160 Juta Tahun Indonesia

Dahulu kala, bumi hanya terdiri atas satu benua yang dinamakan Pangaea. Pangaea kemudian terpecah dan akhirnya membentuk benua-benua seperti sekarang. Nah, pernah bertanya bagaimana kepulauan Indonesia ini terbentuk, sebagai bagian dari rentetan proses pembentukan benua-benua dari pecahnya Pangaea?

Animasi pecahnya Pangaea. Gambar diambil dari Wikipedia.

Animasi pecahnya Pangaea. Gambar diambil dari Wikipedia.

Saya pertama kalinya tertarik dengan pembentukan kepulauan Indonesia ketika mengikuti mata kuliah Seismologi, kalau tidak salah itu sekitar 4 tahun yang lalu. Kala itu saya diberi tugas kuliah mempresentasikan kondisi tektonik daerah Sulawesi dan Maluku, dan dalam pencarian bahan presentasi saya menemukan makalah dari prosiding 24th Annual Convention of Indonesian Petroleum Association. Judulnya Plate Tectonic Reconstruction of the Indonesian Region, ditulis oleh Robert Hall.

Saya kembali teringat tentang proses pembentukan kepulauan Indonesia ini ketika sejak awal November 2014 ini membaca buku The Ecology of the Indonesian Seas (Part One), yang ditulis Thomas Tomascik dkk. Dalam pembahasan Chapter II: Geology, buku ini ternyata juga mengutip makalah yang saya baca 4 tahun lalu itu. Ketika saya cari makalahnya di internet, ternyata sudah ada makalah yang lebih baru dan memuat hasil-hasil penelitian mutakhir. Makalah ini dapat diakses dengan bebas di Science Direct. Makalah ilmiah yang sangat bagus dan gratis adalah salah satu hal yang sangat saya syukuri.

Saya pikir, yang semacam ini perlu juga diceritakan ulang di blog, agar bisa dipahami juga oleh khalayak ramai. Hanya saja ada banyak hal yang saya tidak terlalu paham. Latar belakang saya bukan Geologi, sedangkan makalah ini adalah makanannya mereka yang mendalami Geologi, jadi jika terdapat kesalahan harap dimaklumi dan silakan berikan koreksi. Semua gambar (kecuali disebutkan lain) berasal dari makalah oleh Hall tersebut, saya unduh langsung dari laman web makalahnya di Science Direct.

Sebagai pendahuluan, barangkali perlu dijelaskan beberapa hal terlebih dahulu.

  1. Indonesia ini adalah daerah pertemuan 3 lempeng: lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Filipina (yang terakhir ini merupakan bagian dari lempeng Pasifik). Eurasia adalah lempeng benua, sedangkan Indo-Australia dan Filipina adalah lempeng samudra. Agak unik sepertinya untuk lempeng Indo-Australia yang dinyatakan sebagai lempeng samudra, namun di area Australia sendiri dia lebih tampak sebagai lempeng benua. Umumnya lempeng samudra di atasnya adalah laut, kalaupun menjadi daratan ya berupa pulau saja, namun untuk Indo-Australia ini ada bagian yang di atasnya adalah benua. Titik pertemuan ketiga lempeng tersebut adalah di daerah laut Banda.
  2. Sekitar 200 juta tahun yang lalu—orang geologi menyebutnya era Triassic—Bumi terbagi atas dua benua raksasa, yaitu Laurasia dan Gondwana. Laurasia masa itu mengandung daratan yang sekarang kita kenali sebagai Eropa, Asia dan Amerika utara, sedangkan Gondwana mengandung daratan selatan yaitu Amerika selatan, Afrika, Australia dan Antarktika. Dalam selang berjuta-juta tahun itu Laurasia dan Gondwana terpecah-pecah dan bergerak hingga akhirnya menyusun daratan yang saat ini kita huni. Tomascik dkk (1997) menyebutkan bahwa berbagai penelitian antara lain oleh Visser dan Hermes (1962); Audley-Charles dkk (1972); Hamilton (1973, 1978, 1979); Katili (1975, 1978) Carter dkk (1976); Barber dkk (1977); Chamalaun dan Grady (1978) serta Norvick (1979), menyimpulkan bahwa sebagian Papua, pulau Timor, Sula, Sumba, Seram dan Buru menyatu dengan Austalia, dengan demikian pulau-pulau ini adalah bagian dari Gondwana. Juga dalam Tomascik (1997) disebutkan Sumatra, Jawa dan Kalimantan menyatu dengan daerah Asia Tenggara dan bukan merupakan bagian dari Gondwana.
  3. Saya memuat peta-peta yang disampaikan Hall dalam artikelnya. Dalam melihat peta-peta di sini perlu diingat bahwa ini peta lempeng, bukan peta biasa. Warna biru berarti lempeng samudra, sementara warna lainnya menunjukkan lempeng benua dengan kadar ketebalan ditunjukkan dengan kadar kepekatan warna. Dan perlu diketahui, yang namanya lempeng samudra sudah barang tentu adalah dasar laut.

