Mengenalkan Gempa ke Anak-anak

Sepanjang pengetahuan saya, anak-anak di Jakarta tidak begitu familiar dengan yang namanya gempa bumi. Yah, jangankan anak-anaknya, warga senior pun barangkali hanya “merasakan” gempa bumi dari berita yang dibacanya di koran atau dilihat di televisi. Wajar saja sebenarnya, Jakarta terletak di tempat yang tidak sebegitu rawan gempa. Terlebih bila dibandingkan dengan kota-kota di pantai barat Sumatra dan selatan Jawa yang pernah merasakan pahitnya dihancurkan gempa.

Di sekolah, sepanjang pengetahuan saya juga, siswa-siswa SD sudah diperkenalkan dengan kejadian-kejadian alam di permukaan Bumi, termasuk aktivitas vulkanik dan tektonik, walaupun masih sangat ringkas dan disampaikan dalam bentuk sederhana. Dari interaksi saya dengan siswa-siswa SD yang ikut les di Nurul Fikri, sebagia besar mereka tahu apa itu gunung api, lapisan-lapisa bumi, namun belum tahu mekanisme yang terjadi pada proses meletus atau gempa.

Seismogram

Pola gelombang gempa yang tercatat pada seismogram.


Tapi siswa-siswa tertentu memiliki rasa ingin tahu yang besar. Satu pengalaman saya saat mengajar siswa kelas 5 SD di Nurul Fikri Kemayoran, seorang siswa dengan antusias bertanya apa yang terjadi pada tahun 1883, saat gunung Krakatau meletus! Pertanyaan lanjutannya, kenapa bisa muncul gunung Anak Krakatau. Saya mencoba menjelaskan, tapi sesaat kemudian tersadar bahwa cara saya memberi penjelasan itu hampir serupa dengan cara saya presentasi di depan kelas Seismologi. Segera saya mengubah metode, membuat gambar gunung di papan tulis beserta diagram yang saya harap lebih mudah dipahami. Sulit membuatnya.

Pernah juga–saya lupa kapan dan di Nurul Fikri cabang mana–ada yang menanyakan kepada saya pengalaman gempa tahun 2009 di Padang. Mereka tampak antusias, mungkin karena belum pernah merasakan sendiri. Pertanyaan penting dari siswa-siswa itu adalah bagaimana menyelamatkan diri kalau kondisinya sedemikian. Gampang sih menjawabnya, tapi saya agak setengah hati. Sembunyi di kolong meja, hindari tiang, jangan menggunakan kendaraan saat lari ke tempat tinggi dll. Saya sudah rasakan sendiri bahwa teori-teori itu sulit diaplikasikan.

Dan mengajarkan teori ke anak-anak tak banyak gunanya.

Ada buku yang saya temukan di lemari buku milik almarhum paman saya di Bukittinggi, keluaran kementrian pendidikan Chile bekerjasama dengan PBB dan USGS. Isinya penjelasan praktis tentang gempa, mencakup teori tektonik lempeng dan patokan skala gempa, serta panduan simulasi. Buku itu adalah buku panduan untuk guru tingkat SD. Saya rasa Chile sudah jauh meninggalkan Indonesia untuk hal siaga bencana tektonik. Juga pernah saya lihat video tentang simulasi gempa untuk anak-anak tingkat TK – SD di Jepang. Menakjubkan.

Dari kurikulum kelas 4-5-6 SD yang pernah saya lihat, pengenalan tentang gempa dan gunung api terasa kurang memadai. Bahkan sering ada kesalahan fatal guru dan buku-buku ajar: menyebutkan bahwa magma gunung api berasal dari inti bumi. Tidak saya temukan pengenalan tektonik lempeng di pelajaran IPA SD, sehingga wajar saja jika ada yang kesulitan jika siswa bertanya tentang mekanisme terjadinya gempa dan pembentukan gunung api.

Saya berharap bisa menyampaikan lebih banyak tentang sains kebumian pada siswa-siswa yang saya ajar. Selain karena saya menekuni bidang Geofisika saat kuliah, pengalaman berharga saat saya merasakan gempa-gempa besar di Sumatra Barat tahun 2007, 2008, 2009 dan 2010 rasanya patut dibagikan hikmahnya pada semua orang.

Ada bahan ajar yang disediakan oleh USGS for kids, ini harusnya bisa dimanfaatkan. Tinggal mencari saat yang tepat. Dan semoga pendidikan sains kebumian di Indonesia semakin baik ke depannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s