“Meledak” dan “Beringsut”, Dua Teori Untuk Menjelaskan Semesta

Beberapa waktu lalu, di salah satu pertemuan kelas Sedimentologi, pak dosen membicarakan pendahuluan tentang bumi. Beliau sepintas menyebut soal proses terjadinya alam semesta melalui bigbang, kemudian berlanjut ke proses pergeseran lempeng yang merupakan bagian dari teori lempeng tektonik. Ujungnya nanti berakhir di proses sedimentasi, sesuai topik utama perkuliahan.

Sementara pak dosen menjelaskan, pikiran saya melayang ke masa-masa dulu. Saat masih menjadi mahasiswa Astronomi ITB, topik Kosmologi adalah topik yang paling saya suka—terlepas dari sulitnya tensor dan segala rumusan matematisnya. Alasannya, topik ini membuat saya benar-benar mengerahkan segala pemikiran rasional yang saya punya. Ada banyak misteri di alam semesta, yang jika dipikirkan sebagai sekedar hukum alam membuat diri kita tak akan puas. Begitupun jika segala misteri itu dicukupkan sebatas menyatakan “itulah kekuasaan Tuhan”, itu tidak memuaskan dan malah bisa berbalik menyebabkan mereka yang imannya lemah jadi tidak percaya Tuhan. Bagi saya, misteri-misteri ilmiah itu harus selalu dicari jawabannya, dan penjelasan ilmiah yang kita dapatkan pada akhirnya akan membuat kita menyadari bahwa ada kekuatan besar yang menguasai alam semesta ini.

Ketika akhirnya saya terpaksa keluar dari Astronomi ITB dan beralih ke jurusan Fisika Universitas Andalas, perlahan namun pasti ketertarikan saya beralih. Dari langit ke bumi. Berawal dari mengikuti kuliah Geofisika dan semakin membuncah saat saya mengikuti kuliah Seismologi, saya akhirnya menyadari bahwa ada misteri besar juga di bumi kita sendiri. Kenapa ada gunung? Kenapa gunung meletus mengeluarkan lava? Kenapa ada gempa bumi? Kenapa ada pulau dan benua dan samudra? Pertanyaan-pertanyaan itu tersaji dengan baik di setiap mata kulah terkait Geofisika yang saya ikuti. Dan pada masa itu juga saya berkenalan dengan teori lempeng tektonik.

Teori dentuman besar (Big Bang) dan teori lempeng tektonik (Tectonic Plate), dua teori yang sampai sekarang bagi saya demikian menakjubkan, karena membantu kita menjelaskan berbagai misteri di langit dan bumi, sekaligus menambah misteri lain yang merangsang otak kita untuk memikirkannya secara rasional. Dan, dalam kasus saya, menyebabkan saya beranggapan bahwa Tuhan itu maha besar karena menciptakan manusia sebagai makhluk yang senantiasa berpikir.

Kilas Teori

Teori Bingbang mencoba menjelaskan kenapa galaksi-galaksi yang berada jauh dari bumi bergerak menjauh satu sama lain. Jadi misalkan ada 3 galaksi, galaksi S, galaksi S2 dan galaksi S3. Jika kita, manusia, tinggal di galaksi S, maka dengan menggunakan teropong kita amati bahwa galaksi S2 dan S3 bergerak menjauh dari kita yang ada di galaksi S. Selain itu, galaksi S2 dan S3 juga masing-masing bergerak menjauh satu sama lain.

Kilas teori Bigbang dalam gambar: Awalnya titik kecil yang mengembang jadi alam semesta raksasa kita saat ini. Sumber gambar dari Wikipedia.

Yang terpikirkan oleh ilmuwan-ilmuwan yang memikirkan gerak menjauhnya galaksi itu adalah, alam semesta kita ini mengembang. Semakin lama semakin besar. Jika memang demikian, kalau disurutkan ke masa yang sudah lampau, tentulah suatu saat di masa lalu itu alam semesta ini kecil saja adanya. Maka demikianlah, lahirlah teori yang menyebutkan dulunya alam semesta ini kecil, berupa titik, dan oleh suatu musabab titik itu membesar. George Lemaitre menaruh fondasi teori, Albert Einstein memberikan fondasi fisis dan matematis, dikembangkan seterusnya oleh Willem de Sitter dan Alexander Friedmann, bukti pengamatan diberikan oleh Edwin Hubble, dan seterusnya hingga masa kini para fisikawan terus berjibaku utak-atik revisi hablah hablah meneruskan teori ini, dengan satu tujuan: menjelaskan kenapa alam semesta dan isinya ini bisa menjadi ada.