Dan sedikit pengingat, proses geologi adalah proses yang sangat-sangat-sangat panjang—sebuah proses yang berskala waktu sepanjang umur Bumi. Kita mungkin akan melihat proses yang berlangsung lebih tampak seperti dongeng, ngarang, tak masuk akal dan semacamnya. Ilmu Geofisika sama saja seperti ilmu Astronomi, dan Paleogeologi mirip sekali dengan Kosmologi: mirip seperti dongeng. Tapi percayalah, apa yang didongengkan ini semua memiliki landasan ilmiah dan masuk akal.

Kita lihat Indonesia ini, 160 juta tahun yang lalu.

Tentu saja, waktu itu negara bernama Indonesia belumlah ada. Kala itu, yang ada hanya wilayah yang sekarang menjadi Asia Tenggara, terdiri atas apa yang kini kita kenal sebagai Sumatra dan semenanjung Malaya. Pulau Kalimantan belum ada, Papua masih terletak jauh dan masih menjadi bagian dari sisa-sisa Gondwana bersama Australia dan India. Juga bergabung dengan Australia itu adalah pecahan-pecahan kepulauan Sula, serta blok Banda dan blok Argo.

Bagian dari laurasia dan sebaian Gondwana di area yang sekarang merupakan Kepulauan Indonesia, 160 juta tahun lalu.

Gambar 1: Bagian dari Laurasia dan sebagian Gondwana di area yang sekarang merupakan Kepulauan Indonesia, 160 juta tahun lalu.

Silakan dilihat pada Gambar 1. Pada masa Jurassic akhir itu, Asia terpisah dari Australia-India oleh laut Meso-Tethys. Lempeng laut Meso-Tethys ini menyusup (mengalami subduksi) ke bawah Asia Tenggara dan ke bawah blok Banda dan Argo. Subduksi yang dialami Meso-Tethys itu terjadi karena lempeng benua Asia condong bergerak ke selatan dan India-Australia condong bergeser ke utara. Tapi itu penyederhanaan dari saya saja—situasinya tidak mudah juga. Bisa dilihat pada 155 juta dan 150 juta tahun lalu (Gambar 2), blok Banda dan Argo rupanya memisahkan diri, sementara itu di lempeng Meso-Tethys sendiri rupanya ada subduksi antar lempeng samudra (dengan lempeng Ceno-Tethys), membentuk busur Woyla dan busur Incertus. Meso-Tethys menyempit dan Ceno-Tethys merangsek ke timur laut.

Pada 155 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo terpisah dari Australia dan bergeser ke utara.

Pada 155 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo terpisah dari Australia dan bergeser ke utara.

Terpisahnya Banda dan Argo dari induknya, Australia, juga berarti muncul batas lempeng divergen dan terbentuk lempeng samudra yang baru. Lokasi yang ditinggalkan oleh blok Banda yang bergeser itu, Banda Embayment, belakangan akan kita kenal sebagai Laut Banda.

Lama kemudian, kita sampai di masa 135 juta tahun yang lalu (Gambar 3). Pada masa ini, India mulai memisahkan diri dari Australia. Muncullah batas divergen antara Australia dan India, yang juga berarti terbentuk lempeng samudra yang baru. Keadaan menjadi jauh lebih rumit. Meso-Tethys makin sempit karena ia tenggelam ke bawah Asia Tenggara dan Ceno-Tethys. Blok Banda dan Argo bergeser ke timur laut, bergerak saling menjauh dengan India yang bergeser ke barat daya. Pergeseran India ini menyebabkan Ceno-Tethys terbelah menjadi Ceno-Tethys Barat dan Ceno-Tethys Timur. Australia sendiri bergeser sedikit ke selatan.

Ketika sampai di masa 135 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo sudah bergeser cukup jauh ke utara, dan India memisahkan diri dari Australia.

Gambar 3: Ketika sampai di masa 135 juta tahun lalu, blok Banda dan Argo sudah bergeser cukup jauh ke utara, dan India memisahkan diri dari Australia.

