Setelah Lama Tidak Mengaji

Belum lama ini, saya kembali mencoba membaca buku karangan Emha Ainun Nadjib berjudul “Surat kepada Kanjeng Nabi”. Buku ini sebetulnya sudah saya beli dari lama, pertengahan 2015. Tapi, semenjak dibeli tahun itu sampai dengan Oktober 2018, sang buku hanya saya baca sepintas.

Mengingat lamanya proses pembacaan buku itu membuat saya sebetulnya ingin bertanya-tanya kepada diri, seberapa rajin saya belajar agama. Di masa-masa sekarang ini, ada banyak sekali orang yang menghadiri ta’lim atau kajian, terutama yang diisi oleh pada guru terkemuka seperti ust. Abdul Somad, Hanan Attaki, Felix Siaw, Adi Hidayat dan sebagainya. Salah satu puncak dari ketertarikan orang, terutama kalangan muda, untuk menghadiri acara kajian itu bisa terlihat dari diselenggarakannya acara “Hijrah Fest” di Jakarta Convention Center bulan November 2018 lalu. Nah, saya memang tipe orang yang kurang bisa belajar dari mendengar kajian dan merasa lebih mudah belajar melalui buku dan diskusi. Cuma, kalau melihat frekuensi dan amplitudo membaca saya, mudah saja disimpulkan bahwa saya sebenarnya tidak belajar apa-apa.

Suatu kali, seseorang—yang entah bagaimana ceritanya hingga dia bisa saya anggap “teman terbaik saya saat ini”, padahal dia akhwat—menceritakan pengalamannya sebagai “pemburu kajian” dan ceritanya itu agak membuat saya tidak bisa tidur. Pada intinya, kisahnya itu mengingatkan saya bahwa belajar itu harus “ngejar”. Datangi gurunya. Belajar sendiri di rumah memiliki dampak yang berbeda dengan belajar sama guru.

Tentu saja dia benar. Saya kemudian teringat, duluuuu sekali, saat liqo saya bersama teman-teman tarbiyah kampus terbengkalai karena murabbi-nya sibuk, saya membaca buku yang berjudul “Tarbiyah Dzatiyah”. Lupa penulisnya siapa. Maksud hati saya baca buku itu adalah agar saya bisa mencoba belajar sendiri karena liqo sedang tak jelas, namun buku itu sendiri memberi peringatan di awal, bahwasanya “belajar sendiri” itu tidak akan banyak berguna kalau “belajar bersama jamaah” tidak dilakukan.

Waktu yang kemudian berlalu menunjukkan saya jadi jarang main ke masjid Salman. Kalaupun setidaknya saya bersyukur masih membeli buku-buku Islam, dan saya tidak menjadi “liar” dengan menjauhi setiap proses dakwah, apalagi mencercanya, hal ini sebetulnya tidak menolong banyak.

Entah apakah setelah menulis blog ini saya jadi ikutan aktif sebagai “pemburu kajian”. Yang jelas, kalau saya betul-betul seseorang yang belajar, sudah pasti frekuensi dan amplitudo membaca buku saya haruslah diperbesar.

Kalau tidak, ya itu tadi, saya tidak belajar apa-apa. Seperti yang dikatakan Emha dalam bagian pembuka di buku “Surat kepada Kanjeng Nabi” yang saya ceritakan di awal itu tadi. “Yang tak kami punya [wahai Rasulullah SAW] hanyalah kesediaan, keberanian, dan kerelaan yang sungguh-sungguh untuk mengikuti jejakmu.”

