160 Juta Tahun Indonesia

Dahulu kala, bumi hanya terdiri atas satu benua yang dinamakan Pangaea. Pangaea kemudian terpecah dan akhirnya membentuk benua-benua seperti sekarang. Nah, pernah bertanya bagaimana kepulauan Indonesia ini terbentuk, sebagai bagian dari rentetan proses pembentukan benua-benua dari pecahnya Pangaea?

Animasi pecahnya Pangaea. Gambar diambil dari Wikipedia.

Animasi pecahnya Pangaea. Gambar diambil dari Wikipedia.

Saya pertama kalinya tertarik dengan pembentukan kepulauan Indonesia ketika mengikuti mata kuliah Seismologi, kalau tidak salah itu sekitar 4 tahun yang lalu. Kala itu saya diberi tugas kuliah mempresentasikan kondisi tektonik daerah Sulawesi dan Maluku, dan dalam pencarian bahan presentasi saya menemukan makalah dari prosiding 24th Annual Convention of Indonesian Petroleum Association. Judulnya Plate Tectonic Reconstruction of the Indonesian Region, ditulis oleh Robert Hall.

Saya kembali teringat tentang proses pembentukan kepulauan Indonesia ini ketika sejak awal November 2014 ini membaca buku The Ecology of the Indonesian Seas (Part One), yang ditulis Thomas Tomascik dkk. Dalam pembahasan Chapter II: Geology, buku ini ternyata juga mengutip makalah yang saya baca 4 tahun lalu itu. Ketika saya cari makalahnya di internet, ternyata sudah ada makalah yang lebih baru dan memuat hasil-hasil penelitian mutakhir. Makalah ini dapat diakses dengan bebas di Science Direct. Makalah ilmiah yang sangat bagus dan gratis adalah salah satu hal yang sangat saya syukuri.

Saya pikir, yang semacam ini perlu juga diceritakan ulang di blog, agar bisa dipahami juga oleh khalayak ramai. Hanya saja ada banyak hal yang saya tidak terlalu paham. Latar belakang saya bukan Geologi, sedangkan makalah ini adalah makanannya mereka yang mendalami Geologi, jadi jika terdapat kesalahan harap dimaklumi dan silakan berikan koreksi. Semua gambar (kecuali disebutkan lain) berasal dari makalah oleh Hall tersebut, saya unduh langsung dari laman web makalahnya di Science Direct.

Sebagai pendahuluan, barangkali perlu dijelaskan beberapa hal terlebih dahulu.

  1. Indonesia ini adalah daerah pertemuan 3 lempeng: lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Filipina (yang terakhir ini merupakan bagian dari lempeng Pasifik). Eurasia adalah lempeng benua, sedangkan Indo-Australia dan Filipina adalah lempeng samudra. Agak unik sepertinya untuk lempeng Indo-Australia yang dinyatakan sebagai lempeng samudra, namun di area Australia sendiri dia lebih tampak sebagai lempeng benua. Umumnya lempeng samudra di atasnya adalah laut, kalaupun menjadi daratan ya berupa pulau saja, namun untuk Indo-Australia ini ada bagian yang di atasnya adalah benua. Titik pertemuan ketiga lempeng tersebut adalah di daerah laut Banda.
  2. Sekitar 200 juta tahun yang lalu—orang geologi menyebutnya era Triassic—Bumi terbagi atas dua benua raksasa, yaitu Laurasia dan Gondwana. Laurasia masa itu mengandung daratan yang sekarang kita kenali sebagai Eropa, Asia dan Amerika utara, sedangkan Gondwana mengandung daratan selatan yaitu Amerika selatan, Afrika, Australia dan Antarktika. Dalam selang berjuta-juta tahun itu Laurasia dan Gondwana terpecah-pecah dan bergerak hingga akhirnya menyusun daratan yang saat ini kita huni. Tomascik dkk (1997) menyebutkan bahwa berbagai penelitian antara lain oleh Visser dan Hermes (1962); Audley-Charles dkk (1972); Hamilton (1973, 1978, 1979); Katili (1975, 1978) Carter dkk (1976); Barber dkk (1977); Chamalaun dan Grady (1978) serta Norvick (1979), menyimpulkan bahwa sebagian Papua, pulau Timor, Sula, Sumba, Seram dan Buru menyatu dengan Austalia, dengan demikian pulau-pulau ini adalah bagian dari Gondwana. Juga dalam Tomascik (1997) disebutkan Sumatra, Jawa dan Kalimantan menyatu dengan daerah Asia Tenggara dan bukan merupakan bagian dari Gondwana.
  3. Saya memuat peta-peta yang disampaikan Hall dalam artikelnya. Dalam melihat peta-peta di sini perlu diingat bahwa ini peta lempeng, bukan peta biasa. Warna biru berarti lempeng samudra, sementara warna lainnya menunjukkan lempeng benua dengan kadar ketebalan ditunjukkan dengan kadar kepekatan warna. Dan perlu diketahui, yang namanya lempeng samudra sudah barang tentu adalah dasar laut.

Dan sedikit pengingat, proses geologi adalah proses yang sangat-sangat-sangat panjang—sebuah proses yang berskala waktu sepanjang umur Bumi. Kita mungkin akan melihat proses yang berlangsung lebih tampak seperti dongeng, ngarang, tak masuk akal dan semacamnya. Ilmu Geofisika sama saja seperti ilmu Astronomi, dan Paleogeologi mirip sekali dengan Kosmologi: mirip seperti dongeng. Tapi percayalah, apa yang didongengkan ini semua memiliki landasan ilmiah dan masuk akal.

