Bukittinggi Streetphoto (17 Juni 2018)

Jika anda suka berjalan kaki melhat keramaian kota sambil memotret, dan kebetulan berada di Bukittinggi, Sumatra Barat, rangkaian foto di galeri ini barangkali familiar bagi anda. Atau bisa juga anda jadikan referensi singkat.

Lokasi pertama dan utama tentunya Jam Gadang.

Jalan sedikit ke kompleks Pasa Ateh (Pasar Atas). Tapi saat saya memotret, pasarnya sedang direnovasi setelah kebakaran beberapa bulan sebelumnya. Jadi hanya ada pasar sementara.

Jangan lupa shalat dulu di Masjid Raya Bukittinggi.

Setelah itu lanjut ke … Kebun Binatang Kinantan! Tentunya tidak hanya memotret binatang. Malah saya lebih senang memotret pengunjung kebun binatangnya ๐Ÿค” ๐Ÿ˜Œ ๐Ÿ˜

Setelah puas dengan kebun binatang, sebenarnya bisa dilanjutkan ke Benteng, Panorama dan lain-lain. Tapi kunjungan saya sudah terlalu sore. Jadi cukup segitu dulu. Di perjalanan pulang tetap bisa berfoto tentunya.

Demikian ๐Ÿ˜‰

Advertisements

Pacu Jawi di Rambatan, 23 Juni 2018

Pacu jawi adalah kata bahasa Minang yang dapat diterjemahkan sebagai pacuan/balapan sapi. Walaupun demikian, jangan membayangkan pacu jawi itu mirip seperti pacuan kuda, ataupun karapan sapi ala Madura. Dalam acara pacu jawi, sapi dikendalikan oleh joki, namun para joki+sapi tidak saling adu kencang susul menyusul dengan joki+sapi lainnya. Pacu jawi lebih merupakan ajang memperlihatkan ketangkasan joki dalam mengendalikan sepasang sapi yang berlari kencang. Joki yang hebat bisa mengendalikan sapi hingga sapinya berlari dengan lintasan lurus sejauh mungkin (biasanya panjang lintasan sama dengan panjang sawah). Tidak untuk mencari siapa yang sampai duluan di garis finish. Tidak untuk mencari siapa juara.

Bagi masyarakat kabupaten Tanah Data, provinsi Sumatra Barat, kegiatan pacu jawi merupakan kegiatan umum. Pacu jawi adalah salah satu cara bersenang-senang di sawah menjelang dimulainya musim tanam. Banyak anak nagari (pemuda desa) di beberapa tempat di kabupaten itu yang melakukannya, terutama di nagari-nagari sekitaran Batu Sangka (Sungai Tarab, Limo Kaum, Rambatan hingga Pariangan).

Tidak ada yang tahu persis bagaimana sejarah munculnya kegiatan pacu jawi ini. Namun saya membayangkan sebagai berikut:

Alkisah, beratus tahun yang lalu, hiduplah para petani di sebuah nagari di kaki gunung Marapi. Nagari itu sendiri telah ada sejak ratusan tahun sebelumnya lagi, atau bahkan mungkin telah ada semenjak gunung Marapi masih sebesar telur itik. Warga nagari hidup damai sebagaimana umumnya orang desa nan bersahaja. Penghidupan mereka adalah bertanam padi, sayuran dan juga beternak sapi ataupun kerbau. Di musim penghujan mereka mulai bertanam padi, dan di musim kemarau memanen hasilnya.

Menjelang musim tanam tiba, tentunya sawah harus dibajak dulu. Seringkali para lelaki muda yang disuruh membajak, dengan bantuan kerbau dan sapi. Namanya anak muda, mereka cepat bosan dan di masa itu belum ada aplikasi maupun game online khusus anak alay. Mereka bosan kalau hanya disuruh membajak. Membajak sawah pagi hari, paling-paling sebelum zuhur sudah kelar. Lah sorenya ngapain? Daripada hidup monoton datang ke sawah cuma untuk membajak (dan sapinya cuma pergi makan lalu jalan mondar mandir), kan lebih baik mereka bersenang-senang sedikit.

