Fisika? Meh!

Kalau mendengar keluhan siswa terkait pelajaran Fisika, saya seringkali tak bisa berkata apa-apa.

Saya tak pernah beranggapan Fisika itu gampang—seandainya gampang, saya tak akan perlu pindah kampus tahun 2007 lalu. Tapi saya ingin selalu beranggapan Fisika itu menyenangkan. Fisika, bagi saya, adalah ilmu pengetahuan yang mengedepankan intuisi dan imajinasi; membuka mata pada besarnya implikasi dari hal-hal yang tampak remeh; dan terlebih lagi, menyadarkan pada betapa kecilnya manusia. Hanya di Fisika-lah orang mencoba menguak segala macam pintu rahasia, mulai dari pintu yang berukuran subatomik hingga pintu seukuran alam semesta.

ba12ef06b7466d49086472bdaf50f486

Tapi, kembali ke paragraf pertama, siswa-siswa ternyata lebih banyak yang mengeluhkan Fisika. Pelajaran tersulit, absurd, ribet, biang masalah. Belum lagi kalau gurunya juga ngajarnya ga jelas, wah lengkaplah penderitaan.

Kalau siswa bertanya bagaimana caranya belajar Fisika agar terasa asyik, jawaban saya palingan “cari hal-hal yang kamu anggap menarik, misalnya kenapa apel jatuh ke kepala rasanya menyakitkan”. Jawaban semacam itu tak memberikan pengaruh besar, ternyata.

Makanya, kalau siswa saya mengatakan Fisika itu blablablabla (komentar jelek semua), saya speechless. Saya pikir Fisika itu menarik, tapi banyak orang yang merasakan hal sebaliknya. Lalu kenapa bagi mereka Fisika ini tak menarik?

Filosofi Belajar

Apa gunanya belajar? Mencari ilmu. Untuk apa? Agar nanti dapat pekerjaan yang bonafid.

1119060_orig

Selesai sudah. Proses kreativitas berhenti di situ. Cukup belajar hingga kita bisa dapat nilai tinggi. Masuklah ke sekolah-sekolah favorit. Kuliah di kampus yang namanya besar. Lulus cepat dengan predikat terbaik. Pekerjaan bergaji besar menanti.

Dan tanpa disadari, hal seperti ini merusak otak siswa-siswa. Orientasinya adalah pada nilai di laporan akhir semester yang bagus serta rangking yang selalu teratas. Bukan pada pemahaman ilmu, kedalaman pengetahuan. Ditambah lagi dengan sekolah yang berburu prestise demi besaran dana bantuan dari pemerintah—suatu kekeliruan lain lagi. Sekolah “bagus” dana bantuannya besar, padahal seharusnya sekolah yang “jelek” yang perlu dibantu agar menjadi bagus. Belum lagi kalau sekolah “bagus” diserahkan pada pasar, seperti dahulu di masa kelam sekolah RSBI dan perguruan tinggi BHMN. Sekolah diberi standar ini itu dan kalau standarnya sudah bagus diberi kebebasan untuk menarik peserta didik seperti menarik konsumen. Tentu saja sistem ini menyebabkan sekolah “bagus” mengincar siswa yang orangtuanya berpenghasilan tinggi.

Puncaknya adalah ketika Ujian Nasional, kecurangan merebak ke mana-mana.

Dampak dari kelirunya filosofi belajar juga terdapat pada buku-buku teks. Untuk pelajaran Fisika, saya sering menemukan buku yang memberikan penjelasan terlalu mendalam, setingkat level penjelasan untuk mahasiswa tingkat 2 jurusan Fisika, atau setidaknya seperti yang diberikan pada siswa yang dilatih untuk olimpiade sains. Lebih parah lagi, ada buku teks yang memberikan soal yang sebenarnya sederhana, namun dengan angka yang sulit sehingga siswa mengalami kesulitan dalam melakukan perhitungan.

Rumus fisika bukan untuk dihafal. Rumus akan teringat sendirinya dengan pemahaman dan latihan yang tepat.

Rumus fisika bukan untuk dihafal. Rumus akan teringat sendirinya dengan pemahaman dan latihan yang tepat.

Ini ngawur. Anak sekolah menengah hanya membutuhkan pemahaman dasar. Ilmu Fisika yang mereka pelajari itu adalah Fisika dasar—seperti halnya Kimia dasar, Biologi dasar, Matematika dasar, Ekonomi dasar, Sosiologi dasar dan semacamnya. Mereka tak perlu sampai diberi penjelasan matematis yang berbelit. Mungkin mereka memang memerlukan mekanisme penurunan rumus agar rumus yang mereka pelajari diketahui asalnya dari mana, tapi berikanlah sesuai dengan kadarnya. Dalam belajar Fisika, sebenarnya bagian terpentingnya adalah memahami konsep atau teori, bukan kerumitan soal dan ketelitian perhitungan.