Advertisements

Persepsi

Persepsi adalah suatu proses penyusunan informasi dari indra dan interpretasinya. Pada tubuh kita, persepsi dilakukan oleh otak setelah mendapatkan aliran informasi dari panca indera melalui sistem syaraf. Alat indra kita bekerja sebagai sensor dengan mendeteksi stimulasi fisis dan kimiawi. Sebagai contoh, ketika kulit kita merasakan adanya aliran energi kalor menuju ke kulit, informasi tersebut diteruskan ke otak dan kemudian diterjemahkan sebagai “ada rasa panas”. Ketika cahaya dari obyek masuk ke mata lalu mengalami proses optik hingga terbentuk bayangan di retina, informasi tentang bayangan tersebut diteruskan ke otak dan kemudian diterjemahkan sebagai “pemandangan yang indah”.

Namun kompleksitas manusia menghasilkan pengaruh pada cara kerja otak dalam membentuk persepsi. Utamanya adalah pengaruh emosional. Hati.

Sebagai orang yang berkutat dengan ilmu Fisika, saya bisa memahami cara kerja fisis tubuh. Mudah saja sebenarnya, apalagi di era komputer saat ini. Anggap saja tubuh sebagai komputer. Ketika tuts keyboard disentuh, komputer akan merespon sesuai dengan apa yang sedang dikerjakan komputer tersebut. Misalnya, ketika pada komputer tengah terbuka perangkat lunak pengolah kata, menekan huruf A di keyboard akan diterjemahkan dengan ditampilkannya huruf A di perangkat lunak tersebut. Jika perangkat lunak yang sedang dibuka adalah pemutar video, menekan keyboard huruf A mungkin saja tidak akan diterjemahkan apa-apa. Komputernya diam saja.

Seperti seseorang yang sedang mencuci piring, tiba-tiba mendapat perintah menyapu halaman. Jika kita mengabaikan kompleksitas kemanusiaan, kita akan lihat orang itu tak melaksanakan perintah menyapu.

Tentu saja manusia tidak begitu.

Akal dan Jiwa

Manusia bukanlah soal fisis belaka. Bukan hanya soal kemampuan telinga untuk menangkap getaran mekanik dalam rentang frekuensi 20 Hz – 20 KHz, namun juga kemampuan untuk mendeskripsikan apakah getaran yang dirasakan itu menghasilkan suatu nada yang indah. Warna merah, kuning dan hijau yang diterima oleh mata juga bukanlah sekedar pembagian spektrum cahaya, namun juga sesuatu yang membuat sang manusia merasakan adanya kombinasi warna yang buruk.

Saat mendengarkan musik, seorang profesor fisika mungkin akan memikirkan tentang prinsip dasar gelombang elektromagnetik, sementara seorang ahli biologi mengingat-ingat tentang kajian fisiologi dan anatomi. Sementara seorang penikmat seni akan menggoyangkan jarinya. Dalam hal ini, pengetahuan (atau akal) berperan dalam kompleksitas penerjemahan bunyi musik yang masuk ke alat indra.

Paduan warna biru, kuning dan hijau yang terbentuk oleh bentangan sawah yang padinya telah masak, untaian pegunungan di kejauhan lalu dilingkup oleh langit cerah tersaput awan tipis akan dipersepsikan sebagai “indah”. Namun persepsi itu tidaklah sederhana. Orang yang berbeda mungkin berpendapat lain. Bahkan orang yang sama bisa saja membuat persepsi berlainan ketika menyaksikan pemandangan itu di waktu yang berbeda.

Kompleksitas seperti ini akan sulit dipahami jika selamanya kita berkutat hanya dengan pengetahuan fisis. Ada sesuatu yang bernama jiwa. Spirit. Disebut-sebut terbentuk dari dalam hati, namun entah berwujud seperti apa. Jiwa ini terkait pula dengan pengetahuan, terlebih pengetahuan spiritual (agama/keyakinan). Katakanlah seorang muslim, jiwanya akan terbangun berdasarkan seberapa jauh ia memahami hak dan kewajibannya sebagai muslim.