Kompleksitas yang terbentuk itu selanjutnya menyebabkan adanya perubahan pada vektor gerakan lempeng. Australia dalam pergeserannya cenderung untuk berputar berlawanan arah jarum jam. Blok Banda terbelah, sehingga untuk selanjutnya akan disebut saja sebagai Banda Barat Laut (SWB – Southwest Banda), dan Argo akan disebut sebagai Jawa Timur – Sulawesi Barat (EJWS – East Java West Sulawesi). Keduanya bergerak bersama ke utara sedikit belok kanan. Setelah 10 juta tahun sejak India bercerai dari Australia, situasinya menjadi seperti pada Gambar 4.

Situasi pada masa 120 juta tahun lalu. SWB dan EJWS terus mendekat ke selatannya Asia Tenggara.

Gambar 4: Situasi pada masa 120 juta tahun lalu. SWB dan EJWS terus mendekat ke selatannya Asia Tenggara.

Apa yang terjadi dalam 20 juta tahun berikutnya sebenarnya cukup mudah ditebak. Pada Gambar 5 terlihat apa yang terjadi: EJWS dan SWB sampai di tepian Asia Tenggara. Di sana blok SWB tertahan karena lempeng Eurasia, termasuk di Asia Tenggara itu, adalah lempeng yang tebal. Karena blok SWB tertahan, blok EJWS bisa menyusulnya dan akhirnya posisi kedua blok ini jadi bersebelahan.

Suasana 100 juta tahun yang lalu, menggambarkan apa yang terjadi selama 20 juta tahun sejak terpisahnya India dan Australia.

Gambar 5: Suasana 100 juta tahun yang lalu, menggambarkan apa yang terjadi selama 20 juta tahun sejak terpisahnya India dan Australia.

Kita lompat saja ke masa 85 juta tahun lalu. SWB dan EJWS bergabung dengan Asia Tenggara, membentuk area yang disebut Sundaland. Jawa dan sebagian Kalimantan muncul akibat penggabungan ini. Ini menarik sekali, dalam artikelnya Hall juga menjelaskan bukti teori ini adalah adanya kemiripan berlian yang banyak ditemukan di Kalimantan dengan berlian yang ditemukan di Australia—tipe berlian Gondwana.

Situasi pada 85 juta tahun lalu. Sudah ada Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, tapi belum sempurna.

Gambar 6: Situasi pada 85 juta tahun lalu. Sudah ada Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, tapi belum sempurna.

Masa 85 juta tahun itu bisa dilihat pada Gambar 6. Tampak blok Banda (SWB) hilang dan terbentuk Kalimantan, sementara blok Argo (EJWS) juga hilang dan terbentuk Jawa, Sulawesi Barat & Sulawesi Selatan. India bergerak ke barat dan Australia berputar sambil bergeser ke timur. Karena interaksi dengan lempeng-lempeng lainnya, gerakan semacam ini tidak selamanya berlanjut. Australia yang sudah sedikit berputar selanjutnya terdorong ke utara, sepertinya karena interaksi dengan lempeng Antarktika di selatannya. India yang bergerak ke barat tertahan (tampaknya karena di barat itu bertemu dengan lempeng Afrika) dan berikutnya terdorong ke utara, seperti halnya Australia, ini mungkin terjadi karena interaksi dengan lempeng Antarktika di selatan. Ketika sampai di masa 50 juta tahun lalu, situasinya sudah seperti pada Gambar 7.

Situasi 50 juta tahun lalu. India sudah bergeser cepat ke utara, dan posisinya sudah hampir menumbuk Asia. Australia bergerak ke utara dan Filipina muncul dari timur.

Gambar 7: Situasi 50 juta tahun lalu. India sudah bergeser cepat ke utara, dan posisinya sudah hampir menumbuk Asia. Australia bergerak ke utara dan Filipina muncul dari timur.

Menarik juga untuk dilihat, interaksi di Sundaland bertambah kompleks karena ada tambahan subduksi dari arah timur. Bentuk Kalimantan disempurnakan oleh adanya interaksi ini, dan juga bagian lengan Sulawesi Utara muncul di sekitar sana akibat adanya batas konvergen antar lempeng samudra. Sulawesi Utara ini belum bergabung dengan Sulawesi Barat yang sudah terbentuk lama sebelumnya, tapi akan kita lihat nanti mereka bergabung juga.