Lempeng-lempeng yang diperkirakan menjadi susunan puzzle di permukaan bumi. sebagai penjelasan teori Lempeng Tektonik. Gambar dari Wikipedia.

Lempeng-lempeng yang diperkirakan menjadi susunan puzzle di permukaan bumi. sebagai penjelasan teori Lempeng Tektonik. Gambar dari Wikipedia.

Sementara teori bigbang yang melangit itu berkembang, di bumi sendiri manusia masih bingung kenapa kok gempa bumi bisa terjadi. Apakah seperti dalam kisah mistis-religius, bahwa Tuhan menciptakan suatu malaikat bertanduk yang menaruh bumi ini di tanduknya, dan kalau kepalanya diguncang sedikit maka terjadilah gempa? Untung, mitologi semacam itu terlalu irasional, bahkan (saya kira) bagi penganut yang fanatik sekalipun. Dan irasionalitas itu memaksa manusia mencari penjelasan yang lebih masuk akal. Lebih logis rasanya jika Bumi ini kita anggap sebagai bola yang berlapis-lapis, di bagian luarnya keras seperti kerak dan bagian dalamnya panas. Segala sesuatu yang panas cenderung untuk bergerak, pendapat ini sudah disepakati oleh para ahli Termodinamika, maka jika bagian dalam bumi ini panas maka tentulah ia memiliki gerakannya sendiri akibat proses pemindahan panas yang terjadi. Pergolakan di dalam bumi menyebabkan bagian kerak yang keras tadi terkena imbasnya. Kerak itu bergoyang, retak dan pecah membentuk lempengan, dan kemudian bergerak perlahan. Pertemuan lempeng menyebabkan getaran yang kita sebut sebagai “gempa bumi”, dan gerakan-gerakan lempeng melahirkan gunung, lembah dan ngarai, serta laut. Alfred Wegener yang menjadi peletak dasarnya, seterusnya dikembangkan dan dikembangkan dan dikembangkan terus oleh para fisikawan.

Aspek Sejarah

Teori Bigbang dan teori Lempeng Tektonik lahir dalam kala yang bersamaan. Dan pada masa itu, sains masih sedemikian tradisional. Apapun yang bertentangan dengan pendapat klasik sulit diterima.

Ah sebentar, sebenarnya ini sifat dasar sains dimana skeptisisme diagungkan. Para ahli dan akademisi jaman sekarang juga pada dasarnya cenderung pro pendapat mainstream atau status quo.

Tapi pokoknya demikian. Teori Bigbang mendapatkan namanya, “big bang”, sebagai bahan olok-olok dari fisikawan yang mengkritik teori tersebut. Alfred Wegener dengan teori yang kala itu dia sebut sebagai continental drift juga bukannya tanpa perjuangan, dia bahkan hampir terpaksa melupakan pendapatnya sendiri karena masyarakat ilmiah masa itu tak sudi menerimanya.

Semua berubah seiring waktu. Semakin banyak bukti-bukti. Semakin banyak dukungan matematis dan fisis. Pada akhirnya, kedua teori ini menjadi acuan utama bagi mereka yang mempelajari langit dan bumi. Dan juga, semakin banyak misteri yang bisa dijelaskan sekaligus juga dengan semakin banyak tantangan misteri yang muncul.

Kemanusiaan

5036_122641067500_1760529_nKita, manusia, terus dan terus dan akan terus belajar memahami rahasia Tuhan yang Ia taruh di alam. Kata-Nya dalam ayat-ayat suci, semua ini hanya untuk mereka yang berpikir, dan hasil pemikiran akan selalu menjadi sesuatu yang tak ternilai untuk mereka yang beriman.

Saya bersyukur selalu mendapatkan kesempatan belajar🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s