Konsep dan Proses

Teaching

Gambaran tentang tidak mudahnya menjadi guru/pengajar. (Gambar diambil dari http://www.takepart.com/)

Sebagai seorang pengajar les, saya cukup sering menerima keluhan dari siswa-siswi saya tentang pelajaran di sekolah mereka. Juga tentang cara guru di sekolah mengajar. Mendengarkan cerita mereka, saya biasanya mengambil 1 dari 3 kesimpulan: a) Siswanya sendiri yang belajarnya ga bener, b) Betapa buruknya cara guru sekolahnya mengajar, atau yang paling sering, c) Betapa buruknya sistem pendidikan.

Saya menyadari bahwa menjadi guru bukanlah perkara mudah, karena itu saya berusaha sesedikit mungkin menyalahkan guru sekolah. Hanya saja, untuk sistem pendidikan, saya pikir memang terlalu banyak hal yang salah.

Ujian

Beberapa waktu lalu saya mengomentari status Facebook seorang teman yang merupakan guru SMP. Si teman ini mengeluhkan siswa-siswinya yang sering lupa menulis nama dan kelas di lembar jawaban ujian, sambil menambahkan hipotesa mungkin murid-muridnya terlalu jenuh dengan pelajaran. Isi komentar saya kala itu lebih ke sistem pendidikan yang membuat murid keliru membuat prioritas. Sistem pendidikan yang saya maksud itu mengarahkan siswa untuk mengutamakan hasil, mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Pola pikir siswa yang sedemikian membuat siswa berpikir bahwa dalam ujian yang penting adalah mengerjakan soal yang diberikan. Hal lainnya kurang begitu penting, termasuk menulis nama, dan karenanya bisa “dikerjakan nanti saja”. Pada akhirnya si murid malah lupa menuliskan nama karena sudah terlalu sibuk mengerjakan soal.

Ini sering saya temukan saat ujian try-out di tempat saya mengajar. Begitu menerima lembar jawaban dan lembar soal, para siswa langsung membuka lembar soal dan mulai mengerjakan soal-soal tersebut, tanpa terlebih dahulu mengisi nama dan nomor peserta ujian di lembar jawaban. Siswa yang seperti ini tentu saja nilainya nol walaupun sudah bersusah payah mengerjakan soal, tapi mereka beruntung ini “hanya” try-out. Saya sering bertanya-tanya apakah di ujian yang sebenarnya mereka juga berkelakuan seperti itu.

Seharusnya, siswa diajarkan (dan dipaksa) untuk menghargai proses. Dalam kasus ujian, salah satu proses penting adalah menuliskan identitas di lembar jawaban. Bagaimana guru bisa tahu itu jawaban ujiannya siapa jika namanya tidak ada? Makdarit (maka dari itu), jika kebetulan saya jadi pengawas try-out saya membiasakan memeriksa lembar jawaban siswa terlebih dahulu. Jika bagian identitas belum diisi, siswa tidak akan mendapatkan lembar soal.

Fisika

Sebagai guru Fisika saya sering sebal melihat cara siswa menyelesaikan sebuah soal. Dalam soal-soal Fisika biasanya selalu ada variabel (besaran), yang kemudian nilainya bisa dimasukkan ke persamaan atau rumus terkait. Celakanya, siswa sering salah menaruh variabel, atau memasukkan nilai variabel dengan brutal tanpa memperhatikan satuannya. Umumnya ini terjadi pada siswa tingkat SMP, kalau pada tingkat SMA malah lebih parah lagi: seringnya mereka tidak tahu soal yang diberikan itu memberikan informasi variabel apa saja.

Saya tidak pernah merasa bahwa saya ini guru yang baik, tapi memperhatikan siswa-siswa yang seperti itu, saya mau tak mau sering berkomentar dalam hati, “Ini guru di sekolah gimana sih, ngajarinnya!”, atau “Ini nih akibat sistem pendidikan gak jelas!”.