Kita lihat Indonesia ini, 160 juta tahun yang lalu.

Tentu saja, waktu itu negara bernama Indonesia belumlah ada. Kala itu, yang ada hanya wilayah yang sekarang menjadi Asia Tenggara, terdiri atas apa yang kini kita kenal sebagai Sumatra dan semenanjung Malaya. Pulau Kalimantan belum ada, Papua masih terletak jauh dan masih menjadi bagian dari sisa-sisa Gondwana bersama Australia dan India. Juga bergabung dengan Australia itu adalah pecahan-pecahan kepulauan Sula, serta blok Banda dan blok Argo.

Bagian dari laurasia dan sebaian Gondwana di area yang sekarang merupakan Kepulauan Indonesia, 160 juta tahun lalu.

Gambar 1: Bagian dari Laurasia dan sebagian Gondwana di area yang sekarang merupakan Kepulauan Indonesia, 160 juta tahun lalu.

Silakan dilihat pada Gambar 1. Pada masa Jurassic akhir itu, Asia terpisah dari Australia-India oleh laut Meso-Tethys. Lempeng laut Meso-Tethys ini menyusup (mengalami subduksi) ke bawah Asia Tenggara dan ke bawah blok Banda dan Argo. Subduksi yang dialami Meso-Tethys itu terjadi karena lempeng benua Asia condong bergerak ke selatan dan India-Australia condong bergeser ke utara. Tapi itu penyederhanaan dari saya saja—situasinya tidak mudah juga. Bisa dilihat pada 155 juta dan 150 juta tahun lalu (Gambar 2), blok Banda dan Argo rupanya memisahkan diri, sementara itu di lempeng Meso-Tethys sendiri rupanya ada subduksi antar lempeng samudra (dengan lempeng Ceno-Tethys), membentuk busur Woyla dan busur Incertus. Meso-Tethys menyempit dan Ceno-Tethys merangsek ke timur laut.

Pada 155 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo terpisah dari Australia dan bergeser ke utara.

Pada 155 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo terpisah dari Australia dan bergeser ke utara.

Terpisahnya Banda dan Argo dari induknya, Australia, juga berarti muncul batas lempeng divergen dan terbentuk lempeng samudra yang baru. Lokasi yang ditinggalkan oleh blok Banda yang bergeser itu, Banda Embayment, belakangan akan kita kenal sebagai Laut Banda.

Lama kemudian, kita sampai di masa 135 juta tahun yang lalu (Gambar 3). Pada masa ini, India mulai memisahkan diri dari Australia. Muncullah batas divergen antara Australia dan India, yang juga berarti terbentuk lempeng samudra yang baru. Keadaan menjadi jauh lebih rumit. Meso-Tethys makin sempit karena ia tenggelam ke bawah Asia Tenggara dan Ceno-Tethys. Blok Banda dan Argo bergeser ke timur laut, bergerak saling menjauh dengan India yang bergeser ke barat daya. Pergeseran India ini menyebabkan Ceno-Tethys terbelah menjadi Ceno-Tethys Barat dan Ceno-Tethys Timur. Australia sendiri bergeser sedikit ke selatan.

Ketika sampai di masa 135 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo sudah bergeser cukup jauh ke utara, dan India memisahkan diri dari Australia.

Gambar 3: Ketika sampai di masa 135 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo sudah bergeser cukup jauh ke utara, dan India memisahkan diri dari Australia.

Kompleksitas yang terbentuk itu selanjutnya menyebabkan adanya perubahan pada vektor gerakan lempeng. Australia dalam pergeserannya cenderung untuk berputar berlawanan arah jarum jam. Blok Banda terbelah, sehingga untuk selanjutnya akan disebut saja sebagai Banda Barat Laut (SWB – Southwest Banda), dan Argo akan disebut sebagai Jawa Timur – Sulawesi Barat (EJWS – East Java West Sulawesi). Keduanya bergerak bersama ke utara sedikit belok kanan. Setelah 10 juta tahun sejak India bercerai dari Australia, situasinya menjadi seperti pada Gambar 4.

Situasi pada masa 120 juta tahun lalu. SWB dan EJWS terus mendekat ke selatannya Asia Tenggara.

Gambar 4: Situasi pada masa 120 juta tahun lalu. SWB dan EJWS terus mendekat ke selatannya Asia Tenggara.

Apa yang terjadi dalam 20 juta tahun berikutnya sebenarnya cukup mudah ditebak. Pada Gambar 5 terlihat apa yang terjadi: EJWS dan SWB sampai di tepian Asia Tenggara. Di sana blok SWB tertahan karena lempeng Eurasia, termasuk di Asia Tenggara itu, adalah lempeng yang tebal. Karena blok SWB tertahan, blok EJWS bisa menyusulnya dan akhirnya posisi kedua blok ini jadi bersebelahan.

Suasana 100 juta tahun yang lalu, menggambarkan apa yang terjadi selama 20 juta tahun sejak terpisahnya India dan Australia.

Gambar 5: Suasana 100 juta tahun yang lalu, menggambarkan apa yang terjadi selama 20 juta tahun sejak terpisahnya India dan Australia.

Kita lompat saja ke masa 85 juta tahun lalu. SWB dan EJWS bergabung dengan Asia Tenggara, membentuk area yang disebut Sundaland. Jawa dan sebagian Kalimantan muncul akibat penggabungan ini. Ini menarik sekali, dalam artikelnya Hall juga menjelaskan bukti teori ini adalah adanya kemiripan berlian yang banyak ditemukan di Kalimantan dengan berlian yang ditemukan di Australia—tipe berlian Gondwana.