Persepsi itu bukanlah murni kerja otak. Akal dan jiwa ikut bekerja di sana, mungkin secara timbal balik: persepsi “indah” yang terbentuk akan membuat jiwanya menemukan perasaan senang dan akalnya menjadi tenang

Itupun tidak berlaku umum. Lihat juga bahwa perbedaan “suasana jiwa” pun memberikan pengaruh yang berbeda. Seseorang dengan troubled mind, kegalauan dan sebagainya mungkin saja tidak akan mempersepsikan kombinasi warna di alam tadi sebagai “indah”. Atau, persepsi “indah” tetap terbentuk namun tidak memberikan efek timbal balik yang sama ke jiwanya. Anggaplah persepsi membuat A merasa senang, mungkin saja membuat B merasa sedih.

Suatu kisah kecil

Anggaplah cerita berikut sebagai sebuah fiksi belaka. Tidak ada pentingnya untuk mengetahui ia kisah nyata atau karangan, karena ini merupakan hal umum dalam sebuah relasi manusia. Bisa benar-benar terjadi, bisa juga tidak.

Persepsi bukan hanya atas apa yang dideteksi oleh salah satu organ indra saja. Untaian kejadian (fakta) yang terlihat, terasa dan terdengar, dapat digabung untuk dibuatkan satu persepsi.

Pada suatu sore yang tenang di bulan Mei, tahun 2017. Jam akhir kerja. Di suatu kantor, seorang perempuan menyampaikan kalimat ajakan “Yuk, pulang bareng!” ke seorang rekan kerja laki-laki, yang menyambutnya dengan jawaban singkat, “Yuk!”

Sang perempuan biasanya mengendarai sepeda motor, namun kali ini ia tidak membawa motornya dan perjalanan pulang bersama dilakukan dengan angkutan umum.

Apa persepsi yang bisa muncul pada sang laki-laki? Bisa terdapat beberapa pilihan. Tergantung suasana hatinya. Dan tentunya tidak sederhana. Kisah-kisah lain di waktu sebelumnya mungkin akan ikut digabungkan menjadi satu fakta, yang kemudian diproses untuk membentuk persepsi.

Yang jelas, jika persepsi atas fakta itu membuat sang laki-laki memberanikan diri untuk melontarkan ajakan menikah dan ternyata ditolak, kita bisa tahu bahwa persepsinya itu keliru. Entah karena hatinya, jiwanya yang lemah membuat persepsinya salah, atau memang fakta (atau fakta-fakta) itu sendiri yang merupakan sebuah kebohongan.

Masya Allah …

Kebijakan untuk Perempuan

Ada sebuah perdebatan kecil terjadi di tempat saya bekerja, terkait dengan adanya aturan tertulis yang menegaskan sebuah keringanan bagi rekan kerja perempuan. Tempat kerja saya ini kebetulan memiliki cabang yang banyak. Tugas diberikan pada tiap pegawai di lokasi yang berbeda-beda, dan mungkin saja di cabang yang jauh dari rumahnya. Selain itu, jam kerja semuanya seragam namun pekerjaan seorang pegawai bisa saja selesai sebelum jam kerja berakhir.

Nah, kira-kira aturannya seperti ini: pegawai perempuan yang pekerjaannya sudah selesai sebelum jam kerja berakhir diizinkan untuk mengambil absensi pulang di lokasi cabang yang dekat dengan tempat tinggalnya, sekalipun lokasi itu bukan tempat tugasnya. Hal serupa tidak berlaku bagi pegawai laki-laki, yang hanya boleh mengisi absensi pulang di cabang tempat ia ditugaskan.

Hal ini sedikit menguntungkan bagi pegawai perempuan yang lokasi tugasnya agak jauh dari rumah. Misalkan seorang perempuan tinggal di daerah Cempaka Putih, tapi ditugaskan di Tanjung Priok. Perempuan ini pekerjaannya sudah selesai jam 6 sore, sedangkan jam tutup kantor jam 8 malam. Si pegawai perempuan tersebut tidak harus menunggu waktu pulang di Tanjung Priok hingga jam 8 malam, melainkan ia bisa datang dulu ke cabang Cempaka Putih dan menunggu waktu pulang di sana. Alhasil, si pegawai perempuan ini tidak perlu menempuh perjalanan pulang saat larut malam.

