Jalan-jalan Kabur (Escape Trip) ke Curug Seribu, 4 Juni 2015

Akhir Mei 2016, kegiatan belajar-mengajar sudah usai. Tinggal melayani siswa yang mau belajar tambahan (konsul) untuk ujian akhir semester dan juga ujian SBMPTN. Saya sudah cukup jenuh dan ingin berlibur. Memang saya berencana akan melakukan beberapa perjalanan kecil sendirian, menikmati alam Sumatra Barat nanti setibanya di kampung halaman. Tapi jadwal pulang kampung masih lama, saya baru akan pulang sepekan jelang Idul Fitri. Keburu stress duluan.

Saya tidak sendiri, btw. Rekan-rekan kerja yang sepemikiran, sebut saja inisialnya BGN dan EZA, mengajak dan meminta saya meng-organize suatu perjalanan singkat untuk melepaskan diri sesaat dari hitam putih Jakarta. Pengen lihat warna hijau, kata mereka. Tentu saja saya mau, pucuk dicinta ulam tiba. Saya juga mau lihat warna hijau dedaunan.

Saya tadinya teringat Sukabumi. Kebun teh dan udara dingin pastinya bermanfaat untuk jiwa-jiwa Jakarta yang kering itu. Teman-teman ini berminat juga setelah browsing sejenak. Oke, saat itu tanggal 31 Mei, dan kita rencanakan berangkat hari Jumat sore tanggal 3 Mei. Masih perlu browsing lebih lanjut untuk memastikan lokasi dan cara aksesnya.

Malamnya saya browsing lagi di rumah, dan menemukan beberapa opsi lain yang lebih nyaman dan murah karena tak perlu menginap. Umumnya lokasinya di kabupaten Bogor, bisa ditempuh hanya dengan modal commuterline dan angkot. Setelah baca-baca, saya tertarik dengan curug Seribu, yang kata orang perjalanan ke sana cukup menantang namun bisa ditempuh dalam waktu tak terlalu lama. Berangkat dari Jakarta Sabtu pagi dan balik ke Jakarta Sabtu sore/malam.

Besoknya saya usulkan lagi ke teman-teman dan semuanya juga setuju. Baiklah. Kita sepakati berangkat Sabtu, berkumpul di Pangkalan Asem (Cempaka Putih) pukul 5 pagi.

Jumat 3 Mei 2016, rencana perjalanan akhirnya mendekati fix. Naik kereta dari stasiun Juanda, disambung dari stasiun Bogor menggunakan jasa sewa mobil online, atau kalau tak ada, angkot. Dengan tambahan dua orang rekan lainnya, inisial MMI dan FMR, biaya perjalanan tentunya bisa dipangkas. Saya dan FMR laki-laki, sedangkan BGN, MMI dan EZA perempuan. Saya sudah menduga sebelumnya, perjalanan yang bakal menggunakan angkutan umum serta jalan kaki ke tempat yang belum dikenali tak bakal menyurutkan keinginan para perempuan ini. EZA dan MMI sudah terbiasa keliling dengan angkutan umum di Jakarta. BGN juga sebenarnya, tapi dia lebih sering naik motor. Dari ceritanya, dia ini memang punya karakter senang bertualang, makanya perjalanan backpackeran begitu enjoy saja.

Sabtu pagi 4 Juni 2016 yang cerah. Sekitar pukul 5.15 sudah ada WA masuk dari BGN da EZA, menanyakan keberadaan anggota. FMR sudah siap di halte TransJakarta Rawa Selatan. Saya baru berangkat dari rumah. BGN, MMI dan EZA juga bersiap berangkat dari tempat kost mereka. Sekitar pukul 05.30 kami semua berkumpul di halte Rawa Selatan dan segera berangkat ke stasiun Juanda. Menanti sebentar di stasiun, dan sekitar pukul 06.10, kereta commuterline yang akan membawa ke stasiun Bogor akhirnya datang.

