Sejarah Minangkabau

Sejarah Awal

Bagaimana awalnya sejarah awal bangsa-bangsa yang mendiami Sumatera sebenarnya masih banyak yang kabur. Khusus untuk etnis Minangkabau, pada dasarnya memiliki kesamaan etnis dengan Melayu, jadi untuk menelusurinya mesti dihubungkan dengan asal usul etnis Melayu.

Konon, ketika Alexander the Great akhirnya sampai di India dalam rangka ekspedisi penaklukannya, dia dan anak buahnya menemukan bahwa India saat itu sudah berhubungan dengan suatu bangsa di selatan. Claudius Ptolemaeus (87 – 150 M) juga mencatat keberadaan negeri di timur bernama Argyre (artinya “kota perak”). Ahli sejarah menghubungkan Argyre ini dengan kerajaan Salakanagara di pulau Jawa sekitar 130 M. Selain itu, Ptolemaeus juga menggambarkan peta semenanjung Melayu (atau pulau Sumatera?).

Dari sana bisa disimpulkan bahwa bangsa-bangsa di Barat sudah sejak lama berhubungan dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara.

Sriwijaya

Dari catatan-catatan China, diketahui bahwa ada sebuah kerajaan bernama Mo Lo Yeu (Melayu) di antara Jambi dan Palembang sekarang. Mo Lo Yeu sudah berhubungan dengan dinasti Song di China. I Tsing dari China dalam perjalanaan menuju India sempat singgah di Mo Lo Yeu sekitar tahun 671 M, namun ketika singgah lagi ketika hendak pulang ke China, Mo Lo Yeu ternyata sudah di bawah kekuasaan Shih Li Fo Shih (Sriwijaya).

Dalam prasasti Kedukan Bukit (angka tahun 683 M), oleh M. Yamin ditafsirkan bahwa kerajaan Sriwijaya dibangun oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang pindah dari Minanga Tamwan. Namun, penafsiran yang lebih tepat sepertinya adalah bahwa Dapunta Hyang “pulang dari menyerang Minanga Tamwan dengan suka cita”. Alasannya, catatan I Tsing dari China menyatakan kerajaan Sriwijaya sudah ada pada tahun yang tertera di prasasti. Artinya, prasasti ini menceitakan kemenangan perang Sriwijaya menyerang sebuah kerajaan. Minanga Tamwan ini barangkali berada di sekitar sungai Kampar, dimana terdapat candi Muaratakus. Nama “Minanga Tamwan” ini juga diduga menjadi asal usul sebenarnya dari nama “Minangkabau”. Sejarawan Slamet Mulyana mengatakan bahwa Minanga Tamwan ini adalah ibukota kerajaan Melayu kuno.

Tahun 743, dari manuskrip China, dinyatakan bahwa pusat kerajaan sudah berpindah ke tanah Jawa. Hal ini dikarenakan terjadinya penggabungan kerajaan dimana putri dari Dharmasetu, raja Sriwijaya, menikah dengan Samaratungga, raja Mataram (dari dinasti Sailendra). Jadi Samaratungga adalah juga raja Sriwijaya. Samaratungga adalah raja yang membangun candi Borobudur (selesai dibangun 825).

Setelah beberapa waktu, terjadi perebutan kekuasaan antara dinasti Sailendra dengan dinasti Sanjaya. Pikatan (anggota keluarga Sanjaya) mengalahkan Balaputra (Sailendra), dan kemudian berkuasa di Mataram. Adapun Balaputra kembali ke Sumatera dan manjadi penerus raja Sriwijaya sekitar 852. Nama Balaputra juga tercatat dalam prasasti Nalanda di India (angka tahun 860 M).

Kerajaan Sriwijaya ini bertahan hingga 1025 diserang oleh kerajaan Chola dari India. Serangan ini membuat Sriwijaya melemah. Di hulu sungai Batanghari, di daerah yang sekarang bernama nagari Siguntur (kabupaten Dharmasraya, Sumbar) kerajaan Melayu yang pernah ditaklukkan Sriwijaya bangkit lagi dan mengambil alih kekuasaan Sriwijaya, dikenal mebagai Melayu Muda

Dharmasraya, Singosari, Majapahit

Kerajaan Melayu itu bernama Dharmasraya. Tak banyak kisah sejarahnya. Candi di Jambi belum banyak diteliti dan peninggalan-peninggalan di Siguntur juga tak banyak memberikan cerita. Namun yang jelas, konon ekspedisi Pamalayu yang dilancarkan Singosari tahun 1275 gagal menguasai kerajaan Dharmasraya ini. Mitos yang berkembang menyatakan kegagalan ekspedisi itu adalah karena Singosari kalah bertanding adu kerbau dengan Dharmasraya, dan mitos ini menjadi asal usul nama Minangkabau.

