Ilmuwan Muslim 1: Ibnul Haytsam (Alhazen)

Catatan Pembuka
Rencana awalnya, saya bermaksud menceritakan ulang tentang ilmuwan-ilmuwan muslim secara berseri selama Ramadan. Ternyata rencana tinggal rencana, pada hari ke-3 Ramadan ini saya belum mengupload satu tulisanpun ke blog ini:mrgreen:

Sungguhpun demikian, “sedikit” dan “terlambat” tetaplah lebih baik daripada tidak sama sekali. Jadi sekarang saya tuliskan saja satu kisah ilmuwan muslim pilihan pertama saya: Ibn al-Haytham atau Alhazen. Saya merangkum tulisan ini dari berbagai sumber. Tidak semua sumber saya tuliskan, ini kan bukan karya ilmiah. Anda bisa menemukan banyak sekali tulisan lain yang lebih lengkap di internet.

Seribu tahun lalu. Seperti apa kira-kira pengetahuan manusia pada masa yang telah sangat lampau tersebut? Manusia masih tinggal di goa, menyalakan api menggunakan kayu, transportasi antar kota menggunakan keledai, masa-masa kekaisaran masyhur, perang salib dan sebagainya?

Jawaban-jawaban itu benar semuanya. Tapi satu hal yang menarik perhatian saya, jarak seribu tahun tak menghasilkan perbedaan apa-apa pada kemampuan otak manusia dalam menyerap pengetahuan. Jika di era modern ini kita punya banyak orang jenius, demikian juga dengan jaman dulu.

Salah satu jenius di masa seribu tahun lalu itu adalah Ibn al-Haytham.

Gambaran artis untuk Ibn al-haytsam. Gambar dari Wikipedia.

Gambaran artis untuk Ibn al-haytsam. Gambar dari Wikipedia.

Ibn al-Haytham (ابن الهيثم) hidup di masa Daulah Abbasiyah, salah satu dinasti muslim besar yang pernah berkuasa di Timur Tengah hingga Eropa. Jika saya boleh membuat kategori, masa dinasti Abbasiyah ini saya kategorikan sebagai masa ketika dunia Islam gemilang karena ilmu pengetahuan. Sebelum masa Abbasiyah (periode nabi Muhammad SAW hingga dinasti Umayyah) adalah masa persiapan dan pengokohan kedaulatan Islam, sedangkan masa sesudah Abbasiyah (sejak dimulai perang salib hingga berkuasanya dinasti Utsmani) adalah masa ketika dunia Islam gemilang karena kekuatannya.

Kembali ke topik, Ibn al-Haytham hidup di masa Abbasiyah, saat ilmu pengetahuan sedemikian gilang gemilang. Ia dilahirkan di Basra, di negeri yang sekarang kita kenal sebagai Iraq yang berkecamuk perang. Nama lengkapnya Abū ʿAlī al-Ḥasan ibn al-Ḥasan ibn al-Haytham, dilahirkan pada tahun 965 TU dan meninggal di Mesir pada tahun 1040 TU1. Orang-orang Eropa mengenalnya dengan nama Alhazen atau Alhacen, versi latin untuk namanya yaitu al-Hasan.

Seperti umumnya para ilmuwan masa lalu, ia tidak hanya menguasai satu cabang ilmu saja. Kontribusi ilmiahnya antara lain di bidang filsafat, optik, astronomi, meteorologi dan juga matematika. Karya monumentalnya adalah Book of Optics (كتاب المناظر), dan juga ia dikenal sebagai peletak fondasi dasar metode ilmiah.

Book of Optics

Tahun 2015 ini dinyatakan sebagai Tahun Cahaya (Year of Light). Termasuk dalam salah satu fokus perayaan Year of Light ini adalah karya monumental Ibn al-Haytham, tentang optik, yang telah berusia setidaknya 1000 tahun. Ia menuliskan karyanya dalam buku berjudul Book of Optics itu tadi.

Optika adalah satu cabang ilmu dalam Fisika yang berbicara tentang perilaku cahaya. Konsep tentang optik sudah dikenal sejak jaman Yunani kuno, dan Ibn al Haytham mengkaji ulang konsep-konsep lama tersebut dan merevisi hal-hal yang terbukti keliru.

