sendiri melihat kata-kata ini agak mirip dengan pendapat ekonomi liberal modern.

Di bidang sosio-politik, ia melihat bahwa peradaban mengalami periode bangkit dan tenggelam bergantung pada bagaimana pelaku peradaban bekerja. Suatu bangsa barbar bisa mengalahkan sebuah bangsa beradab, tapi kemudian bangsa barbar itu akan mengadopsi peradaban yang diruntuhkannya, sehingga terbangun peradaban baru yang bisa jadi lebih besar lagi. Peradaban baru ini kelak akan runtuh pula, tapi lama periodenya bergantung seberapa kuat peradaban tersebut dipertahankan.

Ibnu Khaldun juga membahas perilaku (sosiologi). Salah satunya perilaku bangsa Arab. Menurutnya, orang arab itu,

Bangsa Arab hanya berminat menguasai kawasan dataran karena mereka secara alamiah adalah bangsa yang suka menghancurkan. Mereka merusak segala yang bisa mereka ambil tanpa perlu banyak pertarungan atau resiko; akan melarikan diri serta tidak bertempur kecuali terpaksa untuk membela diri. Ketika berhadapan dengan masalah, mereka akan meninggalkannya dan mencari yang lebih mudah. Suku bangsa yang tinggal di perbukitan lebih aman dari pengaruh mereka karena mereka (bangsa Arab) ini memilih untuk menghindari susahnya mendaki bukit atau mengambil resiko. Suku bangsa di daerah dataran lebih mudah terkena pengaruh mereka karena pertahanan alami yang lebih lemah, dan akan terus diganggu dan dikuasai, hanya untuk kemudian [bangsa Arab] ini akan bertempur sesamanya dan mengalami kemunduran politik. Dan Allah bisa berbuat apapun kepada ciptaannya, dan Ia adalah satu-satunya, yang Maha Kuasa dan tak ada Tuhan selain Dia.

Sejarah Islam: Latta, Uzza dan Manat

Sebelum Islam datang, penduduk Arab adalah penganut paganisme—semacam agama yang mencampuradukkan beragam keyakinan dan menyembah berhala. Sesembahan mereka banyak. Konon, sebelum peristiwa Fathul Makkah (penaklukan Makkah oleh Muhammad SAW), di Ka’bah terdapat beribu-ribu berhala. Semuanya tak ada lagi sisanya karena sudah dihancurkan dan semua penduduk Makkah memeluk Islam. Dari banyak dewa-dewi sembahan tersebut, dalam Al Quran disebutkan bahwa kaum musyrik di Makkah menyembah 3 berhala utama: Latta (Allāt, اللات‎), Uzza (Al ‘Uzza, العزى‎) dan Manat (Manāt, مناة).

Sejak kecil saya memang meminati sejarah, karena itu saya sangat menyukai pelajaran Tarikh Islam atau Sejarah Islam yang saya terima di madrasah. Dari pelajaran ini saya pertama kali mendengar berhala-berhala yang disembah kaum sebelum Muhammad tersebut. Guru saya waktu itu menceritakan, bahwa kaum musyrik itu sebegitu bodohnya sehingga mereka sampai membuat berhala ini dalam wujud kue dan kemudian memakannya. Saat saya tumbuh dewasa, saya sadari kisah “memakan kue berhala” itu tak ada referensinya, tapi bahwa kaum musyrik itu sedemikian “bodoh” bisa jadi benar. Kita lihat nanti.

Awalnya saya mengira 3 berhala utama itu adalah “dewa”, atau tuhan dalam wujud laki-laki. Ternyata bukan. Mereka adalah “dewi”, tuhan dalam wujud perempuan. Saya lupa apakah guru saya di madrasah pernah menjelaskan kalau mereka ini adalah para dewi, atau apakah guru agama saya pernah menjelaskan tafsir surat Annajm ayat 19-21 (QS 53:19-21). Dalam tafsir ayat-ayat di surat Annajm tersebut disebutkan bahwa kaum musyrikin menganggap Latta, Uzza dan Manat adalah “anak-anak perempuan Allah”.

Masyarakat di Arabia sebenarnya punya tradisi monoteisme sebagaimana halnya bangsa Israel, dan mereka juga dahulunya menyembah satu tuhan, yakni tuhannya Ibrahim. Hal ini bisa kita tilik dari sejarah orang Arab yang merupakan keturunan Ismail (bangsa Israel merupakan keturunan Ishaq). Karena berasal dari satu nenek moyang, yakni Ibrahim yang monoteis, maka jelas dahulunya orang Arab adalah pemeluk agama tauhid. Namun seiring waktu, keyakinan monoteisme Arab bergeser dan mulailah paganisme dan politeisme menjadi keyakinan mereka. Walau demikian mereka masih mengaitkan Allah dengan tuhan-tuhan pagan mereka, antara lain, seperti disebutkan dalam QS 53:19-21, Latta, Uzza dan manat adalah “anak-anak perempuan Allah”. Selain itu, Allah juga masih disebutkan dalam nama-nama orang Arab, sebagai contoh ayah dari Rasulullah Muhammad SAW bernama Abdullah. Abdullah berarti “Hamba Allah”, padahal beliau sudah meninggal saat Rasulullah SAW masih kecil.

Coba kita lihat masing-masing dewi ini satu persatu. Catatan: Kebanyakan sumber saya adalah Wikipedia, dan sedikit saya juga membaca Kitab al-Asnam (Book of Idols) karya Abu al-Mundhir Hisham ibn-Muhammad ibn-al-Sa’ib ibn-Bishr al-Kalbi yang bisa diunduh dari sini. Isi Wikipedianya sendiri juga banyak merujuk dari Kitab al-Asnam ini.

Allāt, اللات‎

Relif Allāt yang ditemukan di Thaif, Arab Saudi. Diperkirakan dibuat tahun 100 TU. Gambar dari Wikipedia.

Relif Allāt yang ditemukan di Thaif, Arab Saudi. Diperkirakan dibuat tahun 100 TU. Gambar dari Wikipedia.

Allāt, atau dalam tradisi Indonesia sering disebut sebagai Latta, merupakan “dewi dunia bawah” yang disembah kaum pagan di jazirah Arab sebelum Islam. Dewi ini merupakan tradisi pagan, bercampurnya agama asli Arab dengan dewa-dewi dari Yunani dan Romawi serta dari negeri lain melalui berbagai cara. Bagi orang Nabatea di Petra, yang tinggal di utara semenanjung Arabia tepatnya di daerah Yordania sekarang, dewi Latta ini merepresentasikan Athena, Tyche atau Minerva. Herodotus juga menyebutkan tentang “Alilah” yang merupakan penyebutan Arab terhadap Aphrodite.