Kertanegara, raja Singosari, belakangan mengirimkan arca Amoghapasa untuk Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, raja Dharmasraya, sebagai tanda persahabatan. Kisah ini diceritakan di prasasti Padangroco. Bertepatan dengan jaman itu, dinasti Yuan (Kubilai Khan) menyerang Singosari, sedang di Singosari sendiri terjadi keributan. Jayakatwang membunuh Kertanegara. Raden Wijaya dibantu tentara Yuan menghabisi Jayakatwang. Setelah itu Raden Wijaya malah mengusir tentara Yuan dan kemudian membangun kerajaan Majapahit.

Di sekitar waktu itu juga, utusan Kertanegara baru kembali dari Dharmasraya, membawa dua putri bernama Dara Petak dan Dara Jingga. Karena Singosari sudah hancur, kedua putri itu pun diterima oleh Raden Wijaya yang sudah jadi raja Majapahit. Dara Petak menjadi permaisuri Raden Wijaya, dan melahirkan pangeran Majapahit bernama Jayanegara.

Adapun Dara Jingga, ia kembali ke Dharmasraya dalam keadaan hamil. Kenapa dia kembali tak diketahui. Ia kemudian melahirkan anak bernama Adityawarman. Menurut prasasti Kubu Rajo, ayah Adityawarman adalah Adwayawarman, nama yang mirip dengan Adwayabrahma, kerabat Raden Wijaya, yang terdapat di prasasti Padangroco.

Terakota yang diduga menggambarkan wajah Gajah Mada. Sumber: Wikipedia

Terakota yang diduga menggambarkan wajah Gajah Mada. Sumber: Wikipedia

Saat Adityawarman dewasa, Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa. Ia juga menyerang Dharmasraya dan menjadikan Adityawarman sebagai perwakilan penguasa Majapahit di Sumatera. Karena Adityawarman sebenarnya juga kerabat keturunan Raden Wijaya, maka ia pun mendapatkan jabatan tinggi di Majapahit.

Di Majapahit sendiri terjadi kemelut karena lemahnya kepemimpinan Jayanegara. Banyak pemberontakan yang terjadi, beberapa berhasil dipadamkan oleh Gajah Mada. Pemberontak Tanca berhasil membunuh Jayanegara, namun Tanca sendiri juga dibunuh oleh Gajah Mada. Sebenarnya Adityawarman berhak menjadi penerus kerajaan, namun Gajah Mada memprakarsai penobatan Jayawisnuwardhani (putri Raden Wijaya) sebagai ratu. Jayawisnuwardhani melahirkan Hayam Wuruk yang belakangan dinobatkan sebagai raja Majapahit. Karena kesempatannya hilang, Adityawarman kembali ke Dharmasraya tahun 1343, dan disanalah ia dinobatkan sebagai raja. Tahun 1347 ia menikahi putri raja Dharmasraya sebelumnya, dan resmi menjadi pelanjut dinasti Melayu Dharmasraya dengan gelar Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa.

Minangkabau

Arca Amoghapasa menggambarkan Adityawarman yang ditemukan di Siguntur. Sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Sumber: Wikipedia

Arca Amoghapasa menggambarkan Adityawarman yang ditemukan di Siguntur. Sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Sumber: Wikipedia

Patung Adityawarman ditemukan di Siguntur, dan sekarang berada di Museum Nasional di Jakarta. Adityawarman juga menyisakan prasasti-prasasti yang tersebar di berbagai daerah, dan diantaranya bercerita tentang pemindahan pusat kerajaan dari Siguntur (sekarang di kabupaten Dharmasraya, Sumbar) ke Pagaruyuang (sekarang di kabupaten Tanah Datar, Sumbar). Inilah dia awal mula kerajaan Minangkabau.

Adityawarman diyakini sebagai peletak dasar sistem pemerintahan di Minangkabau. Menurut A. A. Navis, ada kemiripan antara sistem di kerajaan Minangkabau dengan Majapahit. Contoh kemiripan itu misalnya pemisahan wilayah luhak dan rantau. Luhak adalah 3 kawasan utama, terdiri atas luhak Tanah Data, luhak Agam dan luhak 50 Koto. Rantau adalah “kawasan pengembangan”, yang dihuni oleh masyarakat dari 3 luhak yang bermigrasi. Setiap luhak memiliki wilayah rantau yang berbeda, misalnya Pariaman adalah wilayah rantau Tanah Data, Tiku merupakan wilayah rantau Agam, dan Pasaman adalah wilayah rantau 50 Koto. Pimpinan di luhak adalah penghulu yang ada di setiap nagari, sedangkan pimpinan di rantau adalah seorang rajo atau raja kecil. Hal ini mirip dengan pola di Majapahit yang memisahkan wilayah dawahan (wilayah asli) dan mancanagara (wilayah taklukan).

