Kebijakan untuk Perempuan

Ada sebuah perdebatan kecil terjadi di tempat saya bekerja, terkait dengan adanya aturan tertulis yang menegaskan sebuah keringanan bagi rekan kerja perempuan. Tempat kerja saya ini kebetulan memiliki cabang yang banyak. Tugas diberikan pada tiap pegawai di lokasi yang berbeda-beda, dan mungkin saja di cabang yang jauh dari rumahnya. Selain itu, jam kerja semuanya seragam namun pekerjaan seorang pegawai bisa saja selesai sebelum jam kerja berakhir.

Nah, kira-kira aturannya seperti ini: pegawai perempuan yang pekerjaannya sudah selesai sebelum jam kerja berakhir diizinkan untuk mengambil absensi pulang di lokasi cabang yang dekat dengan tempat tinggalnya, sekalipun lokasi itu bukan tempat tugasnya. Hal serupa tidak berlaku bagi pegawai laki-laki, yang hanya boleh mengisi absensi pulang di cabang tempat ia ditugaskan.

Hal ini sedikit menguntungkan bagi pegawai perempuan yang lokasi tugasnya agak jauh dari rumah. Misalkan seorang perempuan tinggal di daerah Cempaka Putih, tapi ditugaskan di Tanjung Priok. Perempuan ini pekerjaannya sudah selesai jam 6 sore, sedangkan jam tutup kantor jam 8 malam. Si pegawai perempuan tersebut tidak harus menunggu waktu pulang di Tanjung Priok hingga jam 8 malam, melainkan ia bisa datang dulu ke cabang Cempaka Putih dan menunggu waktu pulang di sana. Alhasil, si pegawai perempuan ini tidak perlu menempuh perjalanan pulang saat larut malam.

Alasannya adanya aturan itu, pegawai perempuan perlu diberikan keringanan karena alasan fisik (lebih lemah dsb.), dan juga alasan keamanan. Perempuan itu tak perlu menempuh perjalanan pulang yang lebih jauh di malam hari.

Saya memperdebatkan aturan ini karena saya tidak melihat adanya urgensi pembuatan aturan dengan basis gender, kecuali aturan tentang hamil, melahirkan dan menstruasi.

Interaksi saya dengan perempuan semenjak lahir hingga sekarang ini membuat saya cenderung berfikir bahwa posisi laki-laki dan perempuan itu haruslah dikondisikan sewajarnya. Bahwa perempuan dan laki-laki itu dua makhluk yang berbeda, namun sama-sama manusia.

Apa maksudnya?

Begini. Perempuan dan laki-laki jelas memiliki perbedaan mendasar. Perempuan bisa mengalami menstruasi dan hamil. Dan di kondisi menstruasi dan hamil, perempuan membutuhkan sebuah perlakuan khusus. Laki-laki tidak. Untuk hal yang sangat jelas seperti ini tentunya tidak ada yang perlu diperdebatkan, dan bahkan wajib dibuat sebuah regulasi resmi dan tertulis agar kaum perempuan tidak terampas hak-haknya yang terkait menstruasi dan kehamilan tersebut. Maka dibuatlah aturan cuti hamil/melahirkan, serta izin sakit saat menstruasi.

Laki-laki tidak perlu protes untuk aturan yang ini.

Namun bagaimana dengan aturan lain yang lahir dari anggapan “perempuan itu lemah“, seperti aturan yang memudahkan absensi pulang di atas itu tadi?

Perempuan-perempuan.

Saya memiliki pandangan bahwa hal ini bisa diperdebatkan. Betulkah perempuan itu lemah? Jika untuk keperluan yang sederhana (seperti berkunjung ke sebuah resto bersama teman-temannya) perempuan bisa dan santai saja keluar di malam hari, lalu kenapa pula harus dibuatkan aturan kerja yang memudahkan khusus untuk mereka?

Dalam berbagai kesempatan, saya malah menemukan banyak perempuan yang enggan diperlakukan sebagai makhluk lemah. Keluar dan menempuh perjalanan di malam hari sendirian itu biasa saja bagi mereka. Apalagi perempuan-perempuan di Jakarta. Saya kenal perempuan yang pernah ikut tur ke Everest dan berangkat dari Indonesianya sendiri saja. Saya juga kenal perempuan yang berani ber-solo travelling (jalan-jalan sendirian) ke berbagai spot wisata di dalam dan luar negeri.

Ya memang, kalau bisa jangan deh pulang kerja capek naik motor, mobil, ataupun angkutan umum malam-malam. Macet pula. Tapi memangnya laki-laki juga tak berpikir begitu? Apakah tingkat capeknya laki-laki dan perempuan itu berbeda?

Alasan fisik dan keamanan rasanya tidak cukup relevan. Perempuan pada dasarnya tidak lebih lemah dari laki-laki. Untuk jenis pekerjaan yang sama, perempuan sanggup melakukan pekerjaannya seperti laki-laki. Pengecualian saat menstruasi, hamil, menyusui, tapi aturan untuk kasus-kasus itu sudah ada.

