행복을 찾아서

Sejak kecil kita sudah diberi pertanyaan, “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?” — satu bentuk pertanyaan sederhana tentang hidup. Rasanya setiap anak kecil akan berpikir, mencoba menjawab pertanyaan ini. Anak lelaki ingin jadi dokter, polisi, tentara, pilot. Anak perempuan ingin jadi dokter, peragawati, pramugari. Mungkin sebagian anak itu menjawab ingin jadi guru, dan mungkin saja ada yang mau jadi petani. Ada yang tercapai saat dewasa, ada yang berlalu begitu saja.

"Ambil hikmahnya saja!" Kredit gambar ke yang membuat.

“Ambil hikmahnya saja!” Kredit gambar ke yang membuat.

Ketika SMA rasanya mudah saja memilih kuliah di sini atau di situ, berpikir hidup akan berjalan sesuai dengan rencana. Tapi setelah kuliah selesai, mau jadi apa, itu pertanyaan besarnya. Ada yang meneruskan berkarir sesuai dengan tujuan kuliahnya. Tapi banyak yang kemudian kuliahnya berakhir dengan “ambil hikmahnya” saja. Jalan hidup tampaknya berbelok begitu saja, sesukanya, tak peduli seberapa pelik otak memikirkan rencana hidup sejak lama.

Ha!

Hampir dua tahun saya di Jakarta. Apa yang saya cari di kota ini? Entah. Mencari bahagia sih mungkin, yang jelas. Tapi bahagia itu apa? Melihat wajah kedua orang tua, rasanya saya akan berpikir bahagia saya adalah melihat mereka senang anak-anaknya sukses, tapi ah, sebenarnya kan itu berarti kebahagiaan mereka. Kebahagiaan yang benar-benar milik pribadi apa?

Gedung tinggi Jakarta, tempat harapan (katanya) dijulangkan ke langit. Foto koleksi pribadi.

Gedung tinggi Jakarta, tempat harapan (katanya) dijulangkan ke langit. Foto koleksi pribadi.

Uang jelas ada di kota ini. Pekerjaan juga banyak. Masalahnya adalah yang nyantol di hati saja. Pekerjaan apa yang cocok? Melihat orang duduk di kantornya, rasanya kepingin. Melihat gedung-gedung tinggi, rasanya ingin bekerja di dalamnya. Ketika jalan-jalan di mall, melihat gaya hidup masyarakat kota, rasanya menyenangkan. Lalu di tengah malam, diselingi alunan musik, terkenang kembali pertanyaan mendasar: benarkah yang seperti itu bahagia?

Dulu saya tak mau jadi guru. Akhirnya sekarang jadi guru. Guru les pula. Senang sih iya, apalagi melihat wajah-wajah senang milik para siswi cantik di kelas murid-murid yang puas atas layanan yang kita berikan. Tapi saya sendiri belum puas dengan itu. Lalu terpikirkan untuk menembak seorang perempuan, dan sampai sekarang entah bagaimana hasilnya. Berlalu begitu saja, apa karena bukan di sana letak bahagianya? Lalu terpikirkan untuk kuliah lagi, ambil S2, terbayangnya untuk memenuhi rasa haus akan ilmu. Belum saya jalani kuliahnya, jadi entah nanti apa lagi yang terpikirkan.

Yah, tak ada matinya memikirkan hidup. Jalani saja? Ga seru! Otak manusia tampaknya senang kerumitan. Pikirkan rumitnya hidup, masa depan, cinta dan semacamnya, lalu tersadar betapa pointless pemikiran-pemikiran itu, balik ke rutinitas sehari-hari, tapi kemudian terulang lagi: Pikirkan rumitnya hidup, masa depan, cinta dan semacamnya, lalu tersadar betapa pointless pemikiran-pemikiran itu, balik ke rutinitas sehari-hari, tapi kemudian terulang lagi; dan seterusnya.

Lagunya LeeSSang ini sedang tidak menjadi jawaban. Justru jadi sumber masalah buat malam ini. Judulnya 행복을 찾아서 ~ dibaca “haengbokeul chajaseo” (silakan klik untuk melihat lirik dan terjemahannya).

행복을 찾아서 한참을 날았어 움츠린 모든 게 웃음질 수 있도록
행복을 찾아서 한참을 참았어 언젠가 모든 게 빛이 날 수 있도록

On my pursuit of happiness, I flew for a long time
So all the shrunken things can put on a smile
On my pursuit of happiness, I endured for a long time
So that someday, everything will shine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s