Penerus Adityawarman (meninggal tahun 1375 M) adalah Ananggawarman. Gajah Mada sudah meninggal sebelumnya tahun 1364. Semasa Adityawarman masih hidup, Gajah Mada dan Majapahit tidak pernah mengusik kerajaan Minangkabau, walau jelas-jelas sudah “memberontak” dari penguasaan Majapahit (ingat kembali Sumpah Palapa). Setelah Adityawarman meninggal, sebuah upaya penguasaan kembali dilakukan. Majapahit menyerang tahun 1377 an berhasil menancapkan kekuasaan kembali. Namun, tahun 1389 Hayam Wuruk meninggal dan Majapahit mengalami kemunduran. Pagaruyung membebaskan diri dan sejak 1409 (setelah perang di Padang Sibusuak) benar-benar lepas dari kekuasaan Majapahit.

Namun, seiring waktu kekuasaan raja Pagaruyuang semakin lama semakin pudar. Entah memang sudah pudar sejak jaman Adityawarman (dengan artian, Adityawarman memang sengaja membuat sebuah sistem dimana posisi raja tidak terlalu berpengaruh terhadap masyarakat), atau memang pudar sebagai akibat sistem kemasyarakaatan Minangkabau itu sendiri. Secara sosiologis, masyarakat Minangkabau itu egaliter, sama sekali tidak mau terikat hanya pada satu orang. Di Minangkabau, para penghulu nagari lebih berperan dominan daripada raja Pagaruyuang. Beragam keputusan untuk nagari dihasilkan dari musyawarah penghulu, bukan dari titah raja. Demikian juga keputusan yang mengikat seluruh masyarakat Minangkabau, tidak bisa hanya dari titah raja saja. Makanya, jangan heran melihat apa yang dinamakan sebagai “istana” raja Pagaruyuang itu hanyalah berupa sebuah rumah gadang saja (walaupun lebih “wah” ketimbang seluruh rumah gadang lain di Minangkabau). Sangat berbeda dengan keraton raja-raja Jawa.

Ustano Basa Pagaruyuang sebelum terbakar beberapa waktu lalu. Istana ini sendiri sudah beberapa kali terbakar sejak pertama kali dibangun.

Ustano Basa Pagaruyuang sebelum terbakar beberapa waktu lalu. Istana ini sendiri sudah beberapa kali terbakar sejak pertama kali dibangun.

Minangkabau Islam

Tak banyak kisah tentang raja-raja Pagaruyuang setelah mangkatnya Adityawarman. Baru kemudian pada tahun 1560 ada kabar baru. Kabar yang menyatakan bahwa raja Pagaruyuang ketika itu beragama Islam, namanya Sultan Alif. Ini catatan pertama raja Islam berkuasa di Minangkabau, namun Islam sendiri barangkali sudah masuk ke Minangkabau jauh sebelumnya. Raja Sriwijaya sudah berkomunikasi dengan pimpinan dinasti Umayyah di Damaskus, dan karena Minangkabau ketika itu dikuasai Sriwijaya, tentunya ada sedikit persentuhan masyarakat Minangkabau ini dengan Islam. Hanya saja tidak terdapat bukti-bukti.

Selain itu, sejak abad 8 M pemukiman-pemukiman pedagang Arab dan India muslim sudah berkembang di Sumatera, terutama di wilayah Aceh yang strategis. Bahkan, kerajaan Islam pertama di Sumatera muncul yakni Samudera Pasai di Aceh tahun 1270. Diyakini dari Aceh lah Islam masuk ke Minangkabau. Aceh juga menguasai pesisir Sumatera Barat sejak abad 13 (atau 14?), mulai dari Aia Bangih (sekarang di Kabupaten Pasaman Barat) hingga ke Indopuro (sekarang kabupaten Pesisir Selatan).

Sejarah Islam Minangkabau sebenarnya sedikit terdistorsi. Dikatakan bahwa Syekh Burhanuddin ulama Minangkabau pertama yang menyebarkan Islam, tapi nyatanya Syekh Burhanuddin itu ada 2 orang. Yang pertama dimakamkan di sebuah tempat di timur Sumatera Barat sekarang, sedangkan Syekh Burhanuddin yang lain (dan lebih terkenal) dimakamkan di Ulakan, Pariaman. Syekh Burhanuddin yang pertama tampaknya lebih meyakinkan sebagai penyebar Islam pertama, karena makamnya diperkirakan sudah ada semenjak abad 13.