Salah satu dari anak-anak muda itu tentulah jenius, dan terbetik di pikirannya untuk berdiri di atas bajak (yang masih terikat ke sapi), memegang buntut sapi, lalu memaksa sapinya berlari dengan menggigit buntut sapi itu sekeras-kerasnya. Sapi berlari kencang dan lumpur sawah bercipratan menghasilkan sensasi yang seru. Si jenius lalu terjerembab ke lumpur karena hilang kendali dan ditertawakan teman-temannya, namun mungkin ada di antara temannya itu yang ikutan mencoba, sekalian ingin lihat sejauh mana ia bisa mengendalikan sapi yang sedang berlari kencang. Dan pada akhirnya, anak-anak muda itu berlomba, saling adu ketangkasan.

Salah satu cara mengendalikan sapi yang tampak seru.

Aksi anak-anak muda itu rupanya ikut menarik perhatian seisi kampung. Mereka menonton atraksi itu dari pematang sawah. Gadis-gadis histeris karena lelaki-lelaki muda itu tampak macho. Anak basket apalagi anak tiktok mah ga ada apa-apanya. Pedagang sate dan ubek tawa yang kebetulan lewat juga akhirnya singgah karena melihat ada keramaian yang menguntungkan. Karena seru, atraksi pacu jawi disepakati dilakukan lagi di awal musim tanam berikutnya dan berikutnya.

Demikianlah, atraksi pacu jawi itu lalu berkembang ke berbagai nagari dan lestari hingga kini.

What’s so great about pacu jawi?

Pertanyaan ini memang muncul di benak saya, saat pertama kalinya melihat foto atraksi pacu jawi di salah satu media sosial. Untuk foto, ya, itu foto yang sumpah keren banget. Ekspresi joki pacu jawinya tampak jelas, kecepatan lari sapinya tergambar apik, cipratan lumpur menambahkan sensasi menarik dan menegangkan pada foto. Foto-foto kegiatan pacu jawi ala kabupaten Tanah Data Sumatra Barat ini, dalam pikiran saya, jauh lebih menarik daripada foto balapan sapi/kuda dari daerah lain.

Tapi foto bisa saja berakhir sekedar foto. Sebuah gambar.

Saya penasaran, kok foto pacu jawi ini jadi hits di kalangan fotografer asal Sumatra Barat, dan kemudian merambat sampai ke fotografer mancanegara. Foto-foto pacu jawi juga jadi juara di berbagai lomba foto nasional maupun internasional. Maka saya pun berniat ikut menonton dan memotret atraksi pacu jawi, yang akhirnya bisa terealisasi tanggal 23 Juni 2018 lalu. Atraksi pacu jawi hari itu diadakan di nagari Padang Magek, kecamatan Rambatan, kabupaten Tanah Data.

Untuk menuju ke sana, dari Bukik Tinggi kampung halaman saya, saya berangkat menumpang angkutan umum tujuan Batu Sangka (via Padang Panjang), kemudian turun di simpang Rambatan. Dari simpang Rambatan itu saya berjalan santai sambil menikmati pemandangan sejauh sekitar 2 km hingga akhirnya tiba di pasar Rambatan, di nagari Rambatan, kecamatan Rambatan. Nah, nagari Padang Magek masih berjarak sekitar 2 km lagi, jadi dari pasar Rambatan itu saya menumpang ojek yang mengantar langsung ke lokasi acara di dekat tempat bernama simpang Gobah.

