Yang Morantis

Beberapa hari terakhir saya mendownload film-film Korea yang edar bertahun-tahun lalu. Alasannya mungkin sederhana saja: saya kangen menonton film-film yang dibintangi Son Ye-jin dan Moon Geun-young. Setelah Korea Wave dibanjiri oleh KPop, saya agak jarang mendengar kabar dua aktris Korea ini hingga akhirnya saya menonton beberapa episode Running Man yang kebetulan menjadikan Son Ye-jin serta Moon Geun-young sebagai bintang tamu.

Tadinya tak menyangka film-film ini justru bikin saya asa kumaha kitu. Genrenya romance-drama. Kisahnya tentang kasih tak sampai. Nyeri-nyeri sedap dina hate.

Film romance-drama sebenarnya klise. Kadang tidak realistis dalam kisah percintaan di dunia nyata. Tapi bagus, entah mungkin bagusnya karena film semacam ini langsung mengusik sisi hati yang paling mudah terusik.

Moon Geun-young di KBS Drama Acting Awards 2010. Kok mirip salah satu teman saya ya? :D

Moon Geun-young. Dengan rambut berponi begitu kok mirip teman saya ya?😀

Film pertama dari rangkaian ini dibintangi Moon Geun-young. Cukup populer: Innocent Steps. Sinopsisnya baca saja di IMDb. Ini yang paling klise sih dari film yang saya tonton: ketemu, bersama-sama, jatuh cinta, terpaksa berpisah dengan sedih, lalu kembali bertemu. Tak digambarkan apa yang terjadi setelah bertemu kembali itu, apakah menikah lalu bahagia atau sebaliknya. Cukup jadi imajinasi penonton sajalah. Nah, seklise-klisenya film ini, masih terlalu bagus untuk dibilang kacangan.

Film berikutnya A Moment to Remember. Bintangnya Son Ye-jin. Dan tahukah anda, Son Ye-jin itu cantik sekali?

Yang saya nilai unik di film ini adalah wanitanya digambarkan jatuh cinta ke seorang mandor bangunan dan secara obvious menunjukkannya pada si pria. Saya kadang-kadang merasa ingin bertemu wanita seperti ini sehingga saya tak perlu lagi capek-capek menebak isi hati wanita atau memikirkan cara mengungkapkan rasa. Tapi ah sudahlah, back to topic. Inti cerita film ini tampaknya adalah momen-momen cinta merupakan hal yang paling sering diingat.

Son Ye-jin ini senyumnya gurih :mrgreen:

Son Ye-jin ini senyumnya gurih:mrgreen:

Lalu The Classic. Masih Son Ye-jin bintangnya, dan seperti biasa dia itu cantik banget. Yang ini agak berat, soal kasih tak sampai dan cinta segitiga. Jadi, ada satu wanita dan ada dua pria bersahabat baik yang jatuh cinta padanya. Si wanita mencintai salah satu pria, tapi belakangan si pria yang dimaksud ini memutuskan untuk melepas si wanita kepada temannya. Mereka berpisah dan masing-masing menikah dan punya anak.

Lalu, karena sebuah “coincidence”, anak perempuannya si wanita bertemu dan jatuh cinta sama anak laki-lakinya si pria yang dulu dicintainya. Owh. Kasih tak sampai di antara mereka pun terbayarkan oleh anak-anaknya.

The Classic ini menarik sekali. Kisahnya beda sama yang lain.

Kemudian, Lover’s Concerto, film tahun 2002. Dibintangi Son Ye-jin dan Lee Eun-ju serta pemeran prianya Cha Tae-hyun. Ada Moon Geun-young juga, tapi perannya tak terlalu signifikan. Ini film juga bagus sekali, sama bagusnya dengan The Classic. Tapi ending-nya betul-betul bittersweet, dan sama sekali tak terduga hingga saya speechless. Hhhmm … Itulah cinta, deritanya tiada akhir …

Jadi apa hikmahnya? Tadinya saya menonton karena iseng. Ingin lihat Moon Geun-young dan Son Ye-jin saja. Tapi keisengan itu membuat isi kepala berputar-putar lagi di persoalan cinta. Huh …

Keisengan membawa sengsara …

Tak sepenuhnya sih. Seperti kata-kata kutipan dari Lover’s Concerto (terjemahan), “Rasanya menyakitkan, tapi aku ingin terus merasa sakit …”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s