Solo-Trip Pekalongan & Pemalang (2-3 Januari 2017)

Setelah sekian lama ingin menulis kembali di blog ini, akhirnya ada juga sebuah ide tentang apa yang akan ditulis. Daripada tak ada isinya, kenapa tak saya ceritakan saja perjalanan iseng saya di awal Januari 2017 lalu?

Okay. Ini dia.

Ini bukan cerita jalan-jalan yang waw keren bingits seperti yang ditulis banyak travel blogger di luar sana. Sejak awal prosesnya sudah aneh, dan terasa seperti tanpa arah. Walau demikian, di akhir perjalanan saya merasakan ada kepuasan.

Awalnya dari sini. Sepanjang pekan terakhir Desember 2016 itu, saya sedang disibukkan dengan revisi tesis, setelah sukses (?) menjalani ujian sidang magister tanggal 22 Desember 2016. Biasanya saya mengerjakan revisi tesis di tempat kerja, berhubung kegiatan belajar-mengajar sedang vakum. Beberapa teman yang biasa berdiskusi mengobrol di kantor sedang pulang kampung dan ada juga yang sedang jalan-jalan, jadinya kantor agak sepi dan saya bisa bekerja dengan tenang. Tapi proses pengerjaan revisi tesis berlangsung sedemikian membosankan dan saya menjadi suntuk. Harus mencari hiburan, tapi apa? Saat itulah terpikir, kenapa tak pergi jalan-jalan saja di awal tahun nanti?

Benar juga, saya butuh jalan-jalan. Pertanyaan berikutnya, ke mana? Bandung? Males banget lah ke Bandung di musim liburan seperti saat itu. Ramai, sumpek. Ke tempat yang agak jauh dan rasa-rasanya tak terlalu ramai saja.

Pekalongan melintas di benak. Meskipun berada di Jawa Tengah, tapi hitungannya tak begitu jauh dari Jakarta, hanya sekitar 4-5 jam perjalanan dengan kereta api. Tiket kelas ekonomi juga relatif murah, kalau dibandingkan dengan ongkos ke Bandung ya secara real jelas lebih murah ke Pekalongan. Tanpa pikir panjang saya mencari ketersediaan tiket di beberapa aplikasi online. Ternyata kereta ekonomi hampir semuanya penuh, kalaupun ada ya di jam yang tidak menyenangkan untuk sebuah perjalanan dadakan. Namun, rupanya aplikasi T****e***a menyediakan fasilitas waiting list tiket. Jadi tetap bisa pesan walaupun kereta penuh. Kalau misalnya terjadi pembatalan tiket oleh orang lain, otomatis penghuni waiting list mendapat kesempatan untuk memesan tiket.

Saya ambil saja satu pesanan tiket waiting list. Saat itu 28 Desember 2016. Tiket yang saya pesan untuk tanggal 1 Januari jam 23.45. Sengaja pilih jam berangkat malam agar sampai di Pekalongan saat subuh dan bisa langsung main.

Awalnya saya agak pesimis, tak yakin akan dapat tiket dengan cara begini. Jadi saya tak berharap banyak. Sudah pasrah saja, palingan jalan-jalannya batal. Gambling.

Tapi ternyata beberapa jam kemudian saya mendapat notifikasi bahwa pemesanan tiket saya berhasil. Jadinya saya malah pusing sendiri. “Lha beneran ini mau ke Pekalongan? Terus saya ntar ngapain di sana?” pikir saya. Haha.

Batalin aja gitu tiketnya?

No! I need vacation!

Selama seharian itu pikiran bolak-balik, pergi-tidak-pergi-tidak. Sambil lanjut revisi tesis.

Besoknya saya mencari informasi tentang Pekalongan, tempat wisatanya dan juga tempat menginap. Sudah terbayang beberapa hal yang bisa saya lakukan di sana nantinya. Sekalian menentukan waktu dan cara pulangnya. Kalau jadi pergi, masa’ cuma sehari? Kalau 2 hari, bisa sehari wisata kota Pekalongan dan sehari laginya wisata alam di kabupaten Pekalongan. Tapi belakangan saya malah ingatnya Pemalang. Pekalongan ini sebelahan dengan Pemalang, dan seorang teman sedang pulang ke Pemalang. Rasanya bagus juga kalau sekalian jalan-jalan ke Pemalang. G, teman yang cah Pemalang itu, bisa sekalian diajak ๐Ÿ˜.

