Program Membalikkan Kata dengan Pascal

Bahasa Pascal merupakan bahasa pemrograman yang cukup mudah dipelajari, namun tentunya butuh ketekunan kalau mau mahir. Saya sendiri tidak jago segala jenis bahasa program, namun sekali-sekali suka mencoba.

Di sini, saya akan sampaikan caranya membalikkan kata dengan menggunakan bahasa Pascal. lacsaP asahab nagned atak nakkilabmem margorp naksilunem naka ayas ,inis iD. Dengan program ini tentunya kita tak perlu berpikir terlalu banyak untuk membalikkan kata/kalimat yang panjang.

Kode program ini tentu bukan ide saya sepenuhnya. Saya mempelajari algoritmanya dari kode-kode lain yang banyak bertebaran di internet, dan kemudian menyusun kembali sesuai dengan secuil ilmu milik saya. Karena cuma bisa menggunakan Pascal, ya saya bikinnya pakai Pascal. Bagi yang bisa bahasa lain tentunya bisa membuatnya juga. FYI, dengan bahasa Python program bisa dibuat lebih simpel.

Program ini menggunakan record sebagai tipe data penyimpan. Inti algoritmanya adalah mengambil huruf per huruf dari kalimat yang dimasukkan, menyimpannya ke dalam record, kemudian menampilkan kembali huruf per huruf namun dengan urutan yang terbalik. Jadi jika pertama dimasukkan “123 456 789”, hasilnya akan ditampilkan “987 654 321”.

Berikut script nya:


program balikkata;
uses crt;
type
tmp = record
kal: string[255];
urutan: integer;
end;
var
t: tmp;
i: integer;
kata: string[255];
input: char;
teks : text;
procedure mulai(var t: tmp);
begin
t.urutan := 0;
end;
procedure geser(var t: tmp; x: char);
begin
t.urutan := t.urutan + 1;
t.kal[t.urutan] := x;
end;
function akhir(var t: tmp) : char;
begin
akhir := t.kal[t.urutan];
t.urutan := t.urutan - 1;
end;
begin
clrscr;
mulai(t);
writeln('Program Membalikkan Kata');
writeln('------------------------');
repeat
writeln;
write('Kata/kalimat yang akan dibalik: ');readln(kata);
writeln('Kata/kalimat asli: ',kata);
writeln;
for i := 1 to length(kata) do
geser(t, kata[i]);
write('Kata/kalimat hasil balikan: ');
for i := 1 to length(kata) do
write(akhir(t));
writeln;
writeln;
write('Ulangi? y/t: ');
readln(input);
until input = 't';
end.

Jadi, demikianlah. Silakan dicoba. Oh ya, program ini bisa di compile menggunakan Turbo Pascal atau Free Pascal. Saya sih menganjurkan pakai Free Pascal saja, baik under Windows ataupun Linux dan Mac OS. Gratis gitu loh, gak perlu membajak Turbo Pascal lagi :beer:

Advertisements

Sejarah Minangkabau

Sejarah Awal

Bagaimana awalnya sejarah awal bangsa-bangsa yang mendiami Sumatera sebenarnya masih banyak yang kabur. Khusus untuk etnis Minangkabau, pada dasarnya memiliki kesamaan etnis dengan Melayu, jadi untuk menelusurinya mesti dihubungkan dengan asal usul etnis Melayu.

Konon, ketika Alexander the Great akhirnya sampai di India dalam rangka ekspedisi penaklukannya, dia dan anak buahnya menemukan bahwa India saat itu sudah berhubungan dengan suatu bangsa di selatan. Claudius Ptolemaeus (87 – 150 M) juga mencatat keberadaan negeri di timur bernama Argyre (artinya “kota perak”). Ahli sejarah menghubungkan Argyre ini dengan kerajaan Salakanagara di pulau Jawa sekitar 130 M. Selain itu, Ptolemaeus juga menggambarkan peta semenanjung Melayu (atau pulau Sumatera?).

Dari sana bisa disimpulkan bahwa bangsa-bangsa di Barat sudah sejak lama berhubungan dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara.

Sriwijaya

Dari catatan-catatan China, diketahui bahwa ada sebuah kerajaan bernama Mo Lo Yeu (Melayu) di antara Jambi dan Palembang sekarang. Mo Lo Yeu sudah berhubungan dengan dinasti Song di China. I Tsing dari China dalam perjalanaan menuju India sempat singgah di Mo Lo Yeu sekitar tahun 671 M, namun ketika singgah lagi ketika hendak pulang ke China, Mo Lo Yeu ternyata sudah di bawah kekuasaan Shih Li Fo Shih (Sriwijaya).