Belakangan saya baru tahu bahwa simpang Gobah itu terletak di jalan raya penghubung Batu Sangka dengan Ombilin (danau Singkarak). Kalau demikian adanya, berarti untuk menuju simpang Gobah itu dengan angkutan umum bisa langsung dari Batu Sangka naik bus kecil tujuan Solok. Jika anda dari arah Solok atau dari danau Singkarak (Ombilin), bisa naik bis arah sebaliknya. Tidak perlu jalan kaki terlalu jauh ataupun menumpang ojek.

Setiba di lokasi, saya langsung nyari spot nonton plus motret yang enak. Tapi keadaan sangat ramai, karena kebetulan masih momen liburan Idul Fitri sehingga banyak perantau asal Padang Magek maupun masyarakat daerah lain yang menonton. Susah juga kalau saya memotret dari di tepi lintasan yang dijadikan tribun untuk penonton. Yang enak dan sepi adalah di spot yang dipakai para pemotret, yaitu di bagian depan lintasan.

Tantangan pertama: ke spot itu harus melintasi sawah yang basah karena baru akan ditanami. Tak bisa lewat pematang, karena pematang sudah dipenuhi orang. No problem. Lepas sepatu, singsingkan celana, masuk ke lumpur. Siapa takut? #SayaTidakTakut #BeraniBerlumpurHebat

Fotografer resminya panitia. Huhu, pengen punya kamera seperti itu …

Saya tiba di spot pemotret. Tantangan kedua adalah perlengkapan fotografi para pemotret. Wuah, pada pakai lensa dan kamera keren. Yang harganya puluhan juta itu lho. Apalagi turis foto dari luar negeri (banyak yang dari Jepang). Saya minder dong, lha saya cuma pake kamera imut yang kalau lensanya dilepas jadi mirip kamera saku. Saya pakai kamera mirrorless Nikon 1 J5, dan lensanya saya pakai RMC Tokina 35-135mm F4:4.5 Zoom Macro. Ini lensa buatan tahun 70an. Kira-kira analoginya begini: lensa si orang Jepang dan fotografer lain itu robot modern di jaman Star Trek, sedangkan lensa saya adalah kapak perimbas jaman dinosaurus. Tapi yah, no problem lagi. Tinggal pasang muka cuek.

Hmm asik juga pencet-pencet shutter. Hanya saja karena pakai kapak perimbas lensa purba, susah juga ngatur fokusnya. Tapi asyik, sekalian melatih ketelitian saya dalam menentukan fokus obyek sambil menentukan angle dan momen yang tepat.

Tantangan satunya lagi adalah … sapi yang lari kencang. Karena saya berdiri di depan lintasan (sekitar 10m di depan batas sawah tempat finish pacu jawinya), maka harus siaga kalau-kalau si jawi berlari terus. Meskipun tempat saya berdiri tingginya sekitar 1m, sapi yang lari kencang ini bisa dengan mudah melompatinya. Alhasil, saya harus siaga, segera lari kalau si sapi ga mencet rem meskipun udah lewat garis finish. Apa gunanya dapat foto bagus kalau tulang awak remuk ditanduk jawi.

Orang itu hampir diseruduk sapi. Untung sapinya sempat ngerem.

Nah, urusan ditanduk jawi ini yang akhirnya … wew. Saat saya memutuskan untuk selesai dan kemudian menyingkir dari sawah, rupa-rupanya ada sapi yang lari dengan kondisi rem blong. Persis menuju ke arah saya. Panik! Panik! Panik! Saya lompat menghindar, lalu jatuh terduduk sambil tangan saya terangkat ke atas agar kamera yang sedang dipegang tidak tercebur ke lumpur. Lengan atas saya sempat tersenggol kepala sapi. Ya Allah ya rabbi, untung tidak ditabrak. Kamera juga selamat. Fiuhhh.