Situasi pada 85 juta tahun lalu. Sudah ada Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, tapi belum sempurna.

Gambar 6: Situasi pada 85 juta tahun lalu. Sudah ada Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, tapi belum sempurna.

Masa 85 juta tahun itu bisa dilihat pada Gambar 6. Tampak blok Banda (SWB) hilang dan terbentuk Kalimantan, sementara blok Argo (EJWS) juga hilang dan terbentuk Jawa, Sulawesi Barat & Sulawesi Selatan. India bergerak ke barat dan Australia berputar sambil bergeser ke timur. Karena interaksi dengan lempeng-lempeng lainnya, gerakan semacam ini tidak selamanya berlanjut. Australia yang sudah sedikit berputar selanjutnya terdorong ke utara, sepertinya karena interaksi dengan lempeng Antarktika di selatannya. India yang bergerak ke barat tertahan (tampaknya karena di barat itu bertemu dengan lempeng Afrika) dan berikutnya terdorong ke utara, seperti halnya Australia, ini mungkin terjadi karena interaksi dengan lempeng Antarktika di selatan. Ketika sampai di masa 50 juta tahun lalu, situasinya sudah seperti pada Gambar 7.

Situasi 50 juta tahun lalu. India sudah bergeser cepat ke utara, dan posisinya sudah hampir menumbuk Asia. Australia bergerak ke utara dan Filipina muncul dari timur.

Gambar 7: Situasi 50 juta tahun lalu. India sudah bergeser cepat ke utara, dan posisinya sudah hampir menumbuk Asia. Australia bergerak ke utara dan Filipina muncul dari timur.

Menarik juga untuk dilihat, interaksi di Sundaland bertambah kompleks karena ada tambahan subduksi dari arah timur. Bentuk Kalimantan disempurnakan oleh adanya interaksi ini, dan juga bagian lengan Sulawesi Utara muncul di sekitar sana akibat adanya batas konvergen antar lempeng samudra. Sulawesi Utara ini belum bergabung dengan Sulawesi Barat yang sudah terbentuk lama sebelumnya, tapi akan kita lihat nanti mereka bergabung juga.

Juga bisa dilihat Meso-Tethys terus menyempit dan nantinya akan hilang begitu India menabrak Asia. Busur Woyla yang sebelumnya muncul sudah hilang, bergabung dengan Sumatra dan membentuk patahan Sumatra. Ceno-Tethys sudah hilang pula jauh sebelumnya, gerakan India ke utara mengubur lempeng ini. Lempeng samudra yang terbentuk antara India dan Australia itu saat ini kita kenal sebagai Samudra Hindia. Di Papua, sebuah busur (mungkin dari Pasifik—saya tidak tahu lempeng samudra di atas Papua pada masa itu namanya apa) menempel di bagian utara membentuk daratan tambahan dan patahan di area tersebut. Lempeng Proto-Laut Cina Selatan

Kondisi 30 juta tahun lalu. Interaksi kompleks di Filipina memunculkan pulau-pulau, Laut Cina Selatan muncul dan Sulawesi Utara mulai menempel dengan bagian Sulawesi lainnya.

Gambar 8: Kondisi 30 juta tahun lalu. Interaksi kompleks di Filipina memunculkan pulau-pulau, Laut Cina Selatan muncul dan Sulawesi Utara mulai menempel dengan bagian Sulawesi lainnya.

Lalu, 30 juta tahun yang lalu bisa dilihat pada Gambar 8. Bagian Asia retak sedikit di selatan Cina, terus mengembang dan membentuk lempeng samudra baru yang sekarang dikenal sebagai lempeng Laut Cina Selatan. Lempeng Pasifik masuk ke bawah Filipina, dan begitu juga dengan bagian utaranya lempeng Australia, menyebabkan di lempeng Filipina itu terus muncul pulau-pulau kecil. Australia, India dan lempeng samudra yang terbentuk di antara keduanya bisa dianggap sebagai satu kesatuan, dan gerakannya yang mengarah ke utara menyebabkan perubahan posisi di Sundaland, yakni perputaran Jawa, Sulawesi dan Kalimantan.

India terus bergerak ke utara, menabrak Asia dan kelak akan menyebabkan munculnya pegunungan Himalaya. Australia yang bergerak ke utara kemudian menempel pada Sundaland. Pada masa 15 juta tahun yang lalu (Gambar 9), Sula dan Papua, bagian dari Australia, hampir berada pada posisinya sekarang. Sula membentuk apa yang kita kenal saat ini sebagai Sulawesi Tenggara serta kepulauan Maluku sebelah selatan (Seram dan sekitarnya).

Kondisi 15 juta tahun yang lalu, sudah mirip dengan kondisi saat ini.

Gambar 9: Kondisi 15 juta tahun yang lalu, sudah mirip dengan kondisi saat ini.

Lempeng Filipina pecah, membentuk lempeng Sulawesi. Subduksinya memunculkan bagian yang sekarang menjadi bagian dari Sulawesi Tengah. Halmahera terbentuk akibat subduksi Australia ke bawah Filipina, letaknya masih jauh dari posisinya saat ini. Batas lempengnya bergerak transform (bersisian), menyebabkan Halmahera itu bergerak menuju posisinya sekarang. Dan 5 juta tahun yang lalu (Gambar 10), kondisi kepulauan Indonesia sudah sama seperti yang sekarang kita diami.

