Malang & Bromo, 13-17 Desember 2013

Jalan-jalan, alias travelling, alias raun-raun kata orang Minang, termasuk salah satu hal yang saya inginkan dalam hidup ini. Terlebih lagi kalau mendengar cerita dari teman-teman yang pergi backpacker-an ke beberapa destinasi wisata, sehingga dapat menekan biaya. Siapa yang tidak mau jalan-jalan dengan biaya murah?

Pucuk dicinta ulam tiba. Setelah tinggal 2 tahun di Jakarta, akhirnya ada yang mengajak saya bergabung pergi raun. Seorang rekan kerja, sebut saja namanya P, tiba-tiba nodong saya, “Pak FET mau ikut ga, ke Bromo?” Oh, jalan-jalan. Tujuannya ke Bromo, lewat Malang. Anggaran, katanya, diupayakan semurah mungkin. Selain P juga ada 2 rekan kerja lain yang ikut, yaitu R dan T. Hmm, menarik, tapi saya hitung duit dulu:mrgreen: . Well, tak butuh waktu lama bagi saya untuk setuju: kurang dari seminggu kemudian (tanggal tepatnya 1 Desember 2013) saya sudah memesan tiket pulang-pergi Jakarta-Malang.

Mungkin perlu ditulis juga bahwa P & R ini perempuan dan T laki-laki. Jadi komposisi rombongan adalah 2 laki-laki & 2 perempuan. Kami berupaya lebih banyak lagi yang ikut, karena kalau rame biaya bakal lebih murah.

Beli Tiket

Semua yang pernah jalan-jalan pakai kereta api tentu sudah tahu bahwa pembelian tiket sekarang sudah jauh lebih mudah, walaupun masih belum semudah pembelian tiket pesawat terbang. Pembelian tiket bisa secara online dan pembayaran bisa melalui minimarket.

Saya memutuskan beli tiket melalui salah satu layanan penjualan tiket online. Perlu disebut gak ini nama perusahaannya? Haha, gak usah lah:mrgreen: Kebetulan saya sudah cukup sering belanja tiket pesawat di sana, dan segalanya berlangsung lancar dan nyaman.

Saya beli tiket untuk 2 orang, karena P minta tolong untuk membelikan tiket buat temannya, sebut saja L, yang juga ingin ikut. Mudah saja, klik sana klik sini ketik ini itu bayar ke ATM dan … beres. Berangkat KA Matarmaja 114 Pasarsenen – Malang 13 Desember 2013 gerbong 1 kursi 23D-E. Pulang KA Matarmaja 113 Malang – Pasarsenen 17 Desember 2013 gerbong 1 kursi 16D-E. Per orang cukup Rp 65.000 saja, total pulang pergi per orang Rp 130.000. Murah meriah!

Membelikan tiket kereta api buat orang lain berarti saya jadi tahu nama lengkap, nomor KTP, tanggal lahir dan nomor HP orang tersebut, muhahaha #eh😛

Nah karena L juga ikut, maka komposisi rombongan jadi 2 laki-laki & 3 perempuan.

Berangkat

Saya tak sabar juga ingin segera berangkat. Beli tiket tanggl 1 dan baru berangkat tanggal 13, lumayan lama juga menunggu, apalagi kerjaan saya sudah libur dari tanggal 9. Pengennya begitu libur langsung berangkat gitu😀 Sambil menunggu saya browsing informasi perjalanan ke Bromo & Malang via internet. Saya catat beberapa hal penting, terutama terkait transportasi biar ga kena tipu—saya pernah kena tipu di Tangkuban Perahu karena ga tau kondisi. Hitungan saya, kami bisa nyari penginapan murah di sekitar Bromo dan sewa jip, dengan biaya total 800an ribu per rombongan. No problem, Rp 800an ribu dibagi 5, Sekitar 160an ribu. Relatif murah. Ditambahkan dengan perkiraan biaya menginap di Malang, tiket kereta dan biaya tak terduga, saya menyiapkan anggaran maksimal Rp 700.000.