Dalam catatan sejarah Islam, terdapat satu daerah yang masih musyrik sementara bagian lainnya seperti Makkah, Madinah bahkan Yaman sudah memeluk Islam. Daerah itu adalah Thaif. Penduduknya pernah sangat memusuhi Rasulullah SAW, melempari dan mengusir sang nabi saat beliau datang ke Thaif untuk mencari perlindungan dari kaum musyrik Makkah. Pada tahun 630 TU, dua tahun sesudah Fathul Makkah dan bersamaan dengan perang Tabuk melawan Byzantium, Thaif dikepung oleh Rasulullah SAW dan tentaranya. Penduduk Thaif meminta perundingan untuk mengakhiri pengepungan, dan syarat yang diberikan Rasulullah adalah penduduk Thaif masuk Islam dan semua berhala dihancurkan. Termasuk di antaranya adalah kuil/tempat persembahan yang didedikasikan bagi Latta. Penduduk Thaif mulanya minta keringanan, diberikan jeda 3 tahun untuk proses pindah agama. Rasulullah menolak. Mereka minta jeda 2 tahun, 1 tahun, 6 bulan, tetap ditolak. Terakhir mereka minta diberikan keringanan untuk tidak melakukan ibadah harian (shalat) dan juga meminta bahwa orang yang akan menghancurkan berhala-berhala bukan dari kalangan warga Thaif. Rasulullah SAW tidak memberikan keringanan untuk tak melakukan shalat tersebut, tapi mengabulkan keinginan yang kedua. Abu Sufyan bin Harb—dahulunya musuh besar Rasulullah dari kalangan kaum Quraisy Makkah—diberi tugas sebagai penghancur berhala. Kisah ini adalah asbabun-nuzul QS 17:73.

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. (QS 17:73)

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. (QS 17:73)

Al ‘Uzza, العزى

Uzza merupakan dewi pagan Arab, termasuk orang-orang Nabatea di Petra, yang disamakan dengan Aphrodite (Yunani) atau Venus (Romawi). Dewi ini dianggap sangat penting sehingga orang-orang Arab pra-Islam sering memberi nama “Abdul ‘Uzza” kepada anak-anaknya. Di makkah, pusat penyembahannya terdapat di Nakhla.

Relif Uzza yang ditemukan di Petra, Yordania. Gambar dari Wikipedia

Relif Uzza yang ditemukan di Petra, Yordania. Gambar dari Wikipedia

Pada saat Fathul Makkah, Rasulullah memerintahkan Khalid ibn Walid dan pasukannya untuk mendatangi tempat bernama Nakhlah, yang menjadi pusat penyembahan Uzza di kalangan Quraisy. Terdapat cerita menarik tentang proses penghancuran berhala ini.

Ketika Khalid ibn Walid mendatangi Nakhla, ia memasuki kuil dan menghancurkan segala yang ada, lalu kembali kepada Rasulullah SAW untuk memberi laporan. Rasulullah bertanya apakah ada hal aneh yang terjadi, dan Khalid menjawab tidak. Rasulullah kemudian menyuruh Khalid kembali, karena rupanya Khalid belum menghancurkan Uzza yang sebenarnya.

Ketika tiba di Nakhla kembali, Khalid memasuki kuil dan bertemu penjaga kuil. Sang penjaga kuil melarikan diri, tapi sebelumnya ia menggantungkan pedang di leher patung Uzza dengan harapan sang dewi dapat membela dirinya sendiri (nah ini yang tadi saya bilang: kaum musyrik itu bodoh). Khalid kemudian bertemu seorang perempuan hitam (orang Afrika) di kuil, tidak berpakaian dan rambutnya terurai serta mengoceh tak karuan. Khalid membunuhnya, lalu kembali kepada Rasulullah SAW yang kemudian mengatakan “Itulah Uzza, dan dia tak akan lagi disembah oleh orang-orang di tanah Arab.”

Kisah Khalid ibn Walid ini memiliki versi lain, seperti dalam tafsir Ibn Katsir dan berbagai buku yang ditulis oleh sejarawan Arab abad 7 dan 8.

Manāt, مناة

Manāt merupakan dewi yang paling kuno dalam kepercayaan masyarakat Arabia pra-Islam. Ia merupakan dewi pengatur nasib. Suku Aus dan Khazraj asal Yatsrib (Madinah) memiliki kuil penyembahan dewi ini di tempat yang dinamakan Al-Mushallal. Bagi orang Nabatea di Petra, Manat disamakan dengan dewi Yunani Nemesis. Manāt juga merupakan istri bagi Hubal—dalam kepercayaan Arab kuno, Hubal juga termasuk ke dalam dewa-dewa sembahan mereka. Seperti halnya Uzza, orang Arab pra-Islam suka memberi nama “Abd al-Manāt” kepada anak-anaknya.

Penghancuran berhala Manāt terjadi pada waktu yang bersamaan dengan penghancuran Uzza, yakni pada saat Fathul Makkah. Sa’d ibn Zaid al-Ashhali dikirimkan ke Al Mushallal untuk menghancurkan kuil dan berhala Manāt, namun sumber lain menyebutkan yang dikirim adalah Ali ibn Abi Thalib. Disebutkan juga bahwa ketika menghancurkan kuil, Ali membawa pulang dua buah pedang yang dijadikan persembahan oleh raja Ghassan. Salah satu pedang itu kemudian dikenal dengan nama Zulfikar.

Apa gunanya mempelajari sejarah para berhala ini? Bagi saya, sama saja seperti kenapa kita mempelajari sejarah apapun. Memenuhi rasa ingin tahu.

Rasulullah SAW memang menghancurkan semua berhala sehingga hampir tak bersisa satupun jejak berhala-berhala di tanah Arab. Penghancuran ini penting untuk menahan umat yang kala itu baru memeluk Islam, agar tak berpaling dan kembali ke penyembahan berhala jika Rasulullah SAW sudah tiada. Ini memang agak menyulitkan upaya penelusuran sejarah, namun beberapa sisa-sisa berhala yang cocok dengan berhala sembahan kaum musyrik Quraisy justru ditemukan di daerah Yordania, yakni di Petra. Seakan jadi pesan bahwa Allah tetap meninggalkan bahan buat dipelajari oleh umat manusia.

Waktu kecil saya suka bertanya-tanya bagaimana wujud patung berhala sembahan bangsa Arab, juga berhala kaum Aad, kaum Tsamud. Juga ritual keagamaan mereka, karena Allah seringkali menyebut dalam Al Quran betapa sesatnya mereka. Dengan mempelajari sejarahnya, kita setidaknya jadi paham bagaimana proses kemusyrikan di kalangan orang-orang jaman dahulu, dan menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mengikuti langkah mereka.

Oh ya, saat menelusuri kisah 3 dewi Arab kuno ini, saya menemukan tulisan tentang kaum neo-pagan. Mereka merekonstruksi dewa-dewi kuno dan menyembahnya, termasuk Latta, Uzza dan Manat ini. Naudzubillah min dzalik …

Ilmuwan Muslim 1: Ibnul Haytsam (Alhazen)

Catatan Pembuka
Rencana awalnya, saya bermaksud menceritakan ulang tentang ilmuwan-ilmuwan muslim secara berseri selama Ramadan. Ternyata rencana tinggal rencana, pada hari ke-3 Ramadan ini saya belum mengupload satu tulisanpun ke blog ini :mrgreen:

Sungguhpun demikian, “sedikit” dan “terlambat” tetaplah lebih baik daripada tidak sama sekali. Jadi sekarang saya tuliskan saja satu kisah ilmuwan muslim pilihan pertama saya: Ibn al-Haytham atau Alhazen. Saya merangkum tulisan ini dari berbagai sumber. Tidak semua sumber saya tuliskan, ini kan bukan karya ilmiah. Anda bisa menemukan banyak sekali tulisan lain yang lebih lengkap di internet.