Suasana 5 juta tahun yang lalu, mirip dengan sekarang.

Gambar 10: Suasana 5 juta tahun yang lalu, mirip dengan sekarang.

Sejak 5 juta tahun yang lalu hingga sekarang, tampaknya tidak banyak perubahan besar yang terjadi. Tentu saja ada perubahan-perubahan kecil seperti kemunculan pulau-pulau baru atau hilangnya pulau-pulau lama, munculnya patahan baru, dan sebagainya. Patahan Sumatra, patahan-patahan di sekitar Mentawai dan selatan Jawa, pulau-pulau vulkanik di daerah Nusa Tenggara tampaknya terbentuk dalam selang waktu 5 juta tahun ini.

Oh ya, rangkaian proses yang diceritakan di sini memiliki versi animated, dibuat oleh Southeast Asia Research Group, Royal Halloway University of London (RHUL). Bisa diunduh dari link ini: Video nimasi pembentukan Indonesia dari SEARG RHUL berdasarkan makalah oleh Hall (2012). Silakan dilihat untuk melihat dan memahami lebih jauh proses tektonik ini.

Lalu bagaimana dengan masa depan? Ada banyak kemungkinan. Biar ahlinya saja yang mencari tahu. Dari saya cukup sekian, saya merasa agak pusing juga setelah membaca makalah dan mencoba menuliskannya kembali di sini :mrgreen: Mohon maaf untuk segala kekurangan, terima kasih :mrgreen:

Konsep dan Proses

Teaching

Gambaran tentang tidak mudahnya menjadi guru/pengajar. (Gambar diambil dari http://www.takepart.com/)

Sebagai seorang pengajar les, saya cukup sering menerima keluhan dari siswa-siswi saya tentang pelajaran di sekolah mereka. Juga tentang cara guru di sekolah mengajar. Mendengarkan cerita mereka, saya biasanya mengambil 1 dari 3 kesimpulan: a) Siswanya sendiri yang belajarnya ga bener, b) Betapa buruknya cara guru sekolahnya mengajar, atau yang paling sering, c) Betapa buruknya sistem pendidikan.

Saya menyadari bahwa menjadi guru bukanlah perkara mudah, karena itu saya berusaha sesedikit mungkin menyalahkan guru sekolah. Hanya saja, untuk sistem pendidikan, saya pikir memang terlalu banyak hal yang salah.

Ujian

Beberapa waktu lalu saya mengomentari status Facebook seorang teman yang merupakan guru SMP. Si teman ini mengeluhkan siswa-siswinya yang sering lupa menulis nama dan kelas di lembar jawaban ujian, sambil menambahkan hipotesa mungkin murid-muridnya terlalu jenuh dengan pelajaran. Isi komentar saya kala itu lebih ke sistem pendidikan yang membuat murid keliru membuat prioritas. Sistem pendidikan yang saya maksud itu mengarahkan siswa untuk mengutamakan hasil, mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Pola pikir siswa yang sedemikian membuat siswa berpikir bahwa dalam ujian yang penting adalah mengerjakan soal yang diberikan. Hal lainnya kurang begitu penting, termasuk menulis nama, dan karenanya bisa “dikerjakan nanti saja”. Pada akhirnya si murid malah lupa menuliskan nama karena sudah terlalu sibuk mengerjakan soal.

Ini sering saya temukan saat ujian try-out di tempat saya mengajar. Begitu menerima lembar jawaban dan lembar soal, para siswa langsung membuka lembar soal dan mulai mengerjakan soal-soal tersebut, tanpa terlebih dahulu mengisi nama dan nomor peserta ujian di lembar jawaban. Siswa yang seperti ini tentu saja nilainya nol walaupun sudah bersusah payah mengerjakan soal, tapi mereka beruntung ini “hanya” try-out. Saya sering bertanya-tanya apakah di ujian yang sebenarnya mereka juga berkelakuan seperti itu.

Seharusnya, siswa diajarkan (dan dipaksa) untuk menghargai proses. Dalam kasus ujian, salah satu proses penting adalah menuliskan identitas di lembar jawaban. Bagaimana guru bisa tahu itu jawaban ujiannya siapa jika namanya tidak ada? Makdarit (maka dari itu), jika kebetulan saya jadi pengawas try-out saya membiasakan memeriksa lembar jawaban siswa terlebih dahulu. Jika bagian identitas belum diisi, siswa tidak akan mendapatkan lembar soal.

Fisika

Sebagai guru Fisika saya sering sebal melihat cara siswa menyelesaikan sebuah soal. Dalam soal-soal Fisika biasanya selalu ada variabel (besaran), yang kemudian nilainya bisa dimasukkan ke persamaan atau rumus terkait. Celakanya, siswa sering salah menaruh variabel, atau memasukkan nilai variabel dengan brutal tanpa memperhatikan satuannya. Umumnya ini terjadi pada siswa tingkat SMP, kalau pada tingkat SMA malah lebih parah lagi: seringnya mereka tidak tahu soal yang diberikan itu memberikan informasi variabel apa saja.

Saya tidak pernah merasa bahwa saya ini guru yang baik, tapi memperhatikan siswa-siswa yang seperti itu, saya mau tak mau sering berkomentar dalam hati, “Ini guru di sekolah gimana sih, ngajarinnya!”, atau “Ini nih akibat sistem pendidikan gak jelas!”.

Tentu saja saya pun sering berpendapat/berkomentar siswanya sendiri yang salah, tak memperhatikan pelajaran di kelas.

