Ibrahim Khalilullah

Di setiap momen Idul Adha, kisah tentang nabi Ibrahim (إبراهيم) AS selalu terdengar. Di antara 25 rasul yang diyakini umat Islam, nabi Ibrahim AS memang menempati posisi yang penting. Sebagai khalilullah (خليل الله), dan sebagai bapak para nabi. Dan penggalan kisah hidup nabi Ibrahim AS diimplementasikan dalam ritual ibadah Islam: Haji dan Qurban.

ibrahim_abraham1

Ritual haji antara lain menggambarkan bagaimana Hajar (هاجر‎‎), istri Ibrahim, berlari-lari mencari air di tengah gurun pasir antara bukit Shafa dan Marwa agar putranya, Ismail (إسماعيل), yang kehausan dapat segera diberi minum. Ritual itu sekarang dinamakan sa’i. Juga bagaimana Hajar mengusir Iblis yang berusaha menghalangi Ibrahim menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan Ismail. Hajar melempari Iblis dengan bebatuan, dan sekarang ritual melempar batu dinamakan rami al jamarat (رمي الجمرات).

Selain haji, ibadah lain yang dilakukan saat Idul Adha adalah menyembelih hewan qurban, yang menggambarkan peristiwa saat Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Perintah itu disampaikan melalui mimpi, dan Ismail dengan teguh meyakinkan ayahnya bahwa itu adalah perintah Allah. Ismail ikhlas untuk disembelih. Demikian juga ayahnya (setelah diyakinkan oleh Ismail) serta ibunya, Hajar, keduanya ikhlas untuk mematuhi perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Pada akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor domba besar.

Selain kisah-kisah tersebut, ada kisah lain tentang Ibrahim yang sudah sepantasnya untuk selalu diingat oleh umat Islam. Ibrahim adalah nabi yang keimanannya dipuji oleh Allah SWT, yang oleh karenanya Allah sendiri yang menyatakan Ibrahim sebagai khalilullah, yang berarti kesayangan Allah atau sahabat Allah, dalam Al Quran surat An-nisa ayat 125. Keimanan Ibrahim kepada Tuhan yang Satu, Allah SWT, telah tampak sejak Ibrahim masih berusia muda. Ibrahim muda tidak mau mengikuti keyakinan bangsanya, bahkan orang tuanya sendiri, yang merupakan penyembah berhala.

Gambaran dewa Marduk. Gambar dari Wikipedia.

Gambaran dewa Marduk. Gambar dari Wikipedia.

Sebagian sejarawan meyakini Ibrahim hidup di jaman raja-raja penting di kawasan Mesopotamia. Ia hidup di kota Ur, di kerajaan Chaldea, yang sekarang merupakan bagian dari negara Iraq. Jika ditilik sejarah kerajaan-kerajaan di Mesopotamia, memang jelas bahwa bangsa-bangsa di sana menyembah berhala. Berhalanya bisa berupa raja mereka yang dianggap sangat hebat, atau wujud-wujud lain yang ada ceritanya. Misalnya dewa Marduk yang telinganya dibuat besar dengan makna dewa tersebut merupakan dewa bijaksana.

Ayah Ibrahim adalah seorang pemahat patung berhala. Kisah kecil berikut tidak saya ketahui tingkat kebenarannya (tampaknya ini kisah yang beredar di kalangan sufi), tapi menarik untuk diceritakan. Suatu kala Ibrahim diminta oleh orang tuanya untuk menjual berhala. Oleh Ibrahim, dalam promosi penjualan berhalanya diselipkan sebuah pesan bahwa menyembah berhala adalah suatu bentuk kebodohan. Kira-kira ia berseru seperti ini: “Siapa yang mau beli berhala? Berhala ini tak akan dapat menyakitimu. Bahkan ia takkan bisa melakukan apa-apa kepadamu. Ayo, siapa yang mau beli berhala?”:mrgreen:

Ada juga kisah lain yang lebih valid, yang diceritakan dalam Al Quran surat Al-Anbiya 57-68. Ibrahim menghancurkan berhala di sebuah kuil, kecuali sebuah berhala besar yang memang sengaja dibiarkan utuh. Ketika masyarakat melihat semua berhala di kuil hancur kecuali satu buah, mereka bertanya pada Ibrahim, siapakah yang telah menghancurkan berhala itu. Ibrahim menyuruh mereka bertanya saja pada berhala besar yang masih utuh dan di lehernya ada palu. Tentu saja mereka yang bertanya jadi masygul, bagaimana mungkin mereka bisa bertanya pada patung. Demikian cara Ibrahim menunjukkan betapa bodohnya penyembahan berhala pada masyarakatnya.

Bagi Ibrahim, Tuhan adalah sebuah wujud yang bisa diterima oleh logikanya. Maka, ketika ia bertemu malam dan ia lihat bintang-bintang, ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan. Ketika ia melihat Bulan menyinari malam, ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan. Ketika melihat Matahari yang besar dan terang, kembali ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan. Semua pemikiran itu pada akhirnya terjawab sendiri oleh logikanya: ia tidak akan menyembah sesuatu yang bisa hilang. Tuhan itu haruslah selalu hadir. Matahari, bulan dan bintang semuanya tenggelam dan menghilang. Allah memberikan petunjuk-Nya kepada Ibrahim, dan Ibrahim berlepas diri dari mempersekutukan-Nya. Kisah ini terdapat dalam Alquran surah Al An’am 75-80.