Konon, konsep optika itu dipelajari oleh Ibn al-Haytham selama ia berada dalam tahanan rumah. Ia ditahan oleh khalifah Al Malik, penguasa dinasti Fatimiyah di Mesir, dari tahun 1011 hingga 1021. Sebelumnya saat berada di Basra, Ibn al-Haytham memiliki suatu rancangan untuk membuat bendungan di sungai Nil (sekarang dikenal sebagai bendungan Aswan), dan rancangan itu didengar oleh Al Hakim sehingga ia diundang ke Mesir. Namun setelah melakukan studi lapangan ia menyadari bahwa rancangannya tak bisa diterapkan. Setelah melaporkan ke Al Hakim bahwa pekerjaannya tak mungkin dilakukan, ia kemudian berpura-pura gila. Hal itu karena ia khawatir mendapatkan hukuman berat dari Al Hakim, sebab Al Hakim ini dikenal bisa melakukan hal terjahat apabila bertemu dengan hal yang tak disenanginya. Ibn al-Haytham akhirnya dikenai tahanan rumah karena “kegilaannya”.

Karya Ibn al-Haytham di bidang optik pada masa itu seakan melampaui jaman. Dari eksperimen yang dilakukan, Ibn al-Haytham berkesimpulan bahwa cahaya merambat lurus. Ia mengembangkan konsep pemantulan pada cermin parabolik. Ia juga melakukan eksperimen untuk pembiasan. Konvensi “sudut datang” dan “sudut bias” adalah miliknya, dan hingga kini masih digunakan dalam hukum pembiasan Snellius. Ibn al-Haytham jugalah yang menyatakan bahwa ketika cahaya memasuki suatu medium yang lebih rapat, cahaya tersebut bergerak lebih lambat. Pendapatnya tentang pembiasan itu digunakannya untuk menjelaskan fenomena fajar/senja, dengan menyatakan bahwa fajar/senja terjadi karena matahari berada di bawah ufuk (horizon) sehingga cahayanya dibiaskan oleh atmosfer.

Di antara topik menarik bagi saya yang dibahas Ibn al-Haytham adalah tentang bagaimana mata kita bisa melihat. Dalam pandangan kuno, kita bisa melihat karena mata mengeluarkan cahaya ke obyek, lalu obyek memantulkannya kembali ke mata. Persis seperti bagaimana bunyi dipantulkan sehingga terjadi gema. Ibn al-Haytham mendapati bahwa ide ini tidak cocok dengan kenyataan.

Eksperimen Ibn al-Haytham dengan ruangan gelap yang menghasilkan bayangan dari benda di luar ruangan. Gambar dari http://www.ibnalhaytham.com/

Eksperimen Ibn al-Haytham dengan ruangan gelap yang menghasilkan bayangan dari benda di luar ruangan. Gambar dari http://www.ibnalhaytham.com/

Bayangkan kita berada di dalam ruangan yang gelap. Kita tak dapat melihat apa-apa. Dari sini sudah jelas bagi Ibn al-Haytham bahwa konsep “mata mengeluarkan cahaya” itu keliru. Ibn al-Haytham memperkuat eksperimennya dengan cahaya yang masuk dari lubang kecil ke ruangan gelap itu. Kita akan bisa melihat benda yang terkena cahaya tersebut, tapi yang tidak terkena cahaya tetap tak bisa dilihat. Artinya, benda yang terkena cahaya bisa dilihat. Kesimpulannya, cahaya mengenai benda lalu memantul dan masuk ke mata.
Jelas sudah bagi Ibn al-Haytham: cahaya tidak datang dari mata. Kita bisa melihat karena cahaya, dari sumber apapun, mengenai benda lalu dipantulkan dari benda ke mata.

Untuk alasan itu pula, cahaya dari lubang kecil di dinding ruangan gelap tersebut juga bisa membentuk bayangan dari benda yang ada di luar ruangan. Ibn al-Haytham menjelaskan dasar-dasar camera obscura) dan kemudian, setelah mempelajari anatomi mata, ia menggunakan penjelasan camera obscura itu untuk menjelaskan bagaimana bayangan benda bisa terbentuk di dalam mata.

Filsafat Ilmu

Ada banyak karya Ibn al-Haytham d bidang sains. Namun selain sebagai saintis, Ibn al-Haytham juga adalah seorang filsuf (pemikir). Terutama sekali, hasil pemikirannya adalah tentang bagaimana menyikapi ilmu pengetahuan, termasuk dalam kaitannya dengan agama. Ibn al-Haytham dianggap sebagai peletak dasar-dasar metode saintifik (scientific methods): sebuah konsep harus dikaji dan dicari buktinya agar dapat disimpulkan kebenarannya.