Fisika, bagi saya, adalah soal konsep. Saya tak pernah setuju sama orang yang mengatakan bahwa Fisika itu mudah. Bohong itu. Jika Fisika itu mudah maka tak akan perlu ada banyak keluhan dari orang-orang yang belajar Fisika dari tingkat sekolah menengah sampai universitas. Orang yang bilang Fisika itu mudah saya rasa perlu ditimpuk dengan buku teks Fisika Kuantum. Fisika itu tidak mudah. Fisika itu rumit, njelimet, harus menguasai cabang ilmu lain (terutama Matematika) dan pokoknya banyak lah. Tapi Fisika itu asyik!

Belajar Fisika itu asyik! (Foto koleksi pribadi)

Belajar Fisika itu asyik! (Foto koleksi pribadi)

Dan agar asyiknya Fisika itu terasa, konsep Fisika itu harus jelas dulu. Ya, Fisika itu soal konsep. Kalau tak bisa memahami konsep, ya anak sekolah jangan harap bisa mengerjakan soal-soal Fisika. Saya tidak tahu apakah saya sudah benar-benar memberikan penekanan konsep (dan konsepnya benar) saat mengajar, tapi percayalah, saya berusaha untuk itu.

Siswa yang sembarangan memasukkan nilai besaran ke dalam rumus, atau siswa yang tidak bisa menganalisa soal yang diberikan, adalah mereka yang jadi korban kurangnya penekanan pemahaman konsep dalam sistem pendidikan. Dan ini berkaitan juga dengan hal yang saya bahas di atas tadi: tidak adanya penghargaan terhadap proses.

4 × 6

Di dunia maya sempat ada kehebohan tentang perkalian. Ada banyak perdebatan di sana, tapi saya tertariknya pada dua hal: proses dan konsep!

Menyamakan 4 × 6 dengan 6 × 4, karena hasilnya yang memang sama-sama 24, adalah sebuah sikap tak menghargai proses. Terpaku pada hasil. Semestinya, Matematika itu adalah “proses”, bukan “hasil”. Anak-anak sekolah selama ini diharuskan meenghafal perkalian dari 1 hingga 9 tanpa mereka tahu bagaimana proses perkalian itu sebenarnya.

Ada banyak orang yang berkomentar bahwa seorang anak kelas 2 SD belum semestinya diajari konsep Matematika. Bagi saya, itu kesesatan berpikir yang parah. Konsep, apalagi yang mendasar seperti apa makna sebuah operasi matematika, mestinya diajarkan sejak dini. Dengan pemahaman konsep dasar sejak di kelas bawah, siswa tak akan dibingungkan dan mengalami kerancuan lagi dengan konsep-konsep berikutnya yang makin rumit sesuai tingkatan kelasnya.

Tidak dihargainya proses dan konsep itu jelek sekali akibatnya. Siswa-siswa lupa menulis namanya di lembar jawaban ujian karena bagi mereka ujian itu adalah mengerjakan soal dan mendapat nilai tinggi. Siswa pusing belajar Fisika karena mereka tak paham apa yang sedang mereka kerjakan. Para orangtua berpendapat bahwa jika anaknya tidak juara kelas berarti sang anak adalah anak tak berbakti dan tak layak dibanggakan. Stakeholder pendidikan nasional berpikir bahwa sekolah itu berarti menghasilkan siswa-siswa berstandar nasional yang lulus UN, dan kurikulum harus diganti dengan kurikulum yang tidak jelas.

Dan anak-anak bangsa kita hanya jadi bangsa kuli, yang merasa baik-baik saja ketika hasil buminya dikeruk orang kaya (dari negeri sendiri dan dari negeri lain) dan tetap merasa senang ketika ditipu politisi.

“Meledak” dan “Beringsut”, Dua Teori Untuk Menjelaskan Semesta

Beberapa waktu lalu, di salah satu pertemuan kelas Sedimentologi, pak dosen membicarakan pendahuluan tentang bumi. Beliau sepintas menyebut soal proses terjadinya alam semesta melalui bigbang, kemudian berlanjut ke proses pergeseran lempeng yang merupakan bagian dari teori lempeng tektonik. Ujungnya nanti berakhir di proses sedimentasi, sesuai topik utama perkuliahan.

Sementara pak dosen menjelaskan, pikiran saya melayang ke masa-masa dulu. Saat masih menjadi mahasiswa Astronomi ITB, topik Kosmologi adalah topik yang paling saya suka—terlepas dari sulitnya tensor dan segala rumusan matematisnya. Alasannya, topik ini membuat saya benar-benar mengerahkan segala pemikiran rasional yang saya punya. Ada banyak misteri di alam semesta, yang jika dipikirkan sebagai sekedar hukum alam membuat diri kita tak akan puas. Begitupun jika segala misteri itu dicukupkan sebatas menyatakan “itulah kekuasaan Tuhan”, itu tidak memuaskan dan malah bisa berbalik menyebabkan mereka yang imannya lemah jadi tidak percaya Tuhan. Bagi saya, misteri-misteri ilmiah itu harus selalu dicari jawabannya, dan penjelasan ilmiah yang kita dapatkan pada akhirnya akan membuat kita menyadari bahwa ada kekuatan besar yang menguasai alam semesta ini.

