Mesin Waktu Untuk Sumatra

Saya pertama kalinya membaca nama William Marsden ketika membaca buku Sumatra Barat Hingga Plakat Panjang yang ditulis oleh Rusli Amran. Di buku itu memang Marsden, Westenenk dan sejarawan Eropa lainnya yang menulis tentang Sumatra banyak dikutip.

Ketika membaca Sumatra Tempo Doeloe, yang membuat saya makin tertarik dengan sejarah kuno Sumatra, terlintas di benak saya seandainya tulisan-tulisan asli para penulis tempo dulu itu diterjemahkan ulang kembali, tentu makin terbuka kemungkinan penelitian-penelitian sejarah baru dilakukan oleh anak bangsa. Saya bukan akademisi Sejarah, tapi saya yakin kendala besar dalam penelitian sejarah pastilah keberadaan sumber-sumber yang mumpuni. Apalagi, buku-buku sejarah yang ditulis di jaman dulu itu—saya yakin—sedikit sekali tersimpan di perpustakaan Indonesia.

Lalu saya menemukan Sejarah Sumatra karya William Marsden diterjemahkan dan diterbitkan oleh Komunitas Bambu. Wah! Wajib beli!

Buku tersebut akhirnya saya miliki, terima kasih atas layanan pesan-antar yang sangat baik dari pihak Komunitas Bambu.

Sejarah Sumatra karya William Marsden. Diterjemahkan dan diterbitkan oleh Kelompok Komunitas Bambu.

Sejarah Sumatra karya William Marsden. Diterjemahkan dan diterbitkan oleh Kelompok Komunitas Bambu.

Marsden menulis dengan lengkap (setidaknya untuk ukuran abad 19) tentang Sumatra. Dia memang melakukan perjalanan ke kota-kota Sumatra, menggali dari berbagai sumber tentang beragam aspek. Isi buku ini dimulai dengan gambaran umum Sumatra: posisi geografis, cuaca dan iklim, flora dan fauna, demografi dan perekonomian. Selanjutnya Marsden mencoba menjelaskan lebih detil lagi dari beberapa aspek umum tersebut, terutama keadaan sosial-budaya suku-suku bangsa yang ada di Sumatra.

Kalau boleh dibilang, sebenarnya buku ini lebih menyentuh masalah dalam ilmu Geografi ketimbang Sejarah, namun barangkali di jaman sekarang buku ini juga dihitung buku Sejarah.

Sepanjang membaca buku ini, isi kepala saya seakan terbawa ke masa penulisannya. Hutan dan gunung Sumatra jaman dulu, perkotaan dan pedesaan yang diisi masyarakat tradisionalnya, orang-orang Eropa EIC dan VOC serta benturan-benturannya dengan masyarakat lokal.

Saya tertarik dengan penjelasannya tentang masyarakat masa itu. Orang Pasemah, Rejang, Lampung dan Batak dianggap lebih merepresentasikan keaslian budaya masyarakat Sumatra karena masih sangat sedikit kebudayaannya yang bercampur dengan kebudayaan luar. Minangkabau, Aceh dan Melayu kala itu sudah mayoritas memeluk Islam, dan budaya-budaya kuno yang berlawanan dengan Islam tentunya sudah sangat banyak yang hilang. Saya sepakat dengan pendekatan itu, makanya saya tertarik dengan penjelasan tentang bangsa-bangsa “kuno” tersebut. Kebudayaan, hukum, pola hidup masyarakat dijelaskan di sini. Memang sedikit membingungkan, tapi wajar saja karena pasti ada masalah dalam hal bahasa dan sudut pandang. Bagaimanapun juga, Marsden ini orang asing di Sumatra.

Bukannya penjelasan tentang orang Minangkabau, Aceh dan Melayu tidak menarik, tapi ketiga suku bangsa ini sudah cukup banyak saya kenal. Hal yang baru saya sadari adalah Marsden ini, sepertinya juga mewakili pikiran setiap orang asing yang ada di Sumatra jaman itu, menganggap lucu dan absurd titel raja dan tambo kerajaan Minangkabau (Pagaruyuang). Memang sih, saya sendiri sebagai orang Minang menganggap kisah keturunan Iskandar Zulkarnain itu dongeng belaka๐Ÿ˜€

Yah segitu dulu lah, bukunya juga belum selesai saya baca. Pokoknya, anda yang suka sejarah mesti punya buku ini:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s