Saya akhirnya memesan tiket balik ke Jakarta melalui stasiun Pemalang serta mengubah rencana dari yang tadinya hanya kota & kabupaten Pekalongan, sekarang jadi kota Pekalongan & kabupaten Pemalang. Dapat tiket berangkat balik dari Pemalang tanggal 3 Januari 2017 jam 22.50. Saya juga sudah cari hotel murah di Pekalongan, ketemu hotel 300ribuan per kamar per malam yang didiskon sehingga saya hanya perlu bayar 120ribu saja semalam. Asyik ๐Ÿ˜„.

Izin kerja? Ga usah ah, nanti saja diatur. Saya juga ga bilang ke teman-teman kalau mau jalan-jalan. Selain niatnya toh mau jalan-jalan sendirian, saya juga malas kalau nanti ada yang cia cie cia cie.

“Cieeee ke Pemalang!”

Hmpf.

Fix. Berangkat dari Jakarta 1 Januari 2017 jam 23.45. Balik dari Pemalang tanggal 3 Januari 2017 jam 22.50. Artinya, saya bisa jalan-jalan tanggal 2 di Pekalongan, tanggal 3 di Pemalang.

Ngapain aja nanti di Pekalongan? Main aja di kotanya ๐Ÿค”. Ngapain aja ntar di Pemalang? Gak tau, nanti tanya si G aja, haha ๐Ÿ˜…

Dan kemudian tahun pun berganti.

1 Januari 2017

Sepanjang siang saya menyiapkan kamera, packing, dan menyelesaikan beberapa bagian revisi tesis, agar setelah kembali ke Jakarta tak terlalu dipusingkan kembali oleh tesis ini. Pamit ke kakak dan sepupu. Malamnya saya berangkat.

Di kereta, seperti biasanya saya akses dunia online via HP. Antara lain ketemu sebuah gambar yang di-share teman. Tentang kesendirian.

whatsapp-image-2017-01-03-at-21-14-29

Saya agak jarang tertohok oleh kata-kata motivasi dari Facebook. Tapi yang ini lumayan membuat saya berpikir ulang tentang impian-impian masa depan, dan perjalanan kecil yang sedang saya lakukan.

Lalu saya tertidur.

2 Januari 2017

Jam 5 pagi baru tiba di stasiun Pekalongan. Bersih-bersih badan sedikit, lalu shalat subuh. Sekitar jam 6 saya keluar stasiun dan mencari warung untuk sarapan. Jadinya beli bubur ayam saja. Selesai makan, lanjut naik angkot ke … nah lho, mati kau Ed, mau ke mana? Wkwk. Tapi angkotnya ke arah pantai. Ya sudah saya ke pantai. Turun angkot langsung masuk ke Tempat Pelelangan Ikan, lihat-lihat proses bongkar ikan dari kapal nelayan. Karena saya kuliah di Ilmu Kelautan UI, saya sedikit tahu bahwa Pekalongan merupakan salah satu sentra perikanan yang baik di Pantura. Lihat suasana di sana, sepertinya memang pengelolaan pelabuhan ikannya bagus. Mau sekalian ajak orang ngobrol, tapi pada sibuk semua di sana, ya sudah saya lihat-lihat saja sambil memotret.

Puas di TPI, pindah ke taman wisata bahari di sebelah TPI itu. Bayar tiket 3000 lalu, hm, seperti sudah diduga pantainya biasa aja. Pantura sih ya. Sepanjang Pantura adalah area sibuk sehingga pantainya relatif tercemar. Dan laut Jawa bukan merupakan laut terbuka, jadi ombaknya tidak terlalu besar. Sangat berbeda dengan pantai selatan, seperti di pantai Menganti, Kebumen, yang eksotis. Tapi setidaknya di taman itu ada spot enak buat duduk-duduk menikmati angin pagi, sambil lihat-lihat beberapa warga yang sedang memancing.