Ketika akhirnya saya terpaksa keluar dari Astronomi ITB dan beralih ke jurusan Fisika Universitas Andalas, perlahan namun pasti ketertarikan saya beralih. Dari langit ke bumi. Berawal dari mengikuti kuliah Geofisika dan semakin membuncah saat saya mengikuti kuliah Seismologi, saya akhirnya menyadari bahwa ada misteri besar juga di bumi kita sendiri. Kenapa ada gunung? Kenapa gunung meletus mengeluarkan lava? Kenapa ada gempa bumi? Kenapa ada pulau dan benua dan samudra? Pertanyaan-pertanyaan itu tersaji dengan baik di setiap mata kulah terkait Geofisika yang saya ikuti. Dan pada masa itu juga saya berkenalan dengan teori lempeng tektonik.

Teori dentuman besar (Big Bang) dan teori lempeng tektonik (Tectonic Plate), dua teori yang sampai sekarang bagi saya demikian menakjubkan, karena membantu kita menjelaskan berbagai misteri di langit dan bumi, sekaligus menambah misteri lain yang merangsang otak kita untuk memikirkannya secara rasional. Dan, dalam kasus saya, menyebabkan saya beranggapan bahwa Tuhan itu maha besar karena menciptakan manusia sebagai makhluk yang senantiasa berpikir.

Kilas Teori

Teori Bingbang mencoba menjelaskan kenapa galaksi-galaksi yang berada jauh dari bumi bergerak menjauh satu sama lain. Jadi misalkan ada 3 galaksi, galaksi S, galaksi S2 dan galaksi S3. Jika kita, manusia, tinggal di galaksi S, maka dengan menggunakan teropong kita amati bahwa galaksi S2 dan S3 bergerak menjauh dari kita yang ada di galaksi S. Selain itu, galaksi S2 dan S3 juga masing-masing bergerak menjauh satu sama lain.

Kilas teori Bigbang dalam gambar: Awalnya titik kecil yang mengembang jadi alam semesta raksasa kita saat ini. Sumber gambar dari Wikipedia.

Yang terpikirkan oleh ilmuwan-ilmuwan yang memikirkan gerak menjauhnya galaksi itu adalah, alam semesta kita ini mengembang. Semakin lama semakin besar. Jika memang demikian, kalau disurutkan ke masa yang sudah lampau, tentulah suatu saat di masa lalu itu alam semesta ini kecil saja adanya. Maka demikianlah, lahirlah teori yang menyebutkan dulunya alam semesta ini kecil, berupa titik, dan oleh suatu musabab titik itu membesar. George Lemaitre menaruh fondasi teori, Albert Einstein memberikan fondasi fisis dan matematis, dikembangkan seterusnya oleh Willem de Sitter dan Alexander Friedmann, bukti pengamatan diberikan oleh Edwin Hubble, dan seterusnya hingga masa kini para fisikawan terus berjibaku utak-atik revisi hablah hablah meneruskan teori ini, dengan satu tujuan: menjelaskan kenapa alam semesta dan isinya ini bisa menjadi ada.

Lempeng-lempeng yang diperkirakan menjadi susunan puzzle di permukaan bumi. sebagai penjelasan teori Lempeng Tektonik. Gambar dari Wikipedia.

Lempeng-lempeng yang diperkirakan menjadi susunan puzzle di permukaan bumi. sebagai penjelasan teori Lempeng Tektonik. Gambar dari Wikipedia.

Sementara teori bigbang yang melangit itu berkembang, di bumi sendiri manusia masih bingung kenapa kok gempa bumi bisa terjadi. Apakah seperti dalam kisah mistis-religius, bahwa Tuhan menciptakan suatu malaikat bertanduk yang menaruh bumi ini di tanduknya, dan kalau kepalanya diguncang sedikit maka terjadilah gempa? Untung, mitologi semacam itu terlalu irasional, bahkan (saya kira) bagi penganut yang fanatik sekalipun. Dan irasionalitas itu memaksa manusia mencari penjelasan yang lebih masuk akal. Lebih logis rasanya jika Bumi ini kita anggap sebagai bola yang berlapis-lapis, di bagian luarnya keras seperti kerak dan bagian dalamnya panas. Segala sesuatu yang panas cenderung untuk bergerak, pendapat ini sudah disepakati oleh para ahli Termodinamika, maka jika bagian dalam bumi ini panas maka tentulah ia memiliki gerakannya sendiri akibat proses pemindahan panas yang terjadi. Pergolakan di dalam bumi menyebabkan bagian kerak yang keras tadi terkena imbasnya. Kerak itu bergoyang, retak dan pecah membentuk lempengan, dan kemudian bergerak perlahan. Pertemuan lempeng menyebabkan getaran yang kita sebut sebagai “gempa bumi”, dan gerakan-gerakan lempeng melahirkan gunung, lembah dan ngarai, serta laut. Alfred Wegener yang menjadi peletak dasarnya, seterusnya dikembangkan dan dikembangkan dan dikembangkan terus oleh para fisikawan.

Aspek Sejarah

Teori Bigbang dan teori Lempeng Tektonik lahir dalam kala yang bersamaan. Dan pada masa itu, sains masih sedemikian tradisional. Apapun yang bertentangan dengan pendapat klasik sulit diterima.

Ah sebentar, sebenarnya ini sifat dasar sains dimana skeptisisme diagungkan. Para ahli dan akademisi jaman sekarang juga pada dasarnya cenderung pro pendapat mainstream atau status quo.

Tapi pokoknya demikian. Teori Bigbang mendapatkan namanya, “big bang”, sebagai bahan olok-olok dari fisikawan yang mengkritik teori tersebut. Alfred Wegener dengan teori yang kala itu dia sebut sebagai continental drift juga bukannya tanpa perjuangan, dia bahkan hampir terpaksa melupakan pendapatnya sendiri karena masyarakat ilmiah masa itu tak sudi menerimanya.

