Islam dan Ilmu

Nostalgia memang tak ada salahnya. Sebuah kenangan nostalgia biasanya bahkan mampu menghadirkan semangat baru untuk melakukan hal-hal yang lebih baik lagi.

Ibnu Sina

Ibnu Sina

Begitu pula di dunia keilmuan dalam masyarakat Islam. Khazanah keilmuan yang pernah sedemikian berkilau di masa lalu semestinya memang tak boleh dilupakan. Begitu banyak cahaya cemerlang itu, mulai dari Jabir ibn. Hayyan di abad ke-8 Masehi hingga Ibn. Mundzir di abad ke 14 Masehi. Namun hal itu akan kosong saja artinya, jika hal yang lebih penting lagi—menghadirkan kembali kecemerlangan tersebut—dilupakan.

Ketika Profesor Abdus Salam meraih nobel Fisika, momentum kebangkitan itu semestinya sudah dimulai. Prof. Dr Abdus Salam dilahirkan di Pakistan, 29 Januari 1926. Beliau meraih Ph. D dari Cambridge University, Inggris dalam usia 26 tahun, dan meraih nobel Fisika—penghargaan tertinggi bagi seorang Fisikawan—tahun 1979 atas kontribusinya terkait hubungan gaya nuklir (inti atom) dengan elektromagnetisme. Kepeduliannya tentang perkembangan ilmu di dunia Islam tak perlu diragukan.

Cuma, sayangnya kita, umat Islam, terlalu banyak bernostalgia dan cenderung kurang dalam berbuat. Iklim ilmiah belum kunjung terbentuk di negeri muslim, dan malah ada sebagian kalangan muslim yang menyatakan ilmu-ilmu yang berkembang sekarang tak layak dipelajari karena “berasal dari pemikiran Barat yang kafir.”

Bagaimana mungkin bagi sebagian umat Islam teori geosentris dianggap sebagai kebenaran, sedangkan semua hukum-hukum Fisika yang berlaku sekarang jelas menolaknya? Di Arab Saudi, penentuan hilal awal bulan memancing kontroversi karena kaidah dan teori yang digunakan oleh astronom seluruh dunia diabaikan. Kalau ulama Saudi sudah bilang melihat hilal, maka hilal lah dia, biarpun data-data posisi Bulan dan matahari (biasanya dari Amerika Serikat) menunjukkan hal yang berlainan. Contoh kasus tahun 2008, saat Idul Fitri di Indonesia beda dengan di Arab Saudi.

Gonjang-ganjing politik, perang dan diktatorisme yang masih membelit dunia Islam makin memperburuk suasana.

Di Indonesia sendiri juga masih mirip-mirip keadaannya. Politik dan ekonomi yang carut-marut, siaran televisi yang busuk, iklim ilmiah minim di kampus-kampus, ditambah dengan kesempitan berpikir. Satu kisah: saya pernah mendengar dari adik saya yang kuliah di IAIN Imam Bondjol (IAIN IB) Padang, tentang penolakan sebagian kalangan untuk mengubah IAIN IB menjadi sebuah Universitas Islam Negeri (UIN), seperti yang sudah dilakukan terhadap IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Diantara alasannya adalah, identitas Islam yang dikhawatirkan lenyap. Dengan berubah menjadi universitas, bidang ilmu yang dipelajari tidak hanya yang terkait langsung dengan Islam. Jangan-jangan nanti UIN malah lebih terkenal dengan jurusan ilmu pasti alih-alih ilmu mu’alamat.

Saya memandang alasan itu sedikit lucu. Sekulerisme keilmuan—yakni dikotomi “ilmu umum” dan “ilmu Islam” itu adalah pandangan picik yang seharusnya sudah lama dihilangkan. Ada banyak muslim yang menolak sekulerisme politik, tapi kenapa sekulerisme ilmu masih dibela? Tak ada salahnya mempelajari sistem ekonomi kapitalis di kampus Islam, yang perlu dilakukan adalah memberikan pembanding yang proporsional dari sudut pandang pemikiran Islam.

Saya sendiri malah membayangkan, suatu saat sistem ekonomi syariah dan sistem hukum Islam menjadi satu pelajaran wajib (atau jadi mata ajar pilihan pun boleh lah) bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum di Universitas Andalas dan universitas “umum” lainnya.

Hal yang cukup menggembirakan barangkali ada banyak sekali calon-calon Doktor di universitas-universitas terkemuka dunia berasal dari negeri-negeri Muslim. Mahasiswa asal Indonesia yang belajar di luar negeri saja sudah begitu banyak (beberapa diantaranya teman-teman saya :ninja: ). Tentu kontribusinya kita tunggu. Semoga mereka bersedia pulang ke negerinya ini. Semoga, diantara mereka ada yang akan meraih nobel berikutnya🙂

Tulisan ini otokritik buat saya juga, yang ribut kesana-kemari sedangkan dalam berbagai hal masih keteteran. Semoga Allah SWT menjauhkan saya dari sikap ghurur (merasa sudah benar padahal aslinya tertipu), dan senantiasa memberikan petunjuk.

4 thoughts on “Islam dan Ilmu

  1. di eropa, isu imigran sekarang jadi begitu penting. khusus mengenai islam, diramalkan dalam 20 tahun ke depan muslim eropa tidak minoritas lagi. tapi susah melawan globalisasi, termasuk di eropa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s