Menghargai Hidup

Awalnya saya tak yakin bisa hidup di kota ini, Jakarta. Masih jauh lebih mendingan tinggal di Padang, yang walaupun jauh lebih terbatas (tak ada XXI, tak ada mall dan tempat kongkow), ada banyak hal bisa lebih mudah dilakukan di sana. Dan padang setidaknya masih jauh lebih nyaman.

Saya tak terpikir juga sebelumnya akan merantau ke Jakarta. Begitu lulus, saya bilang ke orang tua mau merantau kembali ke Bandung. Begitu ada panggilan tes dan interview dari satu perusahaan di Jakarta, akhirnya saya berangkat ke Jakarta. Abang saya (sepupu) bilang, kalaupun tak lulus tetap sajalah di Jakarta, cari-cari terus tempat kerja yang bagus. Saya setuju, kemudian ngelamar ke sana ke mari, datang ke perusahaan ini itu, dan akhirnya diterima di BKB Nurul Fikri. Sebagai pengajar bimbel.

Ngajar? Jauh-jauh ke Jakarta, ngajar?? Lalu kenapa pula saya tak memenuhi undangan tes sebagai pengajar Fisika bilingual di sebuah SMP RSBI di kota Solok waktu itu? Ha …

Kadang perjalanan hidup itu mengherankan. Ingin ke Bandung, malah ke Jakarta. Saya tak begitu menyukai Fisika saat di SMA, malah akhirnya kuliah di jurusan yang penuh Fisika. Saya ingin tamat dari ITB, eh malah “diusir” dan akhirnya tamat dari Universitas Andalas. Saya tak berminat jadi guru, malah akhirnya jadi pengajar bimbel.

Dan semua berlalu dengan catatannya masing-masing. Fisika itu alami: susah dan menakjubkan. Hal yang gampang kan umumnya biasa-biasa aja. Siapa menyangka bahwa dari seekor monyet iseng yang berayun di pohon kita bisa merumuskan cara membuat sebuah peralatan konstruksi modern? Cuma Fisika yang bisa membuat hal itu menjadi mungkin.

Di Unand, saya bisa memahami lebih banyak mata kuliah Fisika ketimbang di ITB yang terlalu banyak dosen-perfeksionis-tapi-tak-bisa-mengajar. Fisika Kuantum, contohnya. Di ITB saya tak tahu apa gunanya persamaan Schrödinger yang ditulis dan diturunkan begitu saja di papan tulis dengan cepat oleh seorang dosen. Ah, mungkin otak saya tak cukup baik untuk memahami apa yang dibilang dosen di depan kelas waktu itu, tapi di Unand saya menilai dosennya mengajar dengan baik sekali.

Dan dengan mengajar Fisika ke anak-anak muda SMP-SMA itu, saya bisa ketemu siswi-siswi SMP-SMA yang lucu-lucu:mrgreen: Ups bukan itu yang utama. Tapi yang jelas mengajarkan Fisika itu … asyik.

Saya belajar banyak soal hidup di 28 tahun usia ini. Dan semoga akan lebih banyak lagi di masa depan.

I think and think for months and years. Ninety-nine times, the conclusion is false. The hundredth time I am right.

Albert Einstein

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s