Palestina Kita Semua

Palestina. Sejak 1948, atau mungkin jauh sebelum itu, ketika Utsmani kehilangan power mereka di tanah itu, persoalan ini tidak selesai.

Jika berpikir global, memang isu ini bukan lagi menjadi milik umat Islam. Ini isu penting juga buat umat Nasrani, karena kompleks suci agama mereka berada di area konflik. Demikian pula dengan umat Yahudi, karena penjahat-penjahat Israel itu menggunakan simbol-simbol agama Yahudi sebagai pembenaran kejahatan mereka. Dan secara sekuler, isu Palestina adalah isu penting karena ada sebuah so-called negara bertindak secara fasis, diskriminatif, dan melakukan praktek apartheid yang seharusnya dikutuk oleh semua kalangan.

Dalam hal ini saya tidak sepenuhnya sepakat bahwa isu Palestina bukan isu agama. Isu Palestina adalah isu agama, isu politik, isu keamanan, isu sosial dan sebagainya.

Palestina dan Islam

Palestina, dalam pandangan saya, adalah isu terbesar umat Islam. Isu ini tidak akan selesai kecuali terlebih dahulu terbentuk kesamaan pandangan di kalangan umat Islam, terutama pemerintah negara-negara berpenduduk Islam di Timur Tengah. Kenapa saya berpadangan seperti ini? Simpelnya, karena tak ada yang memiliki ikatan lebih kuat dengan Palestina selain umat Islam.

Meskipun secara umum isu ini adalah isu global, namun saya tak percaya akan ada negara non-muslim yang mau benar-benar memusatkan perhatiannya untuk Palestina. Oke, akan ada orang yang membentuk LSM dan gerakan peduli, tapi bukan dalam level negara dan secara politis tidak akan memiliki kekuatan memadai. Bangsa barat (termasuk Rusia) tidak akan peduli. Bangsa timur seperti Cina, Jepang, hanya akan melihat apakah ekonomi mereka terganggu atau tidak. Sekali lagi, ikatannya tidak cukup kuat.

Sementara, jika jazirah Arab dan negara-negara berpenduduk muslim kembali dikuasai oleh orang-orang yang “benar” maka mereka akan peduli. Sejarah Palestina sebagai bumi para nabi, Jerusalem sebagai kiblat pertama, waqaf dari Umar bin Khattab untuk umat Islam, pusat perselisihan semasa Perang Salib, semuanya cukup menjadi alasan keterikatan umat Islam dengan tanah Palestina.

Maka dari itu, saya melihat persoalan Palestina ini baru akan benar-benar selesai begitu umat Islam ini mampu kembali ke jalan yang benar. Berhenti berkonflik sesamanya, pemimpin-pemimpinnya berhenti berlaku koruptif, dan masyarakatnya mencerdaskan dirinya.

Palestina dan Konflik Lainnya

Ketika melihat isu Palestina sebagai sebuah “bukan konflik agama”, seringkali saya bertemu opini yang mempertanyakan kenapa Palestina harus didahulukan padahal ada banyak konflik lain di dunia ini. Saya agak heran dengan pendapat semacam itu, karena perbandingan lingkup konfliknya tidak sama.

Katakanlah Ukraina. Ada yang mengatakan kenapa Palestina begitu dipedulikan sementara Ukraina tidak. Apakah di Ukraina ada tembok apartheid? Apakah di Ukraina ada pengeboman rumah sakit? Apakah di Ukraina ada bangsa yang harus mengungsi di tanah mereka sendiri selama puluhan tahun? Apakah di Ukraina ada sebuah negara dengan fasilitas militer lengkap menyerbu sebuah bangsa yang mencoba membuat negara dan negaranya itu tidak diakui dunia, tidak memiliki militer yang baik dan … ah, fuck you with your bigotry!