Seribu tahun lalu. Seperti apa kira-kira pengetahuan manusia pada masa yang telah sangat lampau tersebut? Manusia masih tinggal di goa, menyalakan api menggunakan kayu, transportasi antar kota menggunakan keledai, masa-masa kekaisaran masyhur, perang salib dan sebagainya?

Jawaban-jawaban itu benar semuanya. Tapi satu hal yang menarik perhatian saya, jarak seribu tahun tak menghasilkan perbedaan apa-apa pada kemampuan otak manusia dalam menyerap pengetahuan. Jika di era modern ini kita punya banyak orang jenius, demikian juga dengan jaman dulu.

Salah satu jenius di masa seribu tahun lalu itu adalah Ibn al-Haytham.

Gambaran artis untuk Ibn al-haytsam. Gambar dari Wikipedia.

Gambaran artis untuk Ibn al-haytsam. Gambar dari Wikipedia.

Ibn al-Haytham (ابن الهيثم) hidup di masa Daulah Abbasiyah, salah satu dinasti muslim besar yang pernah berkuasa di Timur Tengah hingga Eropa. Jika saya boleh membuat kategori, masa dinasti Abbasiyah ini saya kategorikan sebagai masa ketika dunia Islam gemilang karena ilmu pengetahuan. Sebelum masa Abbasiyah (periode nabi Muhammad SAW hingga dinasti Umayyah) adalah masa persiapan dan pengokohan kedaulatan Islam, sedangkan masa sesudah Abbasiyah (sejak dimulai perang salib hingga berkuasanya dinasti Utsmani) adalah masa ketika dunia Islam gemilang karena kekuatannya.

Kembali ke topik, Ibn al-Haytham hidup di masa Abbasiyah, saat ilmu pengetahuan sedemikian gilang gemilang. Ia dilahirkan di Basra, di negeri yang sekarang kita kenal sebagai Iraq yang berkecamuk perang. Nama lengkapnya Abū ʿAlī al-Ḥasan ibn al-Ḥasan ibn al-Haytham, dilahirkan pada tahun 965 TU dan meninggal di Mesir pada tahun 1040 TU1. Orang-orang Eropa mengenalnya dengan nama Alhazen atau Alhacen, versi latin untuk namanya yaitu al-Hasan.

Seperti umumnya para ilmuwan masa lalu, ia tidak hanya menguasai satu cabang ilmu saja. Kontribusi ilmiahnya antara lain di bidang filsafat, optik, astronomi, meteorologi dan juga matematika. Karya monumentalnya adalah Book of Optics (كتاب المناظر), dan juga ia dikenal sebagai peletak fondasi dasar metode ilmiah.

Book of Optics

Tahun 2015 ini dinyatakan sebagai Tahun Cahaya (Year of Light). Termasuk dalam salah satu fokus perayaan Year of Light ini adalah karya monumental Ibn al-Haytham, tentang optik, yang telah berusia setidaknya 1000 tahun. Ia menuliskan karyanya dalam buku berjudul Book of Optics itu tadi.

Optika adalah satu cabang ilmu dalam Fisika yang berbicara tentang perilaku cahaya. Konsep tentang optik sudah dikenal sejak jaman Yunani kuno, dan Ibn al Haytham mengkaji ulang konsep-konsep lama tersebut dan merevisi hal-hal yang terbukti keliru.

Konon, konsep optika itu dipelajari oleh Ibn al-Haytham selama ia berada dalam tahanan rumah. Ia ditahan oleh khalifah Al Malik, penguasa dinasti Fatimiyah di Mesir, dari tahun 1011 hingga 1021. Sebelumnya saat berada di Basra, Ibn al-Haytham memiliki suatu rancangan untuk membuat bendungan di sungai Nil (sekarang dikenal sebagai bendungan Aswan), dan rancangan itu didengar oleh Al Hakim sehingga ia diundang ke Mesir. Namun setelah melakukan studi lapangan ia menyadari bahwa rancangannya tak bisa diterapkan. Setelah melaporkan ke Al Hakim bahwa pekerjaannya tak mungkin dilakukan, ia kemudian berpura-pura gila. Hal itu karena ia khawatir mendapatkan hukuman berat dari Al Hakim, sebab Al Hakim ini dikenal bisa melakukan hal terjahat apabila bertemu dengan hal yang tak disenanginya. Ibn al-Haytham akhirnya dikenai tahanan rumah karena “kegilaannya”.

Karya Ibn al-Haytham di bidang optik pada masa itu seakan melampaui jaman. Dari eksperimen yang dilakukan, Ibn al-Haytham berkesimpulan bahwa cahaya merambat lurus. Ia mengembangkan konsep pemantulan pada cermin parabolik. Ia juga melakukan eksperimen untuk pembiasan. Konvensi “sudut datang” dan “sudut bias” adalah miliknya, dan hingga kini masih digunakan dalam hukum pembiasan Snellius. Ibn al-Haytham jugalah yang menyatakan bahwa ketika cahaya memasuki suatu medium yang lebih rapat, cahaya tersebut bergerak lebih lambat. Pendapatnya tentang pembiasan itu digunakannya untuk menjelaskan fenomena fajar/senja, dengan menyatakan bahwa fajar/senja terjadi karena matahari berada di bawah ufuk (horizon) sehingga cahayanya dibiaskan oleh atmosfer.

Di antara topik menarik bagi saya yang dibahas Ibn al-Haytham adalah tentang bagaimana mata kita bisa melihat. Dalam pandangan kuno, kita bisa melihat karena mata mengeluarkan cahaya ke obyek, lalu obyek memantulkannya kembali ke mata. Persis seperti bagaimana bunyi dipantulkan sehingga terjadi gema. Ibn al-Haytham mendapati bahwa ide ini tidak cocok dengan kenyataan.

Eksperimen Ibn al-Haytham dengan ruangan gelap yang menghasilkan bayangan dari benda di luar ruangan. Gambar dari http://www.ibnalhaytham.com/

Eksperimen Ibn al-Haytham dengan ruangan gelap yang menghasilkan bayangan dari benda di luar ruangan. Gambar dari http://www.ibnalhaytham.com/

Bayangkan kita berada di dalam ruangan yang gelap. Kita tak dapat melihat apa-apa. Dari sini sudah jelas bagi Ibn al-Haytham bahwa konsep “mata mengeluarkan cahaya” itu keliru. Ibn al-Haytham memperkuat eksperimennya dengan cahaya yang masuk dari lubang kecil ke ruangan gelap itu. Kita akan bisa melihat benda yang terkena cahaya tersebut, tapi yang tidak terkena cahaya tetap tak bisa dilihat. Artinya, benda yang terkena cahaya bisa dilihat. Kesimpulannya, cahaya mengenai benda lalu memantul dan masuk ke mata.
Jelas sudah bagi Ibn al-Haytham: cahaya tidak datang dari mata. Kita bisa melihat karena cahaya, dari sumber apapun, mengenai benda lalu dipantulkan dari benda ke mata.

