Menyukai (Mencintai?) Sesuatu

Saya kembali mendapatkan pertanyaan yang saya rasa unik. “Bagaimana sih caranya menyukai sejarah?” Pertanyaan itu diberikan oleh seorang perempuan penjaga stan di pameran buku Jakarta Islamic Book Fair 2013, yang melihat saya sedang bolak-balik buku bertema sejarah.

Saya tidak langsung menjawab. Tercenung dulu sejenak, seperti ketika saya diberi pertanyaan oleh siswa, kenapa saya mau jadi guru Fisika. Dan ketika mencoba menjawab pertanyaan itu pun, kata yang keluar dari mulut pun hanyalah “entah ya”—jawaban yang sama sekali tak memuaskan. Oh ya, menurut pengakuan si mbak penjaga stan, dia sendiri tak pernah bisa menyukai sejarah. Buku yang sering dia baca biasanya dari jenis cerita fiksi.

Si mbak penjaga stan mencoba menebak, mungkin orang akan menyukai sejarah kalau rajin atau terbiasa membaca sejak kecil. Saya agak kurang yakin sih. Sekelebat bayangan masa kecil terlintas di benak saya: bagaimana ibu atau bapak menceritakan dongeng sebelum tidur, dan kebiasaan ibu saya menceritakan sejarah keluarga. Saya ceritakan saja hal itu kepada si mbak penjaga stan. Perbincangan berhenti karena saya segera mengajukan transaksi jual beli buku.

Di perjalanan pulang, pertanyaan tadi kembali terngiang, beserta bayangan saya tentang kesukaan masing-masing orang. Untuk soal buku, generalisasi saya: banyak laki-laki menyukai buku motivasi sukses, banyak perempuan membaca cerita fiksi romantis, banyak laki-laki menyukai komik dan cerita silat. Kesimpulan sederhananya, hal ini semata-mata bergantung pada kepribadian.

Dan bicara soal kepribadian ini, saya menolak untuk melakukan justifikasi bahwa orang yang menyukai ini akan memiliki pola pikir begini atau begitu. Ada bedanya antara pola pikir dengan kepribadian, tapi entah, saya juga tak bisa menjelaskannya. Yang jelas, saya bukan orang hebat hanya karena saya memiliki sedikit buku-buku tebal bertema serius, dan perempuan yang memiliki koleksi novel teenlit di rak bukunya tak layak dihakimi sebagai pemilik pola pikir pendek. Apalagi kalau sampai dianggap rendahan.

Oh ya, saya rasa ada perlunya saya sampaikan bahwa menyukai sesuatu itu berbeda jauh dengan menyukai seseorang. Cukup dilihat dari kadar kompleksitasnya saja, saya rasa sudah kelihatan bedanya. Jadi, jangan dihubung-hubungkan ya:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s