Semua berubah seiring waktu. Semakin banyak bukti-bukti. Semakin banyak dukungan matematis dan fisis. Pada akhirnya, kedua teori ini menjadi acuan utama bagi mereka yang mempelajari langit dan bumi. Dan juga, semakin banyak misteri yang bisa dijelaskan sekaligus juga dengan semakin banyak tantangan misteri yang muncul.

Kemanusiaan

5036_122641067500_1760529_nKita, manusia, terus dan terus dan akan terus belajar memahami rahasia Tuhan yang Ia taruh di alam. Kata-Nya dalam ayat-ayat suci, semua ini hanya untuk mereka yang berpikir, dan hasil pemikiran akan selalu menjadi sesuatu yang tak ternilai untuk mereka yang beriman.

Saya bersyukur selalu mendapatkan kesempatan belajar :-)

Palestina Kita Semua

Palestina. Sejak 1948, atau mungkin jauh sebelum itu, ketika Utsmani kehilangan power mereka di tanah itu, persoalan ini tidak selesai.

Jika berpikir global, memang isu ini bukan lagi menjadi milik umat Islam. Ini isu penting juga buat umat Nasrani, karena kompleks suci agama mereka berada di area konflik. Demikian pula dengan umat Yahudi, karena penjahat-penjahat Israel itu menggunakan simbol-simbol agama Yahudi sebagai pembenaran kejahatan mereka. Dan secara sekuler, isu Palestina adalah isu penting karena ada sebuah so-called negara bertindak secara fasis, diskriminatif, dan melakukan praktek apartheid yang seharusnya dikutuk oleh semua kalangan.

Dalam hal ini saya tidak sepenuhnya sepakat bahwa isu Palestina bukan isu agama. Isu Palestina adalah isu agama, isu politik, isu keamanan, isu sosial dan sebagainya.

Palestina dan Islam

Palestina, dalam pandangan saya, adalah isu terbesar umat Islam. Isu ini tidak akan selesai kecuali terlebih dahulu terbentuk kesamaan pandangan di kalangan umat Islam, terutama pemerintah negara-negara berpenduduk Islam di Timur Tengah. Kenapa saya berpadangan seperti ini? Simpelnya, karena tak ada yang memiliki ikatan lebih kuat dengan Palestina selain umat Islam.

Meskipun secara umum isu ini adalah isu global, namun saya tak percaya akan ada negara non-muslim yang mau benar-benar memusatkan perhatiannya untuk Palestina. Oke, akan ada orang yang membentuk LSM dan gerakan peduli, tapi bukan dalam level negara dan secara politis tidak akan memiliki kekuatan memadai. Bangsa barat (termasuk Rusia) tidak akan peduli. Bangsa timur seperti Cina, Jepang, hanya akan melihat apakah ekonomi mereka terganggu atau tidak. Sekali lagi, ikatannya tidak cukup kuat.

Sementara, jika jazirah Arab dan negara-negara berpenduduk muslim kembali dikuasai oleh orang-orang yang “benar” maka mereka akan peduli. Sejarah Palestina sebagai bumi para nabi, Jerusalem sebagai kiblat pertama, waqaf dari Umar bin Khattab untuk umat Islam, pusat perselisihan semasa Perang Salib, semuanya cukup menjadi alasan keterikatan umat Islam dengan tanah Palestina.

Maka dari itu, saya melihat persoalan Palestina ini baru akan benar-benar selesai begitu umat Islam ini mampu kembali ke jalan yang benar. Berhenti berkonflik sesamanya, pemimpin-pemimpinnya berhenti berlaku koruptif, dan masyarakatnya mencerdaskan dirinya.

Palestina dan Konflik Lainnya

Ketika melihat isu Palestina sebagai sebuah “bukan konflik agama”, seringkali saya bertemu opini yang mempertanyakan kenapa Palestina harus didahulukan padahal ada banyak konflik lain di dunia ini. Saya agak heran dengan pendapat semacam itu, karena perbandingan lingkup konfliknya tidak sama.

Katakanlah Ukraina. Ada yang mengatakan kenapa Palestina begitu dipedulikan sementara Ukraina tidak. Apakah di Ukraina ada tembok apartheid? Apakah di Ukraina ada pengeboman rumah sakit? Apakah di Ukraina ada bangsa yang harus mengungsi di tanah mereka sendiri selama puluhan tahun? Apakah di Ukraina ada sebuah negara dengan fasilitas militer lengkap menyerbu sebuah bangsa yang mencoba membuat negara dan negaranya itu tidak diakui dunia, tidak memiliki militer yang baik dan … ah, fuck you with your bigotry!

Mau ambil contoh apa lagi? Syria—jangan bilang komunitas pro-Palestina tak peduli! Afrika Tengah—jangan bilang komunitas pro-Palestina tak peduli. Ada banyak bukti kepedulian terhadap kasus Syria dan Afrika Tengah. Ya, di sana ada korban kemanusiaan, tapi tolong, bandingkanlah secara fair.

Saya tidak melhat ada bangsa yang bernasib lebih malang daripada orang-orang Arab di Palestina dan orang-orang Rohingya di Myanmar. Ada bangsa Turkistan di barat Cina, atau bangsa Moro di Filipina, tapi—tanpa menafikan penderitaan mereka—nasib mereka masih lebih mendingan. Ini kalau menggunakan perbandingan.

