Hari Raya Astronomi: Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

Gerhana Matahari Total (GMT) telah terjadi tanggal 9 Maret 2016 pagi. Semua berjalan sesuai dengan prediksi para ahli perbintangan. Masyarakat Indonesia telah berbondong menyaksikan keajaiban alam tersebut, sebagian dengan mengiringkan takbir melaksanakan shalat gerhana. Timeline media sosial dipenuhi berita, video dan foto-foto gerhana.

Alhamdulillah. Momen ini memang sangat ditunggu oleh mereka, para peminat dan praktisi Astronomi. Saya bisa membayangkan dramatisnya peristiwa ini dari cerita teman-teman pemburu gerhana. Berpacu dengan waktu, bermusuhan dengan cuaca. Juga betapa bahagianya mereka yang bisa berbagi pengetahuan dengan masyarakat umum sejak beberapa hari sebelum gerhana. Berbagi itu sensasinya luar biasa.

Apa itu Gerhana Matahari Total

Saya rasa banyak yang sudah paham apa itu Gerhana Matahari Total (GMT), tapi tak ada salahnya diceritakan kembali. GMT ialah peristiwa tampak tertutupnya piringan Matahari secara penuh oleh piringan Bulan. Hal ini bisa terjadi jika dalam peredarannya di orbit, Bulan dan Bumi membentuk susunan segaris bersama-sama dengan Matahari. Urutannya Matahari – Bulan – Bumi. Dalam Astronomi, susunan segaris dikenal dengan istilah syzygy. Posisi Bulan harus cukup dekat dengan Bumi sehingga diameter piringan Bulan sedikit lebih besar dari diameter piringan Matahari.

Gambaran proses terjadinya Gerhana Matahari. Oleh Cmglee - Own work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=39077179.

Gambaran proses terjadinya Gerhana Matahari. Oleh Cmglee – Own work, CC BY-SA 3.0.

Posisi Bulan yang berada di antara Matahari dan Bumi menyebabkan makhluk hidup yang tinggal di Bumi merasakan cahaya Matahari terhalang, sehingga Matahari yang benderang itu menjadi gelap. Itulah gerhana matahari. Gerhana matahari selalu terjadi di fase bulan mati, yang artinya selalu terjadi di akhir/awal bulan qamariyah.

Walaupun susunan Matahari – Bulan – Bumi selalu terjadi setiap bulan qamariyah (29,5 hari sekali), gerhana tidak selalu terjadi setiap bulan. Hal ini dikarenakan lingkar orbit Bulan memiliki kemiringan sekitar 5°, sehingga Bulan tak selalu menghalangi cahaya Matahari. Namun peristiwa gerhana selalu terjadi setidaknya 2 kali dalam setahun, dengan tempat yang berpindah-pindah.

Adalah hal yang menakjubkan bahwa posisi bulan saat mengelilingi Bumi sedemikian rupa, sehingga ukuran Bulan saat dilihat dari Bumi kurang lebih sama dengan ukuran Matahari saat dilihat dari Bumi. Diameter angular Matahari berkisar antara 31’31” — 32’33”, sementara diameter angular Bulan berkisar 29’20” — 34’6″. Dengan ukuran yang hampir sama tersebut, saat Bulan menghalangi cahaya Matahari, piringan bulan dapat sepenuhnya menutup piringan Matahari dan menghasilkan GMT.

Fenomena GMT menghasilkan sensasi gelap yang hampir seperti malam. Di balik kegelapan itu, keindahan penciptaan semesta dipampangkan di depan mata. Piringan Matahari yang bercahaya benderang perlahan mengalami penggelapan mulai dari salah satu tepinya. Penggelapan semakin lama akan semakin besar, hingga Matahari tampak seperti kue dorayaki yang sedang dilahap Doraemon. Dan pada puncaknya seluruh permukaan Matahari yang terang itu tertutup, menyisakan kilau cahaya kecil yang menyelip sedikit dari balik piringan Bulan. Cahaya yang menyelip itu sepintas akan terlihat menyerupai berlian yang terpasang pada sebuah cincin. Saat Matahari benar-benar tertutup, yang tersisa untuk dilihat hanyalah pendaran cahaya dari korona serta (jika beruntung) beberapa prominensa.