Di dalam kompleks wisata bahari itu juga ada semacam museum perikanan. Tempat itu memang dikelola kementrian kelautan dan perikanan, jadi wajar lah ya. Masuk ke dalamnya bayar lagi 4 ribu. Di lantai satu ada beberapa aquarium berisi berbagai jenis ikan. Di lantai dua ditampilkan beberapa jenis kapal dan alat tangkap ikan di laut.

Udahan ah, lanjut. Saat itu sekitar jam 09.30. Saya mau ke museum batik. Naik angkot dari pelabuhan dan nantinya langsung turun di depan museumnya, jadi cuma sekali naik angkot. Sebelum masuk ke museum, saya duduk-duduk dulu di taman depan museum. Jalanan di sana tidak terlalu ramai, dan satu hal yang saya rasa menarik adalah kebiasaan beberapa warga yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Bagus. Semoga pemerintah daerahnya cukup pintar. Pemerintah yang pintar akan membuat warganya tetap senang bersepeda, bukan cuma membangun fasilitas untuk kendaraan bermotor.

Sambil nongkrong saya memesan es cendol. Mas penjual es cendolnya ikutan duduk di kursi taman, mengajak saya mengobrol. Topiknya tentang batik. Wajar, slogan kota ini kan “Pekalongan Kota Batik”. Dari mas itu saya baru tahu, seorang sosialita kenamaan adalah orang Pekalongan dan dia memiliki usaha butik batik di Jakarta. Ia sering datang ke Pekalongan untuk mengambil barang jualan butiknya. Mas penjual cendol juga menunjukkan tempat-tempat untuk mencari batik yang bagus dan murah di Pekalongan.

Saya kemudian masuk ke museum batik. Tak banyak pengunjung hari itu. Karena saya datang sendiri, tidak diberi guide oleh pihak museum, padahal kalau saya baca di beberapa blog katanya bakal dikasih guide. Yasudah tak apa. Isi museum cukup menarik karena memaparkan sejarah dan latar belakang sebuah motif batik, juga menunjukkan ciri khusus batik Pekalongan dibandingkan dengan batik dari daerah lain. Saya aslinya tak terlalu suka batik, tapi apa yang ditampilkan di museum itu menarik.

Puas di museum, saya kemudian berencana ke alun-alun. Shalat zuhur sambil mendinginkan badan di masjid alun-alun, kemudian ke pasar batik Setono. Ke pasarnya naik becak. Agak mahal memang, tapi saya hitung sebagai sebuah upaya berbagi rezeki ke bapak pengayuh becaknya. Di pasar yang mengingatkan saya pada pasar Aua Kuniang di Bukiktinggi itu saya membeli beberapa pakaian batik untuk dipakai sehari-hari oleh keponakan-keponakan saya, baik yang di Jakarta maupun yang di kampung halaman.

Selesai belanja batik, kemudian saya ke hotel. Hotelnya di depan stasiun Pekalongan, jadi tak sulit dicari. Tidur-tiduran, lalu mandi.

Sorenya main lagi aja ke pantai. Semoga dapat sunset. Tapi ternyata cuacanya tidak bagus. Sayang sekali. Saya kembali ke alun-alun untuk shalat maghrib dan makan malam, dan pulang ke hotel.

Di hotel merencanakan agenda di Pemalang. Setelah beberapa lama googling, saya menemukan sebuah tempat yang sepertinya menarik dan mudah dijangkau: jurug (curug/air terjun) Bengkawah. Terletak di kecamatan Randudongkal, kabupaten Pemalang. Baiklah, besok kita ke sana.

Tadinya mau menghubungi G juga, tapi akhirnya ga jadi. Mau bilang apa, mau ngajak dia ikut? Yang bener lah, jalan berdua dengan seorang perempuan. Saya memang oke saja (dan sering) jalan-jalan bareng beberapa perempuan, tapi sejauh ini tak pernah jalannya berdua saja.

Memang ada keinginan jalan bersama G, tapi serasa ada yang berbisik. “Jangan!”

Teringat gambar dari akun Bilal Phillips itu tadi.

Dan kalau cuma sekedar bilang ke dia bahwa saya mau ke Pemalang, ya besok sajalah bilangnya. Kembali ke judul awal perjalanan ini: solo travelling.

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera tertidur.

