Catatan Qurban 1434 H

Ini adalah Idul Adha ke-2 saya di Jakarta. Alhamdulillah, dua kali Idul Adha ini diberi kesempatan menjadi peserta qurban, tapi qurbannya bukan di Jakarta, melainkan di Sumatra Barat. Jadi, dalam dua kali Idul Adha ini saya tak lagi berurusan dengan pisau seperti beberapa Idul Adha sebelumnya di kampung halaman—dimana saya selalu kebagian tugas menguliti dan memotong daging sapi.

Idul Adha bagi saya merupakan hari raya paling menarik. Qurbannya itu. Selalu membawa kita berpikir tentang banyak makna. Dulu ketika tahun ke-2 di ITB (sekitar tahun 2003 atau 2004, persisnya saya lupa) saya mendapatkan pertanyaan yang sebelumnya belum saya dengar: kenapa kala Idul Adha itu ritual memotong hewan ternak menjadi begitu penting? Jika tujuannya adalah charity, berqurban untuk kalangan tak berpunya, lebih baik berupa uang saja dan bisa digunakan untuk mengembangkan usaha, daripada berupa sekilo atau dua kilo daging. Saya lupa apa jawaban yang saya berikan, tapi barangkali kurang lebih sama dengan pandangan saya sekarang: qurban itu dua arah. Yang satu ke samping, berupa penguatan solidaritas kepada sesama manusia, terlebih bagi kalangan kurang mampu. Satu lagi ke atas: ketaatan kepada perintah Tuhan bagaimanapun bentuknya. Karena itu qurban tak bisa diubah menjadi sekedar berupa sumbangan uang, melainkan harus berupa festival pemotongan ternak.

Sejak saat itu saya mencoba mendalami makna Idul Adha dan dua festival besarnya: qurban dan haji. Sebelumnya sekedar ber-Idul Adha mengikuti masyarakat dan ajaran agama saja.

Beberapa hal yang saya rasa perlu diperbaiki dalam pelaksanaan qurban di masyarakat Indonesia.

  • Minimalisasi kekejaman. Penyembelihan hewan ada aturannya dalam Islam, bukan sekedar harus menghadap kiblat dan membaca basmalah. Satu hal yang tak kalah penting adalah perlakuan terhadap hewan yang disembelih. Sebisa mungkin hewan yang disembelih mati secepat mungkin, merasakan sakit sesedikit mungkin. Gunakan pisau yang tajam—sangat tajam, sehingga pemotongan leher hewan hanya membutuhkan sedikit gerakan saja. Tunggu hingga benar-benar mati, baru kemudian prosesnya dilanjutkan.

    Di Jakarta pagi tadi saya melihat yang membuat saya miris. Di masjid dekat rumah, kambing-kambing dipotong secepat mungkin. Yang dikejar rupanya waktu: lebih cepat semua kambing tersembelih hari ini, lebih baik. Bukannya menganggap hal itu tak penting, tapi jangan sampai membuat adab penyembelihan jadi diabaikan. Tadi, kambing-kambing yang belum lagi mati sudah digantung untuk dikuliti, sudah ditumpuk dalam gerobak untuk dibawa ke tempat pemrosesan lanjutan. Tak tega, saya tinggalkan saja tadi masjidnya.

  • Gunakanlah organisasi. Qurban yang diproses sendiri di rumah tidaklah salah, namun banyak resiko. Seringkali kita tak tahu penyakit ternak. Bagaimana kalau daging yang diproses sendiri itu mengandung cacing pita dan cacing hati—yang berbahaya bagi manusia? Selain itu efektivitas pembagian daging akan lebih baik jika qurban diserahkan saja ke panitia di masjid atau lembaga tertentu.
  • Jangan lupakan makna. Biasanya, saat penyembelihan ada banyak anak-anak yang datang melihat prosesinya. Bagi mereka, terlebih yang tinggal di kota dan belum pernah melihat sapi atau kambing, acara penyembelihan itu menarik. Hanya saja, sungguh sayang sekali kalau berakhir sampai di sana saja. Alangkah baiknya jika anak-anak itu didampingi orangtua mereka, dan para orangtua menceritakan tentang adab penyembelihan kepada anak-anak itu. Plus, makna prosesi penyembelihan itu. Jadi, anak-anak tidak sekedar menyaksikan darah berceceran dan nyawa melayang.
  • Sampaikanlah kepada yang berhak. Daging qurban itu untuk siapa saja, tapi tentu akan lebih afdhal jika diberikan kepada mereka yang sehari-hari tak mampu membeli daging. Saya pikir, panitia qurban perlu menghitung berapa jatah daging untuk wilayahnya. Jika kurang, maka jatah per orang bisa diperkecil sehingga semua tetap kebagian. Namun jika berlebih, jangan jatah per orang diperbesar. Bagus sekali kalau sisanya itu diteruskan ke daerah lain, atau diberikan ke kalangan yang kekurangan saja.

Sekian dulu. Selamat Idul Adha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s