Saya sangat menyukai kisah Ibrahim dalam pencariannya pada Tuhan ini. Betapa Ibrahim hanya mau beriman kepada sesuatu yang layak disembah. Bukan menyembah pada patung-patung yang kisah ketuhanannya direka-reka sendiri oleh manusia. Bukan pula pada benda-benda yang sekedar tampak ajaib seperti mengeluarkan cahaya di tempat gelap, atau memberi panas yang menghidupkan.

Di antara hikmah yang saya ambil dari kisah ini adalah: gunakanlah akal dalam beragama. Bukankah dalam Al Quran juga sering ditemukan Allah SWT berkata “tidakkah engkau (manusia) berpikir?”

Selamat Idul Adha.

Jalan-jalan Kabur (Escape Trip) ke Curug Seribu, 4 Juni 2015

Akhir Mei 2016, kegiatan belajar-mengajar sudah usai. Tinggal melayani siswa yang mau belajar tambahan (konsul) untuk ujian akhir semester dan juga ujian SBMPTN. Saya sudah cukup jenuh dan ingin berlibur. Memang saya berencana akan melakukan beberapa perjalanan kecil sendirian, menikmati alam Sumatra Barat nanti setibanya di kampung halaman. Tapi jadwal pulang kampung masih lama, saya baru akan pulang sepekan jelang Idul Fitri. Keburu stress duluan.

Saya tidak sendiri, btw. Rekan-rekan kerja yang sepemikiran, sebut saja inisialnya BGN dan EZA, mengajak dan meminta saya meng-organize suatu perjalanan singkat untuk melepaskan diri sesaat dari hitam putih Jakarta. Pengen lihat warna hijau, kata mereka. Tentu saja saya mau, pucuk dicinta ulam tiba. Saya juga mau lihat warna hijau dedaunan.

Saya tadinya teringat Sukabumi. Kebun teh dan udara dingin pastinya bermanfaat untuk jiwa-jiwa Jakarta yang kering itu. Teman-teman ini berminat juga setelah browsing sejenak. Oke, saat itu tanggal 31 Mei, dan kita rencanakan berangkat hari Jumat sore tanggal 3 Mei. Masih perlu browsing lebih lanjut untuk memastikan lokasi dan cara aksesnya.

Malamnya saya browsing lagi di rumah, dan menemukan beberapa opsi lain yang lebih nyaman dan murah karena tak perlu menginap. Umumnya lokasinya di kabupaten Bogor, bisa ditempuh hanya dengan modal commuterline dan angkot. Setelah baca-baca, saya tertarik dengan curug Seribu, yang kata orang perjalanan ke sana cukup menantang namun bisa ditempuh dalam waktu tak terlalu lama. Berangkat dari Jakarta Sabtu pagi dan balik ke Jakarta Sabtu sore/malam.

Besoknya saya usulkan lagi ke teman-teman dan semuanya juga setuju. Baiklah. Kita sepakati berangkat Sabtu, berkumpul di Pangkalan Asem (Cempaka Putih) pukul 5 pagi.

Jumat 3 Mei 2016, rencana perjalanan akhirnya mendekati fix. Naik kereta dari stasiun Juanda, disambung dari stasiun Bogor menggunakan jasa sewa mobil online, atau kalau tak ada, angkot. Dengan tambahan dua orang rekan lainnya, inisial MMI dan FMR, biaya perjalanan tentunya bisa dipangkas. Saya dan FMR laki-laki, sedangkan BGN, MMI dan EZA perempuan. Saya sudah menduga sebelumnya, perjalanan yang bakal menggunakan angkutan umum serta jalan kaki ke tempat yang belum dikenali tak bakal menyurutkan keinginan para perempuan ini. EZA dan MMI sudah terbiasa keliling dengan angkutan umum di Jakarta. BGN juga sebenarnya, tapi dia lebih sering naik motor. Dari ceritanya, dia ini memang punya karakter senang bertualang, makanya perjalanan backpackeran begitu enjoy saja.

Sabtu pagi 4 Juni 2016 yang cerah. Sekitar pukul 5.15 sudah ada WA masuk dari BGN da EZA, menanyakan keberadaan anggota. FMR sudah siap di halte TransJakarta Rawa Selatan. Saya baru berangkat dari rumah. BGN, MMI dan EZA juga bersiap berangkat dari tempat kost mereka. Sekitar pukul 05.30 kami semua berkumpul di halte Rawa Selatan dan segera berangkat ke stasiun Juanda. Menanti sebentar di stasiun, dan sekitar pukul 06.10, kereta commuterline yang akan membawa ke stasiun Bogor akhirnya datang.

Kami sampai di Bogor sekitar pukul 07.30, setelah perjalanan kereta yang saya pikir cukup lambat. Karena lapar, singgah dulu untuk sarapan di KFC seberang Taman Topi. Dari hasil perundingan sambil makan, kami menyepakati perjalanan cukup dengan angkot saja, tak perlu sewa mobil online. Selesai sarapan, segera berangkat naik angkot 02 tujuan Bubulak, tapi ternyata supir menyarankan turun di Laladon saja. Saat kami turun dan bayar ongkos dengan selembar uang 20ribuan (untuk 5 orang), bang supir ini terlihat berpikir. Saya agak heran mulanya (teman-teman yang melihat si supir juga), tapi ternyata si abang ini sedang menghitung berapa uang kembaliannya. Ia kemudian menyerahkan kembalian sebesar Rp1500. Ah, tadinya kami kira bakal dibawa kabur seperti banyak angkot di Jakarta yang suka nilep uang kembalian.