Alasannya adanya aturan itu, pegawai perempuan perlu diberikan keringanan karena alasan fisik (lebih lemah dsb.), dan juga alasan keamanan. Perempuan itu tak perlu menempuh perjalanan pulang yang lebih jauh di malam hari.

Saya memperdebatkan aturan ini karena saya tidak melihat adanya urgensi pembuatan aturan dengan basis gender, kecuali aturan tentang hamil, melahirkan dan menstruasi.

Interaksi saya dengan perempuan semenjak lahir hingga sekarang ini membuat saya cenderung berfikir bahwa posisi laki-laki dan perempuan itu haruslah dikondisikan sewajarnya. Bahwa perempuan dan laki-laki itu dua makhluk yang berbeda, namun sama-sama manusia.

Apa maksudnya?

Begini. Perempuan dan laki-laki jelas memiliki perbedaan mendasar. Perempuan bisa mengalami menstruasi dan hamil. Dan di kondisi menstruasi dan hamil, perempuan membutuhkan sebuah perlakuan khusus. Laki-laki tidak. Untuk hal yang sangat jelas seperti ini tentunya tidak ada yang perlu diperdebatkan, dan bahkan wajib dibuat sebuah regulasi resmi dan tertulis agar kaum perempuan tidak terampas hak-haknya yang terkait menstruasi dan kehamilan tersebut. Maka dibuatlah aturan cuti hamil/melahirkan, serta izin sakit saat menstruasi.

Laki-laki tidak perlu protes untuk aturan yang ini.

Namun bagaimana dengan aturan lain yang lahir dari anggapan “perempuan itu lemah“, seperti aturan yang memudahkan absensi pulang di atas itu tadi?

Perempuan-perempuan.

Saya memiliki pandangan bahwa hal ini bisa diperdebatkan. Betulkah perempuan itu lemah? Jika untuk keperluan yang sederhana (seperti berkunjung ke sebuah resto bersama teman-temannya) perempuan bisa dan santai saja keluar di malam hari, lalu kenapa pula harus dibuatkan aturan kerja yang memudahkan khusus untuk mereka?

Dalam berbagai kesempatan, saya malah menemukan banyak perempuan yang enggan diperlakukan sebagai makhluk lemah. Keluar dan menempuh perjalanan di malam hari sendirian itu biasa saja bagi mereka. Apalagi perempuan-perempuan di Jakarta. Saya kenal perempuan yang pernah ikut tur ke Everest dan berangkat dari Indonesianya sendiri saja. Saya juga kenal perempuan yang berani ber-solo travelling (jalan-jalan sendirian) ke berbagai spot wisata di dalam dan luar negeri.

Ya memang, kalau bisa jangan deh pulang kerja capek naik motor, mobil, ataupun angkutan umum malam-malam. Macet pula. Tapi memangnya laki-laki juga tak berpikir begitu? Apakah tingkat capeknya laki-laki dan perempuan itu berbeda?

Alasan fisik dan keamanan rasanya tidak cukup relevan. Perempuan pada dasarnya tidak lebih lemah dari laki-laki. Untuk jenis pekerjaan yang sama, perempuan sanggup melakukan pekerjaannya seperti laki-laki. Pengecualian saat menstruasi, hamil, menyusui, tapi aturan untuk kasus-kasus itu sudah ada.