3 Januari 2017.

Shalat subuh lalu mandi. Dan segera check-out dari hotel. Mau cari angkutan untuk ke Pemalang, tanya-tanya orang kok ya simpang siur—tapi sepertinya karena saya salah nanya. Saya tanya “cara ke terminal Pekalongan yang ada bis ke Pemalang”, karena tadinya mengira bis ke Pemalang bisa dinaiki di terminal Pekalongan. Akhirnya seorang polisi menunjukkan tempat untuk menunggu bis arah ke Pemalang. Tak begitu jauh dari stasiun Pekalongan.

Yang saya naiki juga bukan bis ke Pemalang kota, melainkan bis kecil yang tujuannya ke Comal. Kondektur bisnya bilang silakan naik kalau ke Pemalang, nanti dicarikan bis sambungannya. Bayar Rp15.000 dan ternyata uang segitu sudah termasuk ongkos bis Pekalongan – Comal dan Comal – Pemalang. Baguslah.

Di Pemalang saya turun di tempat bernama Sirandu. Belakangan baru saya tahu kalau tempat itu adalah stadion, tepatnya stadion Mochtar Sirandu. Di sana ada bis dari Tegal arah ke Moga, dan kondekturnya bilang lewat Randudongkal. Jadi saya naik. Perjalanannya tidak jauh, kurang lebih sejam sudah sampai di Randudongkal. Dan pemandangan sepanjang perjalanannya indah.

Jam 9 pagi bis yang saya tumpangi sudah tiba di Randudongkal.

Ke sana Pemalang, ke sini Pemalang juga.

Ke sana Pemalang, ke sini Pemalang juga.

Sarapan dulu di pasar Randudongkal. Ada makanan sejenis lontong yang enak di sana. Selesai sarapan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki ke jurug Bengkawah. Menurut cerita-cerita di berbagai blog, memang jurugnya tidak jauh dari pasar Randudongkal itu. Melewati rumah-rumah warga desa dan setelah itu masuk ke area persawahan.

Waktu melintas di desa, ada seorang bapak yang bicara dalam bahasa Jawa dan bahasa Jawanya saya tidak mengerti, mungkin ngapak ala Pemalangan. Tapi sedikit banyak bisa menangkap maksud si bapak (karena ada beberapa kosa kata dalam bahasa Indonesia), bahwa beberapa hari lalu ada orang-orang yang pacaran ke sana dan ada musibah.

Waktu melintasi persawahan ada cerita lain lagi. Seorang ibu saya sapa dan saya tanya arah ke jurug, lalu beliau menunjuk dengan tangannya. Ia kemudian berbicara dalam bahasa Jawa yang juga terdengar aneh. Karena tak paham, saya bilang, “Maaf bu, saya tak mengerti bahasa Jawa.” Si ibunya kemudian bilang, “Oooh. Gini lho, masnya kok sendirian aja.”

Haish ๐Ÿ˜ค ๐Ÿ™„

Gue emang jomblo, trus nape? Mau jadiin gue menantu? Wkwk. Tentu saja saya tak bilang begitu ke ibunya. Cuma ketawa kecil aja. Biterhamend. Bibir tertawa hati mendangis (hilangkan huruf ‘d’ yang memang tak berguna di sini).

Tapi pemandangan sawahnya cantik. Banget. Seperti kamu. Di daerah yang dekat jurug, area persawahannya menurun membentuk lembah. Di ufuk tampak barisan bebukitan yang entah namanya apa. Saya tak tahu gunung Slamet ada di mana, tapi seharusnya kawasan persawahan itu berada di sekitar gunung Slamet. Langit biru, tanaman padi di sawah yang dalam proses berubah dari hijau ke kuning, serta bukit hijau yang sedikit memantulkan kemilau mentari sungguh menyenangkan untuk dilihat. Beberapa kali saya berhenti untuk memotret. Kalimat syukur tak lupa terucap.

Saya tiba di area jurug dengan ditemani seorang warga lokal. Si mas ini bercerita, sekitar 2 hari sebelum saya datang itu ada orang-orang yang datang ke jurug, dan terjadi bencana. Ada dua orang yang hanyut dan diketemukan meninggal. Jadi area jurug itu sebenarnya ditutup, tidak bisa dikunjungi. Tapi kalau mau sekedar lihat masih boleh, katanya. Saat tiba di jurugnya memang ada garis polisi yang menutup akses turun ke jurug dan sungainya, jadi hanya bisa lihat dari jauh. Setelah mengantarkan sampai batas garis polisi itu, saya kasih si mas sedikit uang rokok dan dia kemudian pergi, sedangkan saya mencoba menikmati suasana dari batas garis polisi. Camera on.