Dari Laladon kami segera diarahkan ke angkot jurusan Jasinga yang akan membawa kami ke Cibatok. Dari Cibatok rencananya akan rental angkot ke Gunung Picung. Setelah perjalanan yang dibuat lama oleh kemacetan, kami sampai di Cibatok. Seorang bapak yang tadinya seangkot dengan kami dari Laladon membantu dengan menunjukkan angkot tujuan Gunung Picung. Nego dengan supir angkot untuk antar jemput sampai gerbang Curug Seribu, lalu belanja air minum dan snack, dan berangkat. Tapi, walau judulnya rental, ternyata si bang angkotnya masih menaikkan-turunkan penumpang di perjalanan. Hadeh, tau begitu harusnya tadi nawar angkotnya lebih murah lagi.

Note: Belakangan, saat pulang, saya coba nego lagi ke si abangnya untuk mengurangi kesepatan harga yang tadi, tapi dia ga mau. Males debat lama-lama dan sedang turun hujan pula, akhirnya tetap bayar seharga yang disepakati di awal.

Perjalanan angkot yang terakhir cukup jauh dan menanjak terus. Tapi tak terlalu lama, kami sampai di gerbang Curug Seribu. Singgah sebentar di toilet untuk membuang mantan:mrgreen: lalu berjalan kaki ke Curug Seribu. Matahari bersinar, tapi tidak terasa panas. Udara segar terhirup.

Perjalanan ke curug memang sulit, hanya saja saya kira tak seberapa dibandingkan perjalanan hidup beberapa perjalanan lain yang pernah saya tempuh. Sepanjang jalan sudah diberi bebatuan, sehingga tak harus menginjak tanah licin atau lumpur. Juga sudah dibuatkan pembatas jurang dan pegangan yang cukup memadai. Saya pernah menuruni ngarai Sianok di Bukittinggi hanya dengan batuan akar pohon, jadi saya pikir tingkat kesulitan jalan ke Curug Seribu ini belum ada apa-apanya. Tapi saya sudah lama sekali tak menempuh perjalanan lintas alam, jadi ya lumayan terasa ngos-ngosan juga. Memang kami beruntung saat itu tidak hujan—kalau hujan batu-batunya bakalan licin.

Kira-kira perlu waktu sekitar 1 jam untuk sampai di Curug Seribu. Di perjalanan akan bertemu warung dan gerbang menuju Curug Sawer, lanjut naik sedikit ke atas akan bertemu sebuah camping ground dan baru kemudian ada pos masuk Curug Seribu. di perjalanan akan ada air terjun kecil yang bisa dijadikan spot untuk istirahat dan foto-foto. Sesekali muncul kera dari balik pepohonan. Suara serangga dan burung sesekali terdengar beserta sayup-sayup gemuruh air terjun. Perjalanan menuju ke curug didominasi turunan, karena itu tidak terlalu melelahkan dan hanya perlu hati-hati saja karena di beberapa titik ada bagian yang curam. Untuk pulangnya, tentu saja siap-siap menanjak. Jika ke sana saat hujan, perjalanan akan menjadi lebih sulit.

Setiba di Curug Seribu, langsung kami manfaatkan untuk menikmati pemandangan dan berfoto-foto. Saat itu agak banyak pengunjung, jadinya kita tak bisa bebas menikmati suguhan alam ini sebagai milik sendiri:mrgreen: Tapi suasana di sana memang asyik, indah dan irama alamnya menenangkan. Katanya, Curug Seribu memiliki ketinggian sekitar 100 m dan debit airnya tampak cukup besar, sehingga bisa dibayangkan di bawah air terjun itu pastilah tanahnya terlobangi cukup dalam. Area jatuhnya air merupakan area terlarang untuk bermain, karena berbahaya. Untuk bermain air bisa di daerah aliran air beberapa meter dari air terjun.

This slideshow requires JavaScript.

Sekitar jam 2 siang, cuaca mulai mendung. Sesekali rintik hujan turun. Kami yang sudah agak puas berfoto dan bermain mulai bersiap untuk kembali ke atas, agar bisa mengejar waktu shalat dan mengisi perut sebelum pulang. Seperti sudah diduga, perjalanan pulang lebih berat karena mendaki. Ngos-ngosannya sekarang lebih keras. Trio perempuan ini cukup kuat juga, terlebih lagi EZA yang sepanjang jalan pulang itu seakan terpengaruh iklan motor Yamaha: semakin di depan:mrgreen: Posisinya memang selalu jauh di depan dua rekan perempuan lainnya.