Yah rencana tak selalu mulus. Malam sebelum berangkat, P ngewhatsapp bilang mungkin anggaran buat ke Bromo 450an ribu. Saya pikir kalau segitu ya baguslah, lebih murah dari hitungan saya. Besoknya, pas udah siap menunggu kereta di stasiun, saya baru sadar bahwa 450an ribu yang dimaksud itu per orang. Buat ke Bromonya saja. APA?!?! Buset! Bisa tekor ini!

Karena niatnya backpacker dan bukan ala wisatawan kayah yang pakai agen perjalanan, maka saya usulkan nyari jip dan penginapan on the spot saja. Ntar diobrolin di kereta aja gimana-gimananya, yang jelas saya ga bakalan mau kalau 450ribu per orang. Ok, kereta datang setelah terlambat hampir 1 jam. Biasa lah. Iwan Fals aja bilang kereta terlambat 2 jam. Dan kami pun naik.

Kalo rame, bisa berkuasa :D

Kalo rame, bisa berkuasa😀

Oh ya soal kursi, saya beli nomer 23D-E, ini kursi buat saya dan L, terpisah jauh dari P, R dan T walau masih satu gerbong. Tadinya agak khawatir juga bakalan geje selama perjalanan karena L ini perempuan dan saya belum kenal. Tapi, di kereta api ekonomi ternyata santai ajalah ngembat kursi orang kalau kitanya sedang pergi berombongan, haha. Jadi kami ngumpul saja berlima menguasai kursi buat 6 orang. Untungnya seorang penumpang lain yang kebetulan kursinya kami embat tampaknya ga keberatan. Toh dia juga dapat gantinya, menguasai kursi 23D-E punya saya dan L😀

Di Malang

Akhirnya sampai di stasiun Malang hari Sabtu (14/12/2013) sekitar pukul 10 pagi, setelah perjalanan sekitar 17 jam lebih. Setelah ketemu sama tantenya R yang tinggal di Malang, kami pergi nakam1. Menu saya pagi itu adalah nasi rawon buntut, dengan tempe dan krupuk serta ditambahkan dengan telur puyuh sisa dari yang dibeli di kereta. Setelah itu ke penginapan, istirahat dulu dari siang sampai sore. Malamnya main-main ke alun-alun kota Malang.

Minggu pagi, kami ke pasar pagi Tugu bersama keluarga tantenya R. Ternyata pasar pagi itu ajang rame-ramenya warga kota Malang. Ada yang bersepeda, jogging, senam tahes2, skateboard, atau sekedar uklam-uklam3 kayak yang kami lakukan.

Bisa belanja apa saja!

Bisa belanja apa saja!

Suasananya emang asyik ...

Suasananya emang asyik …

Kelompok seniman yang tadinya adalah anak-anak jalanan.

Kelompok seniman yang tadinya adalah anak-anak jalanan.

Mahasiswi pun tak ketinggalan ...

Mahasiswi pun tak ketinggalan …

Bromo!

Oh ya, selama beristirahat di hari Sabtu, kami sempat membicarakn tentang rencana ke Bromo. Rupanya, yang 450ribu per orang itu dari sebuah agen wisata. Jelas saja mahal, target mereka kan orang-orang yang mau gampang ke Bromo dan punya uang. Saya masih ingin pake gaya backpacker, yang murah meriah saja walaupun harus sedikit repot.

Tapi rupanya ketemu jalan tengah. R, yang memang banyak berperan mengurusi rencana perjalanan ini, tiba-tiba mendapatkan link ke seorang agen yang bersedia antar jemput Bromo-Malang dengan Rp 250,000 per orang. Dipikir-pikir, harga yang ditawarkan sebenarnya cukup masuk akal. Kalau cari penginapan di kawasan Bromo dan kemudian cari jip, mungkin jatuhnya sekitar 150-200ribu. Ini 250ribu minus repot. Apalagi Desember ini di Malang cukup sering hujan. Akhirnya kami setuju. Berangkat Senin dinihari pukul 12 malam.

