Hari Raya Astronomi: Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

Gerhana Matahari Total (GMT) telah terjadi tanggal 9 Maret 2016 pagi. Semua berjalan sesuai dengan prediksi para ahli perbintangan. Masyarakat Indonesia telah berbondong menyaksikan keajaiban alam tersebut, sebagian dengan mengiringkan takbir melaksanakan shalat gerhana. Timeline media sosial dipenuhi berita, video dan foto-foto gerhana.

Alhamdulillah. Momen ini memang sangat ditunggu oleh mereka, para peminat dan praktisi Astronomi. Saya bisa membayangkan dramatisnya peristiwa ini dari cerita teman-teman pemburu gerhana. Berpacu dengan waktu, bermusuhan dengan cuaca. Juga betapa bahagianya mereka yang bisa berbagi pengetahuan dengan masyarakat umum sejak beberapa hari sebelum gerhana. Berbagi itu sensasinya luar biasa.

Apa itu Gerhana Matahari Total

Saya rasa banyak yang sudah paham apa itu Gerhana Matahari Total (GMT), tapi tak ada salahnya diceritakan kembali. GMT ialah peristiwa tampak tertutupnya piringan Matahari secara penuh oleh piringan Bulan. Hal ini bisa terjadi jika dalam peredarannya di orbit, Bulan dan Bumi membentuk susunan segaris bersama-sama dengan Matahari. Urutannya Matahari – Bulan – Bumi. Dalam Astronomi, susunan segaris dikenal dengan istilah syzygy. Posisi Bulan harus cukup dekat dengan Bumi sehingga diameter piringan Bulan sedikit lebih besar dari diameter piringan Matahari.

Gambaran proses terjadinya Gerhana Matahari. Oleh Cmglee - Own work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=39077179.

Gambaran proses terjadinya Gerhana Matahari. Oleh Cmglee – Own work, CC BY-SA 3.0.

Posisi Bulan yang berada di antara Matahari dan Bumi menyebabkan makhluk hidup yang tinggal di Bumi merasakan cahaya Matahari terhalang, sehingga Matahari yang benderang itu menjadi gelap. Itulah gerhana matahari. Gerhana matahari selalu terjadi di fase bulan mati, yang artinya selalu terjadi di akhir/awal bulan qamariyah.

Walaupun susunan Matahari – Bulan – Bumi selalu terjadi setiap bulan qamariyah (29,5 hari sekali), gerhana tidak selalu terjadi setiap bulan. Hal ini dikarenakan lingkar orbit Bulan memiliki kemiringan sekitar 5°, sehingga Bulan tak selalu menghalangi cahaya Matahari. Namun peristiwa gerhana selalu terjadi setidaknya 2 kali dalam setahun, dengan tempat yang berpindah-pindah.

Adalah hal yang menakjubkan bahwa posisi bulan saat mengelilingi Bumi sedemikian rupa, sehingga ukuran Bulan saat dilihat dari Bumi kurang lebih sama dengan ukuran Matahari saat dilihat dari Bumi. Diameter angular Matahari berkisar antara 31’31” — 32’33”, sementara diameter angular Bulan berkisar 29’20” — 34’6″. Dengan ukuran yang hampir sama tersebut, saat Bulan menghalangi cahaya Matahari, piringan bulan dapat sepenuhnya menutup piringan Matahari dan menghasilkan GMT.

Fenomena GMT menghasilkan sensasi gelap yang hampir seperti malam. Di balik kegelapan itu, keindahan penciptaan semesta dipampangkan di depan mata. Piringan Matahari yang bercahaya benderang perlahan mengalami penggelapan mulai dari salah satu tepinya. Penggelapan semakin lama akan semakin besar, hingga Matahari tampak seperti kue dorayaki yang sedang dilahap Doraemon. Dan pada puncaknya seluruh permukaan Matahari yang terang itu tertutup, menyisakan kilau cahaya kecil yang menyelip sedikit dari balik piringan Bulan. Cahaya yang menyelip itu sepintas akan terlihat menyerupai berlian yang terpasang pada sebuah cincin. Saat Matahari benar-benar tertutup, yang tersisa untuk dilihat hanyalah pendaran cahaya dari korona serta (jika beruntung) beberapa prominensa.

Proses terjadinya gerhana matahari total dari awal hingga akhir, untuk momen GMT 1 Agustus 2008 dari Rusia. Dari Kalan - menggunakan 38 foto pribadi pemilik, CC BY 3.0

Proses terjadinya gerhana matahari total dari awal hingga akhir, untuk momen GMT 1 Agustus 2008 dari Rusia. Dari Kalan – menggunakan 38 foto pribadi pemilik, CC BY 3.0

Langka

GMT merupakan peristiwa langka walaupun sebenarnya yang namanya gerhana itu cukup rutin terjadi. Gerhana apapun, baik Matahari ataupun Bulan, selalu terjadi setidaknya dua kali dalam setahun. Astronom mengenal istilah “musim gerhana”, yakni suatu waktu ketika beberapa gerhana terjadi dalam selang yang berdekatan. Tapi jenis dan lokasi terjadinya gerhana bisa bermacam-macam. Jadi, satu gerhana cenderung akan berbeda karakteristiknya dengan gerhana lain.

GMT 9 Maret 2016 ini adalah GMT pertama di Indonesia di abad 21. Sebelumnya, terakhir kali Indonesia mengalami GMT adalah pada tahun 1995 yang lalu, itupun jalur totalitasnya hanya melintas di Halmahera. Pada 2009 di Indonesia juga dilintasi gerhana matahari, namun dari jenis Gerhana Matahari Cincin (GMC). Dalam banyak hal, gerhana ini sungguhlah spesial. Wajar jika antusiasme masyarakat tampak tinggi.

Foto GMT hasil pengamatan di Ternate oleh tim dari LAPAN. Kredit: Farahhati @ LAPAN

Foto GMT hasil pengamatan di Ternate oleh tim dari LAPAN. Kredit: Farahhati @ LAPAN

Tampaknya beberapa spot pengamatan GMT sukses mengabadikan momen yang dinantikan. Dari pantauan video streaming, pengamatan di Palu tampaknya sukses besar, demikian juga dengan di Ternate. Saya masih menantikan dirilisnya foto-foto berkualitas dari teman-teman pengamat baik dari ITB ataupun institusi lainnya, termasuk tim peneliti luar negeri.