Sampai di atas, kami singgah di warung yang dekat gerbang ke Curug Sawer yang tadinya kami lewati. Pesan makanan, shalat, lalu menikmati makanan berupa indomie rebus dan kopi/wedang jahe/air putih, sesuai keinginan. Selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Kami kemudian beranjak menuju gerbang, dan di sana angkot yang akan membawa kami kembali ke Cibatok sudah menunggu. Perjalanan pulang ditempuh agak lama karena macet sepanjang perjalanan Cibatok — Bubulak (sopir angkotnya akhirnya mengambil jalan alternatif). Dari Bubulak ke stasiun cukup cepat. Tepat waktu maghrib sampai di stasiun Bogor, ambil tiket, shalat Maghrib, belanja oleh-oleh kecil. Perjalanan dengan kereta cukup lama juga.

Saya sendiri sampai di rumah sekitar pukul 10 malam. MMI meneruskan perjalanan ke Tangsel dan berpisah dengan anggota rombongan lainnya di Manggarai. Saya turun di stasiun Gang Sentiong, berpisah dengan FMR, BGN dan EZA yang bertiga meneruskan perjalanan sampai stasiun Senen untuk kemudian menyambung dengan bajaj ke Pangkalan Asem. Hampir semuanya sampai di tujuan masing-masing sekitar pukul 10 malam juga.

Di rumah, tidur berselimut kenangan.

Meskipun lebih banyak waktu habis di perjalanan daripada di tempat tujuan, overall trip kabur ini menyenangkan. Esensi perjalanan itu kan tidak hanya saat sampai di tujuan saja. Saya pribadi cukup puas. Rekan perjalanan yang lain bahkan ingin mengulang lagi perjalanan seperti ini. Ke Kawah Ratu, mungkin? Let’s see.

Oh ini itinerary perjalanan saya. Kali ada yang mau jalan-jalan juga.

  • Ongkos TransJakarta Pangkalanan Asem – Juanda = Rp3.500
  • Ongkos Commuterline Juanda – Bogor = Rp5.000
  • Sarapan di KFC = Rp15.000
  • Ongkos angkot Stasiun Bogor – Laladon = Rp3.500
  • Ongkos angkot Laladon – Cibatok = Rp8.000
  • Beli snack dan air minum (kira-kira) = Rp10.000
  • Carter angkot (Rp200.000) dan bea masuk area wisata Gunung Salak Endah (Rp30.000) @ 5 orang = Rp46.000
  • Bea masuk Curug Seribu = Rp7.500
  • Indomie dan kopi = Rp18.000
  • Ongkos angkot Cibatok – Bubulak = Rp7.500
  • Ongkos angkot Bubulak – Stasiun Bogor = Rp3.500
  • Ongkos commuterline Bogor – Gang Sentiong = Rp5.000

Total silakan itung sendiri, hehe. Masih tergolong murah, ini juga udah kena di biaya carter angkot yang harusnya bisa lebih kecil.

Hari Raya Astronomi: Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

Gerhana Matahari Total (GMT) telah terjadi tanggal 9 Maret 2016 pagi. Semua berjalan sesuai dengan prediksi para ahli perbintangan. Masyarakat Indonesia telah berbondong menyaksikan keajaiban alam tersebut, sebagian dengan mengiringkan takbir melaksanakan shalat gerhana. Timeline media sosial dipenuhi berita, video dan foto-foto gerhana.

Alhamdulillah. Momen ini memang sangat ditunggu oleh mereka, para peminat dan praktisi Astronomi. Saya bisa membayangkan dramatisnya peristiwa ini dari cerita teman-teman pemburu gerhana. Berpacu dengan waktu, bermusuhan dengan cuaca. Juga betapa bahagianya mereka yang bisa berbagi pengetahuan dengan masyarakat umum sejak beberapa hari sebelum gerhana. Berbagi itu sensasinya luar biasa.

Apa itu Gerhana Matahari Total

Saya rasa banyak yang sudah paham apa itu Gerhana Matahari Total (GMT), tapi tak ada salahnya diceritakan kembali. GMT ialah peristiwa tampak tertutupnya piringan Matahari secara penuh oleh piringan Bulan. Hal ini bisa terjadi jika dalam peredarannya di orbit, Bulan dan Bumi membentuk susunan segaris bersama-sama dengan Matahari. Urutannya Matahari – Bulan – Bumi. Dalam Astronomi, susunan segaris dikenal dengan istilah syzygy. Posisi Bulan harus cukup dekat dengan Bumi sehingga diameter piringan Bulan sedikit lebih besar dari diameter piringan Matahari.

Gambaran proses terjadinya Gerhana Matahari. Oleh Cmglee - Own work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=39077179.

Gambaran proses terjadinya Gerhana Matahari. Oleh Cmglee – Own work, CC BY-SA 3.0.

Posisi Bulan yang berada di antara Matahari dan Bumi menyebabkan makhluk hidup yang tinggal di Bumi merasakan cahaya Matahari terhalang, sehingga Matahari yang benderang itu menjadi gelap. Itulah gerhana matahari. Gerhana matahari selalu terjadi di fase bulan mati, yang artinya selalu terjadi di akhir/awal bulan qamariyah.

Walaupun susunan Matahari – Bulan – Bumi selalu terjadi setiap bulan qamariyah (29,5 hari sekali), gerhana tidak selalu terjadi setiap bulan. Hal ini dikarenakan lingkar orbit Bulan memiliki kemiringan sekitar 5°, sehingga Bulan tak selalu menghalangi cahaya Matahari. Namun peristiwa gerhana selalu terjadi setidaknya 2 kali dalam setahun, dengan tempat yang berpindah-pindah.