Sang agen cukup lumayan juga layanannya. Menjemput tepat waktu, langsung ke depan rumah pula (saat itu kami menunggu di rumah tantenya R). Kami kemudian berangkat ke Bromo. Kalau saya perhatikan jalannya, tampaknya kami dibawa masuk ke Bromo lewat Pasuruan. Saya tak memperhatikan lebih jauh karena akhirnya tertidur pulas, dan bangun-bangun mobil sudah berhenti di suatu tempat. Jalanan longsor di sana. Padahal sudah cukup dekat ke pangkalan jip. Terpaksa ngojek, tapi saya heran kenapa bukan jipnya saja yang disuruh jemput ke bawah? Ah sudahlah. Ok, ngojek. “Pitih kalua jo ko mah“, pikir saya.

Akhirnya ngojek ke pangkalan jip. Mulai kerasa benarnya kata orang-orang: kawasan Bromo itu dingin. Pas naik motor saya masih merasa biasa saja, belum sedingin Lembang, pikir saya. Tapi ketika sampai di pangkalan jip mulai kerasa dinginnya. Sekitar pukul 03.00 jip berangkat ke kawasan untuk melihat sunrise. Sampai di atas saat subuh, jadi kami shalat dulu. Sama seperti pengalaman saya setiap kali begadang di Observatorium Bosscha bertahun-tahun lampau, saat subuh adalah saat paling dingin. Walau menggigil, saya paksakan berwudhu. Selesai shalat, wwwaaaaa diiiingiiinnnn, sarung tangan dan sweater seperti tak ada pengaruhnya. Mulut saya mengeluarkan uap air setiap kali berbicara. Seperti naga saja rasanya. Karena matahari akan segera terbit, mau tak mau mesti segera beranjak juga ke tempat pengamatan sunrise.

Sunriisenya tak ada ternyata. Ufuk timur penuh awan, cuma terlihat secuil warna kemerahan dari sela-sela awan biru. Saya agak bertanya-tanya juga kenapa di saat matahari terbit begitu awannya jadi biru dan bukannya merah. Mungkin jawabannya karena kita melihat efek hamburan Rayleigh dari tempat tinggi, atau apalah saya juga ga tau. Halah dasar guru fisika, mikirnya ke sana terus >_<

Tadinya saya kecewa karena tak ada sunrise cantik seperti kamu, tapi itu sebelum saya melihat ke arah selatan. Karena merasa tak ada pemandangan menarik, saya kemudian berkeliling, barangkali bisa ambil foto-foto candid. Saat melihat ke selatan, ternyataa … pemandangannya WAW!! Pantesan dari tadi orang-orang lebih banyak ngumpul di selatan ketimbang di timur -_-

Kumpulan gunung-gunung di dalam kaldera Tengger ini benar-benar mahakarya Maestro Alam Semesta …

Gunung Batok dan kawah Bromo

Gunung Batok dan kawah Bromo

Kawah Bromo

Kawah Bromo

Makin ganteng kalau berfoto di depan pemandangan indah :D

Makin ganteng kalau berfoto di depan pemandangan indah😀

Siapa coba yang ga takjub? :')

Siapa coba yang ga takjub? :’)

Puas melihat-liat pemandangan pagi, kami lalu melanjutkan perjalanan. Tempat mengamati sunrise itu kata orang namanya Penanjakan, tapi entah Penanjakan berapa. Berikutnya kami dibawa supir jip mengelilingi kawasan di dalam kaldera Tengger. Awalnya ke bukit Teletubbies dulu. Dinamakan bukit Teletubbies katanya karena mirip dengan suasana di serial anak-anak itu, tapi buat saya yang tak pernah nonton Teletubbies, bukit itu tampak lebih mirip wallpaper Windows XP:mrgreen: . Yang jelas, bukitnya cantik di bawah langit biru!

