Lost in Paradise

I’ve been believing in something so distant
As if I was human
And I’ve been denying this feeling of hopelessness
In me, in me

All the promises I made
Just to let you down
You believed in me, but I’m broken

I have nothing left
And all I feel is this cruel wanting

We’ve been falling for all this time
And now I’m lost in paradise

Bukan sekali-dua kali saya merasa sebagai pengemban tanggungjawab yang gagal. Mungkin, setidaknya sejak 2007. Sebelumnya juga sudah ada, tapi kecil-kecil.

Tahun 2002 saya diterima di ITB. Kampus satu itu, biaya pendidikannya relatif besar dibandingkan beberapa kampus negeri lainnya. Orang tua saya bahkan terdengar tidak percaya dengan besaran biaya per semester yang bahkan masih lebih besar dibandingkan jumlah biaya semester yang dibayarkan untuk dua kakak saya. Belum lagi biaya hidup. Di kota seperti Bandung cukup lumayan juga besarnya.

Saya tetap masuk ITB.

Lalu saya keluar dari ITB dengan cara yang kurang nyaman tahun 2007. Selama lima tahun itu, saya tak terlalu banyak berpikir tentang berapa banyak dana yang keluar dan bagaimana caranya dana tersebut ditalangi. Keluarga saya bukan keluarga kaya–bahkan kalau saya tidak kuliah maka kehidupan kami masih akan dihitung pas-pasan. Maksudnya serba ngepas, mau beli ini itu pas saja uangnya, tidak berlebih. Kalau kaya, maka uangnya berlebih. Baru tahun 2007, saya mulai menghitung bagaimana pengorbanan keluarga yang terjadi selama 5 tahun saya kuliah-namun-gagal itu.

Gagal di ITB, saya beralih ke Unand. Saya pribadi tak membuat banyak ekspektasi ketika meneruskan kuliah di sini. Yang penting lulus sajalah secepatnya, begitu mulanya pikir saya.

Gagal juga. Saya butuh 4 tahun juga hingga akhirnya lulus, meleset jauh dari target yang cuma 2,5 tahun. Saya selesai sidang sarjana tanggal 2 Agustus 2011. Total durasi kuliah saya adalah 9 tahun. Terlalu lama. Meskipun saya sudah mulai berpikir tentang besarnya pengorbanan keluarga demi kuliah saya, toh semuanya berlalu sebagaimana sebelumnya saja.

Bagi diri pribadi saya memang merasakan kepuasan tertentu. Saya senang telah bergabung dengan masyarakat Astronomi ITB dan Indonesia. Saya selalu merasa Astronomi memberikan saya pelajaran yang sangat berharga, sungguh tak ternilai harganya itu. Demikian juga, saya sungguh sangat senang telah bertemu dengan Geofisika. Seakan lengkap rasanya, saya menemukan hikmah yang membumi dari Geofisika (Fisika Kebumian) disamping hikmah yang melangit dari Astronomi.

Tapi itu pribadi. Begitu saya disadarkan dengan keberadaan saya dalam masyarakat, rasa-rasanya saya telah berlaku egois. Uang mungkin bukan parameter yang layak untuk menjadi bahan evaluasi hasil kuliah saya di ITB dan Unand. Tapi parameter ini saja sudah cukup untuk membuat saya termenung, betapa banyak sekali pengeluaran keluarga hanya untuk biaya pendidikan saya. Estimasi kasarnya (saya tidak tahu persis apakah estimasi ini benar atau tidak), jika biaya yang dikeluarkan untuk biaya kuliah S1 dua kakak dan satu adik saya, maka jumlah ketiganya itu masih lebih kecil dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk saya seorang.

Adakah ekspektasi dari keluarga terhadap saya? Rasanya, dan harusnya, ada. Hanya saja itu tersembunyi.

Saya ke Jakarta selepas lulus dari Unand. Kalau dihitung sampai sekarang, sudah 2 tahun saya berdomisili di Jakarta. Saya bekerja sebagai pengajar Fisika di sebuah lembaga bimbel terkemuka. Honornya, ada lah, ketimbang kalau saya menggeluti pekerjaan sejenis di kampung halaman. Hanya saja, saya hampir tak pernah membagi honor yang saya dapatkan itu untuk keluarga saya di kampung halaman. Paling pas lebaran, atau kalau adik saya menelepon minta dikirimkan uang untuk bantu-bantu beli minyak. Di sini, saya lagi-lagi merasa bahwa saya gagal lagi memikul tanggung jawab. Saya mestinya mengirimkan uang bulanan, dimana mestinya penghasilan saya cukup untuk itu, dan saya tak melakukannya.