Adalah hal yang menakjubkan bahwa posisi bulan saat mengelilingi Bumi sedemikian rupa, sehingga ukuran Bulan saat dilihat dari Bumi kurang lebih sama dengan ukuran Matahari saat dilihat dari Bumi. Diameter angular Matahari berkisar antara 31’31” — 32’33”, sementara diameter angular Bulan berkisar 29’20” — 34’6″. Dengan ukuran yang hampir sama tersebut, saat Bulan menghalangi cahaya Matahari, piringan bulan dapat sepenuhnya menutup piringan Matahari dan menghasilkan GMT.

Fenomena GMT menghasilkan sensasi gelap yang hampir seperti malam. Di balik kegelapan itu, keindahan penciptaan semesta dipampangkan di depan mata. Piringan Matahari yang bercahaya benderang perlahan mengalami penggelapan mulai dari salah satu tepinya. Penggelapan semakin lama akan semakin besar, hingga Matahari tampak seperti kue dorayaki yang sedang dilahap Doraemon. Dan pada puncaknya seluruh permukaan Matahari yang terang itu tertutup, menyisakan kilau cahaya kecil yang menyelip sedikit dari balik piringan Bulan. Cahaya yang menyelip itu sepintas akan terlihat menyerupai berlian yang terpasang pada sebuah cincin. Saat Matahari benar-benar tertutup, yang tersisa untuk dilihat hanyalah pendaran cahaya dari korona serta (jika beruntung) beberapa prominensa.

Proses terjadinya gerhana matahari total dari awal hingga akhir, untuk momen GMT 1 Agustus 2008 dari Rusia. Dari Kalan - menggunakan 38 foto pribadi pemilik, CC BY 3.0

Proses terjadinya gerhana matahari total dari awal hingga akhir, untuk momen GMT 1 Agustus 2008 dari Rusia. Dari Kalan – menggunakan 38 foto pribadi pemilik, CC BY 3.0

Langka

GMT merupakan peristiwa langka walaupun sebenarnya yang namanya gerhana itu cukup rutin terjadi. Gerhana apapun, baik Matahari ataupun Bulan, selalu terjadi setidaknya dua kali dalam setahun. Astronom mengenal istilah “musim gerhana”, yakni suatu waktu ketika beberapa gerhana terjadi dalam selang yang berdekatan. Tapi jenis dan lokasi terjadinya gerhana bisa bermacam-macam. Jadi, satu gerhana cenderung akan berbeda karakteristiknya dengan gerhana lain.

GMT 9 Maret 2016 ini adalah GMT pertama di Indonesia di abad 21. Sebelumnya, terakhir kali Indonesia mengalami GMT adalah pada tahun 1995 yang lalu, itupun jalur totalitasnya hanya melintas di Halmahera. Pada 2009 di Indonesia juga dilintasi gerhana matahari, namun dari jenis Gerhana Matahari Cincin (GMC). Dalam banyak hal, gerhana ini sungguhlah spesial. Wajar jika antusiasme masyarakat tampak tinggi.

Foto GMT hasil pengamatan di Ternate oleh tim dari LAPAN. Kredit: Farahhati @ LAPAN

Foto GMT hasil pengamatan di Ternate oleh tim dari LAPAN. Kredit: Farahhati @ LAPAN

Tampaknya beberapa spot pengamatan GMT sukses mengabadikan momen yang dinantikan. Dari pantauan video streaming, pengamatan di Palu tampaknya sukses besar, demikian juga dengan di Ternate. Saya masih menantikan dirilisnya foto-foto berkualitas dari teman-teman pengamat baik dari ITB ataupun institusi lainnya, termasuk tim peneliti luar negeri.

Saya?

Saya tidak mengamati GMT secara langsung, hanya sempat menyaksikan sepintas Gerhana Matahari Sebagian (GMS) yang memang melanda Jakarta. Selebihnya saya menyaksikan dari display di studio Kompas TV, yang menayangkan livestreaming dari Jakarta, Palembang, Palu dan Ternate.

Eh, Kompas TV? Kok di sana?

Ya, pagi hari saat gerhana sedang berlangsung, saya memang hadir sebagai narasumber di stasiun TV tersebut. Ini di luar dugaan saya, tapi yah, demikianlah kejadiannya. That’s life😀 .

Inilah pengalaman terbaru saya. Merasakan suasana studio berita TV. Dengan host kenamaan pula: Timothy Marbun dan Glory Rosary🙄 . Lengkap dengan ritme cepatnya, sampai buang air kecil pun harus buru-buru karena jeda yang sempit:mrgreen:

Sejujurnya, saya agak “telat panas” di momen gerhana ini. Pada mulanya saya cenderung tidak antusias, merasa biasa saja dan cukup skeptis melihat upaya komersialisasi gerhana melalui program pariwisata. Belakangan saya sadar telah keliru. Animo masyarakat sedemikian tinggi dan sudah sepantasnya momen ini dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Walaupun tidak merasakan sensasi mengamati GMT di lapangan, saya tetap hampir menangis haru melihat display di studio yang menampilkan gerhana total lengkap dengan korona, Baily’s beads dan diamond effect. Saya memang belum pernah mengamati GMT, dan ketika menyaksikannya di display… whoa … perasaan buncah. Subhanallah. Kekuasaan Allah SWT sungguh besar, Ia tentukan jarak Matahari – Bulan – Bumi sedemikian rupa hingga pertunjukan gerhana ini bisa terjadi. Jika jarak ketiga benda langit tersebut tidak serupa yang sekarang, peristiwa gerhana yang kita amati akan sangat berbeda.