Untuk alasan itu pula, cahaya dari lubang kecil di dinding ruangan gelap tersebut juga bisa membentuk bayangan dari benda yang ada di luar ruangan. Ibn al-Haytham menjelaskan dasar-dasar camera obscura) dan kemudian, setelah mempelajari anatomi mata, ia menggunakan penjelasan camera obscura itu untuk menjelaskan bagaimana bayangan benda bisa terbentuk di dalam mata.

Filsafat Ilmu

Ada banyak karya Ibn al-Haytham d bidang sains. Namun selain sebagai saintis, Ibn al-Haytham juga adalah seorang filsuf (pemikir). Terutama sekali, hasil pemikirannya adalah tentang bagaimana menyikapi ilmu pengetahuan, termasuk dalam kaitannya dengan agama. Ibn al-Haytham dianggap sebagai peletak dasar-dasar metode saintifik (scientific methods): sebuah konsep harus dikaji dan dicari buktinya agar dapat disimpulkan kebenarannya.

Kutipan kata-katanya berikut barangkali dapat menggambarkan bagaimana pemikirannya.

Pendapatnya tentang metode ilmiah.

“Para pencari kebenaran bukanlah mereka yang mempelajari naskah-naskah kuno dan kemudian, sesuai karakter alamiahnya, menaruh keyakinan sepenuhnya [pada naskah tersebut]; melainkan mereka yang meragukan kayakinannya [pada naskah tersebut] dan mempertanyakan hal-hal yang bisa diambil [dari naskah]; mereka yang masuk ke perdebatan dan pertunjukan pembuktian; terutama karena sifat alamiah manusia adalah rentan terhadap segala kekurangan dan ketidaksempurnaan. Jadi, tugas seseorang yang mempelajari tulisan dari seorang ilmuwan jika kebenaran menjadi tujuannya, adalah menjadikan dirinya sendiri sebagai musuh bagi apapun yang ia baca; lalu dengan memasukkan pikirannya ke inti permasalahan ia menyerang bacaannya itu dari segala sisi. Ia juga harus mencurigai dirinya sendiri saat melakukan pemeriksaan kritis tersebut, sehingga ia bisa menghindari prasangka dan kemurah-hatian”

Dari bukunya Al-Shukūk ‛alā Batlamyūs (Doubt Concerning Ptolemy — Keraguan Terhadap Ptolemius).

“Kebenaran dicari untuk kebenaran itu sendiri. Menemukan kebenaran itu sulit, dan jalannya berat, karena kebenaran itu dilingkupi oleh kegelapan. Allah tidak melindungi ilmuwan dari kesalahan dan tidak membentengi ilmu pengetahuan dari keteledoran dan kekeliruan—jika seperti itu [ilmuwan dan ilmu pengetahuan terlindung] tentulah para ilmuwan tak akan bersilang pendapat terkait pengetahuannya.”

Pendapatnya tentang ilmu pengetahuan dan agama. Saya suka ini.

“Saya secara konsisten mempelajari kebenaran dan pengetahuan, dan saya beranggapan untuk mendapatkan berkah dan kedekatan dengan Allah tak ada cara yang lebih baik daripada melalui pencarian kebenaran dan pengetahuan.”

Penutup

Iqra, karya teakster @ deviantart

Iqra, karya teakster @ deviantart

Ibn al-Haytham menunjukkan kepada kita bagaimana semestinya kita berpikir. Jika menilik lebih jauh ke dalam konsep Islam tentang ilmu pengetahuan, kita akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan Ibn al-haytham. Bukankah seringkali Allah SWT bertanya dalam Al Quran, “Tidakkah kamu melihat?”, “Tidakkah kamu mendengar?”, dan juga “Tidakkah kamu berpikir?”. Itu petunjuk sederhana bahwa alat indra yang dimiliki, dan terutama great mind yang hanya diberikan pada manusia itu, haruslah digunakan untuk mencari kebenaran.

Metode ilmiah yang dikembangkan oleh Ibn al-Haytham ini bukanlah semata-mata panduan bagi setiap saintis ketika ia melakukan penelitian. Jika kita sebagai manusia meletakkan diri kita sebagai “khalifah di muka bumi”, maka kita harus selalu mencari kebenaran. Dan kebenaran itu bukanlah mengikuti begitu saja apa yang ditulis oleh para ulama (ulama = ilmuwan). Juga bukan mengikuti prasangka dari diri sendiri, atau yang lebih buruk: mengikuti hanya karena kita suka. Kita harus selalu kritis, selalu sigap mencari bukti-bukti.

Di sekolah, di temoat kerja, bahkan di masjid, perbanyaklah pertanyaan “mengapa” atau “bagaimana” alih-alih pertanyaan “apa” dan “siapa”.

1) “TU” adalah singkatan dari “Tarikh Umum”, terjemahan yang tepat untuk “CE” (Common Era). Pemakaian “TU” alih-alih “M” atau “Masehi” mengikuti alasan kenapa di beberapa tempat luar negeri digunakan “CE” alih-alih “AD” (Anno Domini)

Kucing, Anjing dan Evolusi

Sekali-sekali menulis tentang Biologi :-D

Dahulu saya tidak setuju dengan teori evolusi. Sederhana saja: Al Quran menyatakan bahwa makhluk hidup itu diciptakan, bukan berkembang dengan sendirinya. Seiring waktu, pendapat berubah. Terutama saat kuliah S1 di ITB—saat beragam jenis pemikiran melintas di kepala saya, memaksa saya untuk meninggalkan beberapa pandangan lama. Saya sekarang sepakat dengan teori evolusi, termasuk sepakat dengan kata-kata teman saya bahwa tanpa teori evolusi maka keberadaan makhluk hidup di dunia ini tak dapat dijelaskan dengan sains, dan itu absurd. Jika Tuhan menciptakan ilmu pengetahuan dan menyuruh manusia untuk mendalami ilmu pengetahuan, maka pastilah segala sesuatu yang diciptakan Tuhan dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Konsistensi adalah sifat ilahiyah.

Bagaimana dengan Al Quran tadi? Pada kenyataannya, Al Quran tidak menyebutkan proses penciptaan makhluk hidup dengan detil. Ada kisah penciptaan Adam dari tanah yang ditiupkan ruh. Disebutkan juga proses penciptaan alam semesta berlangsung dalam 6 masa. Tapi semua itu multitafsir. Apa yang bisa kita katakan tentang 6 masa tersebut? Apakah seperti yang dikatakan penganut agama Israiliyyat (agama yang diturunkan kepada Bani Israil), bahwa Tuhan menciptakan semesta dalam 6 hari lalu di hari ke-7 Ia beristirahat?

Bukan hanya untuk proses penciptaan, hal yang serupa juga terjadi pada teori heliosentris dan geosentris. Jika dipandang sepintas, Al Quran mengatakan bahwa Matahari mengelilingi Bumi (geosentris), sementara sains—bukan hanya pendapat melainkan sebuah fakta—menunjukkan bahwa Bumi dan planet-planet yang mengelilingi Matahari (heliosentris).

