Ibrahim Khalilullah

Di setiap momen Idul Adha, kisah tentang nabi Ibrahim (إبراهيم) AS selalu terdengar. Di antara 25 rasul yang diyakini umat Islam, nabi Ibrahim AS memang menempati posisi yang penting. Sebagai khalilullah (خليل الله), dan sebagai bapak para nabi. Dan penggalan kisah hidup nabi Ibrahim AS diimplementasikan dalam ritual ibadah Islam: Haji dan Qurban.

ibrahim_abraham1

Ritual haji antara lain menggambarkan bagaimana Hajar (هاجر‎‎), istri Ibrahim, berlari-lari mencari air di tengah gurun pasir antara bukit Shafa dan Marwa agar putranya, Ismail (إسماعيل), yang kehausan dapat segera diberi minum. Ritual itu sekarang dinamakan sa’i. Juga bagaimana Hajar mengusir Iblis yang berusaha menghalangi Ibrahim menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan Ismail. Hajar melempari Iblis dengan bebatuan, dan sekarang ritual melempar batu dinamakan rami al jamarat (رمي الجمرات).

Selain haji, ibadah lain yang dilakukan saat Idul Adha adalah menyembelih hewan qurban, yang menggambarkan peristiwa saat Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail. Perintah itu disampaikan melalui mimpi, dan Ismail dengan teguh meyakinkan ayahnya bahwa itu adalah perintah Allah. Ismail ikhlas untuk disembelih. Demikian juga ayahnya (setelah diyakinkan oleh Ismail) serta ibunya, Hajar, keduanya ikhlas untuk mematuhi perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Pada akhirnya Allah mengganti Ismail dengan seekor domba besar.

Selain kisah-kisah tersebut, ada kisah lain tentang Ibrahim yang sudah sepantasnya untuk selalu diingat oleh umat Islam. Ibrahim adalah nabi yang keimanannya dipuji oleh Allah SWT, yang oleh karenanya Allah sendiri yang menyatakan Ibrahim sebagai khalilullah, yang berarti kesayangan Allah atau sahabat Allah, dalam Al Quran surat An-nisa ayat 125. Keimanan Ibrahim kepada Tuhan yang Satu, Allah SWT, telah tampak sejak Ibrahim masih berusia muda. Ibrahim muda tidak mau mengikuti keyakinan bangsanya, bahkan orang tuanya sendiri, yang merupakan penyembah berhala.

Gambaran dewa Marduk. Gambar dari Wikipedia.

Gambaran dewa Marduk. Gambar dari Wikipedia.

Sebagian sejarawan meyakini Ibrahim hidup di jaman raja-raja penting di kawasan Mesopotamia. Ia hidup di kota Ur, di kerajaan Chaldea, yang sekarang merupakan bagian dari negara Iraq. Jika ditilik sejarah kerajaan-kerajaan di Mesopotamia, memang jelas bahwa bangsa-bangsa di sana menyembah berhala. Berhalanya bisa berupa raja mereka yang dianggap sangat hebat, atau wujud-wujud lain yang ada ceritanya. Misalnya dewa Marduk yang telinganya dibuat besar dengan makna dewa tersebut merupakan dewa bijaksana.

Ayah Ibrahim adalah seorang pemahat patung berhala. Kisah kecil berikut tidak saya ketahui tingkat kebenarannya (tampaknya ini kisah yang beredar di kalangan sufi), tapi menarik untuk diceritakan. Suatu kala Ibrahim diminta oleh orang tuanya untuk menjual berhala. Oleh Ibrahim, dalam promosi penjualan berhalanya diselipkan sebuah pesan bahwa menyembah berhala adalah suatu bentuk kebodohan. Kira-kira ia berseru seperti ini: “Siapa yang mau beli berhala? Berhala ini tak akan dapat menyakitimu. Bahkan ia takkan bisa melakukan apa-apa kepadamu. Ayo, siapa yang mau beli berhala?”:mrgreen:

Ada juga kisah lain yang lebih valid, yang diceritakan dalam Al Quran surat Al-Anbiya 57-68. Ibrahim menghancurkan berhala di sebuah kuil, kecuali sebuah berhala besar yang memang sengaja dibiarkan utuh. Ketika masyarakat melihat semua berhala di kuil hancur kecuali satu buah, mereka bertanya pada Ibrahim, siapakah yang telah menghancurkan berhala itu. Ibrahim menyuruh mereka bertanya saja pada berhala besar yang masih utuh dan di lehernya ada palu. Tentu saja mereka yang bertanya jadi masygul, bagaimana mungkin mereka bisa bertanya pada patung. Demikian cara Ibrahim menunjukkan betapa bodohnya penyembahan berhala pada masyarakatnya.

Bagi Ibrahim, Tuhan adalah sebuah wujud yang bisa diterima oleh logikanya. Maka, ketika ia bertemu malam dan ia lihat bintang-bintang, ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan. Ketika ia melihat Bulan menyinari malam, ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan. Ketika melihat Matahari yang besar dan terang, kembali ia bertanya-tanya mungkinkah itu tuhan. Semua pemikiran itu pada akhirnya terjawab sendiri oleh logikanya: ia tidak akan menyembah sesuatu yang bisa hilang. Tuhan itu haruslah selalu hadir. Matahari, bulan dan bintang semuanya tenggelam dan menghilang. Allah memberikan petunjuk-Nya kepada Ibrahim, dan Ibrahim berlepas diri dari mempersekutukan-Nya. Kisah ini terdapat dalam Alquran surah Al An’am 75-80.

Saya sangat menyukai kisah Ibrahim dalam pencariannya pada Tuhan ini. Betapa Ibrahim hanya mau beriman kepada sesuatu yang layak disembah. Bukan menyembah pada patung-patung yang kisah ketuhanannya direka-reka sendiri oleh manusia. Bukan pula pada benda-benda yang sekedar tampak ajaib seperti mengeluarkan cahaya di tempat gelap, atau memberi panas yang menghidupkan.

Di antara hikmah yang saya ambil dari kisah ini adalah: gunakanlah akal dalam beragama. Bukankah dalam Al Quran juga sering ditemukan Allah SWT berkata “tidakkah engkau (manusia) berpikir?”

Selamat Idul Adha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s