Bukankah jam kerja itu sama saja, 8 jam ditambah 1 jam istirahat, tak dibedakan laki-laki dan perempuan? Beban kerja pun bisa saja sama. Jika memang mau mengambil kebijakan dengan stand point “perempuan itu lebih lemah”, kenapa tidak sekalian saja membuat kebijakan mengurangi jam kerja untuk perempuan? Perusahaan yang bergerak di bidang tertentu memang ada yang membuat kebijakan dengan asumsi perempuan lebih lemah. Tapi membuat kebijakannya nggak nanggung. Perusahaan tambang misalnya, hanya menerima pegawai laki-laki untuk pekerjaan lapangan. Bukannya menerima pegawai perempuan juga untuk pekerjaan lapangan serupa lalu membuat aturan khusus yang meringankan pekerjaan untuk perempuan itu.

Oh iya, saya teringat sebuah cerita menarik dari rekan kerja perempuan saya. Rekan perempuan ini, seorang Mahmud Abas (Mamah Muda Anak Baru Satu), mendapatkan tugas di dua cabang kantor. Jaraknya cukup jauh, 40 menit perjalanan dengan motor. Dan kebetulan ada juga rekan laki-laki yang dapat pekerjaan di dua cabang juga, hanya saja jaraknya lebih dekat. Nah si laki-laki ini ngomel-ngomel karena merasa pekerjaan di cabang berbeda ini memberatkannya. Padahal si Mahmud Abas biasa saja, malah dia jadi kzl sendiri melihat si lelaki yang jadi terlihat lebih cewek daripada cewek.

Dari segi tingkat kerentanannya juga begitu. Memang secara statistik perempuan lebih sering menjadi korban kejahatan, tapi coba deh dipikirkan kenapa bisa begitu? Itu justru karena di benak kebanyakan orang, perempuan diposisikan lemah. Dianggap lebih mudah dirampok, misalnya. Atau yang lebih buruk: dianggap sebagai obyek sehingga sekelompok laki-laki cenderung menganggap perempuan sebagai bahan pelampiasan nafsu, dan karenanya perempuan akan dijadikan target kejahatan seksual.

Dari segi psikis perempuan memang lebih penakut daripada laki-laki, tapi janganlah lupa bahwa perempuan juga pada dasarnya bisa membela diri. Perempuan yang dari kecil diajarkan untuk jadi pemberani saya rasa tidak akan terlalu mengkhawatirkan keselamatan dirinya saat berjalan sendirian. Hal yang sama juga untuk laki-laki. Kan ada juga laki-laki yang penakut, karena si laki-laki itu sejak kecil tak diajarkan jadi pemberani.

Saya membayangkan sebuah masyarakat yang menghargai relasi laki-laki dan perempuan pada tempat yang semestinya. Setiap gender punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri, yang hadir dari perbedaan fisik dan psikis dasar antara keduanya. Perbedaan fisiknya, laki-laki tidak mengalami menstruasi dan kehamilan. Sedangkan dari segi psikis, laki-laki cenderung lebih kompetitif dan punya keinginan mendominasi, namun perempuan mengimbanginya dengan mental yang lebih tangguh. Percaya sama saya: laki-laki kalau patah hati itu akan lebih lebay daripada perempuan. Percaya juga sama saya: perempuan lebih kuat menghadapi tekanan mental saat punya anak. Seorang ibu lebih mudah bersabar menghadapi tangisan anak daripada suaminya.

Selebihnya, sama. Sama-sama manusia.

Saya akan mencontohkan sebuah lingkungan masyarakat tempat saya dibesarkan: Minangkabau. Di masyarakat Minangkabau, laki-laki diberi ruang yang sempit untuk kepemilikan harta. Dengan demikian, laki-laki tidak bisa menjadi terlalu dominan, walaupun laki-laki tersebut diberi tugas mengatur kehidupan masyarakat (yang jadi pemuka adat, pemimpin maupun tokoh agama tetap laki-laki). Ditambah lagi dengan adanya perangkat masyarakat yang bernama “bundo kanduang” yang merupakan kelompok kaum ibu, yang wajib dimintai pendapat jika pemimpin ataupun pemuka adat mau membuat sebuah keputusan. Ini membuat laki-laki Minang tidak bisa meng-abuse kewenangan kepemimpinan yang dia punya, sedangkan perempuan juga tidak berada di strata yang lebih rendah. Dan dengan posisinya sebagai pemegang harta, pendidik anak dan bundo kanduang, perempuan Minang mendapatkan level pendidikan yang sama dengan laki-laki.