Saya?

Saya tidak mengamati GMT secara langsung, hanya sempat menyaksikan sepintas Gerhana Matahari Sebagian (GMS) yang memang melanda Jakarta. Selebihnya saya menyaksikan dari display di studio Kompas TV, yang menayangkan livestreaming dari Jakarta, Palembang, Palu dan Ternate.

Eh, Kompas TV? Kok di sana?

Ya, pagi hari saat gerhana sedang berlangsung, saya memang hadir sebagai narasumber di stasiun TV tersebut. Ini di luar dugaan saya, tapi yah, demikianlah kejadiannya. That’s life😀 .

Inilah pengalaman terbaru saya. Merasakan suasana studio berita TV. Dengan host kenamaan pula: Timothy Marbun dan Glory Rosary🙄 . Lengkap dengan ritme cepatnya, sampai buang air kecil pun harus buru-buru karena jeda yang sempit:mrgreen:

Sejujurnya, saya agak “telat panas” di momen gerhana ini. Pada mulanya saya cenderung tidak antusias, merasa biasa saja dan cukup skeptis melihat upaya komersialisasi gerhana melalui program pariwisata. Belakangan saya sadar telah keliru. Animo masyarakat sedemikian tinggi dan sudah sepantasnya momen ini dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Walaupun tidak merasakan sensasi mengamati GMT di lapangan, saya tetap hampir menangis haru melihat display di studio yang menampilkan gerhana total lengkap dengan korona, Baily’s beads dan diamond effect. Saya memang belum pernah mengamati GMT, dan ketika menyaksikannya di display… whoa … perasaan buncah. Subhanallah. Kekuasaan Allah SWT sungguh besar, Ia tentukan jarak Matahari – Bulan – Bumi sedemikian rupa hingga pertunjukan gerhana ini bisa terjadi. Jika jarak ketiga benda langit tersebut tidak serupa yang sekarang, peristiwa gerhana yang kita amati akan sangat berbeda.

Oh ya, pengalaman mengamati dari stasiun TV ini membuat saya merasa tunai satu tugas: menyampaikan pesan keindahan sains kepada khalayak luas. Saat bercerita saya memang khawatir salah kata, atau terlalu kaku, tak jelas dll. Tapi saat bercerita itu saya coba menyampaikan apapun yang saya ingin orang lain tahu, tentang gerhana ataupun Astronomi secara umum.

Semoga Allah SWT menunjukkan saya jalan yang lurus.

Fisika? Meh!

Kalau mendengar keluhan siswa terkait pelajaran Fisika, saya seringkali tak bisa berkata apa-apa.

Saya tak pernah beranggapan Fisika itu gampang—seandainya gampang, saya tak akan perlu pindah kampus tahun 2007 lalu. Tapi saya ingin selalu beranggapan Fisika itu menyenangkan. Fisika, bagi saya, adalah ilmu pengetahuan yang mengedepankan intuisi dan imajinasi; membuka mata pada besarnya implikasi dari hal-hal yang tampak remeh; dan terlebih lagi, menyadarkan pada betapa kecilnya manusia. Hanya di Fisika-lah orang mencoba menguak segala macam pintu rahasia, mulai dari pintu yang berukuran subatomik hingga pintu seukuran alam semesta.

ba12ef06b7466d49086472bdaf50f486

Tapi, kembali ke paragraf pertama, siswa-siswa ternyata lebih banyak yang mengeluhkan Fisika. Pelajaran tersulit, absurd, ribet, biang masalah. Belum lagi kalau gurunya juga ngajarnya ga jelas, wah lengkaplah penderitaan.

Kalau siswa bertanya bagaimana caranya belajar Fisika agar terasa asyik, jawaban saya palingan “cari hal-hal yang kamu anggap menarik, misalnya kenapa apel jatuh ke kepala rasanya menyakitkan”. Jawaban semacam itu tak memberikan pengaruh besar, ternyata.

Makanya, kalau siswa saya mengatakan Fisika itu blablablabla (komentar jelek semua), saya speechless. Saya pikir Fisika itu menarik, tapi banyak orang yang merasakan hal sebaliknya. Lalu kenapa bagi mereka Fisika ini tak menarik?

Filosofi Belajar

Apa gunanya belajar? Mencari ilmu. Untuk apa? Agar nanti dapat pekerjaan yang bonafid.

1119060_orig

Selesai sudah. Proses kreativitas berhenti di situ. Cukup belajar hingga kita bisa dapat nilai tinggi. Masuklah ke sekolah-sekolah favorit. Kuliah di kampus yang namanya besar. Lulus cepat dengan predikat terbaik. Pekerjaan bergaji besar menanti.

Dan tanpa disadari, hal seperti ini merusak otak siswa-siswa. Orientasinya adalah pada nilai di laporan akhir semester yang bagus serta rangking yang selalu teratas. Bukan pada pemahaman ilmu, kedalaman pengetahuan. Ditambah lagi dengan sekolah yang berburu prestise demi besaran dana bantuan dari pemerintah—suatu kekeliruan lain lagi. Sekolah “bagus” dana bantuannya besar, padahal seharusnya sekolah yang “jelek” yang perlu dibantu agar menjadi bagus. Belum lagi kalau sekolah “bagus” diserahkan pada pasar, seperti dahulu di masa kelam sekolah RSBI dan perguruan tinggi BHMN. Sekolah diberi standar ini itu dan kalau standarnya sudah bagus diberi kebebasan untuk menarik peserta didik seperti menarik konsumen. Tentu saja sistem ini menyebabkan sekolah “bagus” mengincar siswa yang orangtuanya berpenghasilan tinggi.

Puncaknya adalah ketika Ujian Nasional, kecurangan merebak ke mana-mana.

