Ilmuwan Muslim 2: Ibnu Khaldun

Pembukaan
Tulisan ini berkaitan dengan niatan yang telah saya sampaikan sebelumnya di postingan sebelum ini: yakni menulis tentang ilmuwan muslim. Ilmuwan pilihan saya yang kedua setelah Ibnul Haytsam adalah Ibnu Khaldun. Jika sebelumnya adalah ilmuwan eksakta yang juga filsuf, kali ini seorang ilmuwan sosial.

Siapa Ibnu Khaldun?

Beberapa waktu lalu, pendiri social media populer Facebook Mark Zuckerberg membicarakan Ibnu Khaldun di status Facebooknya. Mark membaca buku yang ditulis tahun 1377 oleh Ibnu Khaldun, dan ia mengatakan dirinya mengagumi sang penulis buku. Buku yang dimaksud adalah buku berjudul Muqaddimah, sebuah karya besar yang pernah hadir di jagat ilmu dunia Islam.

Tapi siapa Ibnu Khaldun itu? Ia adalah seorang sejarawan, dan juga ahli sosiologi dan ekonomi. Nama panjangnya Abū Zayd ‘Abdur-Raḥmān bin Muḥammad bin Khaldūn Al-Ḥaḍrami (أبو زيد عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي‎). Ia lahir di Tunis (sekarang ibu kota Tunisia) pada 1 Ramadan 732 H atau 27 Mei 1332 TU. Bukunya, Muqaddimah, merupakan buku tentang sejarah dengan ulasan yang baik tentang perkembangan sosial masyarakat. Buku ini sedemikian terkemukanya hingga sampai jaman modern sekarang ini, 6 abad setelah buku tersebut ditulis, masih ada yang menerbitkan. Bahkan orang mengatakan gelar “bapak ekonomi” seharusnya tidaklah disematkan kepada Adam Smith, namun kepada Ibnu Khaldun. Sebab, Ibnu Khaldun yang hidup beberapa ratus tahun sebelum Adam Smith telah menjabarkan, walaupun secara lebih sederhana, pemikiran yang dikeluarkan oleh Smith. Wallahu a’lam, perkara itu biarlah masing-masing manusia saja yang menilai.

Patung Ibnu Khaldun. Gambar dari Wikipedia.

Patung Ibnu Khaldun. Gambar dari Wikipedia.


Ibnu Khaldun keturunan bangsawan Andalusia—walaupun ada yang meragukan klaim ini. Kita tahu Andalusia: “Spanyol Islam”. Pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan di tengah kegelapan Eropa. Tapi saat Ibnu Khaldun hidup, Andalusia telah mundur dan mulai kalah oleh kerajaan-kerajaan Kristen Spanyol. Keluarganya mengungsi dari Sevilla ke Tunisia yang saat itu dikenal sebagai Maghreb. Di Tunisia, keluarganya mengabdi pada keluarga kerajaan Hafsid.

Sebagai anak orang terpandang, ia sempat mengenyam pendidikan yang baik di Tunisia. Bagus untuknya, sebab dengan demikian ketika dewasa ia menjadi sarjana terkemuka dengan karya yang hebat. Seperti umumnya pendidikan pada jaman itu, ia menguasai banyak hal, baik dalam cabang ilmu agama ataupun ilmu umum.

Pada masanya, di Afrika utara dan di berbagai bagian lain dunia Islam terdapat banyak penguasa-penguasa kecil yang saling berebut pengaruh—mulai dari bangsa penghuni gurun Sahara hingga para penguasa di Maroko, Tunisia hingga Mesir. Hal ini membuat ia berkelana ke banyak tempat, bekerja untuk penguasa satu kemudian berpindah ke penguasa lainnya. Ia berkelana dari Tunisia, Maroko, Granada, kembali lagi ke Tunisia, lalu Mesir. Di setiap kesempatan, sebagai orang terpelajar dan ambisius ia selalu berusaha menerapkan ide-idenya walaupun seringkali orang yang mempekerjakannya murka (itu sebabnya ia jadi sering berpindah-pindah). Pengalaman berkelana ke berbagai tempat itulah barangkali yang membuat pengetahuannya di bidang sejarah, ekonomi dan sosiologi demikian luas.

Hasil Karya

Di antara topik karyanya tentang ekonomi adalah perlunya sistem keuangan Islam yang mata uangnya punya nilai intrinsik, yakni dinar (memiliki nilai emas) dan dirham (memiliki nilai perak). Nilainya juga harus dibakukan dan digunakan dalam berbagai transaksi keuangan Islam. Dengan begitu sistem keuangan Islam seperti misalnya zakat, denda haji, mahar pernikahan dan sebagainya akan menjadi teratur.

Juga di bidang ekonomi ia mengatakan,

Bisnis yang dimiliki oleh pebisnis yang bertanggungjawab dan terorganisasi [dengan baik] pada akhirnya akan mengalahkan bisnis yang dimiliki penguasa kaya.

Saya sendiri melihat kata-kata ini agak mirip dengan pendapat ekonomi liberal modern.

Di bidang sosio-politik, ia melihat bahwa peradaban mengalami periode bangkit dan tenggelam bergantung pada bagaimana pelaku peradaban bekerja. Suatu bangsa barbar bisa mengalahkan sebuah bangsa beradab, tapi kemudian bangsa barbar itu akan mengadopsi peradaban yang diruntuhkannya, sehingga terbangun peradaban baru yang bisa jadi lebih besar lagi. Peradaban baru ini kelak akan runtuh pula, tapi lama periodenya bergantung seberapa kuat peradaban tersebut dipertahankan.

Ibnu Khaldun juga membahas perilaku (sosiologi). Salah satunya perilaku bangsa Arab. Menurutnya, orang arab itu,

Bangsa Arab hanya berminat menguasai kawasan dataran karena mereka secara alamiah adalah bangsa yang suka menghancurkan. Mereka merusak segala yang bisa mereka ambil tanpa perlu banyak pertarungan atau resiko; akan melarikan diri serta tidak bertempur kecuali terpaksa untuk membela diri. Ketika berhadapan dengan masalah, mereka akan meninggalkannya dan mencari yang lebih mudah. Suku bangsa yang tinggal di perbukitan lebih aman dari pengaruh mereka karena mereka (bangsa Arab) ini memilih untuk menghindari susahnya mendaki bukit atau mengambil resiko. Suku bangsa di daerah dataran lebih mudah terkena pengaruh mereka karena pertahanan alami yang lebih lemah, dan akan terus diganggu dan dikuasai, hanya untuk kemudian [bangsa Arab] ini akan bertempur sesamanya dan mengalami kemunduran politik. Dan Allah bisa berbuat apapun kepada ciptaannya, dan Ia adalah satu-satunya, yang Maha Kuasa dan tak ada Tuhan selain Dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s