Raffles. Minangkabau

Dari buku “Sumatera Tempo Doeloe”, terbitan Komunitas Bambu.

Secara politis, negeri ini berpotensi menjadi lebih hebat lagi. Belum terlalu lama ini, kedaulatan Minangkabau diakui di seluruh Sumatra, dan pengaruhnya tersebar luas hingga ke pulau-pulau sekitarnya. Penghormatan yang ditunjukkan oleh seluruh lapisan masyarakat kepada pangeran-pangerannya hampir mendekati suatu pemujaan. Dengan menegakkan otoritasnya, pemerintahan pusat dapat terbentuk dengan mudah, dan negeri-negeri kecil yag kini terpecah-belah dapat kembali disatukan di bawah satu sistem pemerintahan. Sungai-sungai yang bermuara ke bagian timur Kepulauan Nusantara akan sekali lagi menjadi jalan-jalan utama untuk masuk dan keluar pusat ibukota; dan di bawah pengaruh Inggris, Sumatra dapat kembali bangkit menjadi kekuatan politik penting.

Sir Thomas Stamford Raffles, sekitar tahun 1818.


Raffles

Sir Thomas Stamford Raffles. Gambar dari http://fremasonry.bcy.ca

Menarik juga mencermati ketertarikan Raffles pada Sumatra–dan Melayu pada umumnya. Raffles menentang pengembalian wilayah yang dikontrol Inggris kepada Belanda pasca perang Napoleon berakhir, antara lain karena ia berpendapat kebudayaan Melayu mengalami penurunan karena buruknya pengaruh Belanda.

Membaca uraian Raffles tentang Minangkabau dalam buku buku “Sumatera Tempo Doeloe” ini, saya menduga Raffles hanya berinteraksi dengan keluarga ningrat Pagaruyuang dan terobsesi dengan kejayaan Minangkabau masa Adityawarman, karena itu dia memiliki ide untuk kembali menghidupkan sistem pemerintahan terpusat. Jika Raffles berinteraksi lebih jauh dengan masyarakat bawah/nagari, mungkin saja dia akan berpikiran lain, tapi tak tahulah …

Perlu diketahui, masyarakat Minangkabau sudah sangat lama tidak memiliki sistem pemerintahan terpusat seperti kerajaan, dan memilih menggunakan sistem pemerintahan egaliter yang terpecah-pecah dalam basis nagari (di masa sekarang, nagari analog dengan desa. Sebenarnya lingkupnya jauh lebih besar daripada desa, tapi tak pula bisa disamakan dengan kota). Sekalipun raja Pagaruyuang dan keluarganya tetap ada, posisinya tak lebih hanya untuk urusan seremonial dan sebagai duta untuk hubungan internasional. Hal ini mungkin sudah berlangsung semenjak Adityawarman mangkat. Bahkan selama perang Padri, keluarga ningrat Pagaruyuang masuk list musuhnya kaum Padri sehingga mereka memilih bersekongkol dengan Belanda.

Apakah jika ide Raffles ini dahulu terealisasi, Minangkabau betul-betul akan berkuasa seperti masa dahulunya? Apakah jika Inggris yang memegang kendali di Sumatra–alih-alih Belanda–situasinya akan sangat jauh berbeda? Apalagi Raffles, orang Inggris, bukan penjahat seperti J. P. Coen dan bukan orang gegabah seperti Cornelis de Houtman. Ah, okey, dia anggota Freemasonry, nah bagaimana jika Minangkabau dibawah pengaruh Freemason?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak ada jawabannya sih. Terlintas begitu saja tanpa perlu dijawab. Sejarah memang selalu begitu …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s