Tapi celana jadi kotor. Gimana ini cara saya pulangnya? Saya kan naik angkutan umum … ๐Ÿค”

Nanti saja dipikirkan. Siram celana sedikit di kolam trus beranjak pulang. Itu pun pulangnya repot karena berikutnya turun hujan lebat dan sudah sore pula. Angkutan umumnya sudah langka. Tapi yaa, untungnya masih dapat kendaraan pulang. Naik bis dengan kondisi badan bau lumpur, mana penumpangnya ciwi-ciwi yang baru habis piknik pula haha. Bodo amat ๐Ÿ˜…

Pengalaman seperti itu rupanya yang membuat pacu jawi ini menarik. Untuk foto, penentuan angle dan momen itu tidak terlalu mudah juga. Kalau pakai kamera modern mungkin sangat terbantu dengan autofokus yang cepat. Tapi dalam kasus saya, menggunakan lensa manual itu memberikan tantangan sulit. Dari seratusan foto, hanya sekitar 20an yang boleh dibilang bagus hihi.

Itu pun masih jauuuh kalah dengan foto-foto para profesional. Lha iya lah, saya kan cuma fotografer cupu. namun bagi saya yang penting: foto-fotonya lebih dari sekedar gambar.

Di bawah ini slide foto-foto yang saya suka.

This slideshow requires JavaScript.

Tahun depan insya Allah ikutan nonton pacu jawi lagi ๐Ÿค 

Dongeng Sebelum Tidur

Warning: Ini kisah receh dan rendah secara sastrawi ๐Ÿ˜… Namanya juga dongeng sebelum tidur, hehe. Bacalah, tapi resiko tanggung sendiri ๐Ÿ˜›

Alkisah, pada suatu masa seorang pemuda berjalan-jalan di taman miliknya. Ia seorang pencinta bunga, namun kala itu taman miliknya sedang gersang dan hampa. Tak berselang terlalu jauh sebelumnya, banjir besar melanda wilayah itu. Sang pemuda telah mencoba menanami kembali bunga-bunga taman itu, namun belum berhasil.

Sedang ia berkeliling itu, tertumbuk matanya pada sepasang bibit bunga, entah berasal dari mana, di sepetak lahan. Dibiarkannya bibit itu di sana. Dicobanya juga memberikan sedikit pupuk dan menyirami air. Diulangi kembali esoknya dan esoknya, hingga ternyata didapatinya bibit itu pada akhirnya tumbuh menjadi tanaman bunga. Alangkah girang ianya. Disianginya rerumputan liar di lahan itu. Ia belikan pupuk terbaik. Disiraminya secara teratur.

Akhirnya tanaman pertama mulai menghadirkan kuncup bunga. Dan mekar. Menarik perhatian sang pemuda. Warnanya indah, wanginya memesona. Sesekali sang pemuda melukisnya. Tak berselang lama, kembang kedua turut tumbuh. Warnanya juga indah, wanginya pun juga memesona. Sang pemuda juga sesekali melukisnya. Ada juga kalanya ia melukis kedua bunga.

Sedikit perbedaan antara kedua kembang itu: kembang yang kedua memiliki duri kecil nan tajam. Yang pertama tidak.

Terbersit keinginan di dalam batin sang pemuda untuk memindahkan kedua kembang ke bagian taman dekat jendela kamarnya. Agar indahnya mewarnai ruangannya, agar wanginya menyeruak di setiap waktunya. Namun di sana lahannya lebih sempit. Ia hanya bisa memindahkan satu tanaman bunga. Dan lagipula, kedua tanaman tumbuh dengan akar saling berkait. Memindahkan yang satu akan merusak yang lainnya.

Jadi untuk sementara diabaikannya bersitan keinginan itu. Ia tak ingin bunganya rusak. Namun kemudian hadir lagi, dirasakannya hampa kala tak melihat kedua kembang bunga. Senang hatinya kala berkunjung ke lahan tempat kedua kembang berada, sedih hatinya saat kembali ke kamarnya.