Mau ambil contoh apa lagi? Syria—jangan bilang komunitas pro-Palestina tak peduli! Afrika Tengah—jangan bilang komunitas pro-Palestina tak peduli. Ada banyak bukti kepedulian terhadap kasus Syria dan Afrika Tengah. Ya, di sana ada korban kemanusiaan, tapi tolong, bandingkanlah secara fair.

Saya tidak melhat ada bangsa yang bernasib lebih malang daripada orang-orang Arab di Palestina dan orang-orang Rohingya di Myanmar. Ada bangsa Turkistan di barat Cina, atau bangsa Moro di Filipina, tapi—tanpa menafikan penderitaan mereka—nasib mereka masih lebih mendingan. Ini kalau menggunakan perbandingan.

Yah, itulah. Saya akan himbau, wahai manusia, pedulilah pada Palestina. Jika menggunakan pandangan agama, lihatlah di sana ada umat agama engkau yang terganggu. Jika tak mau menggunakan agama, lihatlah bahwa di sana ada kemanusiaan yang terganggu! Tidakkah hal ini menggugah diri? Atau, kalaupun tak mau peduli, sudahlah jangan ganggu pula orang-orang yang peduli dengan komentar-komentar tak pentingmu tentang kepedulian itu. Ini konflik multidimensi. Dukunglah sebagian umat Islam yang peduli Palestina karena agama mereka, dukunglah sebagian umat Nasrani yang peduli karena agama mereka, dukunglah sebagian umat Yahudi yang peduli karena agama mereka, dukunglah penganut agama lain yang peduli karena ajaran agama yang mereka yakini. Dan dukunglah mereka yang meyakini Palestina adalah persoalan kemanusiaan yang tak mungkin diabaikan.

Bahan Bacaan

Seorang insan pers, Timothy Marbun, memuat terjemahan wawancara yang dilakukannya dengan Duta Besar Palestina untuk Indonesia. Saya pikir, wawancara ini akan membuka mata hati karena memang terungkap apa yang tidak bisa diungkapkan di tempat lain. Kalau ingin lebih afdhal, silakan kunjungi blog yang bersangkutan di sini:

http://timmarbun.wordpress.com/2014/07/15/apa-yang-tidak-anda-lihat-di-media-tentang-gaza-wawancara-dengan-dubes-palestina-fariz-mehdawi/

Bahan bacaan lain yang saya sukai adalah twit dari Ali Abunimah di Twitter, serta artikel-artikel di Electronic Intifada. Ada banyak sekali sumber lainnya, di era seperti sekarang kita akan rugi sekali kalau tidak pernah melihat atau membacanya.

Dokumenter

Dokumenter tentang Palestina saya rasa banyak juga. Saya tidak pernah menonton semua dokumenter yang ada, tapi satu yang menjadi favorit saya adalah Budrus. Budrus ini nama sebuah desa di Palestina, rakyatnya melakukan protes atas upaya penjahat Israel yang membangun tembok apartheid yang menyebabkan tanah dan kebun milik warga desa tersebut dibuldoser. Dokumenter ini menunjukkan bagaimana aksi protes damai itu dilakukan.

Berikut ini trailernya yang ada di YouTube.


#FreePalestine #SaveGaza Allahu Akbar!

2 thoughts on “Palestina Kita Semua

  1. Yang lagi ngetrend sekarang adalah membandingkan kepedulian palestina dengan papua eds. Gimana menurut mu? Kok kayak seolah2 lupa ama bangsa sendiri ceunah

    Like

    • Ya sama sih, konteks kepedulian yg dipertanyakan itu gimana? Perbandingan masalahnya sama nggak? Dulu juga suka ada yg ngebandingin dengan kepedulian untuk nasib TKI.

      Dan apa benar kita betul-betul melupakan persoalan di sana? Jaman sekarang sih mudah ngecek apakah bantuan PKPU, ACT, MER-C dan sebagainya itu sampai ke Papua atau nggak.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s