Dampak dari kelirunya filosofi belajar juga terdapat pada buku-buku teks. Untuk pelajaran Fisika, saya sering menemukan buku yang memberikan penjelasan terlalu mendalam, setingkat level penjelasan untuk mahasiswa tingkat 2 jurusan Fisika, atau setidaknya seperti yang diberikan pada siswa yang dilatih untuk olimpiade sains. Lebih parah lagi, ada buku teks yang memberikan soal yang sebenarnya sederhana, namun dengan angka yang sulit sehingga siswa mengalami kesulitan dalam melakukan perhitungan.

Rumus fisika bukan untuk dihafal. Rumus akan teringat sendirinya dengan pemahaman dan latihan yang tepat.

Rumus fisika bukan untuk dihafal. Rumus akan teringat sendirinya dengan pemahaman dan latihan yang tepat.

Ini ngawur. Anak sekolah menengah hanya membutuhkan pemahaman dasar. Ilmu Fisika yang mereka pelajari itu adalah Fisika dasar—seperti halnya Kimia dasar, Biologi dasar, Matematika dasar, Ekonomi dasar, Sosiologi dasar dan semacamnya. Mereka tak perlu sampai diberi penjelasan matematis yang berbelit. Mungkin mereka memang memerlukan mekanisme penurunan rumus agar rumus yang mereka pelajari diketahui asalnya dari mana, tapi berikanlah sesuai dengan kadarnya. Dalam belajar Fisika, sebenarnya bagian terpentingnya adalah memahami konsep atau teori, bukan kerumitan soal dan ketelitian perhitungan.

Ah, penulis buku dan juga guru yang memakai buku mungkin berbeda pendapat dengan saya. Tampaknya banyak kalangan yang berpendapat bahwa siswa yang sukses adalah siswa yang bisa menyelesaikan soal-soal kompleks, bisa menghitung angka desimal yang rumit. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, kemampuan utama yang harus dimiliki siswa sejak SD adalah berhitung. Logika, imajinasi dan moralitas ditaruh di ember bekas saja. Siswa kelas 1 SD yang hafal perkalian 1 hingga 9 dianggap lebih jagoan dibandingkan siswa seumurannya yang bisa membuat lukisan yang, walau tampak jelek, tapi penuh imajinasi.

Intermezzo
Saya dengan sebal menghadapi siswa yang bertanya “Kak, untuk soal ini rumusnya apa?”, padahal rumus itu tertulis di buku sekolah dan bahkan di catatan yang mereka tulis sendiri. Ya, mereka tahu rumusnya, tapi selalu dua kemungkinan ini yang muncul: 1) Mereka malas membuka buku, dan 2) Mereka tak paham dengan apa yang mereka catat dan baca di buku. Tentu saja yang namanya siswa sekolah menengah tak harus bisa memahami semuanya. Minat orang berbeda-beda, maka tentu saja tingkat kepahaman itu berbeda. Tapi setidaknya, usaha personal mereka seharusnya tak tampak sedemikian lemah hingga bahkan untuk rumus pun masih harus bertanya padahal mereka sudah punya.

Saya kasihan pada siswa yang tak mempu membayangkan konteks yang dijelaskan dalam sebuah soal cerita dan kemudian mengaitkannya dengan rumus yang ada. Kasihan karena sistem membuat mereka kehilangan daya nalar dan imajinasi. Saya menyukai mereka yang bertanya, “Kak, ini caranya bagaimana?”, dan saya biasanya mengarahkan siswa seperti ini untuk menemukan cara yang mereka tanyakan. Kalau memang terlalu sulit, saya akan beritahu langkah-langkahnya beserta alasan penggunaan langkah tersebut. Sebagai guru les, saya berusaha membantu mereka menggunakan nalar dan imajinasi. Hasilnya tampaknya belum begitu baik, tapi yah, yang penting harus dilakukan.

Saya suka siswa yang ingin “lebih paham”, bukan sekedar “bisa”. Juga siswa yang menargetkan ilmunya kelak dipakai dan memberi manfaat pada orang lain. “Aku suka pada mereka yang berani hidup. Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam” ~ Chairil Anwar

Tapi mereka yang seperti itu langka. Tergerus sistem.


Saya ingin Fisika di sekolah menengah itu diajarkan sesuai “khittah”nya, yakni sebagai ilmu yang mengedepankan intuisi dan imajinasi. Fisika harus diajarkan juga di laboratorium, bukan hanya di ruang kelas. Fisika harus disertai pengamatan atas fenomena di sekeliling kita, bahkan fenomena sederhana sekalipun. Fisika bukan angka-angka. Fisika adalah imajinasi atas fenomena alam.

Fenomena sederhana, antara lain, bisa ditunjukkan melalui gambar seperti ini.

Fenomena sederhana, antara lain, bisa ditunjukkan melalui gambar seperti ini.

Jadi kenapa banyak siswa benci Fisika? Karena Fisika tak diajarkan sebagaimana mestinya. Ah saya ini apa lah, cuma kaleng-kalengnya …

Ilmuwan Muslim 2: Ibnu Khaldun

Pembukaan
Tulisan ini berkaitan dengan niatan yang telah saya sampaikan sebelumnya di postingan sebelum ini: yakni menulis tentang ilmuwan muslim. Ilmuwan pilihan saya yang kedua setelah Ibnul Haytsam adalah Ibnu Khaldun. Jika sebelumnya adalah ilmuwan eksakta yang juga filsuf, kali ini seorang ilmuwan sosial.

Siapa Ibnu Khaldun?

Beberapa waktu lalu, pendiri social media populer Facebook Mark Zuckerberg membicarakan Ibnu Khaldun di status Facebooknya. Mark membaca buku yang ditulis tahun 1377 oleh Ibnu Khaldun, dan ia mengatakan dirinya mengagumi sang penulis buku. Buku yang dimaksud adalah buku berjudul Muqaddimah, sebuah karya besar yang pernah hadir di jagat ilmu dunia Islam.