Bukankah jam kerja itu sama saja, 8 jam ditambah 1 jam istirahat, tak dibedakan laki-laki dan perempuan? Beban kerja pun bisa saja sama. Jika memang mau mengambil kebijakan dengan stand point “perempuan itu lebih lemah”, kenapa tidak sekalian saja membuat kebijakan mengurangi jam kerja untuk perempuan? Perusahaan yang bergerak di bidang tertentu memang ada yang membuat kebijakan dengan asumsi perempuan lebih lemah. Tapi membuat kebijakannya nggak nanggung. Perusahaan tambang misalnya, hanya menerima pegawai laki-laki untuk pekerjaan lapangan. Bukannya menerima pegawai perempuan juga untuk pekerjaan lapangan serupa lalu membuat aturan khusus yang meringankan pekerjaan untuk perempuan itu.

Oh iya, saya teringat sebuah cerita menarik dari rekan kerja perempuan saya. Rekan perempuan ini, seorang Mahmud Abas (Mamah Muda Anak Baru Satu), mendapatkan tugas di dua cabang kantor. Jaraknya cukup jauh, 40 menit perjalanan dengan motor. Dan kebetulan ada juga rekan laki-laki yang dapat pekerjaan di dua cabang juga, hanya saja jaraknya lebih dekat. Nah si laki-laki ini ngomel-ngomel karena merasa pekerjaan di cabang berbeda ini memberatkannya. Padahal si Mahmud Abas biasa saja, malah dia jadi kzl sendiri melihat si lelaki yang jadi terlihat lebih cewek daripada cewek.

Dari segi tingkat kerentanannya juga begitu. Memang secara statistik perempuan lebih sering menjadi korban kejahatan, tapi coba deh dipikirkan kenapa bisa begitu? Itu justru karena di benak kebanyakan orang, perempuan diposisikan lemah. Dianggap lebih mudah dirampok, misalnya. Atau yang lebih buruk: dianggap sebagai obyek sehingga sekelompok laki-laki cenderung menganggap perempuan sebagai bahan pelampiasan nafsu, dan karenanya perempuan akan dijadikan target kejahatan seksual.

Dari segi psikis perempuan memang lebih penakut daripada laki-laki, tapi janganlah lupa bahwa perempuan juga pada dasarnya bisa membela diri. Perempuan yang dari kecil diajarkan untuk jadi pemberani saya rasa tidak akan terlalu mengkhawatirkan keselamatan dirinya saat berjalan sendirian. Hal yang sama juga untuk laki-laki. Kan ada juga laki-laki yang penakut, karena si laki-laki itu sejak kecil tak diajarkan jadi pemberani.

Saya membayangkan sebuah masyarakat yang menghargai relasi laki-laki dan perempuan pada tempat yang semestinya. Setiap gender punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri, yang hadir dari perbedaan fisik dan psikis dasar antara keduanya. Perbedaan fisiknya, laki-laki tidak mengalami menstruasi dan kehamilan. Sedangkan dari segi psikis, laki-laki cenderung lebih kompetitif dan punya keinginan mendominasi, namun perempuan mengimbanginya dengan mental yang lebih tangguh. Percaya sama saya: laki-laki kalau patah hati itu akan lebih lebay daripada perempuan. Percaya juga sama saya: perempuan lebih kuat menghadapi tekanan mental saat punya anak. Seorang ibu lebih mudah bersabar menghadapi tangisan anak daripada suaminya.

Selebihnya, sama. Sama-sama manusia.

Saya akan mencontohkan sebuah lingkungan masyarakat tempat saya dibesarkan: Minangkabau. Di masyarakat Minangkabau, laki-laki diberi ruang yang sempit untuk kepemilikan harta. Dengan demikian, laki-laki tidak bisa menjadi terlalu dominan, walaupun laki-laki tersebut diberi tugas mengatur kehidupan masyarakat (yang jadi pemuka adat, pemimpin maupun tokoh agama tetap laki-laki). Ditambah lagi dengan adanya perangkat masyarakat yang bernama “bundo kanduang” yang merupakan kelompok kaum ibu, yang wajib dimintai pendapat jika pemimpin ataupun pemuka adat mau membuat sebuah keputusan. Ini membuat laki-laki Minang tidak bisa meng-abuse kewenangan kepemimpinan yang dia punya, sedangkan perempuan juga tidak berada di strata yang lebih rendah. Dan dengan posisinya sebagai pemegang harta, pendidik anak dan bundo kanduang, perempuan Minang mendapatkan level pendidikan yang sama dengan laki-laki.

Tentu saja masyarakat Minang ini bukanlah sebuah masyarakat yang sempurna, tapi bagi saya ini sebuah contoh masyarakat ideal.

Di masyarakat yang cenderung memberi ruang bagi laki-laki untuk menjadi terlalu dominan, perempuan akan menjadi korban. Laki-laki memang cenderung mendominasi, tapi justru di situlah perlu pembatasan agar perilaku dominannya itu tidak berlebihan. Laki-laki haruslah memahami bahwa perempuan (dan anak-anak) bukanlah sesuatu yang bisa ia rendahkan, atau ditaruh di strata yang lebih bawah, atau dianggap sebegitu lemah. Ini bukan sekedar ide feminisme. Ini ide kemanusiaan.

