Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Saya sebenarnya bukan orang yang akrab dengan laut. Saya orang pegunungan–dibesarkan di kota Bukittinggi yang dikelilingi gunung. Walau laut pernah jadi bagian masa kecil saya semasa tinggal di Padang 1988-1990, itu cuma sepintas, dan memori saya tentang laut dari masa itu tidaklah banyak. Dengan latar sedemikian, jelas pengetahuan saya tentang laut tidak banyak.

Apalagi cinta saya pada laut. Sejauh ini mungkin cuma sebatas menikmati keindahan senja di balik bentangan samudra.

Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2, pilihan saya jatuh ke Magister Ilmu Kelautan UI. Sejujurnya, ini pilihan nekad dan tanpa banyak pertimbangan. Tadinya mau ke Fisika, tapi untuk masa penerimaan semester genap tidak ada penerimaan untuk jurusan Fisika. Akhirnya saya lihat-lihat jurusan apa saja yang tersedia di FMIPA, ternyata ada Magister Ilmu Kelautan, dengan salah satu pilihan peminatan Sains Fisik Kelautan. Begitu melihat mata kuliahnya cukup banyak berkaitan dengan fisika kebumian, saya putuskan untuk mendaftar. Dan ternyata diterima. Wah!

Sekarang hampir 3 bulan berlalu sejak kuliah hari pertama dimulai. Dan ternyata, saya masih bertanya-tanya kenapa saya mengambil kuliah magister kelautan ini. Seperti yang tadi saya bilang, pilihan ini tidaklah dipikirkan secara matang. Jawaban yang muncul dari hati terlalu klise dan ideal: yang penting dapat ilmunya. Saya ingin puas dengan jawaban ini, tapi saya sungguh takut ketidak-idealan dunia ini merusak semuanya. Ilmunya didapat, lalu apa?

Kalau kata Letto, “Tapi, kusadari bukan itu yang kucari …”

Saya ingin menemukan hal menyenangkan baru. Dulu di ITB, kesenangan itu ada di luar angkasa sana. Astronomi, yang sampai sekarang “kecupannya” masih membekas. Yah, walaupun di sana yang terjadi hanyalah kisah kasih tak sampai. Lalu di Unand, saya menemukan kesenangan pada bumi. Kenapa di bumi bisa terjadi gempa adalah salah satu bahasan dalam skripsi saya, dan kuliah yang terkait adalah kuliah favorit saya.

Sekarang di UI. Laut. Bahwa kenyataan negeri Indonesia–yang nenek moyangnya seorang pelaut ini–adalah negara lautan yang meremehkan potensi kelautannya sendiri sudah mulai mengusik benak saya. Bahwa El Niño, La Niña, panasnya beberapa provinsi di Indonesia padahal sedang musim hujan dll itu penjelasannya ada di laut mulai menarik perhatian saya. Saya ingin bersenang-senang dengan ilmu tentang laut ini.

Mungkin sembari memikirkan apa yang akan saya lakukan dengan ilmu ini nantinya, ya?

Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan–yang kuyakin kau tak ingin aku berhenti. Itu kata Letto lagi.