Apakah Al Quran salah? Tidak mungkin. Sebagai orang beriman, saya akan mengatakan tidak mungkin. Sains yang salah? Mungkin, tapi bukti-bukti empirik menunjukkan sains juga tidak salah. Lalu apa dong? Bisa jadi tafsiran kita yang salah. Karakteristik Al Quran memang sedemikian: di satu sisi ada hal-hal yang dijelaskan dengan detil (ambil contoh proses perkembangan janin dalam QS 23:14—detil sekali dan scientifically correct!); di sisi lain ada hal-hal yang disampaikan secara samar.

Pembahasan lebih lanjut mengenai Al Quran dalam kaitan dengan topik ini diluar batas kemampuan saya.

Kucing dan Anjing

Kucing dan anjing adalah “sahabat karib” manusia. Anjing bisa menjadi penjaga dan teman berburu. Kucing? Adakah teman yang lebih imut dan lucu daripada seekor kucing? Kucing bahkan mendengarkan curhat dengan baik: ia tidak menceritakan ataupun mengeluhkan curhatan kita kepada orang lain :mrgreen:

Adakah teman yang lebih lucu daripada kucing? Foto koleksi pribadi.

Adakah teman yang lebih lucu daripada kucing? Foto koleksi pribadi.

Kenapa kita sekarang membahas anjing dan kucing? Begini. Saya terkesima dengan apa yang disampaikan Neil deGrasse Tyson dalam serial dokumenter Cosmos: A Spacetime Odyssey episode 2 (Some of the Things Molecules Do). Sebelumnya saya sudah tahu bahwa anjing pertama kalinya menjadi teman manusia modern pada kisaran jaman es terakhir, sekitar 30.000 tahun yang lalu. Tyson dengan baik sekali mengatakan bahwa pertemanan anjing dengan manusia adalah suatu hal yang dapat menunjukkan betapa logisnya teori evolusi.

Intermezzo. Neil de-Grasse Tyson ini bukan Mike Tyson dan saya tak tahu hubungan kekerabatan mereka—hal itu mungkin menarik juga untuk dikaji.

Apa yang dikatakan Tyson? Dahulu ada serigala. Karena manusia puluhan ribu tahun lalu hidup dengan cara berburu, atau tinggal di hutan dan di gua, pastilah sering berinteraksi dengan serigala. Agar serigala itu tak mengganggu, sebagian manusia mencoba membuat trik, misalnya menaruh daging di tempat tertentu sehingga serigala memilih untuk memakan daging tersebut tanpa harus repot bertengkar dengan manusia. Percayalah, hewan juga punya pilihan dan mereka itu pragmatis. Hewan menyeramkan seperti harimau saja, jika tidak karena habitatnya diganggu manusia, tidak akan mereka mengganggu manusia. Kembali ke serigala tadi, dengan perlakuan yang sama secara berulang, akhirnya sebagian serigala menjadi benar-benar pragmatis dan mulai bergantung pada makanan pemberian manusia.

Lama-kelamaan, sudah bisa ditebak, serigalanya jadi jinak. Di jaman modern ini kita tahu, tidak butuh waktu terlalu lama untuk menjinakkan hewan.

Ketika serigala jadi jinak, mereka tak langsung berubah jadi anjing bodoh seperti yang dipelihara manusia sekarang (ups, I’m a dog haters anyway hihi :mrgreen: ). Manusia suka bereksperimen, jadi mungkin saja mereka mengawinkan serigala jinak satu dengan lainnya (misalnya serigala Eropa dengan Asia) sehingga lahir serigala jenis baru. Demikian seterusnya sampai akhirnya keturunan serigala itu tidak lagi berbentuk serigala, dan manusia pun menyebutnya “anjing”.

Sekarang kita dapat dengan jelas membedakan anjing dengan serigala, dan ada banyak sekali spesies anjing yang memiliki fisik dan kelakuan berbeda. Hanya saja, beragam spesies anjing itu tetap memiliki kesamaan genetik dengan serigala. Penekanan berikut diberikan oleh Tyson dalam serial Cosmos: Jika dalam 30.000 tahun bisa hadir banyak spesies anjing, apa yang akan terjadi dalam satu juta, seratus juta, seratus miliar tahun? Bukan lagi perbedaan spesies, kita mungkin saja malah menemukan perbedaan ordo.

Tyson tidak menyebutkan tentang kucing. Tapi sebagai penggemar kucing (dan pembenci anjing), saya melihat bahwa pertemanan manusia dengan kucing juga menjelaskan logika evolusi yang sama. Pertemanan itu belum berlangsung lama. Persahabatan kucing dengan manusia diperkirakan telah berusia 12.000 tahun, ditunjukkan dengan ditemukannya kuburan yang didalamnya terdapat tulang kucing. Sebelum kuburan ini ditemukan, orang-orang bahkan mengatakan bahwa bangsa pertama yang menjadikan kucing sebagai teman adalah bangsa Mesir kuno, 3.500 tahun yang lalu. Jauh lebih singkat dibanding pertemanan manusia dengan anjing yang telah berlangsung 30.000 tahun itu. Tapi lihat, ada begitu banyak macamnya kucing rumahan. Manx, Siamese, Angora, kucing kampung dan sebagainya. Ada yang berkembang secara natural, ada pula yang dikembangkan dengan crossbreeding ataupun mutation. Dalam 12.000 tahun bisa berkembang sedemikian banyak jenis kucing, maka tentu bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dalam 120.000.000 tahun.

Oh ya, saya sekarang mendapat pertanyaan baru. Kucing dan anjing adalah dua hewan yang bermusuhan. Kehidupan mereka di tengah-tengah manusia pada kenyataannya menghasilkan perubahan perilaku. Sekarang tak asing lagi kita temukan anjing dan kucing tidur bareng. Kira-kira apa yang terjadi seribu tahun lagi? Lalu, apakah dahulu kucing liar (Felis silvestris silvestris, nenek moyang kucing domestik), juga bermusuhan dengan serigala atau hewan dari kelompok Canis lainnya? Sejauh ini tampaknya yang cukup jelas adalah kucing besar seperti singa dan leopard bermusuhan dengan hyena yang merupakan kerabat anjing.

Genetika

Kunci dari proses evolusi adalah genetika. Makhluk hidup memiliki gen. Gen dapat dipengaruhi oleh banyak hal. Mutasi atau perubahan gen bisa terjadi oleh banyak sebab, disadari oleh pemilik gen tersebut atau tidak. Jadi bukan hanya melalui perkawinan, bisa juga melalui makanan, perubahan kondisi alam, persaingan hidup dan sebagainya.

Perkara kucing dan anjing merupakan suatu contoh perubahan genetis yang dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan manusia. Sebagian orang mungkin akan menolak menyamakan perkembangan spesies kucing dan anjing dengan perubahan pada dinosaurus, misalnya, karena ya itu tadi: ada campur tangan manusia. Kalau tidak ada campur tangan manusia, mungkinkah perubahan genetis itu terjadi?