Tampaknya memang harus dilihat kenyataan bahwa Islam cukup lambat berkembang di Minangkabau. Tapi cukup menarik juga bahwa pada akhirnya Islam menjadi agama keseluruhan orang Minangkabau. Islam kemudian menyatu dengan adat Minangkabau, dimana ulama mendapat tempat sejajar dengan penghulu. Ulama-ulama asal Minangkabau juga terkenal ke seantero negeri. Konon, orang Minang lah yang dahulu meng-Islamkan masyarakat di pulau Mindanao, Filipina.

Namun Islam yang seperti apakah yang dianut itu? Nyatanya, ketika beberapa orang Tuanku (gelar adat Minang untuk ahli agama) pulang dari berhaji dan belajar di Makkah, mereka menilai Islam di Minangkabau perlu dimurnikan. Lahirlah gerakan Paderi yang kelihatannya terobsesi dengan gerakan Wahabi di tanah Arab. Gerakan ini menimbulkan ketegangan antara “kaum tua”, yakni penganut dan ulama Islam yang “status quo”, dengan kaum muda yang menginginkan pemurnian ajaran Islam.

Perang antara kaum Paderi dan kaum Adat (pro status quo) tak terelakkan. Namun kaum adat kelihatannya tak mampu mengimbangi gerakan Paderi, dan kemudian mereka meminta bantuan Belanda. Ketika menyadari bahwa Belanda adalah bajingan licik, kaum adat berdamai dengan kaum Paderi. Perdamaian ini menghasilkan kesepakatan Marapalam, dengan salah satu isinya: jargon “Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah.”

Paderi sendiri akhirnya dapat dikalahkan oleh Belanda, dan penjajah Eropa ini bercokol di Minangkabau hingga orang Jepang datang tahun 1940an. Walau demikian, Islam berkembang terus dan menemukan bentuk “modernisasi” yang tepat. Reformasi Islam a la Jamaluddin al Afghani dan Muhammad Abduh yang terakhir mendapat tempat di Minangkabau, dibawa oleh ayahnya Buya Hamka dan rekan-rekannya. Buya Hamka belakangan mengusung Muhammadiyah, yang hingga sekarang merupakan ormas Islam terbesar di ranah Minang.

Dari berbagai sumber. Mohon koreksi jika terdapat kesalahan :notworthy:

One thought on “Sejarah Minangkabau

  1. Ass.wr.wb.

    Saya, Riza Syahran Ganie gelar Sutan Khalifah, adalah anak dari Amaludin Ganie dan cucu dari Siti Zabidah. Siti Zabidah, nenek saya, adalah anak kedua (sedangkan anak pertama Sutan Sjamsuddin) dari Sutan Abdullah. Sutan Abdullah adalah anak ke-6 dari Tuanku Sulthan Abdul Madjid, yang merupakan radja ke-9 dari Negeri Pasaman Kehasilan Kalam. Adapun urutan Radja-Radja Didalam Negeri Pasaman Kehasilan Kalam (ari yang pertama sampai yang ke-11) adalah sebagai berikut :
    1. Seri Paduka Seri Radja di Radja Alam Sjah.
    2. Maharadja di Radja Alam Sjah.
    3. Paduka Radja di Radja Alam.
    4. Paduka Radja Nan Garang.
    5. Paduka Radja Nan Tjerdik.
    6. Paduka Jangdipertuan Sakit Kaki.
    7. Paduka Jang Dipertuan Radja Lembang Alam.
    8. Tuanku Muda.
    9. Tuanku Sulthan Abdul Madjid.
    10. Paduka Daulat Jang Dipertuan Mohd. Ali Hanafiah.
    11. Paduka Jang Dipertuan Didalam Negeri Pasaman Mohd. Siam, Radja Jang Penghabisan.

    Paduka Radja Nan Tjerdik (Radja ke-5) adalah putra pertama dari Putri Intan Tjahja berkawin dengan Jang Dipertuan di Padang Nunang dalam Negeri Rao. Putri Intan Tjahja adalah putri (anak ke-2, anak pertama adalah Paduka Radja Nan Garang yang merupakan Radja ke-4) dari Putri Intan Saman berkawin dengan Basar Nan Berampek di Kampung Air Gadang, sedangkan Putri Intan Saman adalah putri (anak ke-2, anak pertama adalah Paduka Radja di Radja Alam yang merupakan Radja ke-3) dari Paduka Maharadja di Radja Alam Sjah (Radja ke-2), bersaudara dengan Putri Intan Djohor.

    Demikianlah sebagian info, yang mana saya mempunyai copy Tambo Silsilah tersebut diatas, yang asli ada dipegang oleh Om saya. Apabila berkenan, ini ada no hp saya 0856-9117-1117 atau telpon rumah saya 021-87791249.

    Wass.wr.wb.

    Ir. Riza Syahran Ganie Sutan Khalifah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s