Kutipan kata-katanya berikut barangkali dapat menggambarkan bagaimana pemikirannya.

Pendapatnya tentang metode ilmiah.

“Para pencari kebenaran bukanlah mereka yang mempelajari naskah-naskah kuno dan kemudian, sesuai karakter alamiahnya, menaruh keyakinan sepenuhnya [pada naskah tersebut]; melainkan mereka yang meragukan kayakinannya [pada naskah tersebut] dan mempertanyakan hal-hal yang bisa diambil [dari naskah]; mereka yang masuk ke perdebatan dan pertunjukan pembuktian; terutama karena sifat alamiah manusia adalah rentan terhadap segala kekurangan dan ketidaksempurnaan. Jadi, tugas seseorang yang mempelajari tulisan dari seorang ilmuwan jika kebenaran menjadi tujuannya, adalah menjadikan dirinya sendiri sebagai musuh bagi apapun yang ia baca; lalu dengan memasukkan pikirannya ke inti permasalahan ia menyerang bacaannya itu dari segala sisi. Ia juga harus mencurigai dirinya sendiri saat melakukan pemeriksaan kritis tersebut, sehingga ia bisa menghindari prasangka dan kemurah-hatian”

Dari bukunya Al-Shukūk ‛alā Batlamyūs (Doubt Concerning Ptolemy — Keraguan Terhadap Ptolemius).

“Kebenaran dicari untuk kebenaran itu sendiri. Menemukan kebenaran itu sulit, dan jalannya berat, karena kebenaran itu dilingkupi oleh kegelapan. Allah tidak melindungi ilmuwan dari kesalahan dan tidak membentengi ilmu pengetahuan dari keteledoran dan kekeliruan—jika seperti itu [ilmuwan dan ilmu pengetahuan terlindung] tentulah para ilmuwan tak akan bersilang pendapat terkait pengetahuannya.”

Pendapatnya tentang ilmu pengetahuan dan agama. Saya suka ini.

“Saya secara konsisten mempelajari kebenaran dan pengetahuan, dan saya beranggapan untuk mendapatkan berkah dan kedekatan dengan Allah tak ada cara yang lebih baik daripada melalui pencarian kebenaran dan pengetahuan.”

Penutup

Iqra, karya teakster @ deviantart

Iqra, karya teakster @ deviantart

Ibn al-Haytham menunjukkan kepada kita bagaimana semestinya kita berpikir. Jika menilik lebih jauh ke dalam konsep Islam tentang ilmu pengetahuan, kita akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan Ibn al-haytham. Bukankah seringkali Allah SWT bertanya dalam Al Quran, “Tidakkah kamu melihat?”, “Tidakkah kamu mendengar?”, dan juga “Tidakkah kamu berpikir?”. Itu petunjuk sederhana bahwa alat indra yang dimiliki, dan terutama great mind yang hanya diberikan pada manusia itu, haruslah digunakan untuk mencari kebenaran.

Metode ilmiah yang dikembangkan oleh Ibn al-Haytham ini bukanlah semata-mata panduan bagi setiap saintis ketika ia melakukan penelitian. Jika kita sebagai manusia meletakkan diri kita sebagai “khalifah di muka bumi”, maka kita harus selalu mencari kebenaran. Dan kebenaran itu bukanlah mengikuti begitu saja apa yang ditulis oleh para ulama (ulama = ilmuwan). Juga bukan mengikuti prasangka dari diri sendiri, atau yang lebih buruk: mengikuti hanya karena kita suka. Kita harus selalu kritis, selalu sigap mencari bukti-bukti.

Di sekolah, di temoat kerja, bahkan di masjid, perbanyaklah pertanyaan “mengapa” atau “bagaimana” alih-alih pertanyaan “apa” dan “siapa”.

1) “TU” adalah singkatan dari “Tarikh Umum”, terjemahan yang tepat untuk “CE” (Common Era). Pemakaian “TU” alih-alih “M” atau “Masehi” mengikuti alasan kenapa di beberapa tempat luar negeri digunakan “CE” alih-alih “AD” (Anno Domini)

2 thoughts on “Ilmuwan Muslim 1: Ibnul Haytsam (Alhazen)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s