Mencari Pangkal Sumatra

Hari ini, Minggu 12 Mei 2012, saya menyempatkan diri singgah di toko buku Gramedia di Matraman. Jakarta. Sebenarnya tak terlalu berminat untuk belanja buku karena saya sedang berupaya menabung (demi masa depan :p), tapi ya namanya berkunjung ke toko buku, godaannya lebih besar daripada berkunjung ke toko gadget. Akhirnya melayang juga beberapa rupiah untuk sebuah buku yang saya nilai menarik: Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marco Polo sampai Tan Malaka.

Image

Sampul Buku “Sumatera Tempo Doeloe”

Saya belum menuntaskan buku ini sama sekali. Baru juga beberapa jam lalu saya beli ya tak mungkin lah bakalan langsung tuntas😀 Tapi setidaknya saya sudah lihat daftar isi serta kata pengantar dari penulisnya, serta paragraf awal dari beberapa bab. Jadi setidaknya sudah terbayang bagaimana isi buku ini. Kesimpulan saya sejauh ini, saya tak menyesal mengeluarkan uang untuk membelinya.

Anthony Reid, sang penyusun buku, telah dengan cermat memilah catatan-catatan perjalanan para penjelajah sejak jaman Sriwijaya yag akan ditampilkan dalam bukunya ini. Catatan-catatan itu jelas bukan barang yang mudah dicari di perpustakaan, jadi menuliskan ulang catatan langka tersebut ke buku yang bisa diakses oleh masyarakat umum adalah tindakan yang sangat baik. Saya sebagai orang Sumatra yang haus pengetahuan mengenai sejarah tanah leluhur merasa sangat terbantu oleh buku ini.

Diantara kisah yang menarik perhatian saya adalah cerita Marco Polo tentang perilaku kanibal penduduk Aceh pra-Islam, dan ceritanya tentang makhluk unicorn yang katanya dia lihat di Aceh (barangkali yang dilihat Marco adalah badak). Lalu kisah tentang kapal Portugis yang terdampar di pesisir barat Sumatra, yang kemungkinan adalah Tiku (sekarang merupakan suatu daerah di kabupaten Agam, Sumbar), dimana ada perempuan cantik penumpang kapal itu yang sangat cantik, sehingga penduduk menculiknya untuk dijadikan istri raja. Saya tak pernah tahu soal kedatangan Portugis di ranah Minang sebelumnya.

Pendekar Batak, dari Wikipedia

Ada pula cerita tentang asal usul orang Batak, yang katanya orang Batak menaruh hormat yang besar pada sultan Minangkabau, karena di masa dahulu pernah ada sultan Minangkabau yang berkeliling Sumatra dan memilihkan pemimpin untuk orang Batak. Tidak disebutkan sultan mana yang dimaksud, dan cerita itu berlatar tahun 1824.

Kebanyakan catatan yang ditampilkan dalam buku ini berkisah tentang orang Aceh, Minangkabau, Batak. Serta Melayu—Bengkulu, Palembang, Jambi, Lampung dan Riau diwakili oleh Melayu. Dan karena ada banyak perbedaan latar tahun untuk masing-masing catatan, perlu jeli dan cermat dalam membacanya. Dan juga penting untuk tidak begitu saja menganggap benar apa yang tertulis di sana, karena mungkin ada subyektivitas dari si penjelajah yang menuliskan kisah tersebut.

Khazanah sejarah Sumatra diperkaya dengan adanya buku ini. Dan yang terpenting, semoga makin banyak penelitian tentang sejarah Sumatra, terutama yang dibuat oleh anak bangsa sendiri. Dibandingkan sejarah Jawa yang relatif lebih terang benderang, sejarah Sumatra masih cukup misterius.

One thought on “Mencari Pangkal Sumatra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s