Museum Gajah, 30 Mei 2012

Saya akhirnya berhasil juga menjalankan niat berkunjung ke Museum Nasional, atau bagi beberapa kalangan masih dikenal dengan nama Museum Gajah. Museum ini konon menyimpan banyak koleksi kebudayaan Indonesia masa lampau, mulai dari fosil, candi hingga benda-benda seni milik berbagai bangsa yang mendiami Indonesia.

Dari rumah untuk menuju ke museum tersebut saya harus naik bus kota (Metro Mini) lalu disambung dengan busway koridor 2. Turun di stasiun Gambir lalu melintas lapangan Monas untuk menuju ke jalan Medan Merdeka Barat. Monas kala itu relatif sepi.

Tugu Monas

Museum ini dinamakan Museum Gajah karena ada patung gajah di depannya. Patung itu merupakan pemberian dari raja Chulalongkorn dari Thailand, Maret 1871, ketika raja itu berkunjung ke Batavia.

Patung gajah di depan museum

Ketika mau masuk, saya diingatkan oleh penjaga loket bahwa museum hanya buka hingga pukul 16.00 WIB. Saat itu sekitar 15.10 WIB. Berarti saya hanya punya waktu kurang dari 1 jam di dalam museum. Dengan perasaan kecewa saya tetap membeli tiketnya, tak apa lah yang penting bisa lihat-lihat sebentar. Harga tiket cukup murah sebenarnya, Rp 5000.

Ketika masuk, saya memilih jalan lurus ke tengah dan langsung disambut banyak patung-patung jaman Hindu-Buddha. Penuh berhala, pikir saya. Saya langsung teringat nama-nama orag terkenal di buku sejarah yang dibuatkan patungnya, seperti Ken Dedes atau Adityawarman. Saya tak menemukan patung Ken Dedes. Adanya Suhita, salah satu ratu Majapahit,

Suhita, ratu Majapahit

dan tentu saja, patung yang menggambarkan Adityawarman, raja Melayu-Minangkabau. Berdiri gagah sebagai satu-satunya patung terbesar di ruangan itu.

Adityawarman

Terus ke dalam masih ada banyak lagi patungnya. Patung sapi ini ada di halaman besar di tengah gedung,

Patung sapi besar dan beberapa sapi kecil di sekitarnya.

dan ada patung Ganesha di salah satu sudut museum,

Patung dewa Ganesha

dan seterusnya. Sangat disayangkan bahwa hampir tidak ada petunjuk tentang benda yang dipamerkan di museum ini. Beberapa yang memiliki petunjuk cuma menuliskan nama dan asal benda, namun tidak dijelaskan lebih jauh tentang apa latar belakang benda-benda tersebut. Ada banyak sekali prasasti dan patung yang tidak memiliki keterangan, sehingga bagi sebagian pengunjung tampaknya hanya untuk dilihat-lihat tanpa makna saja.

Saya lanjutkan masuk ke ruangan di sebelah kanan “ruang berhala”. Masuk ke bagian kebudayaan Indonesia, dimana ada banyak perangkat kebudayaan seperti lukisan, topeng, alat musik dan lain-lain. Tapi saya sudah mengantuk saat menulis ini, jadi … bersambung dulu saja ya :mrgreen:

Advertisements

3 thoughts on “Museum Gajah, 30 Mei 2012

  1. Indak terkunci di museumnya kk? πŸ˜€ kan terus bisa main film “Night at the museum” πŸ˜€

    Nice point kk -> “Sangat disayangkan bahwa hampir tidak ada petunjuk tentang benda yang dipamerkan di museum ini.”

    Sepengalaman saya kalau berkunjung ke museum paling tidak bisa memperoleh informasi tidak hanya menikmati “benda”-nya terus kalau situasi memungkinkan juga bisa ada “Electronic guide” yang menemani pengunjung dari awal sampai akhir kunjungan πŸ˜‰

    Like

    • Wew ngeri kali kalau adityawarman dan dewa2 di sana itu idup semua πŸ˜€

      Btw mas, tadi ditanya tuh sama pak Ade & pak Sambas. Sayah lagi di Bosscha malam ini :mrgreen:

      Like

  2. Waw…
    Saya titip salam hormat ke bapak-bapak jaga kalau kang -eddy- masih di Bandung kk πŸ˜‰

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s