Pacu Jawi di Rambatan, 23 Juni 2018

Pacu jawi adalah kata bahasa Minang yang dapat diterjemahkan sebagai pacuan/balapan sapi. Walaupun demikian, jangan membayangkan pacu jawi itu mirip seperti pacuan kuda, ataupun karapan sapi ala Madura. Dalam acara pacu jawi, sapi dikendalikan oleh joki, namun para joki+sapi tidak saling adu kencang susul menyusul dengan joki+sapi lainnya. Pacu jawi lebih merupakan ajang memperlihatkan ketangkasan joki dalam mengendalikan sepasang sapi yang berlari kencang. Joki yang hebat bisa mengendalikan sapi hingga sapinya berlari dengan lintasan lurus sejauh mungkin (biasanya panjang lintasan sama dengan panjang sawah). Tidak untuk mencari siapa yang sampai duluan di garis finish. Tidak untuk mencari siapa juara.

Bagi masyarakat kabupaten Tanah Data, provinsi Sumatra Barat, kegiatan pacu jawi merupakan kegiatan umum. Pacu jawi adalah salah satu cara bersenang-senang di sawah menjelang dimulainya musim tanam. Banyak anak nagari (pemuda desa) di beberapa tempat di kabupaten itu yang melakukannya, terutama di nagari-nagari sekitaran Batu Sangka (Sungai Tarab, Limo Kaum, Rambatan hingga Pariangan).

Tidak ada yang tahu persis bagaimana sejarah munculnya kegiatan pacu jawi ini. Namun saya membayangkan sebagai berikut:

Alkisah, beratus tahun yang lalu, hiduplah para petani di sebuah nagari di kaki gunung Marapi. Nagari itu sendiri telah ada sejak ratusan tahun sebelumnya lagi, atau bahkan mungkin telah ada semenjak gunung Marapi masih sebesar telur itik. Warga nagari hidup damai sebagaimana umumnya orang desa nan bersahaja. Penghidupan mereka adalah bertanam padi, sayuran dan juga beternak sapi ataupun kerbau. Di musim penghujan mereka mulai bertanam padi, dan di musim kemarau memanen hasilnya.

Menjelang musim tanam tiba, tentunya sawah harus dibajak dulu. Seringkali para lelaki muda yang disuruh membajak, dengan bantuan kerbau dan sapi. Namanya anak muda, mereka cepat bosan dan di masa itu belum ada aplikasi maupun game online khusus anak alay. Mereka bosan kalau hanya disuruh membajak. Membajak sawah pagi hari, paling-paling sebelum zuhur sudah kelar. Lah sorenya ngapain? Daripada hidup monoton datang ke sawah cuma untuk membajak (dan sapinya cuma pergi makan lalu jalan mondar mandir), kan lebih baik mereka bersenang-senang sedikit.

Salah satu dari anak-anak muda itu tentulah jenius, dan terbetik di pikirannya untuk berdiri di atas bajak (yang masih terikat ke sapi), memegang buntut sapi, lalu memaksa sapinya berlari dengan menggigit buntut sapi itu sekeras-kerasnya. Sapi berlari kencang dan lumpur sawah bercipratan menghasilkan sensasi yang seru. Si jenius lalu terjerembab ke lumpur karena hilang kendali dan ditertawakan teman-temannya, namun mungkin ada di antara temannya itu yang ikutan mencoba, sekalian ingin lihat sejauh mana ia bisa mengendalikan sapi yang sedang berlari kencang. Dan pada akhirnya, anak-anak muda itu berlomba, saling adu ketangkasan.

Salah satu cara mengendalikan sapi yang tampak seru.

Aksi anak-anak muda itu rupanya ikut menarik perhatian seisi kampung. Mereka menonton atraksi itu dari pematang sawah. Gadis-gadis histeris karena lelaki-lelaki muda itu tampak macho. Anak basket apalagi anak tiktok mah ga ada apa-apanya. Pedagang sate dan ubek tawa yang kebetulan lewat juga akhirnya singgah karena melihat ada keramaian yang menguntungkan. Karena seru, atraksi pacu jawi disepakati dilakukan lagi di awal musim tanam berikutnya dan berikutnya.

Demikianlah, atraksi pacu jawi itu lalu berkembang ke berbagai nagari dan lestari hingga kini.

What’s so great about pacu jawi?

Pertanyaan ini memang muncul di benak saya, saat pertama kalinya melihat foto atraksi pacu jawi di salah satu media sosial. Untuk foto, ya, itu foto yang sumpah keren banget. Ekspresi joki pacu jawinya tampak jelas, kecepatan lari sapinya tergambar apik, cipratan lumpur menambahkan sensasi menarik dan menegangkan pada foto. Foto-foto kegiatan pacu jawi ala kabupaten Tanah Data Sumatra Barat ini, dalam pikiran saya, jauh lebih menarik daripada foto balapan sapi/kuda dari daerah lain.

Tapi foto bisa saja berakhir sekedar foto. Sebuah gambar.

Saya penasaran, kok foto pacu jawi ini jadi hits di kalangan fotografer asal Sumatra Barat, dan kemudian merambat sampai ke fotografer mancanegara. Foto-foto pacu jawi juga jadi juara di berbagai lomba foto nasional maupun internasional. Maka saya pun berniat ikut menonton dan memotret atraksi pacu jawi, yang akhirnya bisa terealisasi tanggal 23 Juni 2018 lalu. Atraksi pacu jawi hari itu diadakan di nagari Padang Magek, kecamatan Rambatan, kabupaten Tanah Data.