Tak sanggup juga ia bertahan. Ia, pada akhirnya memilih salah satu. Dipilihnya bunga kedua, semata karena lebih eksotis dengan durinya. Sepenuhnya ia paham dengan resiko tertusuk duri, sedikit ia ragu, tapi pada akhirnya dipilihnya juga.

Sang pemuda mencabut bunga kedua. Akar yang berkait itu diputusnya. Bunga pertama akan mati, tapi bisa juga dia akan tumbuh lagi kelak jika akarnya tak dibuang, itu yang dipikirkan sang pemuda. Maka ia biarkan akar bunga pertama itu.

Lalu dibawanya bunga kedua. Hanya saja, duri kecilnya tetap menusuk jemari sang pemuda, seberapapun ia berusaha agar itu tak terjadi. Tusukan itu mengagetkannya, menghasilkan tetesan darah, dan sang bunga terlepas dari pegangannya. Terjatuh terhempas ke tanah. Buyar segala indahnya. Tak guna ditanami lagi.

Didapatinya kembang pertama pun telah layu pula. Sang pemuda terpana. Kediamannya tetaplah hampa, malah menjadi bertambah suram pula. Mungkin benar, bunga pertama masih bisa tumbuh, namun jikapun demikian, sang pemuda tak lagi berani memindahkan sang bunga. Ia khawatir kelak pada akhirnya bunga pertama itu tak pernah berkembang sempurna lagi, seperti saat masih ada bunga kedua.

— —

Lintas Sumatra, 6 Juni 2018

Jika dulu kita tak bertemu, takkan pernah kurasakan artinya rindu. Jika dulu kita tak kenalan, tak kan pernah kurasakan jatuh cinta.

How to Not Hurting Woman?

Minggu sore, 26 November 2017, di tengah suntuknya isi kepala (dan hati), saya putuskan untuk menonton film di bioskop. Sejak pukul 5 sore saya sudah standby di Mal Atrium Jakarta, sudah beli tiket nonton di Atrium XXI. Pemutaran filmnya malam, ba’da maghrib. Filmnya? Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Film Indonesia dengan rating IMDb 7,3 (tanggal 26 November 2017).

Film ini sudah ingin saya tonton sejak beberapa hari sebelumnya, gara-gara si @utpux bercerita di status Fb-nya dan tanteu @mmlubis juga bilang di status Plurk-nya pengen nonton film ini. Hah? Plurk? Masih jaman? Ga usah dibahas, haha. Yang jelas, karena dua teman saya ini saya anggap agak kurang mainstream, jadinya saya pun ikut tertarik. Saya juga agak kurang mainstream.

Sinopsis ataupun ulasan tentang film bisa dibaca di tempat lain yang lebih komplit. Saya ga biasa mengulas film, jadi cuma beri gambaran singkat. Begini: Perempuan mengalami nasib malang. Ia mencoba menuntut bela. Tapi kasusnya tak ditanggapi dengan baik. Berakhir dengan perempuannya menyerah tapi masih sempat melawan.

Temanya serius, memang. Beberapa review dan sinopsis yang saya baca banyak mengangkat tema feminisme, atau paling tidak tentang ketidak-adilan pada perempuan.

Di akhir film ada adegan perempuan sedang hamil besar (namanya Novi) membunuh lelaki yang sedang memperkosa rekannya, sang tokoh utama, Marlina. Setelah melakukan aksi itu, Novi melahirkan bayinya dengan dibantu Marlina. Adegannya sebenarnya biasa saja, tapi memang tak perlu dijelaskan bahwa yang namanya proses melahirkan itu mengerikan, bukan?

Nah walaupun ditampilkannya biasa saja, jantung saya berdegup dan mata saya berkaca-kaca melihat rentetan adegan itu. Karena … ada pesan yang terasa sangat kuat. Manusia berjenis perempuan bisa mengalami peristiwa antara hidup dan mati untuk melahirkan seorang manusia lain. Sedangkan laki-laki di sana hanya memperlakukan perempuan sebagai mainan.