Oh ya, pengalaman mengamati dari stasiun TV ini membuat saya merasa tunai satu tugas: menyampaikan pesan keindahan sains kepada khalayak luas. Saat bercerita saya memang khawatir salah kata, atau terlalu kaku, tak jelas dll. Tapi saat bercerita itu saya coba menyampaikan apapun yang saya ingin orang lain tahu, tentang gerhana ataupun Astronomi secara umum.

Semoga Allah SWT menunjukkan saya jalan yang lurus.

Fisika? Meh!

Kalau mendengar keluhan siswa terkait pelajaran Fisika, saya seringkali tak bisa berkata apa-apa.

Saya tak pernah beranggapan Fisika itu gampang—seandainya gampang, saya tak akan perlu pindah kampus tahun 2007 lalu. Tapi saya ingin selalu beranggapan Fisika itu menyenangkan. Fisika, bagi saya, adalah ilmu pengetahuan yang mengedepankan intuisi dan imajinasi; membuka mata pada besarnya implikasi dari hal-hal yang tampak remeh; dan terlebih lagi, menyadarkan pada betapa kecilnya manusia. Hanya di Fisika-lah orang mencoba menguak segala macam pintu rahasia, mulai dari pintu yang berukuran subatomik hingga pintu seukuran alam semesta.

ba12ef06b7466d49086472bdaf50f486

Tapi, kembali ke paragraf pertama, siswa-siswa ternyata lebih banyak yang mengeluhkan Fisika. Pelajaran tersulit, absurd, ribet, biang masalah. Belum lagi kalau gurunya juga ngajarnya ga jelas, wah lengkaplah penderitaan.

Kalau siswa bertanya bagaimana caranya belajar Fisika agar terasa asyik, jawaban saya palingan “cari hal-hal yang kamu anggap menarik, misalnya kenapa apel jatuh ke kepala rasanya menyakitkan”. Jawaban semacam itu tak memberikan pengaruh besar, ternyata.

Makanya, kalau siswa saya mengatakan Fisika itu blablablabla (komentar jelek semua), saya speechless. Saya pikir Fisika itu menarik, tapi banyak orang yang merasakan hal sebaliknya. Lalu kenapa bagi mereka Fisika ini tak menarik?

Filosofi Belajar

Apa gunanya belajar? Mencari ilmu. Untuk apa? Agar nanti dapat pekerjaan yang bonafid.

1119060_orig

Selesai sudah. Proses kreativitas berhenti di situ. Cukup belajar hingga kita bisa dapat nilai tinggi. Masuklah ke sekolah-sekolah favorit. Kuliah di kampus yang namanya besar. Lulus cepat dengan predikat terbaik. Pekerjaan bergaji besar menanti.

Dan tanpa disadari, hal seperti ini merusak otak siswa-siswa. Orientasinya adalah pada nilai di laporan akhir semester yang bagus serta rangking yang selalu teratas. Bukan pada pemahaman ilmu, kedalaman pengetahuan. Ditambah lagi dengan sekolah yang berburu prestise demi besaran dana bantuan dari pemerintah—suatu kekeliruan lain lagi. Sekolah “bagus” dana bantuannya besar, padahal seharusnya sekolah yang “jelek” yang perlu dibantu agar menjadi bagus. Belum lagi kalau sekolah “bagus” diserahkan pada pasar, seperti dahulu di masa kelam sekolah RSBI dan perguruan tinggi BHMN. Sekolah diberi standar ini itu dan kalau standarnya sudah bagus diberi kebebasan untuk menarik peserta didik seperti menarik konsumen. Tentu saja sistem ini menyebabkan sekolah “bagus” mengincar siswa yang orangtuanya berpenghasilan tinggi.

Puncaknya adalah ketika Ujian Nasional, kecurangan merebak ke mana-mana.

Dampak dari kelirunya filosofi belajar juga terdapat pada buku-buku teks. Untuk pelajaran Fisika, saya sering menemukan buku yang memberikan penjelasan terlalu mendalam, setingkat level penjelasan untuk mahasiswa tingkat 2 jurusan Fisika, atau setidaknya seperti yang diberikan pada siswa yang dilatih untuk olimpiade sains. Lebih parah lagi, ada buku teks yang memberikan soal yang sebenarnya sederhana, namun dengan angka yang sulit sehingga siswa mengalami kesulitan dalam melakukan perhitungan.

Rumus fisika bukan untuk dihafal. Rumus akan teringat sendirinya dengan pemahaman dan latihan yang tepat.

Rumus fisika bukan untuk dihafal. Rumus akan teringat sendirinya dengan pemahaman dan latihan yang tepat.

Ini ngawur. Anak sekolah menengah hanya membutuhkan pemahaman dasar. Ilmu Fisika yang mereka pelajari itu adalah Fisika dasar—seperti halnya Kimia dasar, Biologi dasar, Matematika dasar, Ekonomi dasar, Sosiologi dasar dan semacamnya. Mereka tak perlu sampai diberi penjelasan matematis yang berbelit. Mungkin mereka memang memerlukan mekanisme penurunan rumus agar rumus yang mereka pelajari diketahui asalnya dari mana, tapi berikanlah sesuai dengan kadarnya. Dalam belajar Fisika, sebenarnya bagian terpentingnya adalah memahami konsep atau teori, bukan kerumitan soal dan ketelitian perhitungan.