Rupanya di air terjun ada dua warga yang sedang memancing. Ah, akhirnya saya nekad turun dan mengabaikan garis polisi. Saya sapa salah satu bapak pemancing, dan mengajaknya mengobrol. Si bapak yang ramah ini kemudian bercerita tentang kejadian dua hari sebelumnya itu, dan beberapa saat kemudian bapak pemancing yang satunya mendekat dan nimbrung ikut bercerita. Jadi, si pengunjung yang jadi korban itu datang bersama pacarnya. Bersama beberapa temannya juga. Dan juga datang dari Jakarta, dapat info tentang jurug Bengkawah dari media sosial. Nah, si bapak sebagai warga lokal dan sudah biasa memancing di sana mengingatkan untuk tidak main di air jurug karena berbahaya, terlebih setelah hujan turun sepanjang malam. Tapi pengunjung ini ngeyel. Dan yah, ending-nya seperti tadi sudah diceritakan. Jenazah korban hanyut hingga sekitar 1 km dari jurug. Padahal kalau saya lihat, sungainya tak terlalu besar, tapi setelah memperhatikan dinding tebing sekeliling jurug, kelihatan jejak batas tinggi air jika debit sungai sedang besar. Si bapaknya yang menunjukkan pada saya batas itu. Memang bisa menghanyutkan.

Sekalian beliau berpesan kepada saya, kalau sedang berada di tempat orang lain, ada kewajiban untuk menghormati tuan rumah. Selalu jaga tata krama. Dan jangan sok tahu, ngeyel. Nah, walaupun etika seperti itu sudah saya ketahui sejak kecil, saat diingatkan kembali oleh si bapak, saya merasa senang.

Saya suka air terjun. “Every teardrop is a waterfall”, kata Coldplay. Saya menikmati deru air di jurug. Menikmati ketenangannya. Kalau dilihat-lihat, jurug ini bentuknya mirip di Amazon. Tentu saja saya tak pernah ke Amazon. Lha terus kenapa bilang suasananya mirip di Amazon? Hehe, biarin. Suatu saat ingin kembali lagi ke tempat ini. Bersama istri ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜๐Ÿ˜š. Ya nggak harus istri juga sih, bersama teman-teman juga seru ๐Ÿ˜…

Setelah puas memotret dan menikmati pemandangan, saya pamitan ke bapak-bapak pemancing, dan beranjak meninggalkan jurug. Menikmati kembali area persawahan, hingga kembali tiba di terminal Randudongkal. Istirahat sejenak sekalian shalat Zuhur di masjid dekat terminal. Lalu naik ke bis, kembali ke kota Pemalang.

Di bis yang ngetem lumayan lama itu, saya sekalian memikirkan mau main ke mana nanti di kota. Palingan ke pantai Widuri sih, yang dekat.

Saya putuskan menghubungi G via WhatsApp. Tanya cara ke pantai Widuri. Eh, dia (tampaknya sambil heran kenapa kok saya tiba-tiba ada di Pemalang) malah bilang pantainya tak ada bagus-bagusnya. Yah …

Saat ditanya ke mana alternatif lain yang bagus dikunjungi sambil nunggu kereta untuk balik ke Jakarta, G bilang gak ada juga. Yaudahlah ke Widuri aja, naik ojek, katanya. Lha piye ๐Ÿ™„๐Ÿ˜‘

Dan yah, demikianlah jadinya. Jam 3 sore tiba di kota Pemalang, lalu saya makan siang Nasi Grombyang di alun-alun, dilanjutkan shalat Ashar di masjid sebelah alun-alun. Selesai shalat, saya lihat-lihat durian yang dijual di sekitar alun-alun sejenak. Tadinya mau beli, tapi ternyata mahal. Batal deh.