Yah, itulah. Saya akan himbau, wahai manusia, pedulilah pada Palestina. Jika menggunakan pandangan agama, lihatlah di sana ada umat agama engkau yang terganggu. Jika tak mau menggunakan agama, lihatlah bahwa di sana ada kemanusiaan yang terganggu! Tidakkah hal ini menggugah diri? Atau, kalaupun tak mau peduli, sudahlah jangan ganggu pula orang-orang yang peduli dengan komentar-komentar tak pentingmu tentang kepedulian itu. Ini konflik multidimensi. Dukunglah sebagian umat Islam yang peduli Palestina karena agama mereka, dukunglah sebagian umat Nasrani yang peduli karena agama mereka, dukunglah sebagian umat Yahudi yang peduli karena agama mereka, dukunglah penganut agama lain yang peduli karena ajaran agama yang mereka yakini. Dan dukunglah mereka yang meyakini Palestina adalah persoalan kemanusiaan yang tak mungkin diabaikan.

Bahan Bacaan

Seorang insan pers, Timothy Marbun, memuat terjemahan wawancara yang dilakukannya dengan Duta Besar Palestina untuk Indonesia. Saya pikir, wawancara ini akan membuka mata hati karena memang terungkap apa yang tidak bisa diungkapkan di tempat lain. Kalau ingin lebih afdhal, silakan kunjungi blog yang bersangkutan di sini:

http://timmarbun.wordpress.com/2014/07/15/apa-yang-tidak-anda-lihat-di-media-tentang-gaza-wawancara-dengan-dubes-palestina-fariz-mehdawi/

Bahan bacaan lain yang saya sukai adalah twit dari Ali Abunimah di Twitter, serta artikel-artikel di Electronic Intifada. Ada banyak sekali sumber lainnya, di era seperti sekarang kita akan rugi sekali kalau tidak pernah melihat atau membacanya.

Dokumenter

Dokumenter tentang Palestina saya rasa banyak juga. Saya tidak pernah menonton semua dokumenter yang ada, tapi satu yang menjadi favorit saya adalah Budrus. Budrus ini nama sebuah desa di Palestina, rakyatnya melakukan protes atas upaya penjahat Israel yang membangun tembok apartheid yang menyebabkan tanah dan kebun milik warga desa tersebut dibuldoser. Dokumenter ini menunjukkan bagaimana aksi protes damai itu dilakukan.

Berikut ini trailernya yang ada di YouTube.


#FreePalestine #SaveGaza Allahu Akbar!

Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Saya sebenarnya bukan orang yang akrab dengan laut. Saya orang pegunungan–dibesarkan di kota Bukittinggi yang dikelilingi gunung. Walau laut pernah jadi bagian masa kecil saya semasa tinggal di Padang 1988-1990, itu cuma sepintas, dan memori saya tentang laut dari masa itu tidaklah banyak. Dengan latar sedemikian, jelas pengetahuan saya tentang laut tidak banyak.

Apalagi cinta saya pada laut. Sejauh ini mungkin cuma sebatas menikmati keindahan senja di balik bentangan samudra.

Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2, pilihan saya jatuh ke Magister Ilmu Kelautan UI. Sejujurnya, ini pilihan nekad dan tanpa banyak pertimbangan. Tadinya mau ke Fisika, tapi untuk masa penerimaan semester genap tidak ada penerimaan untuk jurusan Fisika. Akhirnya saya lihat-lihat jurusan apa saja yang tersedia di FMIPA, ternyata ada Magister Ilmu Kelautan, dengan salah satu pilihan peminatan Sains Fisik Kelautan. Begitu melihat mata kuliahnya cukup banyak berkaitan dengan fisika kebumian, saya putuskan untuk mendaftar. Dan ternyata diterima. Wah!

Sekarang hampir 3 bulan berlalu sejak kuliah hari pertama dimulai. Dan ternyata, saya masih bertanya-tanya kenapa saya mengambil kuliah magister kelautan ini. Seperti yang tadi saya bilang, pilihan ini tidaklah dipikirkan secara matang. Jawaban yang muncul dari hati terlalu klise dan ideal: yang penting dapat ilmunya. Saya ingin puas dengan jawaban ini, tapi saya sungguh takut ketidak-idealan dunia ini merusak semuanya. Ilmunya didapat, lalu apa?

Kalau kata Letto, “Tapi, kusadari bukan itu yang kucari …”

Saya ingin menemukan hal menyenangkan baru. Dulu di ITB, kesenangan itu ada di luar angkasa sana. Astronomi, yang sampai sekarang “kecupannya” masih membekas. Yah, walaupun di sana yang terjadi hanyalah kisah kasih tak sampai. Lalu di Unand, saya menemukan kesenangan pada bumi. Kenapa di bumi bisa terjadi gempa adalah salah satu bahasan dalam skripsi saya, dan kuliah yang terkait adalah kuliah favorit saya.

Sekarang di UI. Laut. Bahwa kenyataan negeri Indonesia–yang nenek moyangnya seorang pelaut ini–adalah negara lautan yang meremehkan potensi kelautannya sendiri sudah mulai mengusik benak saya. Bahwa El Niño, La Niña, panasnya beberapa provinsi di Indonesia padahal sedang musim hujan dll itu penjelasannya ada di laut mulai menarik perhatian saya. Saya ingin bersenang-senang dengan ilmu tentang laut ini.

Mungkin sembari memikirkan apa yang akan saya lakukan dengan ilmu ini nantinya, ya?

Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan–yang kuyakin kau tak ingin aku berhenti. Itu kata Letto lagi.