Tapi siapa Ibnu Khaldun itu? Ia adalah seorang sejarawan, dan juga ahli sosiologi dan ekonomi. Nama panjangnya Abū Zayd ‘Abdur-Raḥmān bin Muḥammad bin Khaldūn Al-Ḥaḍrami (أبو زيد عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي‎). Ia lahir di Tunis (sekarang ibu kota Tunisia) pada 1 Ramadan 732 H atau 27 Mei 1332 TU. Bukunya, Muqaddimah, merupakan buku tentang sejarah dengan ulasan yang baik tentang perkembangan sosial masyarakat. Buku ini sedemikian terkemukanya hingga sampai jaman modern sekarang ini, 6 abad setelah buku tersebut ditulis, masih ada yang menerbitkan. Bahkan orang mengatakan gelar “bapak ekonomi” seharusnya tidaklah disematkan kepada Adam Smith, namun kepada Ibnu Khaldun. Sebab, Ibnu Khaldun yang hidup beberapa ratus tahun sebelum Adam Smith telah menjabarkan, walaupun secara lebih sederhana, pemikiran yang dikeluarkan oleh Smith. Wallahu a’lam, perkara itu biarlah masing-masing manusia saja yang menilai.

Patung Ibnu Khaldun. Gambar dari Wikipedia.

Patung Ibnu Khaldun. Gambar dari Wikipedia.


Ibnu Khaldun keturunan bangsawan Andalusia—walaupun ada yang meragukan klaim ini. Kita tahu Andalusia: “Spanyol Islam”. Pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan di tengah kegelapan Eropa. Tapi saat Ibnu Khaldun hidup, Andalusia telah mundur dan mulai kalah oleh kerajaan-kerajaan Kristen Spanyol. Keluarganya mengungsi dari Sevilla ke Tunisia yang saat itu dikenal sebagai Maghreb. Di Tunisia, keluarganya mengabdi pada keluarga kerajaan Hafsid.

Sebagai anak orang terpandang, ia sempat mengenyam pendidikan yang baik di Tunisia. Bagus untuknya, sebab dengan demikian ketika dewasa ia menjadi sarjana terkemuka dengan karya yang hebat. Seperti umumnya pendidikan pada jaman itu, ia menguasai banyak hal, baik dalam cabang ilmu agama ataupun ilmu umum.

Pada masanya, di Afrika utara dan di berbagai bagian lain dunia Islam terdapat banyak penguasa-penguasa kecil yang saling berebut pengaruh—mulai dari bangsa penghuni gurun Sahara hingga para penguasa di Maroko, Tunisia hingga Mesir. Hal ini membuat ia berkelana ke banyak tempat, bekerja untuk penguasa satu kemudian berpindah ke penguasa lainnya. Ia berkelana dari Tunisia, Maroko, Granada, kembali lagi ke Tunisia, lalu Mesir. Di setiap kesempatan, sebagai orang terpelajar dan ambisius ia selalu berusaha menerapkan ide-idenya walaupun seringkali orang yang mempekerjakannya murka (itu sebabnya ia jadi sering berpindah-pindah). Pengalaman berkelana ke berbagai tempat itulah barangkali yang membuat pengetahuannya di bidang sejarah, ekonomi dan sosiologi demikian luas.

Hasil Karya

Di antara topik karyanya tentang ekonomi adalah perlunya sistem keuangan Islam yang mata uangnya punya nilai intrinsik, yakni dinar (memiliki nilai emas) dan dirham (memiliki nilai perak). Nilainya juga harus dibakukan dan digunakan dalam berbagai transaksi keuangan Islam. Dengan begitu sistem keuangan Islam seperti misalnya zakat, denda haji, mahar pernikahan dan sebagainya akan menjadi teratur.

Juga di bidang ekonomi ia mengatakan,

Bisnis yang dimiliki oleh pebisnis yang bertanggungjawab dan terorganisasi [dengan baik] pada akhirnya akan mengalahkan bisnis yang dimiliki penguasa kaya.

Saya sendiri melihat kata-kata ini agak mirip dengan pendapat ekonomi liberal modern.

Di bidang sosio-politik, ia melihat bahwa peradaban mengalami periode bangkit dan tenggelam bergantung pada bagaimana pelaku peradaban bekerja. Suatu bangsa barbar bisa mengalahkan sebuah bangsa beradab, tapi kemudian bangsa barbar itu akan mengadopsi peradaban yang diruntuhkannya, sehingga terbangun peradaban baru yang bisa jadi lebih besar lagi. Peradaban baru ini kelak akan runtuh pula, tapi lama periodenya bergantung seberapa kuat peradaban tersebut dipertahankan.

Ibnu Khaldun juga membahas perilaku (sosiologi). Salah satunya perilaku bangsa Arab. Menurutnya, orang arab itu,

Bangsa Arab hanya berminat menguasai kawasan dataran karena mereka secara alamiah adalah bangsa yang suka menghancurkan. Mereka merusak segala yang bisa mereka ambil tanpa perlu banyak pertarungan atau resiko; akan melarikan diri serta tidak bertempur kecuali terpaksa untuk membela diri. Ketika berhadapan dengan masalah, mereka akan meninggalkannya dan mencari yang lebih mudah. Suku bangsa yang tinggal di perbukitan lebih aman dari pengaruh mereka karena mereka (bangsa Arab) ini memilih untuk menghindari susahnya mendaki bukit atau mengambil resiko. Suku bangsa di daerah dataran lebih mudah terkena pengaruh mereka karena pertahanan alami yang lebih lemah, dan akan terus diganggu dan dikuasai, hanya untuk kemudian [bangsa Arab] ini akan bertempur sesamanya dan mengalami kemunduran politik. Dan Allah bisa berbuat apapun kepada ciptaannya, dan Ia adalah satu-satunya, yang Maha Kuasa dan tak ada Tuhan selain Dia.

Sejarah Islam: Latta, Uzza dan Manat

Sebelum Islam datang, penduduk Arab adalah penganut paganisme—semacam agama yang mencampuradukkan beragam keyakinan dan menyembah berhala. Sesembahan mereka banyak. Konon, sebelum peristiwa Fathul Makkah (penaklukan Makkah oleh Muhammad SAW), di Ka’bah terdapat beribu-ribu berhala. Semuanya tak ada lagi sisanya karena sudah dihancurkan dan semua penduduk Makkah memeluk Islam. Dari banyak dewa-dewi sembahan tersebut, dalam Al Quran disebutkan bahwa kaum musyrik di Makkah menyembah 3 berhala utama: Latta (Allāt, اللات‎), Uzza (Al ‘Uzza, العزى‎) dan Manat (Manāt, مناة).