Well, saya sadar bahwa perasaan ‘gagal’ saya ini mungkin tidak tepat. Kedua orangtua saya mungkin akan marah kalau saya mengatakan hal itu kepada mereka, begitu juga kakak-kakak dan adik saya. Tapi ya bagaimana, perasaan gagal ini tetap ada dan saya pikir … natural.

Ada lagi. Tanggal 29 Desember 2013 lalu, saya dinyatakan lulus seleksi masuk Pascasarjana Universitas Indonesia. Kalau saya ingin melanjutkan prosesnya hingga saya resmi diterima sebagai mahasiswa UI, maka saya butuh dana. Nilainya tidaklah sedikit, bagi saya dan keluarga saya.

Saya pernah ditanya oleh maktuo (bibi, kakak perempuan bapak) saya, apakah benar-benar mau melanjutkan kuliah. Kalau ya, apakah saya sudah memikirkan kesulitan yang (mungkin) akan dialami, baik oleh saya sendiri maupun oleh keluarga. Terutama, tentunya, orang tua. Saya menjawab bahwa biaya kuliah per semester akan saya usahakan sendiri, karena saya toh punya pekerjaan. Tentang orangtua, wew, saya bilang ke maktuo bahwa mereka yang mendorong saya untuk kuliah lagi.

Walaupun benar, namun sekarang saya merasa jawaban itu terlalu shameless. Ego saya keluar, bahwa saya tak mengakui bahwa keinginan untuk melanjutkan kuliah ini aslinya ada di dalam hati saya. Apa yang saya katakan ke maktuo saya itu, seakan saya membebankan resiko yang akan dihadapi orangtua justru karena orangtua saya itu sendiri yang meminta saya kuliah. Ah😦

Yang jelas, sekarang ‘korban’ sudah ada. Demi membayarkan biaya semester pertama plus uang masuk, bapak saya meminjam uang di bank dan akibatnya, penerimaan pensiunnya untuk tiap bulan berikutnya jadi menipis. Karena selama ini kebutuhan rumah tangga umumnya dibayarkan dengan uang dari penerimaan pensiunnya si bapak, maka dengan terjadinya penipisan ini alhasil penerimaan tak akan cukup untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Solusinya, kakak dan adik saya yang akan menambahnya. Artinya, bisa dibilang, lagi-lagi kuliah saya akan menjadi beban bagi anggota keluarga saya. Saya mungkin bisa puas melepas dahaga saya akan ilmu. Tapi egoisme seharusnya tak bisa ditoleransi, karena itu kepuasan yang mungkin akan saya nikmati tak akan punya arti jika keluarga saya terbeban. I’m actually a … hopeless man😦

I’ve been believing in something so distant
As if I was human
And I’ve been denying this feeling of hopelessness
In me, in me

Saya bisa saja berjanji bahwa semua ini akan terbayarkan nantinya. Saya harus berusaha keras untuk sukses. Saya akan belajar dengan baik, mengambil setiap kesempatan dengan baik. Bahwa ini semua akan menunjukkan saya betapa kerasnya hidup. Betapa semua ini akan mengajarkan saya lebih banyak hal lagi. Dan sebagainya dan seterusnya.

All the promises I made
Just to let you down
You believed in me, but I’m broken

I have nothing left
And all I feel is this cruel wanting

Ketika saya menuliskan keluh kesah isi hati ini, bapak saya sedang duduk di atas sajadah. Berdoa. Mungkin untuk saya. Sekali lagi saya tersadar betapa memalukannya diri ini, betapa hanya sedikit doa untuk beliau yang pernah saya panjatkan😦


Catatan:

Lost in Paradise merupakan judul lagu dari Evanescence. Beberapa bait lagunya saya kutip, hanya pada bagian yang saya rasa memiliki kecocokan saja. Interpretasi dari penulis lagu aslinya mungkin sekali tidak sama seperti interpretasi di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s