Untuk menuju ke sana, dari Bukik Tinggi kampung halaman saya, saya berangkat menumpang angkutan umum tujuan Batu Sangka (via Padang Panjang), kemudian turun di simpang Rambatan. Dari simpang Rambatan itu saya berjalan santai sambil menikmati pemandangan sejauh sekitar 2 km hingga akhirnya tiba di pasar Rambatan, di nagari Rambatan, kecamatan Rambatan. Nah, nagari Padang Magek masih berjarak sekitar 2 km lagi, jadi dari pasar Rambatan itu saya menumpang ojek yang mengantar langsung ke lokasi acara di dekat tempat bernama simpang Gobah.

Belakangan saya baru tahu bahwa simpang Gobah itu terletak di jalan raya penghubung Batu Sangka dengan Ombilin (danau Singkarak). Kalau demikian adanya, berarti untuk menuju simpang Gobah itu dengan angkutan umum bisa langsung dari Batu Sangka naik bus kecil tujuan Solok. Jika anda dari arah Solok atau dari danau Singkarak (Ombilin), bisa naik bis arah sebaliknya. Tidak perlu jalan kaki terlalu jauh ataupun menumpang ojek.

Setiba di lokasi, saya langsung nyari spot nonton plus motret yang enak. Tapi keadaan sangat ramai, karena kebetulan masih momen liburan Idul Fitri sehingga banyak perantau asal Padang Magek maupun masyarakat daerah lain yang menonton. Susah juga kalau saya memotret dari di tepi lintasan yang dijadikan tribun untuk penonton. Yang enak dan sepi adalah di spot yang dipakai para pemotret, yaitu di bagian depan lintasan.

Tantangan pertama: ke spot itu harus melintasi sawah yang basah karena baru akan ditanami. Tak bisa lewat pematang, karena pematang sudah dipenuhi orang. No problem. Lepas sepatu, singsingkan celana, masuk ke lumpur. Siapa takut? #SayaTidakTakut #BeraniBerlumpurHebat

Fotografer resminya panitia. Huhu, pengen punya kamera seperti itu …

Saya tiba di spot pemotret. Tantangan kedua adalah perlengkapan fotografi para pemotret. Wuah, pada pakai lensa dan kamera keren. Yang harganya puluhan juta itu lho. Apalagi turis foto dari luar negeri (banyak yang dari Jepang). Saya minder dong, lha saya cuma pake kamera imut yang kalau lensanya dilepas jadi mirip kamera saku. Saya pakai kamera mirrorless Nikon 1 J5, dan lensanya saya pakai RMC Tokina 35-135mm F4:4.5 Zoom Macro. Ini lensa buatan tahun 70an. Kira-kira analoginya begini: lensa si orang Jepang dan fotografer lain itu robot modern di jaman Star Trek, sedangkan lensa saya adalah kapak perimbas jaman dinosaurus. Tapi yah, no problem lagi. Tinggal pasang muka cuek.

Hmm asik juga pencet-pencet shutter. Hanya saja karena pakai kapak perimbas lensa purba, susah juga ngatur fokusnya. Tapi asyik, sekalian melatih ketelitian saya dalam menentukan fokus obyek sambil menentukan angle dan momen yang tepat.

Tantangan satunya lagi adalah … sapi yang lari kencang. Karena saya berdiri di depan lintasan (sekitar 10m di depan batas sawah tempat finish pacu jawinya), maka harus siaga kalau-kalau si jawi berlari terus. Meskipun tempat saya berdiri tingginya sekitar 1m, sapi yang lari kencang ini bisa dengan mudah melompatinya. Alhasil, saya harus siaga, segera lari kalau si sapi ga mencet rem meskipun udah lewat garis finish. Apa gunanya dapat foto bagus kalau tulang awak remuk ditanduk jawi.

Orang itu hampir diseruduk sapi. Untung sapinya sempat ngerem.

Nah, urusan ditanduk jawi ini yang akhirnya … wew. Saat saya memutuskan untuk selesai dan kemudian menyingkir dari sawah, rupa-rupanya ada sapi yang lari dengan kondisi rem blong. Persis menuju ke arah saya. Panik! Panik! Panik! Saya lompat menghindar, lalu jatuh terduduk sambil tangan saya terangkat ke atas agar kamera yang sedang dipegang tidak tercebur ke lumpur. Lengan atas saya sempat tersenggol kepala sapi. Ya Allah ya rabbi, untung tidak ditabrak. Kamera juga selamat. Fiuhhh.

Tapi celana jadi kotor. Gimana ini cara saya pulangnya? Saya kan naik angkutan umum … 🤔

Nanti saja dipikirkan. Siram celana sedikit di kolam trus beranjak pulang. Itu pun pulangnya repot karena berikutnya turun hujan lebat dan sudah sore pula. Angkutan umumnya sudah langka. Tapi yaa, untungnya masih dapat kendaraan pulang. Naik bis dengan kondisi badan bau lumpur, mana penumpangnya ciwi-ciwi yang baru habis piknik pula haha. Bodo amat 😅

Pengalaman seperti itu rupanya yang membuat pacu jawi ini menarik. Untuk foto, penentuan angle dan momen itu tidak terlalu mudah juga. Kalau pakai kamera modern mungkin sangat terbantu dengan autofokus yang cepat. Tapi dalam kasus saya, menggunakan lensa manual itu memberikan tantangan sulit. Dari seratusan foto, hanya sekitar 20an yang boleh dibilang bagus hihi.

Itu pun masih jauuuh kalah dengan foto-foto para profesional. Lha iya lah, saya kan cuma fotografer cupu. namun bagi saya yang penting: foto-fotonya lebih dari sekedar gambar.

Di bawah ini slide foto-foto yang saya suka.

This slideshow requires JavaScript.

Tahun depan insya Allah ikutan nonton pacu jawi lagi 🤠

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.