Dan di masyarakat yang menaruh perempuan dan laki-laki di tempat yang benar, masih relevankah aturan absensi yang saya contohkan di atas itu tadi?

Di postingan saya tentang film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak saya juga pernah menyinggung tentang penempatan perempuan.

Advertisements

Bukittinggi Streetphoto (17 Juni 2018)

Jika anda suka berjalan kaki melhat keramaian kota sambil memotret, dan kebetulan berada di Bukittinggi, Sumatra Barat, rangkaian foto di galeri ini barangkali familiar bagi anda. Atau bisa juga anda jadikan referensi singkat.

Lokasi pertama dan utama tentunya Jam Gadang.

Jalan sedikit ke kompleks Pasa Ateh (Pasar Atas). Tapi saat saya memotret, pasarnya sedang direnovasi setelah kebakaran beberapa bulan sebelumnya. Jadi hanya ada pasar sementara.

Jangan lupa shalat dulu di Masjid Raya Bukittinggi.

Setelah itu lanjut ke … Kebun Binatang Kinantan! Tentunya tidak hanya memotret binatang. Malah saya lebih senang memotret pengunjung kebun binatangnya 🤔 😌 😝

Setelah puas dengan kebun binatang, sebenarnya bisa dilanjutkan ke Benteng, Panorama dan lain-lain. Tapi kunjungan saya sudah terlalu sore. Jadi cukup segitu dulu. Di perjalanan pulang tetap bisa berfoto tentunya.

Demikian 😉

Pacu Jawi di Rambatan, 23 Juni 2018

Pacu jawi adalah kata bahasa Minang yang dapat diterjemahkan sebagai pacuan/balapan sapi. Walaupun demikian, jangan membayangkan pacu jawi itu mirip seperti pacuan kuda, ataupun karapan sapi ala Madura. Dalam acara pacu jawi, sapi dikendalikan oleh joki, namun para joki+sapi tidak saling adu kencang susul menyusul dengan joki+sapi lainnya. Pacu jawi lebih merupakan ajang memperlihatkan ketangkasan joki dalam mengendalikan sepasang sapi yang berlari kencang. Joki yang hebat bisa mengendalikan sapi hingga sapinya berlari dengan lintasan lurus sejauh mungkin (biasanya panjang lintasan sama dengan panjang sawah). Tidak untuk mencari siapa yang sampai duluan di garis finish. Tidak untuk mencari siapa juara.

Bagi masyarakat kabupaten Tanah Data, provinsi Sumatra Barat, kegiatan pacu jawi merupakan kegiatan umum. Pacu jawi adalah salah satu cara bersenang-senang di sawah menjelang dimulainya musim tanam. Banyak anak nagari (pemuda desa) di beberapa tempat di kabupaten itu yang melakukannya, terutama di nagari-nagari sekitaran Batu Sangka (Sungai Tarab, Limo Kaum, Rambatan hingga Pariangan).

Continue reading

Dongeng Sebelum Tidur

Warning: Ini kisah receh dan rendah secara sastrawi 😅 Namanya juga dongeng sebelum tidur, hehe. Bacalah, tapi resiko tanggung sendiri 😛

Alkisah, pada suatu masa seorang pemuda berjalan-jalan di taman miliknya. Ia seorang pencinta bunga, namun kala itu taman miliknya sedang gersang dan hampa. Tak berselang terlalu jauh sebelumnya, banjir besar melanda wilayah itu. Sang pemuda telah mencoba menanami kembali bunga-bunga taman itu, namun belum berhasil.

Sedang ia berkeliling itu, tertumbuk matanya pada sepasang bibit bunga, entah berasal dari mana, di sepetak lahan. Dibiarkannya bibit itu di sana. Dicobanya juga memberikan sedikit pupuk dan menyirami air. Diulangi kembali esoknya dan esoknya, hingga ternyata didapatinya bibit itu pada akhirnya tumbuh menjadi tanaman bunga. Alangkah girang ianya. Disianginya rerumputan liar di lahan itu. Ia belikan pupuk terbaik. Disiraminya secara teratur.

Continue reading

How to Not Hurting Woman?

Minggu sore, 26 November 2017, di tengah suntuknya isi kepala (dan hati), saya putuskan untuk menonton film di bioskop. Sejak pukul 5 sore saya sudah standby di Mal Atrium Jakarta, sudah beli tiket nonton di Atrium XXI. Pemutaran filmnya malam, ba’da maghrib. Filmnya? Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Film Indonesia dengan rating IMDb 7,3 (tanggal 26 November 2017).

Film ini sudah ingin saya tonton sejak beberapa hari sebelumnya, gara-gara si @utpux bercerita di status Fb-nya dan tanteu @mmlubis juga bilang di status Plurk-nya pengen nonton film ini. Hah? Plurk? Masih jaman? Ga usah dibahas, haha. Yang jelas, karena dua teman saya ini saya anggap agak kurang mainstream, jadinya saya pun ikut tertarik. Saya juga agak kurang mainstream.

Continue reading