Ah, penulis buku dan juga guru yang memakai buku mungkin berbeda pendapat dengan saya. Tampaknya banyak kalangan yang berpendapat bahwa siswa yang sukses adalah siswa yang bisa menyelesaikan soal-soal kompleks, bisa menghitung angka desimal yang rumit. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, kemampuan utama yang harus dimiliki siswa sejak SD adalah berhitung. Logika, imajinasi dan moralitas ditaruh di ember bekas saja. Siswa kelas 1 SD yang hafal perkalian 1 hingga 9 dianggap lebih jagoan dibandingkan siswa seumurannya yang bisa membuat lukisan yang, walau tampak jelek, tapi penuh imajinasi.

Intermezzo
Saya dengan sebal menghadapi siswa yang bertanya “Kak, untuk soal ini rumusnya apa?”, padahal rumus itu tertulis di buku sekolah dan bahkan di catatan yang mereka tulis sendiri. Ya, mereka tahu rumusnya, tapi selalu dua kemungkinan ini yang muncul: 1) Mereka malas membuka buku, dan 2) Mereka tak paham dengan apa yang mereka catat dan baca di buku. Tentu saja yang namanya siswa sekolah menengah tak harus bisa memahami semuanya. Minat orang berbeda-beda, maka tentu saja tingkat kepahaman itu berbeda. Tapi setidaknya, usaha personal mereka seharusnya tak tampak sedemikian lemah hingga bahkan untuk rumus pun masih harus bertanya padahal mereka sudah punya.

Saya kasihan pada siswa yang tak mempu membayangkan konteks yang dijelaskan dalam sebuah soal cerita dan kemudian mengaitkannya dengan rumus yang ada. Kasihan karena sistem membuat mereka kehilangan daya nalar dan imajinasi. Saya menyukai mereka yang bertanya, “Kak, ini caranya bagaimana?”, dan saya biasanya mengarahkan siswa seperti ini untuk menemukan cara yang mereka tanyakan. Kalau memang terlalu sulit, saya akan beritahu langkah-langkahnya beserta alasan penggunaan langkah tersebut. Sebagai guru les, saya berusaha membantu mereka menggunakan nalar dan imajinasi. Hasilnya tampaknya belum begitu baik, tapi yah, yang penting harus dilakukan.

Saya suka siswa yang ingin “lebih paham”, bukan sekedar “bisa”. Juga siswa yang menargetkan ilmunya kelak dipakai dan memberi manfaat pada orang lain. “Aku suka pada mereka yang berani hidup. Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam” ~ Chairil Anwar

Tapi mereka yang seperti itu langka. Tergerus sistem.


Saya ingin Fisika di sekolah menengah itu diajarkan sesuai “khittah”nya, yakni sebagai ilmu yang mengedepankan intuisi dan imajinasi. Fisika harus diajarkan juga di laboratorium, bukan hanya di ruang kelas. Fisika harus disertai pengamatan atas fenomena di sekeliling kita, bahkan fenomena sederhana sekalipun. Fisika bukan angka-angka. Fisika adalah imajinasi atas fenomena alam.

Fenomena sederhana, antara lain, bisa ditunjukkan melalui gambar seperti ini.

Fenomena sederhana, antara lain, bisa ditunjukkan melalui gambar seperti ini.

Jadi kenapa banyak siswa benci Fisika? Karena Fisika tak diajarkan sebagaimana mestinya. Ah saya ini apa lah, cuma kaleng-kalengnya …

Ilmuwan Muslim 2: Ibnu Khaldun

Pembukaan
Tulisan ini berkaitan dengan niatan yang telah saya sampaikan sebelumnya di postingan sebelum ini: yakni menulis tentang ilmuwan muslim. Ilmuwan pilihan saya yang kedua setelah Ibnul Haytsam adalah Ibnu Khaldun. Jika sebelumnya adalah ilmuwan eksakta yang juga filsuf, kali ini seorang ilmuwan sosial.

Siapa Ibnu Khaldun?

Beberapa waktu lalu, pendiri social media populer Facebook Mark Zuckerberg membicarakan Ibnu Khaldun di status Facebooknya. Mark membaca buku yang ditulis tahun 1377 oleh Ibnu Khaldun, dan ia mengatakan dirinya mengagumi sang penulis buku. Buku yang dimaksud adalah buku berjudul Muqaddimah, sebuah karya besar yang pernah hadir di jagat ilmu dunia Islam.

