Hello World

Salah satu quote dari film Nagabonar yang saya sukai adalah kata-kata si Bujang ketika menjawab pertanyaan “Apa kata dunia?” dari si Nagabonar.

Ah, betul juga. Soal dunia ini yang belum lagi aku pikirkan …

Tapi ngapain pusing mikirin dunia? Kenyataannya, ketika melihat-liat sekitar kita pun mau tak mau akan terlintas juga di pikiran tentang apa yang kita lihat tersebut.

Di jalanan Jakarta, misalnya. Pengamen. Jika yang ngamen suaranya bagus, permainan alat musiknya oke (terutama kalau pakai ukulele) dan lagunya enak, biasanya saya tak terlalu memikirkan latar belakang si pengamennya dan cenderung ikut larut saja dalam lagu. Menikmati nyanyian si pengamen. Tapi lain soal jika pengamennya anak-anak punk, atau preman sok nge-punk. Saya suka heran kenapa mereka mau dan bisa hidup seperti itu: kumal dan dekil karena tak pernah mandi, berbagai bagian tubuh digantungi benda-benda logam (tindik hidung, pipi, bibir, lidah dll), dan nyari duit di jalanan.

Atau pencopet. Beberapa kali saya menemukan gerombolan copet di atas metromini dan alhamdulillah belum pernah kena. Jadi bertanya-tanya, apakah para copet itu punya keluarga, dan kalau punya apakah keluarganya tahu apa pekerjaannya? Kenapa soal semacam itu tak pernah tuntas padahal negeri ini memiliki polisi? Jika dalam kondisi tertentu, beranikah saya memberikan perlawanan pada para copet itu? Hm.

Itu di jalanan. Pernah juga saya main-main ke mall yang sebegitu menjamurnya di Jakarta. Mall terkenal di Jakarta tak satupun yang berukuran kecil, dan isinya juga tak sembarangan. Tak seperti di Bukittinggi yang tampangnya seperti mall padahal isinya cuma pedagang di Pusat Pertokoan Pasar Atas yang pindah tempat. Nah, di mall itu kehidupan tampak berjalan dengan koridornya sendiri yang terpisah dengan lingkungan sekitarnya. Kehidupan mereka yang “berada”

Bukan, bukan saya membenci kehidupan seperti itu. Toh, saya merasakan juga senangnya ngumpul bareng teman di gerai Starbucks atau di foodcourt Plaza Semanggi. Atau kilauan lampu di Senayan City. Hanya saja ya itulah, kok bisa ada dunia yang seperti itu.

Pun begitu melihat profesi orang-orang. Kenapa ada orang yang mau bekerja sebagai cleaning service? Kenapa kok bos-bos itu bisa sampai di posisinya yang sekarang? Kenapa ada mereka yang berprofesi sebagai pedagang asongan, pemulung, guru, dokter, perawat, pilot?

Lamunan-lamunan semacam di atas itu kemudian hanya berakhir dengan satu helaan nafas. Sigh. Teriring ucapan “Hello” pada dunia …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s