Trus tanya beberapa orang gimana cara ke Widuri. Katanya cuma ada moda transportasi becak. Yaudah deh, naik becak lagi aja, seperti di Pekalongan. Dan si G ternyata benar, pantainya itu tidak bagus. Masih agak mendingan yang di Pekalongan kemarin. Yang diceritakan orang di internet (banyak yang bilang bagus) sepertinya area pantai yang masuk ke Widuri Waterpark, sebuah taman bermain di sana. Masuk ke sana bayar. Saya sih ke bagian pantai yang gratisnya wkwk.

Tapi biar tak begitu bagus, warga lokal tetap tampak menikmati main-main air di pantai. Saya akhirnya duduk-duduk mengamati sebuah suasana menarik: sebuah keluarga kecil menggelar tikar di pinggir pantai, menyeruput air kelapa muda, lalu anak-anaknya berenang di pantai. Itu mungkin yang disebut “bahagia itu sederhana”.

Angin sore berhembus lembut.

Jelang maghrib, saya kembali ke alun-alun Pemalang. Numpang mandi di kamar mandi masjidnya. Segar sekali rasanya setelah mandi. Selesai shalat maghrib, cari makan lagi di alun-alun. Ketemunya nasi goreng sih, tapi tak apa. Lalu kembali lagi ke masjid untuk shalat isya. Sementara itu hujan turun dengan deras. Selesai shalat saya selonjoran saja di beranda masjid, sambil menikmati bunyi rintik hujan.

Sekitar jam 9 malam itu, saya beranjak ke stasiun. Masih hujan memang, tapi ada payung. Tadinya mau jalan kaki karena saya pikir tak terlalu jauh, hingga akhirnya saya sadar sudah terlalu banyak jalan kaki selama 2 hari itu. Kaki mulai mengancam, seakan bilang “Naik becak atau copot!”. Oke, saya naik becak lagi.

Di stasiun menunggu kereta. Bosan juga.

Seorang perempuan yang duduk di belakang saya di kursi tunggu stasiun tiba-tiba mengajak saya ngobrol. Ia masih muda, rasanya seumuran dengan saya. Dari awalnya basa basi saling nanya tujuan, akhirnya jadi saling cerita. Well, dia yang cerita, saya sih lebih banyak mendengar sambil beberapa kali menanggapi.

Si mbak ini bukan orang Pemalang, dia ke Pemalang karena ada pesta untuk saudara iparnya yang menikah dengan orang Pemalang. Suaminya, yang bekerja di kapal, tidak ikut karena sedang melaut. Mbaknya ini belum lama menikah, tapi sebelumnya sudah pacaran dengan pria yang sekarang jadi suaminya itu. Secara terbuka si mbak menceritakan bahwa suaminya meminta dia pulang sendiri saja naik kereta, tidak bersama rombongan keluarga sang suami. Ada sedikit konflik antara sang suami dengan keluarganya, karena dulu saat menikah ada semacam penolakan dari pihak keluarga suami. Kata si mbak, keluarga suami (berasal dari suatu etnis di Indonesia timur) menginginkan pesta pernikahan yang “wah” dengan tujuan untuk “menjaga harkat keluarga” sesuai dengan kebiasaan di daerah asal. Sementara pernikahan itu sendiri, sesuai keinginan suami si mbak, berlangsung secara sederhana.

Si mbak juga menyampaikan pendapat-pendapatnya tentang kehidupan rumah tangga, hubungan dengan keluarga (terutama dengan mertuanya) dan beberapa hal lain. Sekalian memberi saya tips memilih istri.

Sebagai orang yang mengaku menikmati kajian sosiologi, saya menikmati mendengarkan cerita seperti ini. Tentu karena kisah orang lain ini mengandung pelajaran juga buat saya. Sayangnya, kereta yang akan membawa ke Jakarta datang. Gerbong yang saya dan si mbak tumpangi berbeda. Ceritanya berakhir deh.

4 Januari 2017

Shalat subuh di stasiun Pasar Senen. Lalu saya menuliskan kata “Alhamdulillahirabbil ‘alamin” dalam tulisan Arab di status Facebook.

Advertisements

2 thoughts on “Solo-Trip Pekalongan & Pemalang (2-3 Januari 2017)

    • Ho oh, Nip. Insya Allah diagendakan lah, entah ke Dieng via Purbalingga atau Wonosobo, atau ke mana gitu. Ini juga ada yg ngajakin naik ke Sindoro, hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s