Dalam prasasti Kedukan Bukit (angka tahun 683 M), oleh M. Yamin ditafsirkan bahwa kerajaan Sriwijaya dibangun oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang pindah dari Minanga Tamwan. Namun, penafsiran yang lebih tepat sepertinya adalah bahwa Dapunta Hyang “pulang dari menyerang Minanga Tamwan dengan suka cita”. Alasannya, catatan I Tsing dari China menyatakan kerajaan Sriwijaya sudah ada pada tahun yang tertera di prasasti. Artinya, prasasti ini menceitakan kemenangan perang Sriwijaya menyerang sebuah kerajaan. Minanga Tamwan ini barangkali berada di sekitar sungai Kampar, dimana terdapat candi Muaratakus. Nama “Minanga Tamwan” ini juga diduga menjadi asal usul sebenarnya dari nama “Minangkabau”. Sejarawan Slamet Mulyana mengatakan bahwa Minanga Tamwan ini adalah ibukota kerajaan Melayu kuno.

Tahun 743, dari manuskrip China, dinyatakan bahwa pusat kerajaan sudah berpindah ke tanah Jawa. Hal ini dikarenakan terjadinya penggabungan kerajaan dimana putri dari Dharmasetu, raja Sriwijaya, menikah dengan Samaratungga, raja Mataram (dari dinasti Sailendra). Jadi Samaratungga adalah juga raja Sriwijaya. Samaratungga adalah raja yang membangun candi Borobudur (selesai dibangun 825).

Setelah beberapa waktu, terjadi perebutan kekuasaan antara dinasti Sailendra dengan dinasti Sanjaya. Pikatan (anggota keluarga Sanjaya) mengalahkan Balaputra (Sailendra), dan kemudian berkuasa di Mataram. Adapun Balaputra kembali ke Sumatera dan manjadi penerus raja Sriwijaya sekitar 852. Nama Balaputra juga tercatat dalam prasasti Nalanda di India (angka tahun 860 M).

Kerajaan Sriwijaya ini bertahan hingga 1025 diserang oleh kerajaan Chola dari India. Serangan ini membuat Sriwijaya melemah. Di hulu sungai Batanghari, di daerah yang sekarang bernama nagari Siguntur (kabupaten Dharmasraya, Sumbar) kerajaan Melayu yang pernah ditaklukkan Sriwijaya bangkit lagi dan mengambil alih kekuasaan Sriwijaya, dikenal mebagai Melayu Muda

Dharmasraya, Singosari, Majapahit

Kerajaan Melayu itu bernama Dharmasraya. Tak banyak kisah sejarahnya. Candi di Jambi belum banyak diteliti dan peninggalan-peninggalan di Siguntur juga tak banyak memberikan cerita. Namun yang jelas, konon ekspedisi Pamalayu yang dilancarkan Singosari tahun 1275 gagal menguasai kerajaan Dharmasraya ini. Mitos yang berkembang menyatakan kegagalan ekspedisi itu adalah karena Singosari kalah bertanding adu kerbau dengan Dharmasraya, dan mitos ini menjadi asal usul nama Minangkabau.

Kertanegara, raja Singosari, belakangan mengirimkan arca Amoghapasa untuk Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, raja Dharmasraya, sebagai tanda persahabatan. Kisah ini diceritakan di prasasti Padangroco. Bertepatan dengan jaman itu, dinasti Yuan (Kubilai Khan) menyerang Singosari, sedang di Singosari sendiri terjadi keributan. Jayakatwang membunuh Kertanegara. Raden Wijaya dibantu tentara Yuan menghabisi Jayakatwang. Setelah itu Raden Wijaya malah mengusir tentara Yuan dan kemudian membangun kerajaan Majapahit.

Di sekitar waktu itu juga, utusan Kertanegara baru kembali dari Dharmasraya, membawa dua putri bernama Dara Petak dan Dara Jingga. Karena Singosari sudah hancur, kedua putri itu pun diterima oleh Raden Wijaya yang sudah jadi raja Majapahit. Dara Petak menjadi permaisuri Raden Wijaya, dan melahirkan pangeran Majapahit bernama Jayanegara.

Adapun Dara Jingga, ia kembali ke Dharmasraya dalam keadaan hamil. Kenapa dia kembali tak diketahui. Ia kemudian melahirkan anak bernama Adityawarman. Menurut prasasti Kubu Rajo, ayah Adityawarman adalah Adwayawarman, nama yang mirip dengan Adwayabrahma, kerabat Raden Wijaya, yang terdapat di prasasti Padangroco.

Terakota yang diduga menggambarkan wajah Gajah Mada. Sumber: Wikipedia

Terakota yang diduga menggambarkan wajah Gajah Mada. Sumber: Wikipedia

Saat Adityawarman dewasa, Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa. Ia juga menyerang Dharmasraya dan menjadikan Adityawarman sebagai perwakilan penguasa Majapahit di Sumatera. Karena Adityawarman sebenarnya juga kerabat keturunan Raden Wijaya, maka ia pun mendapatkan jabatan tinggi di Majapahit.