Jaran

Jaran

Biasa lah, makin ganteng di depan pemandangan indah :-p

Biasa lah, makin ganteng di depan pemandangan indah :-p

Ngantuk dan capek hilang :)

Ngantuk dan capek hilang🙂

Berikutnya oleh supir jip dibawa ke lautan pasir, dan setelah itu kawah Bromo. Sama menakjubkannya dengan pemandangan-pemandangan sebelumnya🙂 . Oh ya, ketika ke kawah, teman-teman yang perempuan memutuskan tidak naik karena, “Kayaknya ga kuat …” kata P. Jadi cuma T dan saya yang naik ke kawah. Sebenarnya menyebalkan perjalanan ke kawah ini, karena ada banyak tukang kuda. Selain annoying ketika menawarkan jasa menunggang kuda, yang paling menyebalkan adalah kudanya miting4 sembarangan. Jadi jalanan pasir itu penuh dengan ijo-ijo bekas pencernaan kuda, dan mau ga mau pasti terinjak walau sudah berusaha menghindar. Mestinya ada kesepakatan untuk memisah jalur kuda dengan jalur pejalan kaki😦

Oh ya, naik ke kawah Bromo itu bikin sinting dan capek setengah mampus baik untuk kesehatan!

Panoramic view di lautan pasir Bromo, dengan latar belakang puncak gunung Batok. Silakan klik untuk melihat gambar dengan resolusi besar.

Panoramic view di lautan pasir Bromo, dengan latar belakang puncak gunung Batok. Silakan klik untuk melihat gambar dengan resolusi besar.

Si oom supir dengan Toyota Hardtopnya. Waktu kecil saya pengen punya mobil begini :D

Si oom supir dengan Toyota Hardtopnya. Waktu kecil saya pengen punya mobil begini😀

Seperti ada yang habis ketiup angin :D

Seperti ada yang habis ketiup angin😀

Fisika - E. T.

Fisika – E. T.

Tangga sial kesehatan.

Tangga sial kesehatan.

Kawah Bromo

Kawah Bromo

Selesai!

Selesai sudah kegiatan di Bromo. Satu hal yang jelas, melihat Bromo (mestinya) membuat kita berpikir betapa kecilnya manusia. Umat Hindu Tengger membangun sebuah tembat ibadah di sebelah kawah Bromo dan gunung Batok, mungkin maksudnya untuk mengingat tuhan dalam kepercayaan mereka. Sebagai muslim, melihat Bromo juga mendorong untuk mengingat kebesaran Tuhan, dengan cara Islam tentunya.

Kami kembali ke Malang, kecuali T yang memutuskan untuk pulang ke Surabaya selepas dari Bromo. Jadi tinggal berempat: saya, P, R dan L. Rencananya mau ke Batu, tapi karena capek dan dan saya tinggal satu-satunya anggota rombongan laki-laki bikin suasana jadi agak kurang nyaman, kami akhirnya memutuskan menginap di Malang saja. Selesai dari Bromo kami bersih-bersih dulu lalu cari oleh-oleh lalu ke penginapan dan tidur. Besok paginya saya cuma main-main di sekitar penginapan, sementara yang cewek-cewek pergi entah ke mana.

Selasa (17/12/2013), pukul 4 sore, kereta api Matarmaja berangkat dari stasiun Malang menuju stasiun Pasar Senen, Jakarta. Kami di dalam kereta itu, sedang mengingat-ingat semua kesan dalam perjalanan 4 hari di Malang & Bromo, dengan cara sendiri-sendiri. Oh ya, tak lupa kami berempat mengembat kursi orang, jadilah kursi buat 6 orang dikuasai oleh 4 orang😀

Akan ada perjalanan berikutnya? Semoga saja😉

This slideshow requires JavaScript.

— —
Kata-kata sulit:

1Nakam = makan (osob kiwalan)
2Tahes = sehat (osob kiwalan)
3Uklam-uklam = mlaku-mlaku = jalan-jalan (osob kiwalan)
4Miting = (aduh ga enak nulisnya😀 ) boker (bahasa Tapanuli)

4 thoughts on “Malang & Bromo, 13-17 Desember 2013

  1. Mas, saya boleh minta kontak agen yg antar jemput malang-bromo? Kebetulan saya mau ke sana tp gak nginep di bromo pp dari malang. Terima kasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s