Proses terjadinya gerhana matahari total dari awal hingga akhir, untuk momen GMT 1 Agustus 2008 dari Rusia. Dari Kalan - menggunakan 38 foto pribadi pemilik, CC BY 3.0

Proses terjadinya gerhana matahari total dari awal hingga akhir, untuk momen GMT 1 Agustus 2008 dari Rusia. Dari Kalan – menggunakan 38 foto pribadi pemilik, CC BY 3.0

Langka

GMT merupakan peristiwa langka walaupun sebenarnya yang namanya gerhana itu cukup rutin terjadi. Gerhana apapun, baik Matahari ataupun Bulan, selalu terjadi setidaknya dua kali dalam setahun. Astronom mengenal istilah “musim gerhana”, yakni suatu waktu ketika beberapa gerhana terjadi dalam selang yang berdekatan. Tapi jenis dan lokasi terjadinya gerhana bisa bermacam-macam. Jadi, satu gerhana cenderung akan berbeda karakteristiknya dengan gerhana lain.

GMT 9 Maret 2016 ini adalah GMT pertama di Indonesia di abad 21. Sebelumnya, terakhir kali Indonesia mengalami GMT adalah pada tahun 1995 yang lalu, itupun jalur totalitasnya hanya melintas di Halmahera. Pada 2009 di Indonesia juga dilintasi gerhana matahari, namun dari jenis Gerhana Matahari Cincin (GMC). Dalam banyak hal, gerhana ini sungguhlah spesial. Wajar jika antusiasme masyarakat tampak tinggi.

Foto GMT hasil pengamatan di Ternate oleh tim dari LAPAN. Kredit: Farahhati @ LAPAN

Foto GMT hasil pengamatan di Ternate oleh tim dari LAPAN. Kredit: Farahhati @ LAPAN

Tampaknya beberapa spot pengamatan GMT sukses mengabadikan momen yang dinantikan. Dari pantauan video streaming, pengamatan di Palu tampaknya sukses besar, demikian juga dengan di Ternate. Saya masih menantikan dirilisnya foto-foto berkualitas dari teman-teman pengamat baik dari ITB ataupun institusi lainnya, termasuk tim peneliti luar negeri.

Saya?

Saya tidak mengamati GMT secara langsung, hanya sempat menyaksikan sepintas Gerhana Matahari Sebagian (GMS) yang memang melanda Jakarta. Selebihnya saya menyaksikan dari display di studio Kompas TV, yang menayangkan livestreaming dari Jakarta, Palembang, Palu dan Ternate.

Eh, Kompas TV? Kok di sana?

Ya, pagi hari saat gerhana sedang berlangsung, saya memang hadir sebagai narasumber di stasiun TV tersebut. Ini di luar dugaan saya, tapi yah, demikianlah kejadiannya. That’s life😀 .

Inilah pengalaman terbaru saya. Merasakan suasana studio berita TV. Dengan host kenamaan pula: Timothy Marbun dan Glory Rosary🙄 . Lengkap dengan ritme cepatnya, sampai buang air kecil pun harus buru-buru karena jeda yang sempit:mrgreen:

Sejujurnya, saya agak “telat panas” di momen gerhana ini. Pada mulanya saya cenderung tidak antusias, merasa biasa saja dan cukup skeptis melihat upaya komersialisasi gerhana melalui program pariwisata. Belakangan saya sadar telah keliru. Animo masyarakat sedemikian tinggi dan sudah sepantasnya momen ini dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Walaupun tidak merasakan sensasi mengamati GMT di lapangan, saya tetap hampir menangis haru melihat display di studio yang menampilkan gerhana total lengkap dengan korona, Baily’s beads dan diamond effect. Saya memang belum pernah mengamati GMT, dan ketika menyaksikannya di display… whoa … perasaan buncah. Subhanallah. Kekuasaan Allah SWT sungguh besar, Ia tentukan jarak Matahari – Bulan – Bumi sedemikian rupa hingga pertunjukan gerhana ini bisa terjadi. Jika jarak ketiga benda langit tersebut tidak serupa yang sekarang, peristiwa gerhana yang kita amati akan sangat berbeda.

Oh ya, pengalaman mengamati dari stasiun TV ini membuat saya merasa tunai satu tugas: menyampaikan pesan keindahan sains kepada khalayak luas. Saat bercerita saya memang khawatir salah kata, atau terlalu kaku, tak jelas dll. Tapi saat bercerita itu saya coba menyampaikan apapun yang saya ingin orang lain tahu, tentang gerhana ataupun Astronomi secara umum.

Semoga Allah SWT menunjukkan saya jalan yang lurus.

One thought on “Hari Raya Astronomi: Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s