Ah, penulis buku dan juga guru yang memakai buku mungkin berbeda pendapat dengan saya. Tampaknya banyak kalangan yang berpendapat bahwa siswa yang sukses adalah siswa yang bisa menyelesaikan soal-soal kompleks, bisa menghitung angka desimal yang rumit. Dalam sistem pendidikan di Indonesia, kemampuan utama yang harus dimiliki siswa sejak SD adalah berhitung. Logika, imajinasi dan moralitas ditaruh di ember bekas saja. Siswa kelas 1 SD yang hafal perkalian 1 hingga 9 dianggap lebih jagoan dibandingkan siswa seumurannya yang bisa membuat lukisan yang, walau tampak jelek, tapi penuh imajinasi.

Intermezzo
Saya dengan sebal menghadapi siswa yang bertanya “Kak, untuk soal ini rumusnya apa?”, padahal rumus itu tertulis di buku sekolah dan bahkan di catatan yang mereka tulis sendiri. Ya, mereka tahu rumusnya, tapi selalu dua kemungkinan ini yang muncul: 1) Mereka malas membuka buku, dan 2) Mereka tak paham dengan apa yang mereka catat dan baca di buku. Tentu saja yang namanya siswa sekolah menengah tak harus bisa memahami semuanya. Minat orang berbeda-beda, maka tentu saja tingkat kepahaman itu berbeda. Tapi setidaknya, usaha personal mereka seharusnya tak tampak sedemikian lemah hingga bahkan untuk rumus pun masih harus bertanya padahal mereka sudah punya.

Saya kasihan pada siswa yang tak mempu membayangkan konteks yang dijelaskan dalam sebuah soal cerita dan kemudian mengaitkannya dengan rumus yang ada. Kasihan karena sistem membuat mereka kehilangan daya nalar dan imajinasi. Saya menyukai mereka yang bertanya, “Kak, ini caranya bagaimana?”, dan saya biasanya mengarahkan siswa seperti ini untuk menemukan cara yang mereka tanyakan. Kalau memang terlalu sulit, saya akan beritahu langkah-langkahnya beserta alasan penggunaan langkah tersebut. Sebagai guru les, saya berusaha membantu mereka menggunakan nalar dan imajinasi. Hasilnya tampaknya belum begitu baik, tapi yah, yang penting harus dilakukan.

Saya suka siswa yang ingin “lebih paham”, bukan sekedar “bisa”. Juga siswa yang menargetkan ilmunya kelak dipakai dan memberi manfaat pada orang lain. “Aku suka pada mereka yang berani hidup. Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam” ~ Chairil Anwar

Tapi mereka yang seperti itu langka. Tergerus sistem.


Saya ingin Fisika di sekolah menengah itu diajarkan sesuai “khittah”nya, yakni sebagai ilmu yang mengedepankan intuisi dan imajinasi. Fisika harus diajarkan juga di laboratorium, bukan hanya di ruang kelas. Fisika harus disertai pengamatan atas fenomena di sekeliling kita, bahkan fenomena sederhana sekalipun. Fisika bukan angka-angka. Fisika adalah imajinasi atas fenomena alam.

Fenomena sederhana, antara lain, bisa ditunjukkan melalui gambar seperti ini.

Fenomena sederhana, antara lain, bisa ditunjukkan melalui gambar seperti ini.

Jadi kenapa banyak siswa benci Fisika? Karena Fisika tak diajarkan sebagaimana mestinya. Ah saya ini apa lah, cuma kaleng-kalengnya …

4 thoughts on “Fisika? Meh!

  1. Saya suka fisika kaa hehehe. Sampe sekarang juga masih tetep suka.soalnya berkaitan banget sama kehidupan sehari hari. Bisa dibayangin ! Makanya keren banget. Hihihihihi.
    Jadi inget, dulu semangat banget kalo konsul fisika, tapi setengah setengah kalo konsul mtk –“

    Like

    • Suka Fisika tapi kok jadi calon dokter, Dita? 😁😁 Wkwk gpp deng, bagus malah.

      “Fun” dalam sains memang terasa sekali kalau kita bisa melihat langsung atau setidaknya bisa membayangkan fenomenanya. Ini juga berlaku buat Kimia atau Biologi, atau Matematika, bahkan social sciences. Emang sih kesukaan itu sangat berkorelasi dg minat, jadi ga bisa juga semua orang harus suka Fisika, tapi setidaknya jangan takut atau merasa Fisika itu terlalu sulit juga.

      Like

  2. bagi uni kunci belajar itu utamanya ‘menyenangkan’ dulu, eh samo dong dg ed yo…memang ada faktor bakat kali ya, tp guru yg menyenangkan cara mengajarnya mempengaruhi murid. dari pengalaman uni, dulu suka fisika pas gurunya enak, jd males ketika gurunya membosankan hehe.., uni di NGO dulu mengembangkan cara mengajar yg enjoy dg games, drama, kretivitas, dsb. materi akan lebih mudah diserap murid. anak uni yg tuo uni ajari baco sambil main (dia nggak sadar), 3 tahun dah bisa baco. tapi tiap anak beda2 karakternyo, yg ka duo mada nggak suka diajari, maunya belajar sendiri hehe…iyolah kacau baso uni ko๐Ÿ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s