Tentu saja saya pun sering berpendapat/berkomentar siswanya sendiri yang salah, tak memperhatikan pelajaran di kelas.

Fisika, bagi saya, adalah soal konsep. Saya tak pernah setuju sama orang yang mengatakan bahwa Fisika itu mudah. Bohong itu. Jika Fisika itu mudah maka tak akan perlu ada banyak keluhan dari orang-orang yang belajar Fisika dari tingkat sekolah menengah sampai universitas. Orang yang bilang Fisika itu mudah saya rasa perlu ditimpuk dengan buku teks Fisika Kuantum. Fisika itu tidak mudah. Fisika itu rumit, njelimet, harus menguasai cabang ilmu lain (terutama Matematika) dan pokoknya banyak lah. Tapi Fisika itu asyik!

Belajar Fisika itu asyik! (Foto koleksi pribadi)

Belajar Fisika itu asyik! (Foto koleksi pribadi)

Dan agar asyiknya Fisika itu terasa, konsep Fisika itu harus jelas dulu. Ya, Fisika itu soal konsep. Kalau tak bisa memahami konsep, ya anak sekolah jangan harap bisa mengerjakan soal-soal Fisika. Saya tidak tahu apakah saya sudah benar-benar memberikan penekanan konsep (dan konsepnya benar) saat mengajar, tapi percayalah, saya berusaha untuk itu.

Siswa yang sembarangan memasukkan nilai besaran ke dalam rumus, atau siswa yang tidak bisa menganalisa soal yang diberikan, adalah mereka yang jadi korban kurangnya penekanan pemahaman konsep dalam sistem pendidikan. Dan ini berkaitan juga dengan hal yang saya bahas di atas tadi: tidak adanya penghargaan terhadap proses.

4 × 6

Di dunia maya sempat ada kehebohan tentang perkalian. Ada banyak perdebatan di sana, tapi saya tertariknya pada dua hal: proses dan konsep!

Menyamakan 4 × 6 dengan 6 × 4, karena hasilnya yang memang sama-sama 24, adalah sebuah sikap tak menghargai proses. Terpaku pada hasil. Semestinya, Matematika itu adalah “proses”, bukan “hasil”. Anak-anak sekolah selama ini diharuskan meenghafal perkalian dari 1 hingga 9 tanpa mereka tahu bagaimana proses perkalian itu sebenarnya.

Ada banyak orang yang berkomentar bahwa seorang anak kelas 2 SD belum semestinya diajari konsep Matematika. Bagi saya, itu kesesatan berpikir yang parah. Konsep, apalagi yang mendasar seperti apa makna sebuah operasi matematika, mestinya diajarkan sejak dini. Dengan pemahaman konsep dasar sejak di kelas bawah, siswa tak akan dibingungkan dan mengalami kerancuan lagi dengan konsep-konsep berikutnya yang makin rumit sesuai tingkatan kelasnya.

Tidak dihargainya proses dan konsep itu jelek sekali akibatnya. Siswa-siswa lupa menulis namanya di lembar jawaban ujian karena bagi mereka ujian itu adalah mengerjakan soal dan mendapat nilai tinggi. Siswa pusing belajar Fisika karena mereka tak paham apa yang sedang mereka kerjakan. Para orangtua berpendapat bahwa jika anaknya tidak juara kelas berarti sang anak adalah anak tak berbakti dan tak layak dibanggakan. Stakeholder pendidikan nasional berpikir bahwa sekolah itu berarti menghasilkan siswa-siswa berstandar nasional yang lulus UN, dan kurikulum harus diganti dengan kurikulum yang tidak jelas.

Dan anak-anak bangsa kita hanya jadi bangsa kuli, yang merasa baik-baik saja ketika hasil buminya dikeruk orang kaya (dari negeri sendiri dan dari negeri lain) dan tetap merasa senang ketika ditipu politisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s