Ini filmnya diceritakan dengan gambaran sederhana, bukan dengan plot yang detil dan mengalir. Agak seperti teater saya rasa. Kalau tak terbiasa, bakalan bingung dengan filmnya. Hm, saya termasuk yang agak bingung, tapi untungnya lebih banyak ngertinya hehe. Kekuatan film ini menurut saya adalah pada cerita. Walaupun ditampilkan dalam adegan yang biasa dan dalam alur yang ringkas, ceritanya begitu kuat sehingga kesan yang ingin disampaikan bisa tetap diamati dengan jelas.

Hal lain yang menarik adalah latar film di pedesaan Sumba, NTT. Dipotret dengan metode wide angle, membuat keindahan bentang alamnya tampak jelas. Semoga suatu saat bisa jalan-jalan ke daerah itu.

Menonton film ini membuat saya teringat novel A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini. Di antara kesimpulan yang saya ambil setelah membacanya adalah, laki-laki itu pengecut jika tak mampu bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya pada perempuan di sekelilingnya. Terlebih, jika tanggung jawab itu dinihilkan hanya karena so-called “harga diri” yang sebenarnya hanya berbentuk status sosial.

Khaled Hosseini menekankan penyebutan pengecut itu pada tokoh Jalil yang menghamili salah seorang pembantunya (bernama Nana), dan kemudian menaruh Nana beserta putri yang dilahirkan dari hubungan mereka itu ke suatu tempat terpencil; pada ayah Nana yang tak berbuat apa-apa terhadap perlakuan yang diberikan Jalil kepada Nana; serta pada masyarakat yang memiliki kecendrungan menimpakan kesalahan atas terjadinya perzinaan pada perempuan semata.

Di perjalanan pulang pikiran saya berputar-putar di sekitar pertanyaan yang menjadi judul artikel blog ini. Pertanyaan ini saya munculkan bukan untuk mencari jawabnya, tapi agar saya punya bahan refleksi diri. Ini juga bukan mengenai hal yang ekstrim seperti perkosaan atau lepas tanggung jawab atas derita perempuan. Perbuatan-perbuatan seperti itu sih jelas sekali buruknya. Bahkan terkait pemerkosaan rasanya sikap setiap orang harus jelas: laki-laki sejati tidak memperkosa.

Saya mencoba meninjau ke hal yang lebih sederhana, yaitu bagaimana manner sehari-hari laki-laki pada perempuan. Memberikan tempat di angkutan umum pada perempuan, membantu mengangkut barang berat, suami menggantikan istri yang sedang hamil memasak dan lain-lain mungkin merupakan beberapa sikap yang lazim dilakukan, ya kan? Dalam beberapa kasus ada sedikit kontroversi juga: perempuan juga seringkali tak mau dianggap lemah sampai harus selalu dibantu laki-laki. Nah persoalan seperti ini barangkali ada situasi dan kondisinya sendiri. Tapi memang, meremehkan perempuan itu perbuatan keliru, sih.

Kalau kembali melihat apa yang diceritakan film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini, rasanya sikap seorang laki-laki harus mengambil landasan ini: 1) perempuan punya potensinya sendiri; 2) perempuan merasakan sakit yang tak mungkin dirasakan laki-laki; dan 3) perempuan bukan obyek. Dengan mempertimbangkan hal ini rasanya laki-laki bisa menjaga kewarasannya untuk tidak macam-macam pada perempuan.

Hm ๐Ÿค”๐Ÿค”

[Photo] Fishing Village Near Kenjeran, Surabaya

In the last post, I wrote about a photo hunting session with Mr. Ratno, a photographer I met at Taman Suroboyo, Kenjeran, Surabaya. In this post I will show you the result of the photo hunting.

I didn’t take much photo, and only about 17 photos I will show here. Please also visit my Flickr page: https://flic.kr/s/aHsm1TanPi