Jawabnya: Bisa. Perubahan genetis secara alamiah terjadi dalam waktu yang lebih lama dibandingkan dengan perubahan genetis dengan campur tangan manusia. Seperti itu.

Biodiversitas di Indonesia

Bisakah kita menjelaskan keanekaragaman hayati Indonesia tanpa melibatkan proses evolusi? Jika jawaban yang diharapkan adalah “Allah SWT sudah mengatakan kun fayakun dan serta merta Indonesia ini jadi sangat kaya oleh makhluk hidup”, diskusi selesai. Tapi apakah jawaban seperti itu memuaskan? Padahal salah satu pencerahan yang diberikan Islam kepada umat manusia adalah ilmu.

Pemisahan Nusantara oleh Wallacea

Pemisahan Nusantara oleh Wallacea

Di Indonesia ini terdapat 3 kelompok makhluk hidup daratan seperti yang dikemukakan oleh Alfred Russel Wallace. Ketiga kelompok itu memiliki karakteristik yang berbeda-beda, dengan signifikansi pada makhluk hidup di Indonesia bagian tengah. Spesies makhluk hidup di Indonesia tengah lebih endemik, karena isolasi geografis yang berlangsung ratusan juta tahun. Isolasi itu mempengaruhi perkembangan genetis, sehingga makhluk hidup di sana berkembang secara unik. Makanya, komodo (salah satu hewan khas Indonesia tengah) pada dasarnya adalah kadal, namun sangat berbeda dengan kadal lain di dunia. Isolasi yang sangat lama mengarahkan perkembangan genetis komodo menjadi suatu spesies kadal tersendiri.

Kalau laut jangan ditanya: Indonesia adalah marine biological center. Keanekaragaman hayati laut Indonesia tak ada saingannya di dunia ini. Kenapa? Karena laut Indonesia menyediakan beragam ekosistem. Tak ada laut lain di dunia ini yang terdapat laut dalam, bersebelahan dengan laut dangkal lalu gunung laut lalu zona subduksi lalu ada pertemuan arus dua samudra besar sekaligus. Setiap ekosistem yang banyak itu akan diisi oleh makhluk hidup yang cocok dengan ekosistem tersebut. Karena laut lebih terbuka, perkembangan genetis terjadi dengan cara yang berbeda. Berkembangnya spesies makhluk hidup berlangsung dalam jumlah yang banyak, berkebalikan dengan isolasi di daratan Indonesia tengah tadi. Satu jenis ikan tuna saja, misalnya, bisa memiliki berbagai anggota keluarga dengan cirinya yang berbeda-beda. Bayangkan betapa beragamnya biota laut Indonesia.

Penutup

Saya tidak mengatakan bahwa teori evolusi sepenuhnya benar. Faktanya, seperti halnya teori bigbang (asal usul alam semesta) ataupun teori tektonik lempeng, teori evolusi terus mengalami perkembangan, perubahan dan pokoknya dinamis, sebagaimana sifat alamiah ilmu pengetahuan. Namun satu garis besarnya dapat disepakati: alam semesta dengan segala isinya ini terbentuk melalui proses panjang. Ia diciptakan sedemikian sehingga mematuhi hukum-hukum alam, yang oleh manusia dikaji dalam ilmu-ilmu dasar yaitu Fisika, Biologi dan Kimia serta sebagian dijelaskan dalam bahasa universal yakni Matematika.

160 Juta Tahun Indonesia

Dahulu kala, bumi hanya terdiri atas satu benua yang dinamakan Pangaea. Pangaea kemudian terpecah dan akhirnya membentuk benua-benua seperti sekarang. Nah, pernah bertanya bagaimana kepulauan Indonesia ini terbentuk, sebagai bagian dari rentetan proses pembentukan benua-benua dari pecahnya Pangaea?

Animasi pecahnya Pangaea. Gambar diambil dari Wikipedia.

Animasi pecahnya Pangaea. Gambar diambil dari Wikipedia.

Saya pertama kalinya tertarik dengan pembentukan kepulauan Indonesia ketika mengikuti mata kuliah Seismologi, kalau tidak salah itu sekitar 4 tahun yang lalu. Kala itu saya diberi tugas kuliah mempresentasikan kondisi tektonik daerah Sulawesi dan Maluku, dan dalam pencarian bahan presentasi saya menemukan makalah dari prosiding 24th Annual Convention of Indonesian Petroleum Association. Judulnya Plate Tectonic Reconstruction of the Indonesian Region, ditulis oleh Robert Hall.

Saya kembali teringat tentang proses pembentukan kepulauan Indonesia ini ketika sejak awal November 2014 ini membaca buku The Ecology of the Indonesian Seas (Part One), yang ditulis Thomas Tomascik dkk. Dalam pembahasan Chapter II: Geology, buku ini ternyata juga mengutip makalah yang saya baca 4 tahun lalu itu. Ketika saya cari makalahnya di internet, ternyata sudah ada makalah yang lebih baru dan memuat hasil-hasil penelitian mutakhir. Makalah ini dapat diakses dengan bebas di Science Direct. Makalah ilmiah yang sangat bagus dan gratis adalah salah satu hal yang sangat saya syukuri.

Saya pikir, yang semacam ini perlu juga diceritakan ulang di blog, agar bisa dipahami juga oleh khalayak ramai. Hanya saja ada banyak hal yang saya tidak terlalu paham. Latar belakang saya bukan Geologi, sedangkan makalah ini adalah makanannya mereka yang mendalami Geologi, jadi jika terdapat kesalahan harap dimaklumi dan silakan berikan koreksi. Semua gambar (kecuali disebutkan lain) berasal dari makalah oleh Hall tersebut, saya unduh langsung dari laman web makalahnya di Science Direct.

Sebagai pendahuluan, barangkali perlu dijelaskan beberapa hal terlebih dahulu.