Tentu saja masyarakat Minang ini bukanlah sebuah masyarakat yang sempurna, tapi bagi saya ini sebuah contoh masyarakat ideal.

Di masyarakat yang cenderung memberi ruang bagi laki-laki untuk menjadi terlalu dominan, perempuan akan menjadi korban. Laki-laki memang cenderung mendominasi, tapi justru di situlah perlu pembatasan agar perilaku dominannya itu tidak berlebihan. Laki-laki haruslah memahami bahwa perempuan (dan anak-anak) bukanlah sesuatu yang bisa ia rendahkan, atau ditaruh di strata yang lebih bawah, atau dianggap sebegitu lemah. Ini bukan sekedar ide feminisme. Ini ide kemanusiaan.

Dan di masyarakat yang menaruh perempuan dan laki-laki di tempat yang benar, masih relevankah aturan absensi yang saya contohkan di atas itu tadi?

Di postingan saya tentang film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak saya juga pernah menyinggung tentang penempatan perempuan.

Bukittinggi Streetphoto (17 Juni 2018)

Jika anda suka berjalan kaki melhat keramaian kota sambil memotret, dan kebetulan berada di Bukittinggi, Sumatra Barat, rangkaian foto di galeri ini barangkali familiar bagi anda. Atau bisa juga anda jadikan referensi singkat.

Lokasi pertama dan utama tentunya Jam Gadang.

Jalan sedikit ke kompleks Pasa Ateh (Pasar Atas). Tapi saat saya memotret, pasarnya sedang direnovasi setelah kebakaran beberapa bulan sebelumnya. Jadi hanya ada pasar sementara.

Jangan lupa shalat dulu di Masjid Raya Bukittinggi.

Setelah itu lanjut ke … Kebun Binatang Kinantan! Tentunya tidak hanya memotret binatang. Malah saya lebih senang memotret pengunjung kebun binatangnya πŸ€” 😌 😝

Setelah puas dengan kebun binatang, sebenarnya bisa dilanjutkan ke Benteng, Panorama dan lain-lain. Tapi kunjungan saya sudah terlalu sore. Jadi cukup segitu dulu. Di perjalanan pulang tetap bisa berfoto tentunya.

Demikian πŸ˜‰

Pacu Jawi di Rambatan, 23 Juni 2018

Pacu jawi adalah kata bahasa Minang yang dapat diterjemahkan sebagai pacuan/balapan sapi. Walaupun demikian, jangan membayangkan pacu jawi itu mirip seperti pacuan kuda, ataupun karapan sapi ala Madura. Dalam acara pacu jawi, sapi dikendalikan oleh joki, namun para joki+sapi tidak saling adu kencang susul menyusul dengan joki+sapi lainnya. Pacu jawi lebih merupakan ajang memperlihatkan ketangkasan joki dalam mengendalikan sepasang sapi yang berlari kencang. Joki yang hebat bisa mengendalikan sapi hingga sapinya berlari dengan lintasan lurus sejauh mungkin (biasanya panjang lintasan sama dengan panjang sawah). Tidak untuk mencari siapa yang sampai duluan di garis finish. Tidak untuk mencari siapa juara.

Bagi masyarakat kabupaten Tanah Data, provinsi Sumatra Barat, kegiatan pacu jawi merupakan kegiatan umum. Pacu jawi adalah salah satu cara bersenang-senang di sawah menjelang dimulainya musim tanam. Banyak anak nagari (pemuda desa) di beberapa tempat di kabupaten itu yang melakukannya, terutama di nagari-nagari sekitaran Batu Sangka (Sungai Tarab, Limo Kaum, Rambatan hingga Pariangan).

Continue reading