Sejak kecil saya memang meminati sejarah, karena itu saya sangat menyukai pelajaran Tarikh Islam atau Sejarah Islam yang saya terima di madrasah. Dari pelajaran ini saya pertama kali mendengar berhala-berhala yang disembah kaum sebelum Muhammad tersebut. Guru saya waktu itu menceritakan, bahwa kaum musyrik itu sebegitu bodohnya sehingga mereka sampai membuat berhala ini dalam wujud kue dan kemudian memakannya. Saat saya tumbuh dewasa, saya sadari kisah “memakan kue berhala” itu tak ada referensinya, tapi bahwa kaum musyrik itu sedemikian “bodoh” bisa jadi benar. Kita lihat nanti.

Awalnya saya mengira 3 berhala utama itu adalah “dewa”, atau tuhan dalam wujud laki-laki. Ternyata bukan. Mereka adalah “dewi”, tuhan dalam wujud perempuan. Saya lupa apakah guru saya di madrasah pernah menjelaskan kalau mereka ini adalah para dewi, atau apakah guru agama saya pernah menjelaskan tafsir surat Annajm ayat 19-21 (QS 53:19-21). Dalam tafsir ayat-ayat di surat Annajm tersebut disebutkan bahwa kaum musyrikin menganggap Latta, Uzza dan Manat adalah “anak-anak perempuan Allah”.

Masyarakat di Arabia sebenarnya punya tradisi monoteisme sebagaimana halnya bangsa Israel, dan mereka juga dahulunya menyembah satu tuhan, yakni tuhannya Ibrahim. Hal ini bisa kita tilik dari sejarah orang Arab yang merupakan keturunan Ismail (bangsa Israel merupakan keturunan Ishaq). Karena berasal dari satu nenek moyang, yakni Ibrahim yang monoteis, maka jelas dahulunya orang Arab adalah pemeluk agama tauhid. Namun seiring waktu, keyakinan monoteisme Arab bergeser dan mulailah paganisme dan politeisme menjadi keyakinan mereka. Walau demikian mereka masih mengaitkan Allah dengan tuhan-tuhan pagan mereka, antara lain, seperti disebutkan dalam QS 53:19-21, Latta, Uzza dan manat adalah “anak-anak perempuan Allah”. Selain itu, Allah juga masih disebutkan dalam nama-nama orang Arab, sebagai contoh ayah dari Rasulullah Muhammad SAW bernama Abdullah. Abdullah berarti “Hamba Allah”, padahal beliau sudah meninggal saat Rasulullah SAW masih kecil.

Coba kita lihat masing-masing dewi ini satu persatu. Catatan: Kebanyakan sumber saya adalah Wikipedia, dan sedikit saya juga membaca Kitab al-Asnam (Book of Idols) karya Abu al-Mundhir Hisham ibn-Muhammad ibn-al-Sa’ib ibn-Bishr al-Kalbi yang bisa diunduh dari sini. Isi Wikipedianya sendiri juga banyak merujuk dari Kitab al-Asnam ini.

Allāt, اللات‎

Relif Allāt yang ditemukan di Thaif, Arab Saudi. Diperkirakan dibuat tahun 100 TU. Gambar dari Wikipedia.

Relif Allāt yang ditemukan di Thaif, Arab Saudi. Diperkirakan dibuat tahun 100 TU. Gambar dari Wikipedia.

Allāt, atau dalam tradisi Indonesia sering disebut sebagai Latta, merupakan “dewi dunia bawah” yang disembah kaum pagan di jazirah Arab sebelum Islam. Dewi ini merupakan tradisi pagan, bercampurnya agama asli Arab dengan dewa-dewi dari Yunani dan Romawi serta dari negeri lain melalui berbagai cara. Bagi orang Nabatea di Petra, yang tinggal di utara semenanjung Arabia tepatnya di daerah Yordania sekarang, dewi Latta ini merepresentasikan Athena, Tyche atau Minerva. Herodotus juga menyebutkan tentang “Alilah” yang merupakan penyebutan Arab terhadap Aphrodite.

Dalam catatan sejarah Islam, terdapat satu daerah yang masih musyrik sementara bagian lainnya seperti Makkah, Madinah bahkan Yaman sudah memeluk Islam. Daerah itu adalah Thaif. Penduduknya pernah sangat memusuhi Rasulullah SAW, melempari dan mengusir sang nabi saat beliau datang ke Thaif untuk mencari perlindungan dari kaum musyrik Makkah. Pada tahun 630 TU, dua tahun sesudah Fathul Makkah dan bersamaan dengan perang Tabuk melawan Byzantium, Thaif dikepung oleh Rasulullah SAW dan tentaranya. Penduduk Thaif meminta perundingan untuk mengakhiri pengepungan, dan syarat yang diberikan Rasulullah adalah penduduk Thaif masuk Islam dan semua berhala dihancurkan. Termasuk di antaranya adalah kuil/tempat persembahan yang didedikasikan bagi Latta. Penduduk Thaif mulanya minta keringanan, diberikan jeda 3 tahun untuk proses pindah agama. Rasulullah menolak. Mereka minta jeda 2 tahun, 1 tahun, 6 bulan, tetap ditolak. Terakhir mereka minta diberikan keringanan untuk tidak melakukan ibadah harian (shalat) dan juga meminta bahwa orang yang akan menghancurkan berhala-berhala bukan dari kalangan warga Thaif. Rasulullah SAW tidak memberikan keringanan untuk tak melakukan shalat tersebut, tapi mengabulkan keinginan yang kedua. Abu Sufyan bin Harb—dahulunya musuh besar Rasulullah dari kalangan kaum Quraisy Makkah—diberi tugas sebagai penghancur berhala. Kisah ini adalah asbabun-nuzul QS 17:73.