  1. Indonesia ini adalah daerah pertemuan 3 lempeng: lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Filipina (yang terakhir ini merupakan bagian dari lempeng Pasifik). Eurasia adalah lempeng benua, sedangkan Indo-Australia dan Filipina adalah lempeng samudra. Agak unik sepertinya untuk lempeng Indo-Australia yang dinyatakan sebagai lempeng samudra, namun di area Australia sendiri dia lebih tampak sebagai lempeng benua. Umumnya lempeng samudra di atasnya adalah laut, kalaupun menjadi daratan ya berupa pulau saja, namun untuk Indo-Australia ini ada bagian yang di atasnya adalah benua. Titik pertemuan ketiga lempeng tersebut adalah di daerah laut Banda.
  2. Sekitar 200 juta tahun yang lalu—orang geologi menyebutnya era Triassic—Bumi terbagi atas dua benua raksasa, yaitu Laurasia dan Gondwana. Laurasia masa itu mengandung daratan yang sekarang kita kenali sebagai Eropa, Asia dan Amerika utara, sedangkan Gondwana mengandung daratan selatan yaitu Amerika selatan, Afrika, Australia dan Antarktika. Dalam selang berjuta-juta tahun itu Laurasia dan Gondwana terpecah-pecah dan bergerak hingga akhirnya menyusun daratan yang saat ini kita huni. Tomascik dkk (1997) menyebutkan bahwa berbagai penelitian antara lain oleh Visser dan Hermes (1962); Audley-Charles dkk (1972); Hamilton (1973, 1978, 1979); Katili (1975, 1978) Carter dkk (1976); Barber dkk (1977); Chamalaun dan Grady (1978) serta Norvick (1979), menyimpulkan bahwa sebagian Papua, pulau Timor, Sula, Sumba, Seram dan Buru menyatu dengan Austalia, dengan demikian pulau-pulau ini adalah bagian dari Gondwana. Juga dalam Tomascik (1997) disebutkan Sumatra, Jawa dan Kalimantan menyatu dengan daerah Asia Tenggara dan bukan merupakan bagian dari Gondwana.
  3. Saya memuat peta-peta yang disampaikan Hall dalam artikelnya. Dalam melihat peta-peta di sini perlu diingat bahwa ini peta lempeng, bukan peta biasa. Warna biru berarti lempeng samudra, sementara warna lainnya menunjukkan lempeng benua dengan kadar ketebalan ditunjukkan dengan kadar kepekatan warna. Dan perlu diketahui, yang namanya lempeng samudra sudah barang tentu adalah dasar laut.

Dan sedikit pengingat, proses geologi adalah proses yang sangat-sangat-sangat panjang—sebuah proses yang berskala waktu sepanjang umur Bumi. Kita mungkin akan melihat proses yang berlangsung lebih tampak seperti dongeng, ngarang, tak masuk akal dan semacamnya. Ilmu Geofisika sama saja seperti ilmu Astronomi, dan Paleogeologi mirip sekali dengan Kosmologi: mirip seperti dongeng. Tapi percayalah, apa yang didongengkan ini semua memiliki landasan ilmiah dan masuk akal.

Kita lihat Indonesia ini, 160 juta tahun yang lalu.

Tentu saja, waktu itu negara bernama Indonesia belumlah ada. Kala itu, yang ada hanya wilayah yang sekarang menjadi Asia Tenggara, terdiri atas apa yang kini kita kenal sebagai Sumatra dan semenanjung Malaya. Pulau Kalimantan belum ada, Papua masih terletak jauh dan masih menjadi bagian dari sisa-sisa Gondwana bersama Australia dan India. Juga bergabung dengan Australia itu adalah pecahan-pecahan kepulauan Sula, serta blok Banda dan blok Argo.

Bagian dari laurasia dan sebaian Gondwana di area yang sekarang merupakan Kepulauan Indonesia, 160 juta tahun lalu.

Gambar 1: Bagian dari Laurasia dan sebagian Gondwana di area yang sekarang merupakan Kepulauan Indonesia, 160 juta tahun lalu.

Silakan dilihat pada Gambar 1. Pada masa Jurassic akhir itu, Asia terpisah dari Australia-India oleh laut Meso-Tethys. Lempeng laut Meso-Tethys ini menyusup (mengalami subduksi) ke bawah Asia Tenggara dan ke bawah blok Banda dan Argo. Subduksi yang dialami Meso-Tethys itu terjadi karena lempeng benua Asia condong bergerak ke selatan dan India-Australia condong bergeser ke utara. Tapi itu penyederhanaan dari saya saja—situasinya tidak mudah juga. Bisa dilihat pada 155 juta dan 150 juta tahun lalu (Gambar 2), blok Banda dan Argo rupanya memisahkan diri, sementara itu di lempeng Meso-Tethys sendiri rupanya ada subduksi antar lempeng samudra (dengan lempeng Ceno-Tethys), membentuk busur Woyla dan busur Incertus. Meso-Tethys menyempit dan Ceno-Tethys merangsek ke timur laut.

Pada 155 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo terpisah dari Australia dan bergeser ke utara.

Pada 155 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo terpisah dari Australia dan bergeser ke utara.

Terpisahnya Banda dan Argo dari induknya, Australia, juga berarti muncul batas lempeng divergen dan terbentuk lempeng samudra yang baru. Lokasi yang ditinggalkan oleh blok Banda yang bergeser itu, Banda Embayment, belakangan akan kita kenal sebagai Laut Banda.

Lama kemudian, kita sampai di masa 135 juta tahun yang lalu (Gambar 3). Pada masa ini, India mulai memisahkan diri dari Australia. Muncullah batas divergen antara Australia dan India, yang juga berarti terbentuk lempeng samudra yang baru. Keadaan menjadi jauh lebih rumit. Meso-Tethys makin sempit karena ia tenggelam ke bawah Asia Tenggara dan Ceno-Tethys. Blok Banda dan Argo bergeser ke timur laut, bergerak saling menjauh dengan India yang bergeser ke barat daya. Pergeseran India ini menyebabkan Ceno-Tethys terbelah menjadi Ceno-Tethys Barat dan Ceno-Tethys Timur. Australia sendiri bergeser sedikit ke selatan.

Ketika sampai di masa 135 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo sudah bergeser cukup jauh ke utara, dan India memisahkan diri dari Australia.

Gambar 3: Ketika sampai di masa 135 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo sudah bergeser cukup jauh ke utara, dan India memisahkan diri dari Australia.

Kompleksitas yang terbentuk itu selanjutnya menyebabkan adanya perubahan pada vektor gerakan lempeng. Australia dalam pergeserannya cenderung untuk berputar berlawanan arah jarum jam. Blok Banda terbelah, sehingga untuk selanjutnya akan disebut saja sebagai Banda Barat Laut (SWB – Southwest Banda), dan Argo akan disebut sebagai Jawa Timur – Sulawesi Barat (EJWS – East Java West Sulawesi). Keduanya bergerak bersama ke utara sedikit belok kanan. Setelah 10 juta tahun sejak India bercerai dari Australia, situasinya menjadi seperti pada Gambar 4.

Situasi pada masa 120 juta tahun lalu. SWB dan EJWS terus mendekat ke selatannya Asia Tenggara.

Gambar 4: Situasi pada masa 120 juta tahun lalu. SWB dan EJWS terus mendekat ke selatannya Asia Tenggara.

Apa yang terjadi dalam 20 juta tahun berikutnya sebenarnya cukup mudah ditebak. Pada Gambar 5 terlihat apa yang terjadi: EJWS dan SWB sampai di tepian Asia Tenggara. Di sana blok SWB tertahan karena lempeng Eurasia, termasuk di Asia Tenggara itu, adalah lempeng yang tebal. Karena blok SWB tertahan, blok EJWS bisa menyusulnya dan akhirnya posisi kedua blok ini jadi bersebelahan.

Suasana 100 juta tahun yang lalu, menggambarkan apa yang terjadi selama 20 juta tahun sejak terpisahnya India dan Australia.

Gambar 5: Suasana 100 juta tahun yang lalu, menggambarkan apa yang terjadi selama 20 juta tahun sejak terpisahnya India dan Australia.