Kami sampai di Bogor sekitar pukul 07.30, setelah perjalanan kereta yang saya pikir cukup lambat. Karena lapar, singgah dulu untuk sarapan di KFC seberang Taman Topi. Dari hasil perundingan sambil makan, kami menyepakati perjalanan cukup dengan angkot saja, tak perlu sewa mobil online. Selesai sarapan, segera berangkat naik angkot 02 tujuan Bubulak, tapi ternyata supir menyarankan turun di Laladon saja. Saat kami turun dan bayar ongkos dengan selembar uang 20ribuan (untuk 5 orang), bang supir ini terlihat berpikir. Saya agak heran mulanya (teman-teman yang melihat si supir juga), tapi ternyata si abang ini sedang menghitung berapa uang kembaliannya. Ia kemudian menyerahkan kembalian sebesar Rp1500. Ah, tadinya kami kira bakal dibawa kabur seperti banyak angkot di Jakarta yang suka nilep uang kembalian.

Dari Laladon kami segera diarahkan ke angkot jurusan Jasinga yang akan membawa kami ke Cibatok. Dari Cibatok rencananya akan rental angkot ke Gunung Picung. Setelah perjalanan yang dibuat lama oleh kemacetan, kami sampai di Cibatok. Seorang bapak yang tadinya seangkot dengan kami dari Laladon membantu dengan menunjukkan angkot tujuan Gunung Picung. Nego dengan supir angkot untuk antar jemput sampai gerbang Curug Seribu, lalu belanja air minum dan snack, dan berangkat. Tapi, walau judulnya rental, ternyata si bang angkotnya masih menaikkan-turunkan penumpang di perjalanan. Hadeh, tau begitu harusnya tadi nawar angkotnya lebih murah lagi.

Note: Belakangan, saat pulang, saya coba nego lagi ke si abangnya untuk mengurangi kesepatan harga yang tadi, tapi dia ga mau. Males debat lama-lama dan sedang turun hujan pula, akhirnya tetap bayar seharga yang disepakati di awal.

Perjalanan angkot yang terakhir cukup jauh dan menanjak terus. Tapi tak terlalu lama, kami sampai di gerbang Curug Seribu. Singgah sebentar di toilet untuk membuang mantan:mrgreen: lalu berjalan kaki ke Curug Seribu. Matahari bersinar, tapi tidak terasa panas. Udara segar terhirup.

Perjalanan ke curug memang sulit, hanya saja saya kira tak seberapa dibandingkan perjalanan hidup beberapa perjalanan lain yang pernah saya tempuh. Sepanjang jalan sudah diberi bebatuan, sehingga tak harus menginjak tanah licin atau lumpur. Juga sudah dibuatkan pembatas jurang dan pegangan yang cukup memadai. Saya pernah menuruni ngarai Sianok di Bukittinggi hanya dengan batuan akar pohon, jadi saya pikir tingkat kesulitan jalan ke Curug Seribu ini belum ada apa-apanya. Tapi saya sudah lama sekali tak menempuh perjalanan lintas alam, jadi ya lumayan terasa ngos-ngosan juga. Memang kami beruntung saat itu tidak hujan—kalau hujan batu-batunya bakalan licin.

Kira-kira perlu waktu sekitar 1 jam untuk sampai di Curug Seribu. Di perjalanan akan bertemu warung dan gerbang menuju Curug Sawer, lanjut naik sedikit ke atas akan bertemu sebuah camping ground dan baru kemudian ada pos masuk Curug Seribu. di perjalanan akan ada air terjun kecil yang bisa dijadikan spot untuk istirahat dan foto-foto. Sesekali muncul kera dari balik pepohonan. Suara serangga dan burung sesekali terdengar beserta sayup-sayup gemuruh air terjun. Perjalanan menuju ke curug didominasi turunan, karena itu tidak terlalu melelahkan dan hanya perlu hati-hati saja karena di beberapa titik ada bagian yang curam. Untuk pulangnya, tentu saja siap-siap menanjak. Jika ke sana saat hujan, perjalanan akan menjadi lebih sulit.

Setiba di Curug Seribu, langsung kami manfaatkan untuk menikmati pemandangan dan berfoto-foto. Saat itu agak banyak pengunjung, jadinya kita tak bisa bebas menikmati suguhan alam ini sebagai milik sendiri:mrgreen: Tapi suasana di sana memang asyik, indah dan irama alamnya menenangkan. Katanya, Curug Seribu memiliki ketinggian sekitar 100 m dan debit airnya tampak cukup besar, sehingga bisa dibayangkan di bawah air terjun itu pastilah tanahnya terlobangi cukup dalam. Area jatuhnya air merupakan area terlarang untuk bermain, karena berbahaya. Untuk bermain air bisa di daerah aliran air beberapa meter dari air terjun.

This slideshow requires JavaScript.

Sekitar jam 2 siang, cuaca mulai mendung. Sesekali rintik hujan turun. Kami yang sudah agak puas berfoto dan bermain mulai bersiap untuk kembali ke atas, agar bisa mengejar waktu shalat dan mengisi perut sebelum pulang. Seperti sudah diduga, perjalanan pulang lebih berat karena mendaki. Ngos-ngosannya sekarang lebih keras. Trio perempuan ini cukup kuat juga, terlebih lagi EZA yang sepanjang jalan pulang itu seakan terpengaruh iklan motor Yamaha: semakin di depan:mrgreen: Posisinya memang selalu jauh di depan dua rekan perempuan lainnya.

Sampai di atas, kami singgah di warung yang dekat gerbang ke Curug Sawer yang tadinya kami lewati. Pesan makanan, shalat, lalu menikmati makanan berupa indomie rebus dan kopi/wedang jahe/air putih, sesuai keinginan. Selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Kami kemudian beranjak menuju gerbang, dan di sana angkot yang akan membawa kami kembali ke Cibatok sudah menunggu. Perjalanan pulang ditempuh agak lama karena macet sepanjang perjalanan Cibatok — Bubulak (sopir angkotnya akhirnya mengambil jalan alternatif). Dari Bubulak ke stasiun cukup cepat. Tepat waktu maghrib sampai di stasiun Bogor, ambil tiket, shalat Maghrib, belanja oleh-oleh kecil. Perjalanan dengan kereta cukup lama juga.

Saya sendiri sampai di rumah sekitar pukul 10 malam. MMI meneruskan perjalanan ke Tangsel dan berpisah dengan anggota rombongan lainnya di Manggarai. Saya turun di stasiun Gang Sentiong, berpisah dengan FMR, BGN dan EZA yang bertiga meneruskan perjalanan sampai stasiun Senen untuk kemudian menyambung dengan bajaj ke Pangkalan Asem. Hampir semuanya sampai di tujuan masing-masing sekitar pukul 10 malam juga.

Di rumah, tidur berselimut kenangan.

Meskipun lebih banyak waktu habis di perjalanan daripada di tempat tujuan, overall trip kabur ini menyenangkan. Esensi perjalanan itu kan tidak hanya saat sampai di tujuan saja. Saya pribadi cukup puas. Rekan perjalanan yang lain bahkan ingin mengulang lagi perjalanan seperti ini. Ke Kawah Ratu, mungkin? Let’s see.

Oh ini itinerary perjalanan saya. Kali ada yang mau jalan-jalan juga.

  • Ongkos TransJakarta Pangkalanan Asem – Juanda = Rp3.500
  • Ongkos Commuterline Juanda – Bogor = Rp5.000
  • Sarapan di KFC = Rp15.000
  • Ongkos angkot Stasiun Bogor – Laladon = Rp3.500
  • Ongkos angkot Laladon – Cibatok = Rp8.000
  • Beli snack dan air minum (kira-kira) = Rp10.000
  • Carter angkot (Rp200.000) dan bea masuk area wisata Gunung Salak Endah (Rp30.000) @ 5 orang = Rp46.000
  • Bea masuk Curug Seribu = Rp7.500
  • Indomie dan kopi = Rp18.000
  • Ongkos angkot Cibatok – Bubulak = Rp7.500
  • Ongkos angkot Bubulak – Stasiun Bogor = Rp3.500
  • Ongkos commuterline Bogor – Gang Sentiong = Rp5.000

Total silakan itung sendiri, hehe. Masih tergolong murah, ini juga udah kena di biaya carter angkot yang harusnya bisa lebih kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s