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. (QS 17:73)

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. (QS 17:73)

Al ‘Uzza, العزى

Uzza merupakan dewi pagan Arab, termasuk orang-orang Nabatea di Petra, yang disamakan dengan Aphrodite (Yunani) atau Venus (Romawi). Dewi ini dianggap sangat penting sehingga orang-orang Arab pra-Islam sering memberi nama “Abdul ‘Uzza” kepada anak-anaknya. Di makkah, pusat penyembahannya terdapat di Nakhla.

Relif Uzza yang ditemukan di Petra, Yordania. Gambar dari Wikipedia

Relif Uzza yang ditemukan di Petra, Yordania. Gambar dari Wikipedia

Pada saat Fathul Makkah, Rasulullah memerintahkan Khalid ibn Walid dan pasukannya untuk mendatangi tempat bernama Nakhlah, yang menjadi pusat penyembahan Uzza di kalangan Quraisy. Terdapat cerita menarik tentang proses penghancuran berhala ini.

Ketika Khalid ibn Walid mendatangi Nakhla, ia memasuki kuil dan menghancurkan segala yang ada, lalu kembali kepada Rasulullah SAW untuk memberi laporan. Rasulullah bertanya apakah ada hal aneh yang terjadi, dan Khalid menjawab tidak. Rasulullah kemudian menyuruh Khalid kembali, karena rupanya Khalid belum menghancurkan Uzza yang sebenarnya.

Ketika tiba di Nakhla kembali, Khalid memasuki kuil dan bertemu penjaga kuil. Sang penjaga kuil melarikan diri, tapi sebelumnya ia menggantungkan pedang di leher patung Uzza dengan harapan sang dewi dapat membela dirinya sendiri (nah ini yang tadi saya bilang: kaum musyrik itu bodoh). Khalid kemudian bertemu seorang perempuan hitam (orang Afrika) di kuil, tidak berpakaian dan rambutnya terurai serta mengoceh tak karuan. Khalid membunuhnya, lalu kembali kepada Rasulullah SAW yang kemudian mengatakan “Itulah Uzza, dan dia tak akan lagi disembah oleh orang-orang di tanah Arab.”

Kisah Khalid ibn Walid ini memiliki versi lain, seperti dalam tafsir Ibn Katsir dan berbagai buku yang ditulis oleh sejarawan Arab abad 7 dan 8.

Manāt, مناة

Manāt merupakan dewi yang paling kuno dalam kepercayaan masyarakat Arabia pra-Islam. Ia merupakan dewi pengatur nasib. Suku Aus dan Khazraj asal Yatsrib (Madinah) memiliki kuil penyembahan dewi ini di tempat yang dinamakan Al-Mushallal. Bagi orang Nabatea di Petra, Manat disamakan dengan dewi Yunani Nemesis. Manāt juga merupakan istri bagi Hubal—dalam kepercayaan Arab kuno, Hubal juga termasuk ke dalam dewa-dewa sembahan mereka. Seperti halnya Uzza, orang Arab pra-Islam suka memberi nama “Abd al-Manāt” kepada anak-anaknya.

Penghancuran berhala Manāt terjadi pada waktu yang bersamaan dengan penghancuran Uzza, yakni pada saat Fathul Makkah. Sa’d ibn Zaid al-Ashhali dikirimkan ke Al Mushallal untuk menghancurkan kuil dan berhala Manāt, namun sumber lain menyebutkan yang dikirim adalah Ali ibn Abi Thalib. Disebutkan juga bahwa ketika menghancurkan kuil, Ali membawa pulang dua buah pedang yang dijadikan persembahan oleh raja Ghassan. Salah satu pedang itu kemudian dikenal dengan nama Zulfikar.

Apa gunanya mempelajari sejarah para berhala ini? Bagi saya, sama saja seperti kenapa kita mempelajari sejarah apapun. Memenuhi rasa ingin tahu.

Rasulullah SAW memang menghancurkan semua berhala sehingga hampir tak bersisa satupun jejak berhala-berhala di tanah Arab. Penghancuran ini penting untuk menahan umat yang kala itu baru memeluk Islam, agar tak berpaling dan kembali ke penyembahan berhala jika Rasulullah SAW sudah tiada. Ini memang agak menyulitkan upaya penelusuran sejarah, namun beberapa sisa-sisa berhala yang cocok dengan berhala sembahan kaum musyrik Quraisy justru ditemukan di daerah Yordania, yakni di Petra. Seakan jadi pesan bahwa Allah tetap meninggalkan bahan buat dipelajari oleh umat manusia.

Waktu kecil saya suka bertanya-tanya bagaimana wujud patung berhala sembahan bangsa Arab, juga berhala kaum Aad, kaum Tsamud. Juga ritual keagamaan mereka, karena Allah seringkali menyebut dalam Al Quran betapa sesatnya mereka. Dengan mempelajari sejarahnya, kita setidaknya jadi paham bagaimana proses kemusyrikan di kalangan orang-orang jaman dahulu, dan menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mengikuti langkah mereka.

Oh ya, saat menelusuri kisah 3 dewi Arab kuno ini, saya menemukan tulisan tentang kaum neo-pagan. Mereka merekonstruksi dewa-dewi kuno dan menyembahnya, termasuk Latta, Uzza dan Manat ini. Naudzubillah min dzalik …

Ilmuwan Muslim 1: Ibnul Haytsam (Alhazen)

Catatan Pembuka
Rencana awalnya, saya bermaksud menceritakan ulang tentang ilmuwan-ilmuwan muslim secara berseri selama Ramadan. Ternyata rencana tinggal rencana, pada hari ke-3 Ramadan ini saya belum mengupload satu tulisanpun ke blog ini:mrgreen:

Sungguhpun demikian, “sedikit” dan “terlambat” tetaplah lebih baik daripada tidak sama sekali. Jadi sekarang saya tuliskan saja satu kisah ilmuwan muslim pilihan pertama saya: Ibn al-Haytham atau Alhazen. Saya merangkum tulisan ini dari berbagai sumber. Tidak semua sumber saya tuliskan, ini kan bukan karya ilmiah. Anda bisa menemukan banyak sekali tulisan lain yang lebih lengkap di internet.