Kita lompat saja ke masa 85 juta tahun lalu. SWB dan EJWS bergabung dengan Asia Tenggara, membentuk area yang disebut Sundaland. Jawa dan sebagian Kalimantan muncul akibat penggabungan ini. Ini menarik sekali, dalam artikelnya Hall juga menjelaskan bukti teori ini adalah adanya kemiripan berlian yang banyak ditemukan di Kalimantan dengan berlian yang ditemukan di Australia—tipe berlian Gondwana.

Situasi pada 85 juta tahun lalu. Sudah ada Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, tapi belum sempurna.

Gambar 6: Situasi pada 85 juta tahun lalu. Sudah ada Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, tapi belum sempurna.

Masa 85 juta tahun itu bisa dilihat pada Gambar 6. Tampak blok Banda (SWB) hilang dan terbentuk Kalimantan, sementara blok Argo (EJWS) juga hilang dan terbentuk Jawa, Sulawesi Barat & Sulawesi Selatan. India bergerak ke barat dan Australia berputar sambil bergeser ke timur. Karena interaksi dengan lempeng-lempeng lainnya, gerakan semacam ini tidak selamanya berlanjut. Australia yang sudah sedikit berputar selanjutnya terdorong ke utara, sepertinya karena interaksi dengan lempeng Antarktika di selatannya. India yang bergerak ke barat tertahan (tampaknya karena di barat itu bertemu dengan lempeng Afrika) dan berikutnya terdorong ke utara, seperti halnya Australia, ini mungkin terjadi karena interaksi dengan lempeng Antarktika di selatan. Ketika sampai di masa 50 juta tahun lalu, situasinya sudah seperti pada Gambar 7.

Situasi 50 juta tahun lalu. India sudah bergeser cepat ke utara, dan posisinya sudah hampir menumbuk Asia. Australia bergerak ke utara dan Filipina muncul dari timur.

Gambar 7: Situasi 50 juta tahun lalu. India sudah bergeser cepat ke utara, dan posisinya sudah hampir menumbuk Asia. Australia bergerak ke utara dan Filipina muncul dari timur.

Menarik juga untuk dilihat, interaksi di Sundaland bertambah kompleks karena ada tambahan subduksi dari arah timur. Bentuk Kalimantan disempurnakan oleh adanya interaksi ini, dan juga bagian lengan Sulawesi Utara muncul di sekitar sana akibat adanya batas konvergen antar lempeng samudra. Sulawesi Utara ini belum bergabung dengan Sulawesi Barat yang sudah terbentuk lama sebelumnya, tapi akan kita lihat nanti mereka bergabung juga.

Juga bisa dilihat Meso-Tethys terus menyempit dan nantinya akan hilang begitu India menabrak Asia. Busur Woyla yang sebelumnya muncul sudah hilang, bergabung dengan Sumatra dan membentuk patahan Sumatra. Ceno-Tethys sudah hilang pula jauh sebelumnya, gerakan India ke utara mengubur lempeng ini. Lempeng samudra yang terbentuk antara India dan Australia itu saat ini kita kenal sebagai Samudra Hindia. Di Papua, sebuah busur (mungkin dari Pasifik—saya tidak tahu lempeng samudra di atas Papua pada masa itu namanya apa) menempel di bagian utara membentuk daratan tambahan dan patahan di area tersebut. Lempeng Proto-Laut Cina Selatan

Kondisi 30 juta tahun lalu. Interaksi kompleks di Filipina memunculkan pulau-pulau, Laut Cina Selatan muncul dan Sulawesi Utara mulai menempel dengan bagian Sulawesi lainnya.

Gambar 8: Kondisi 30 juta tahun lalu. Interaksi kompleks di Filipina memunculkan pulau-pulau, Laut Cina Selatan muncul dan Sulawesi Utara mulai menempel dengan bagian Sulawesi lainnya.

Lalu, 30 juta tahun yang lalu bisa dilihat pada Gambar 8. Bagian Asia retak sedikit di selatan Cina, terus mengembang dan membentuk lempeng samudra baru yang sekarang dikenal sebagai lempeng Laut Cina Selatan. Lempeng Pasifik masuk ke bawah Filipina, dan begitu juga dengan bagian utaranya lempeng Australia, menyebabkan di lempeng Filipina itu terus muncul pulau-pulau kecil. Australia, India dan lempeng samudra yang terbentuk di antara keduanya bisa dianggap sebagai satu kesatuan, dan gerakannya yang mengarah ke utara menyebabkan perubahan posisi di Sundaland, yakni perputaran Jawa, Sulawesi dan Kalimantan.

India terus bergerak ke utara, menabrak Asia dan kelak akan menyebabkan munculnya pegunungan Himalaya. Australia yang bergerak ke utara kemudian menempel pada Sundaland. Pada masa 15 juta tahun yang lalu (Gambar 9), Sula dan Papua, bagian dari Australia, hampir berada pada posisinya sekarang. Sula membentuk apa yang kita kenal saat ini sebagai Sulawesi Tenggara serta kepulauan Maluku sebelah selatan (Seram dan sekitarnya).

Kondisi 15 juta tahun yang lalu, sudah mirip dengan kondisi saat ini.

Gambar 9: Kondisi 15 juta tahun yang lalu, sudah mirip dengan kondisi saat ini.

Lempeng Filipina pecah, membentuk lempeng Sulawesi. Subduksinya memunculkan bagian yang sekarang menjadi bagian dari Sulawesi Tengah. Halmahera terbentuk akibat subduksi Australia ke bawah Filipina, letaknya masih jauh dari posisinya saat ini. Batas lempengnya bergerak transform (bersisian), menyebabkan Halmahera itu bergerak menuju posisinya sekarang. Dan 5 juta tahun yang lalu (Gambar 10), kondisi kepulauan Indonesia sudah sama seperti yang sekarang kita diami.

Suasana 5 juta tahun yang lalu, mirip dengan sekarang.

Gambar 10: Suasana 5 juta tahun yang lalu, mirip dengan sekarang.

Sejak 5 juta tahun yang lalu hingga sekarang, tampaknya tidak banyak perubahan besar yang terjadi. Tentu saja ada perubahan-perubahan kecil seperti kemunculan pulau-pulau baru atau hilangnya pulau-pulau lama, munculnya patahan baru, dan sebagainya. Patahan Sumatra, patahan-patahan di sekitar Mentawai dan selatan Jawa, pulau-pulau vulkanik di daerah Nusa Tenggara tampaknya terbentuk dalam selang waktu 5 juta tahun ini.

Oh ya, rangkaian proses yang diceritakan di sini memiliki versi animated, dibuat oleh Southeast Asia Research Group, Royal Halloway University of London (RHUL). Bisa diunduh dari link ini: Video nimasi pembentukan Indonesia dari SEARG RHUL berdasarkan makalah oleh Hall (2012). Silakan dilihat untuk melihat dan memahami lebih jauh proses tektonik ini.

Lalu bagaimana dengan masa depan? Ada banyak kemungkinan. Biar ahlinya saja yang mencari tahu. Dari saya cukup sekian, saya merasa agak pusing juga setelah membaca makalah dan mencoba menuliskannya kembali di sini :mrgreen: Mohon maaf untuk segala kekurangan, terima kasih :mrgreen: