Jalan Baru. Masih Panjang.

Ada hal baru yang akan (atau harus?) saya jalani dalam setidaknya dua tahun ke depan. Saat ini, saya sudah tercatat sebagai mahasiswa di program studi Magister Ilmu Kelautan Universitas Indonesia. Sejak 16 Januari 2014 saya memegang kartu mahasiswa UI, dan insya Allah, mulai 10 Februari akan mulai perkuliahan di kampus UI Depok.

Tadinya biru, lalu hijau, sekarang kuning ;;;

Tadinya biru, lalu hijau, sekarang kuning ;;;

Saya tidak tahu apakah pilihan jalan ini sebuah pilihan yang benar. Kalau melihat usia serta kemampuan finansial saya saat ini, kuliah lagi rasanya bukanlah pilihan yang cukup baik. Kebanyakan mahasiswa S2 saat ini adalah dari kalangan freshgrad S1, atau dari kalangan yang sudah mapan seperti para pegawai negeri. Hampir semua teman-teman saya sudah berbahagia dengan pekerjaan dan keluarga.

Tapi, perkara salah langkah itu sebenarnya sudah dari lama, sejak saya keluar dari ITB tahun 2007. Ini semacam konsekuensi, bahwa karena saya pernah gagallah maka saya harus menempuh jalan seperti sekarang.

Lagi pula, tidak sepenuhnya buruk. Saya tidaklah merasa nyaman menjadi seorang pengajar bimbel, sekalipun itu bimbel terbaik di Indonesia. Saya merasa ingin sekali kembali ke dunia akademis di kampus, membaca buku dan paper-paper, mengikuti seminar ilmiah dan sebagainya.

Sudahlah, saya sudah bertekad untuk menjalani saja dan mencoba meraih hasil terbaik.

Saya mengambil program studi Magister Ilmu Kelautan, dengan peminatan di bidang Sains Fisik Kelautan. Sebenarnya ini pilihan iseng dan agak terpaksa: program magister Fisika tidak buka pendaftaran di semester genap. Maka saya carilah program studi yang cocok dengan Fisika Bumi, dan bertemulah saya dengan Ilmu Kelautan ini.

Saya agak kaget ketika belakangan menemukan bahwa program studi Ilmu Kelautan ini berada di bawah nanungan Departemen Biologi FMIPA UI. BIOLOGI! Mungkin ini pertanda bahwa saya tidak salah telah jatuh hati sama seorang pengajar Biologi di tempat kerja! #Eh

Whatever. Yang penting mata kuliahnya masih cocok dengan bidang saya saat S1 dahulu. Beberapa mata kuliah terdengar familiar, misalnya geofisika laut, oseanografi dan lain-lain. Melihat komposisi kuliahnya, saya pikir saya bisa membuat tesis yang membahas tentang tsunami, jadi masih bersambungan dengan skripsi S1 saya dahulu yang membahas gempa.

Beberapa waktu lalu terjadi gempa di sekitaran Cilacap, Jawa Tengah, dan saya terlibat dalam perbincangan menarik tentang gempa di Facebook. Ini sedikit menambah semangat saya untuk segera memulai kuliah dan memulai kehidupan baru sebagai seorang grad student. Saya ingin terlibat lagi dalam diskusi dan pencerahan-pencerahan ilmiah.

Demikianlah. Semoga semua berakhir indah, seperti senja yang menutup hari …

Senja yang cantik ...

Senja yang cantik …

Lost in Paradise

I’ve been believing in something so distant
As if I was human
And I’ve been denying this feeling of hopelessness
In me, in me

All the promises I made
Just to let you down
You believed in me, but I’m broken

I have nothing left
And all I feel is this cruel wanting

We’ve been falling for all this time
And now I’m lost in paradise

Bukan sekali-dua kali saya merasa sebagai pengemban tanggungjawab yang gagal. Mungkin, setidaknya sejak 2007. Sebelumnya juga sudah ada, tapi kecil-kecil.

Tahun 2002 saya diterima di ITB. Kampus satu itu, biaya pendidikannya relatif besar dibandingkan beberapa kampus negeri lainnya. Orang tua saya bahkan terdengar tidak percaya dengan besaran biaya per semester yang bahkan masih lebih besar dibandingkan jumlah biaya semester yang dibayarkan untuk dua kakak saya. Belum lagi biaya hidup. Di kota seperti Bandung cukup lumayan juga besarnya.

Saya tetap masuk ITB.

Lalu saya keluar dari ITB dengan cara yang kurang nyaman tahun 2007. Selama lima tahun itu, saya tak terlalu banyak berpikir tentang berapa banyak dana yang keluar dan bagaimana caranya dana tersebut ditalangi. Keluarga saya bukan keluarga kaya–bahkan kalau saya tidak kuliah maka kehidupan kami masih akan dihitung pas-pasan. Maksudnya serba ngepas, mau beli ini itu pas saja uangnya, tidak berlebih. Kalau kaya, maka uangnya berlebih. Baru tahun 2007, saya mulai menghitung bagaimana pengorbanan keluarga yang terjadi selama 5 tahun saya kuliah-namun-gagal itu.

Gagal di ITB, saya beralih ke Unand. Saya pribadi tak membuat banyak ekspektasi ketika meneruskan kuliah di sini. Yang penting lulus sajalah secepatnya, begitu mulanya pikir saya.

Gagal juga. Saya butuh 4 tahun juga hingga akhirnya lulus, meleset jauh dari target yang cuma 2,5 tahun. Saya selesai sidang sarjana tanggal 2 Agustus 2011. Total durasi kuliah saya adalah 9 tahun. Terlalu lama. Meskipun saya sudah mulai berpikir tentang besarnya pengorbanan keluarga demi kuliah saya, toh semuanya berlalu sebagaimana sebelumnya saja.

Bagi diri pribadi saya memang merasakan kepuasan tertentu. Saya senang telah bergabung dengan masyarakat Astronomi ITB dan Indonesia. Saya selalu merasa Astronomi memberikan saya pelajaran yang sangat berharga, sungguh tak ternilai harganya itu. Demikian juga, saya sungguh sangat senang telah bertemu dengan Geofisika. Seakan lengkap rasanya, saya menemukan hikmah yang membumi dari Geofisika (Fisika Kebumian) disamping hikmah yang melangit dari Astronomi.

Tapi itu pribadi. Begitu saya disadarkan dengan keberadaan saya dalam masyarakat, rasa-rasanya saya telah berlaku egois. Uang mungkin bukan parameter yang layak untuk menjadi bahan evaluasi hasil kuliah saya di ITB dan Unand. Tapi parameter ini saja sudah cukup untuk membuat saya termenung, betapa banyak sekali pengeluaran keluarga hanya untuk biaya pendidikan saya. Estimasi kasarnya (saya tidak tahu persis apakah estimasi ini benar atau tidak), jika biaya yang dikeluarkan untuk biaya kuliah S1 dua kakak dan satu adik saya, maka jumlah ketiganya itu masih lebih kecil dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk saya seorang.

Adakah ekspektasi dari keluarga terhadap saya? Rasanya, dan harusnya, ada. Hanya saja itu tersembunyi.

Saya ke Jakarta selepas lulus dari Unand. Kalau dihitung sampai sekarang, sudah 2 tahun saya berdomisili di Jakarta. Saya bekerja sebagai pengajar Fisika di sebuah lembaga bimbel terkemuka. Honornya, ada lah, ketimbang kalau saya menggeluti pekerjaan sejenis di kampung halaman. Hanya saja, saya hampir tak pernah membagi honor yang saya dapatkan itu untuk keluarga saya di kampung halaman. Paling pas lebaran, atau kalau adik saya menelepon minta dikirimkan uang untuk bantu-bantu beli minyak. Di sini, saya lagi-lagi merasa bahwa saya gagal lagi memikul tanggung jawab. Saya mestinya mengirimkan uang bulanan, dimana mestinya penghasilan saya cukup untuk itu, dan saya tak melakukannya.

Well, saya sadar bahwa perasaan ‘gagal’ saya ini mungkin tidak tepat. Kedua orangtua saya mungkin akan marah kalau saya mengatakan hal itu kepada mereka, begitu juga kakak-kakak dan adik saya. Tapi ya bagaimana, perasaan gagal ini tetap ada dan saya pikir … natural.

Ada lagi. Tanggal 29 Desember 2013 lalu, saya dinyatakan lulus seleksi masuk Pascasarjana Universitas Indonesia. Kalau saya ingin melanjutkan prosesnya hingga saya resmi diterima sebagai mahasiswa UI, maka saya butuh dana. Nilainya tidaklah sedikit, bagi saya dan keluarga saya.

Saya pernah ditanya oleh maktuo (bibi, kakak perempuan bapak) saya, apakah benar-benar mau melanjutkan kuliah. Kalau ya, apakah saya sudah memikirkan kesulitan yang (mungkin) akan dialami, baik oleh saya sendiri maupun oleh keluarga. Terutama, tentunya, orang tua. Saya menjawab bahwa biaya kuliah per semester akan saya usahakan sendiri, karena saya toh punya pekerjaan. Tentang orangtua, wew, saya bilang ke maktuo bahwa mereka yang mendorong saya untuk kuliah lagi.

Walaupun benar, namun sekarang saya merasa jawaban itu terlalu shameless. Ego saya keluar, bahwa saya tak mengakui bahwa keinginan untuk melanjutkan kuliah ini aslinya ada di dalam hati saya. Apa yang saya katakan ke maktuo saya itu, seakan saya membebankan resiko yang akan dihadapi orangtua justru karena orangtua saya itu sendiri yang meminta saya kuliah. Ah :-(

Yang jelas, sekarang ‘korban’ sudah ada. Demi membayarkan biaya semester pertama plus uang masuk, bapak saya meminjam uang di bank dan akibatnya, penerimaan pensiunnya untuk tiap bulan berikutnya jadi menipis. Karena selama ini kebutuhan rumah tangga umumnya dibayarkan dengan uang dari penerimaan pensiunnya si bapak, maka dengan terjadinya penipisan ini alhasil penerimaan tak akan cukup untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Solusinya, kakak dan adik saya yang akan menambahnya. Artinya, bisa dibilang, lagi-lagi kuliah saya akan menjadi beban bagi anggota keluarga saya. Saya mungkin bisa puas melepas dahaga saya akan ilmu. Tapi egoisme seharusnya tak bisa ditoleransi, karena itu kepuasan yang mungkin akan saya nikmati tak akan punya arti jika keluarga saya terbeban. I’m actually a … hopeless man :-(

I’ve been believing in something so distant
As if I was human
And I’ve been denying this feeling of hopelessness
In me, in me

Saya bisa saja berjanji bahwa semua ini akan terbayarkan nantinya. Saya harus berusaha keras untuk sukses. Saya akan belajar dengan baik, mengambil setiap kesempatan dengan baik. Bahwa ini semua akan menunjukkan saya betapa kerasnya hidup. Betapa semua ini akan mengajarkan saya lebih banyak hal lagi. Dan sebagainya dan seterusnya.

All the promises I made
Just to let you down
You believed in me, but I’m broken

I have nothing left
And all I feel is this cruel wanting

Ketika saya menuliskan keluh kesah isi hati ini, bapak saya sedang duduk di atas sajadah. Berdoa. Mungkin untuk saya. Sekali lagi saya tersadar betapa memalukannya diri ini, betapa hanya sedikit doa untuk beliau yang pernah saya panjatkan :-(


Catatan:

Lost in Paradise merupakan judul lagu dari Evanescence. Beberapa bait lagunya saya kutip, hanya pada bagian yang saya rasa memiliki kecocokan saja. Interpretasi dari penulis lagu aslinya mungkin sekali tidak sama seperti interpretasi di sini.

Malang & Bromo, 13-17 Desember 2013

Jalan-jalan, alias travelling, alias raun-raun kata orang Minang, termasuk salah satu hal yang saya inginkan dalam hidup ini. Terlebih lagi kalau mendengar cerita dari teman-teman yang pergi backpacker-an ke beberapa destinasi wisata, sehingga dapat menekan biaya. Siapa yang tidak mau jalan-jalan dengan biaya murah?

Pucuk dicinta ulam tiba. Setelah tinggal 2 tahun di Jakarta, akhirnya ada yang mengajak saya bergabung pergi raun. Seorang rekan kerja, sebut saja namanya P, tiba-tiba nodong saya, “Pak FET mau ikut ga, ke Bromo?” Oh, jalan-jalan. Tujuannya ke Bromo, lewat Malang. Anggaran, katanya, diupayakan semurah mungkin. Selain P juga ada 2 rekan kerja lain yang ikut, yaitu R dan T. Hmm, menarik, tapi saya hitung duit dulu :mrgreen: . Well, tak butuh waktu lama bagi saya untuk setuju: kurang dari seminggu kemudian (tanggal tepatnya 1 Desember 2013) saya sudah memesan tiket pulang-pergi Jakarta-Malang.

Mungkin perlu ditulis juga bahwa P & R ini perempuan dan T laki-laki. Jadi komposisi rombongan adalah 2 laki-laki & 2 perempuan. Kami berupaya lebih banyak lagi yang ikut, karena kalau rame biaya bakal lebih murah. Continue reading

행복을 찾아서

Sejak kecil kita sudah diberi pertanyaan, “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” — satu bentuk pertanyaan sederhana tentang hidup. Rasanya setiap anak kecil akan berpikir, mencoba menjawab pertanyaan ini. Anak lelaki ingin jadi dokter, polisi, tentara, pilot. Anak perempuan ingin jadi dokter, peragawati, pramugari. Mungkin sebagian anak itu menjawab ingin jadi guru, dan mungkin saja ada yang mau jadi petani. Ada yang tercapai saat dewasa, ada yang berlalu begitu saja.

"Ambil hikmahnya saja!" Kredit gambar ke yang membuat.

“Ambil hikmahnya saja!” Kredit gambar ke yang membuat.

Ketika SMA rasanya mudah saja memilih kuliah di sini atau di situ, berpikir hidup akan berjalan sesuai dengan rencana. Tapi setelah kuliah selesai, mau jadi apa, itu pertanyaan besarnya. Ada yang meneruskan berkarir sesuai dengan tujuan kuliahnya. Tapi banyak yang kemudian kuliahnya berakhir dengan “ambil hikmahnya” saja. Jalan hidup tampaknya berbelok begitu saja, sesukanya, tak peduli seberapa pelik otak memikirkan rencana hidup sejak lama.

Ha! Continue reading

Yang Morantis

Beberapa hari terakhir saya mendownload film-film Korea yang edar bertahun-tahun lalu. Alasannya mungkin sederhana saja: saya kangen menonton film-film yang dibintangi Son Ye-jin dan Moon Geun-young. Setelah Korea Wave dibanjiri oleh KPop, saya agak jarang mendengar kabar dua aktris Korea ini hingga akhirnya saya menonton beberapa episode Running Man yang kebetulan menjadikan Son Ye-jin serta Moon Geun-young sebagai bintang tamu.

Tadinya tak menyangka film-film ini justru bikin saya asa kumaha kitu. Genrenya romance-drama. Kisahnya tentang kasih tak sampai. Nyeri-nyeri sedap dina hate.

Film romance-drama sebenarnya klise. Kadang tidak realistis dalam kisah percintaan di dunia nyata. Tapi bagus, entah mungkin bagusnya karena film semacam ini langsung mengusik sisi hati yang paling mudah terusik. Continue reading