Seribu tahun lalu. Seperti apa kira-kira pengetahuan manusia pada masa yang telah sangat lampau tersebut? Manusia masih tinggal di goa, menyalakan api menggunakan kayu, transportasi antar kota menggunakan keledai, masa-masa kekaisaran masyhur, perang salib dan sebagainya?

Jawaban-jawaban itu benar semuanya. Tapi satu hal yang menarik perhatian saya, jarak seribu tahun tak menghasilkan perbedaan apa-apa pada kemampuan otak manusia dalam menyerap pengetahuan. Jika di era modern ini kita punya banyak orang jenius, demikian juga dengan jaman dulu.

Salah satu jenius di masa seribu tahun lalu itu adalah Ibn al-Haytham.

Gambaran artis untuk Ibn al-haytsam. Gambar dari Wikipedia.

Gambaran artis untuk Ibn al-haytsam. Gambar dari Wikipedia.

Ibn al-Haytham (ابن الهيثم) hidup di masa Daulah Abbasiyah, salah satu dinasti muslim besar yang pernah berkuasa di Timur Tengah hingga Eropa. Jika saya boleh membuat kategori, masa dinasti Abbasiyah ini saya kategorikan sebagai masa ketika dunia Islam gemilang karena ilmu pengetahuan. Sebelum masa Abbasiyah (periode nabi Muhammad SAW hingga dinasti Umayyah) adalah masa persiapan dan pengokohan kedaulatan Islam, sedangkan masa sesudah Abbasiyah (sejak dimulai perang salib hingga berkuasanya dinasti Utsmani) adalah masa ketika dunia Islam gemilang karena kekuatannya.

Kembali ke topik, Ibn al-Haytham hidup di masa Abbasiyah, saat ilmu pengetahuan sedemikian gilang gemilang. Ia dilahirkan di Basra, di negeri yang sekarang kita kenal sebagai Iraq yang berkecamuk perang. Nama lengkapnya Abū ʿAlī al-Ḥasan ibn al-Ḥasan ibn al-Haytham, dilahirkan pada tahun 965 TU dan meninggal di Mesir pada tahun 1040 TU1. Orang-orang Eropa mengenalnya dengan nama Alhazen atau Alhacen, versi latin untuk namanya yaitu al-Hasan.

Seperti umumnya para ilmuwan masa lalu, ia tidak hanya menguasai satu cabang ilmu saja. Kontribusi ilmiahnya antara lain di bidang filsafat, optik, astronomi, meteorologi dan juga matematika. Karya monumentalnya adalah Book of Optics (كتاب المناظر), dan juga ia dikenal sebagai peletak fondasi dasar metode ilmiah.

Book of Optics

Tahun 2015 ini dinyatakan sebagai Tahun Cahaya (Year of Light). Termasuk dalam salah satu fokus perayaan Year of Light ini adalah karya monumental Ibn al-Haytham, tentang optik, yang telah berusia setidaknya 1000 tahun. Ia menuliskan karyanya dalam buku berjudul Book of Optics itu tadi.

Optika adalah satu cabang ilmu dalam Fisika yang berbicara tentang perilaku cahaya. Konsep tentang optik sudah dikenal sejak jaman Yunani kuno, dan Ibn al Haytham mengkaji ulang konsep-konsep lama tersebut dan merevisi hal-hal yang terbukti keliru.

Konon, konsep optika itu dipelajari oleh Ibn al-Haytham selama ia berada dalam tahanan rumah. Ia ditahan oleh khalifah Al Malik, penguasa dinasti Fatimiyah di Mesir, dari tahun 1011 hingga 1021. Sebelumnya saat berada di Basra, Ibn al-Haytham memiliki suatu rancangan untuk membuat bendungan di sungai Nil (sekarang dikenal sebagai bendungan Aswan), dan rancangan itu didengar oleh Al Hakim sehingga ia diundang ke Mesir. Namun setelah melakukan studi lapangan ia menyadari bahwa rancangannya tak bisa diterapkan. Setelah melaporkan ke Al Hakim bahwa pekerjaannya tak mungkin dilakukan, ia kemudian berpura-pura gila. Hal itu karena ia khawatir mendapatkan hukuman berat dari Al Hakim, sebab Al Hakim ini dikenal bisa melakukan hal terjahat apabila bertemu dengan hal yang tak disenanginya. Ibn al-Haytham akhirnya dikenai tahanan rumah karena “kegilaannya”.

Karya Ibn al-Haytham di bidang optik pada masa itu seakan melampaui jaman. Dari eksperimen yang dilakukan, Ibn al-Haytham berkesimpulan bahwa cahaya merambat lurus. Ia mengembangkan konsep pemantulan pada cermin parabolik. Ia juga melakukan eksperimen untuk pembiasan. Konvensi “sudut datang” dan “sudut bias” adalah miliknya, dan hingga kini masih digunakan dalam hukum pembiasan Snellius. Ibn al-Haytham jugalah yang menyatakan bahwa ketika cahaya memasuki suatu medium yang lebih rapat, cahaya tersebut bergerak lebih lambat. Pendapatnya tentang pembiasan itu digunakannya untuk menjelaskan fenomena fajar/senja, dengan menyatakan bahwa fajar/senja terjadi karena matahari berada di bawah ufuk (horizon) sehingga cahayanya dibiaskan oleh atmosfer.

Di antara topik menarik bagi saya yang dibahas Ibn al-Haytham adalah tentang bagaimana mata kita bisa melihat. Dalam pandangan kuno, kita bisa melihat karena mata mengeluarkan cahaya ke obyek, lalu obyek memantulkannya kembali ke mata. Persis seperti bagaimana bunyi dipantulkan sehingga terjadi gema. Ibn al-Haytham mendapati bahwa ide ini tidak cocok dengan kenyataan.