Tapi siapa Ibnu Khaldun itu? Ia adalah seorang sejarawan, dan juga ahli sosiologi dan ekonomi. Nama panjangnya Abū Zayd ‘Abdur-Raḥmān bin Muḥammad bin Khaldūn Al-Ḥaḍrami (أبو زيد عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي‎). Ia lahir di Tunis (sekarang ibu kota Tunisia) pada 1 Ramadan 732 H atau 27 Mei 1332 TU. Bukunya, Muqaddimah, merupakan buku tentang sejarah dengan ulasan yang baik tentang perkembangan sosial masyarakat. Buku ini sedemikian terkemukanya hingga sampai jaman modern sekarang ini, 6 abad setelah buku tersebut ditulis, masih ada yang menerbitkan. Bahkan orang mengatakan gelar “bapak ekonomi” seharusnya tidaklah disematkan kepada Adam Smith, namun kepada Ibnu Khaldun. Sebab, Ibnu Khaldun yang hidup beberapa ratus tahun sebelum Adam Smith telah menjabarkan, walaupun secara lebih sederhana, pemikiran yang dikeluarkan oleh Smith. Wallahu a’lam, perkara itu biarlah masing-masing manusia saja yang menilai.

Patung Ibnu Khaldun. Gambar dari Wikipedia.

Patung Ibnu Khaldun. Gambar dari Wikipedia.


Ibnu Khaldun keturunan bangsawan Andalusia—walaupun ada yang meragukan klaim ini. Kita tahu Andalusia: “Spanyol Islam”. Pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan di tengah kegelapan Eropa. Tapi saat Ibnu Khaldun hidup, Andalusia telah mundur dan mulai kalah oleh kerajaan-kerajaan Kristen Spanyol. Keluarganya mengungsi dari Sevilla ke Tunisia yang saat itu dikenal sebagai Maghreb. Di Tunisia, keluarganya mengabdi pada keluarga kerajaan Hafsid.

Sebagai anak orang terpandang, ia sempat mengenyam pendidikan yang baik di Tunisia. Bagus untuknya, sebab dengan demikian ketika dewasa ia menjadi sarjana terkemuka dengan karya yang hebat. Seperti umumnya pendidikan pada jaman itu, ia menguasai banyak hal, baik dalam cabang ilmu agama ataupun ilmu umum.

Pada masanya, di Afrika utara dan di berbagai bagian lain dunia Islam terdapat banyak penguasa-penguasa kecil yang saling berebut pengaruh—mulai dari bangsa penghuni gurun Sahara hingga para penguasa di Maroko, Tunisia hingga Mesir. Hal ini membuat ia berkelana ke banyak tempat, bekerja untuk penguasa satu kemudian berpindah ke penguasa lainnya. Ia berkelana dari Tunisia, Maroko, Granada, kembali lagi ke Tunisia, lalu Mesir. Di setiap kesempatan, sebagai orang terpelajar dan ambisius ia selalu berusaha menerapkan ide-idenya walaupun seringkali orang yang mempekerjakannya murka (itu sebabnya ia jadi sering berpindah-pindah). Pengalaman berkelana ke berbagai tempat itulah barangkali yang membuat pengetahuannya di bidang sejarah, ekonomi dan sosiologi demikian luas.

Hasil Karya

Di antara topik karyanya tentang ekonomi adalah perlunya sistem keuangan Islam yang mata uangnya punya nilai intrinsik, yakni dinar (memiliki nilai emas) dan dirham (memiliki nilai perak). Nilainya juga harus dibakukan dan digunakan dalam berbagai transaksi keuangan Islam. Dengan begitu sistem keuangan Islam seperti misalnya zakat, denda haji, mahar pernikahan dan sebagainya akan menjadi teratur.

Juga di bidang ekonomi ia mengatakan,

Bisnis yang dimiliki oleh pebisnis yang bertanggungjawab dan terorganisasi [dengan baik] pada akhirnya akan mengalahkan bisnis yang dimiliki penguasa kaya.

Saya sendiri melihat kata-kata ini agak mirip dengan pendapat ekonomi liberal modern.

Di bidang sosio-politik, ia melihat bahwa peradaban mengalami periode bangkit dan tenggelam bergantung pada bagaimana pelaku peradaban bekerja. Suatu bangsa barbar bisa mengalahkan sebuah bangsa beradab, tapi kemudian bangsa barbar itu akan mengadopsi peradaban yang diruntuhkannya, sehingga terbangun peradaban baru yang bisa jadi lebih besar lagi. Peradaban baru ini kelak akan runtuh pula, tapi lama periodenya bergantung seberapa kuat peradaban tersebut dipertahankan.

Ibnu Khaldun juga membahas perilaku (sosiologi). Salah satunya perilaku bangsa Arab. Menurutnya, orang arab itu,

Bangsa Arab hanya berminat menguasai kawasan dataran karena mereka secara alamiah adalah bangsa yang suka menghancurkan. Mereka merusak segala yang bisa mereka ambil tanpa perlu banyak pertarungan atau resiko; akan melarikan diri serta tidak bertempur kecuali terpaksa untuk membela diri. Ketika berhadapan dengan masalah, mereka akan meninggalkannya dan mencari yang lebih mudah. Suku bangsa yang tinggal di perbukitan lebih aman dari pengaruh mereka karena mereka (bangsa Arab) ini memilih untuk menghindari susahnya mendaki bukit atau mengambil resiko. Suku bangsa di daerah dataran lebih mudah terkena pengaruh mereka karena pertahanan alami yang lebih lemah, dan akan terus diganggu dan dikuasai, hanya untuk kemudian [bangsa Arab] ini akan bertempur sesamanya dan mengalami kemunduran politik. Dan Allah bisa berbuat apapun kepada ciptaannya, dan Ia adalah satu-satunya, yang Maha Kuasa dan tak ada Tuhan selain Dia.