Juga bisa dilihat Meso-Tethys terus menyempit dan nantinya akan hilang begitu India menabrak Asia. Busur Woyla yang sebelumnya muncul sudah hilang, bergabung dengan Sumatra dan membentuk patahan Sumatra. Ceno-Tethys sudah hilang pula jauh sebelumnya, gerakan India ke utara mengubur lempeng ini. Lempeng samudra yang terbentuk antara India dan Australia itu saat ini kita kenal sebagai Samudra Hindia. Di Papua, sebuah busur (mungkin dari Pasifik—saya tidak tahu lempeng samudra di atas Papua pada masa itu namanya apa) menempel di bagian utara membentuk daratan tambahan dan patahan di area tersebut. Lempeng Proto-Laut Cina Selatan

Kondisi 30 juta tahun lalu. Interaksi kompleks di Filipina memunculkan pulau-pulau, Laut Cina Selatan muncul dan Sulawesi Utara mulai menempel dengan bagian Sulawesi lainnya.

Gambar 8: Kondisi 30 juta tahun lalu. Interaksi kompleks di Filipina memunculkan pulau-pulau, Laut Cina Selatan muncul dan Sulawesi Utara mulai menempel dengan bagian Sulawesi lainnya.

Lalu, 30 juta tahun yang lalu bisa dilihat pada Gambar 8. Bagian Asia retak sedikit di selatan Cina, terus mengembang dan membentuk lempeng samudra baru yang sekarang dikenal sebagai lempeng Laut Cina Selatan. Lempeng Pasifik masuk ke bawah Filipina, dan begitu juga dengan bagian utaranya lempeng Australia, menyebabkan di lempeng Filipina itu terus muncul pulau-pulau kecil. Australia, India dan lempeng samudra yang terbentuk di antara keduanya bisa dianggap sebagai satu kesatuan, dan gerakannya yang mengarah ke utara menyebabkan perubahan posisi di Sundaland, yakni perputaran Jawa, Sulawesi dan Kalimantan.

India terus bergerak ke utara, menabrak Asia dan kelak akan menyebabkan munculnya pegunungan Himalaya. Australia yang bergerak ke utara kemudian menempel pada Sundaland. Pada masa 15 juta tahun yang lalu (Gambar 9), Sula dan Papua, bagian dari Australia, hampir berada pada posisinya sekarang. Sula membentuk apa yang kita kenal saat ini sebagai Sulawesi Tenggara serta kepulauan Maluku sebelah selatan (Seram dan sekitarnya).

Kondisi 15 juta tahun yang lalu, sudah mirip dengan kondisi saat ini.

Gambar 9: Kondisi 15 juta tahun yang lalu, sudah mirip dengan kondisi saat ini.

Lempeng Filipina pecah, membentuk lempeng Sulawesi. Subduksinya memunculkan bagian yang sekarang menjadi bagian dari Sulawesi Tengah. Halmahera terbentuk akibat subduksi Australia ke bawah Filipina, letaknya masih jauh dari posisinya saat ini. Batas lempengnya bergerak transform (bersisian), menyebabkan Halmahera itu bergerak menuju posisinya sekarang. Dan 5 juta tahun yang lalu (Gambar 10), kondisi kepulauan Indonesia sudah sama seperti yang sekarang kita diami.

Suasana 5 juta tahun yang lalu, mirip dengan sekarang.

Gambar 10: Suasana 5 juta tahun yang lalu, mirip dengan sekarang.

Sejak 5 juta tahun yang lalu hingga sekarang, tampaknya tidak banyak perubahan besar yang terjadi. Tentu saja ada perubahan-perubahan kecil seperti kemunculan pulau-pulau baru atau hilangnya pulau-pulau lama, munculnya patahan baru, dan sebagainya. Patahan Sumatra, patahan-patahan di sekitar Mentawai dan selatan Jawa, pulau-pulau vulkanik di daerah Nusa Tenggara tampaknya terbentuk dalam selang waktu 5 juta tahun ini.

Oh ya, rangkaian proses yang diceritakan di sini memiliki versi animated, dibuat oleh Southeast Asia Research Group, Royal Halloway University of London (RHUL). Bisa diunduh dari link ini: Video nimasi pembentukan Indonesia dari SEARG RHUL berdasarkan makalah oleh Hall (2012). Silakan dilihat untuk melihat dan memahami lebih jauh proses tektonik ini.

Lalu bagaimana dengan masa depan? Ada banyak kemungkinan. Biar ahlinya saja yang mencari tahu. Dari saya cukup sekian, saya merasa agak pusing juga setelah membaca makalah dan mencoba menuliskannya kembali di sini:mrgreen: Mohon maaf untuk segala kekurangan, terima kasih:mrgreen:

2 thoughts on “160 Juta Tahun Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s