Eksperimen Ibn al-Haytham dengan ruangan gelap yang menghasilkan bayangan dari benda di luar ruangan. Gambar dari http://www.ibnalhaytham.com/

Eksperimen Ibn al-Haytham dengan ruangan gelap yang menghasilkan bayangan dari benda di luar ruangan. Gambar dari http://www.ibnalhaytham.com/

Bayangkan kita berada di dalam ruangan yang gelap. Kita tak dapat melihat apa-apa. Dari sini sudah jelas bagi Ibn al-Haytham bahwa konsep “mata mengeluarkan cahaya” itu keliru. Ibn al-Haytham memperkuat eksperimennya dengan cahaya yang masuk dari lubang kecil ke ruangan gelap itu. Kita akan bisa melihat benda yang terkena cahaya tersebut, tapi yang tidak terkena cahaya tetap tak bisa dilihat. Artinya, benda yang terkena cahaya bisa dilihat. Kesimpulannya, cahaya mengenai benda lalu memantul dan masuk ke mata.
Jelas sudah bagi Ibn al-Haytham: cahaya tidak datang dari mata. Kita bisa melihat karena cahaya, dari sumber apapun, mengenai benda lalu dipantulkan dari benda ke mata.

Untuk alasan itu pula, cahaya dari lubang kecil di dinding ruangan gelap tersebut juga bisa membentuk bayangan dari benda yang ada di luar ruangan. Ibn al-Haytham menjelaskan dasar-dasar camera obscura) dan kemudian, setelah mempelajari anatomi mata, ia menggunakan penjelasan camera obscura itu untuk menjelaskan bagaimana bayangan benda bisa terbentuk di dalam mata.

Filsafat Ilmu

Ada banyak karya Ibn al-Haytham d bidang sains. Namun selain sebagai saintis, Ibn al-Haytham juga adalah seorang filsuf (pemikir). Terutama sekali, hasil pemikirannya adalah tentang bagaimana menyikapi ilmu pengetahuan, termasuk dalam kaitannya dengan agama. Ibn al-Haytham dianggap sebagai peletak dasar-dasar metode saintifik (scientific methods): sebuah konsep harus dikaji dan dicari buktinya agar dapat disimpulkan kebenarannya.

Kutipan kata-katanya berikut barangkali dapat menggambarkan bagaimana pemikirannya.

Pendapatnya tentang metode ilmiah.

“Para pencari kebenaran bukanlah mereka yang mempelajari naskah-naskah kuno dan kemudian, sesuai karakter alamiahnya, menaruh keyakinan sepenuhnya [pada naskah tersebut]; melainkan mereka yang meragukan kayakinannya [pada naskah tersebut] dan mempertanyakan hal-hal yang bisa diambil [dari naskah]; mereka yang masuk ke perdebatan dan pertunjukan pembuktian; terutama karena sifat alamiah manusia adalah rentan terhadap segala kekurangan dan ketidaksempurnaan. Jadi, tugas seseorang yang mempelajari tulisan dari seorang ilmuwan jika kebenaran menjadi tujuannya, adalah menjadikan dirinya sendiri sebagai musuh bagi apapun yang ia baca; lalu dengan memasukkan pikirannya ke inti permasalahan ia menyerang bacaannya itu dari segala sisi. Ia juga harus mencurigai dirinya sendiri saat melakukan pemeriksaan kritis tersebut, sehingga ia bisa menghindari prasangka dan kemurah-hatian”

Dari bukunya Al-Shukūk ‛alā Batlamyūs (Doubt Concerning Ptolemy — Keraguan Terhadap Ptolemius).

“Kebenaran dicari untuk kebenaran itu sendiri. Menemukan kebenaran itu sulit, dan jalannya berat, karena kebenaran itu dilingkupi oleh kegelapan. Allah tidak melindungi ilmuwan dari kesalahan dan tidak membentengi ilmu pengetahuan dari keteledoran dan kekeliruan—jika seperti itu [ilmuwan dan ilmu pengetahuan terlindung] tentulah para ilmuwan tak akan bersilang pendapat terkait pengetahuannya.”

Pendapatnya tentang ilmu pengetahuan dan agama. Saya suka ini.

“Saya secara konsisten mempelajari kebenaran dan pengetahuan, dan saya beranggapan untuk mendapatkan berkah dan kedekatan dengan Allah tak ada cara yang lebih baik daripada melalui pencarian kebenaran dan pengetahuan.”

Penutup

Iqra, karya teakster @ deviantart

Iqra, karya teakster @ deviantart

Ibn al-Haytham menunjukkan kepada kita bagaimana semestinya kita berpikir. Jika menilik lebih jauh ke dalam konsep Islam tentang ilmu pengetahuan, kita akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan Ibn al-haytham. Bukankah seringkali Allah SWT bertanya dalam Al Quran, “Tidakkah kamu melihat?”, “Tidakkah kamu mendengar?”, dan juga “Tidakkah kamu berpikir?”. Itu petunjuk sederhana bahwa alat indra yang dimiliki, dan terutama great mind yang hanya diberikan pada manusia itu, haruslah digunakan untuk mencari kebenaran.

Metode ilmiah yang dikembangkan oleh Ibn al-Haytham ini bukanlah semata-mata panduan bagi setiap saintis ketika ia melakukan penelitian. Jika kita sebagai manusia meletakkan diri kita sebagai “khalifah di muka bumi”, maka kita harus selalu mencari kebenaran. Dan kebenaran itu bukanlah mengikuti begitu saja apa yang ditulis oleh para ulama (ulama = ilmuwan). Juga bukan mengikuti prasangka dari diri sendiri, atau yang lebih buruk: mengikuti hanya karena kita suka. Kita harus selalu kritis, selalu sigap mencari bukti-bukti.

Di sekolah, di temoat kerja, bahkan di masjid, perbanyaklah pertanyaan “mengapa” atau “bagaimana” alih-alih pertanyaan “apa” dan “siapa”.

1) “TU” adalah singkatan dari “Tarikh Umum”, terjemahan yang tepat untuk “CE” (Common Era). Pemakaian “TU” alih-alih “M” atau “Masehi” mengikuti alasan kenapa di beberapa tempat luar negeri digunakan “CE” alih-alih “AD” (Anno Domini)