Di Majapahit sendiri terjadi kemelut karena lemahnya kepemimpinan Jayanegara. Banyak pemberontakan yang terjadi, beberapa berhasil dipadamkan oleh Gajah Mada. Pemberontak Tanca berhasil membunuh Jayanegara, namun Tanca sendiri juga dibunuh oleh Gajah Mada. Sebenarnya Adityawarman berhak menjadi penerus kerajaan, namun Gajah Mada memprakarsai penobatan Jayawisnuwardhani (putri Raden Wijaya) sebagai ratu. Jayawisnuwardhani melahirkan Hayam Wuruk yang belakangan dinobatkan sebagai raja Majapahit. Karena kesempatannya hilang, Adityawarman kembali ke Dharmasraya tahun 1343, dan disanalah ia dinobatkan sebagai raja. Tahun 1347 ia menikahi putri raja Dharmasraya sebelumnya, dan resmi menjadi pelanjut dinasti Melayu Dharmasraya dengan gelar Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa.

Minangkabau

Arca Amoghapasa menggambarkan Adityawarman yang ditemukan di Siguntur. Sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Sumber: Wikipedia

Arca Amoghapasa menggambarkan Adityawarman yang ditemukan di Siguntur. Sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Sumber: Wikipedia

Patung Adityawarman ditemukan di Siguntur, dan sekarang berada di Museum Nasional di Jakarta. Adityawarman juga menyisakan prasasti-prasasti yang tersebar di berbagai daerah, dan diantaranya bercerita tentang pemindahan pusat kerajaan dari Siguntur (sekarang di kabupaten Dharmasraya, Sumbar) ke Pagaruyuang (sekarang di kabupaten Tanah Datar, Sumbar). Inilah dia awal mula kerajaan Minangkabau.

Adityawarman diyakini sebagai peletak dasar sistem pemerintahan di Minangkabau. Menurut A. A. Navis, ada kemiripan antara sistem di kerajaan Minangkabau dengan Majapahit. Contoh kemiripan itu misalnya pemisahan wilayah luhak dan rantau. Luhak adalah 3 kawasan utama, terdiri atas luhak Tanah Data, luhak Agam dan luhak 50 Koto. Rantau adalah “kawasan pengembangan”, yang dihuni oleh masyarakat dari 3 luhak yang bermigrasi. Setiap luhak memiliki wilayah rantau yang berbeda, misalnya Pariaman adalah wilayah rantau Tanah Data, Tiku merupakan wilayah rantau Agam, dan Pasaman adalah wilayah rantau 50 Koto. Pimpinan di luhak adalah penghulu yang ada di setiap nagari, sedangkan pimpinan di rantau adalah seorang rajo atau raja kecil. Hal ini mirip dengan pola di Majapahit yang memisahkan wilayah dawahan (wilayah asli) dan mancanagara (wilayah taklukan).

Penerus Adityawarman (meninggal tahun 1375 M) adalah Ananggawarman. Gajah Mada sudah meninggal sebelumnya tahun 1364. Semasa Adityawarman masih hidup, Gajah Mada dan Majapahit tidak pernah mengusik kerajaan Minangkabau, walau jelas-jelas sudah “memberontak” dari penguasaan Majapahit (ingat kembali Sumpah Palapa). Setelah Adityawarman meninggal, sebuah upaya penguasaan kembali dilakukan. Majapahit menyerang tahun 1377 an berhasil menancapkan kekuasaan kembali. Namun, tahun 1389 Hayam Wuruk meninggal dan Majapahit mengalami kemunduran. Pagaruyung membebaskan diri dan sejak 1409 (setelah perang di Padang Sibusuak) benar-benar lepas dari kekuasaan Majapahit.

Namun, seiring waktu kekuasaan raja Pagaruyuang semakin lama semakin pudar. Entah memang sudah pudar sejak jaman Adityawarman (dengan artian, Adityawarman memang sengaja membuat sebuah sistem dimana posisi raja tidak terlalu berpengaruh terhadap masyarakat), atau memang pudar sebagai akibat sistem kemasyarakaatan Minangkabau itu sendiri. Secara sosiologis, masyarakat Minangkabau itu egaliter, sama sekali tidak mau terikat hanya pada satu orang. Di Minangkabau, para penghulu nagari lebih berperan dominan daripada raja Pagaruyuang. Beragam keputusan untuk nagari dihasilkan dari musyawarah penghulu, bukan dari titah raja. Demikian juga keputusan yang mengikat seluruh masyarakat Minangkabau, tidak bisa hanya dari titah raja saja. Makanya, jangan heran melihat apa yang dinamakan sebagai “istana” raja Pagaruyuang itu hanyalah berupa sebuah rumah gadang saja (walaupun lebih “wah” ketimbang seluruh rumah gadang lain di Minangkabau). Sangat berbeda dengan keraton raja-raja Jawa.

Ustano Basa Pagaruyuang sebelum terbakar beberapa waktu lalu. Istana ini sendiri sudah beberapa kali terbakar sejak pertama kali dibangun.

Ustano Basa Pagaruyuang sebelum terbakar beberapa waktu lalu. Istana ini sendiri sudah beberapa kali terbakar sejak pertama kali dibangun.

Minangkabau Islam

Tak banyak kisah tentang raja-raja Pagaruyuang setelah mangkatnya Adityawarman. Baru kemudian pada tahun 1560 ada kabar baru. Kabar yang menyatakan bahwa raja Pagaruyuang ketika itu beragama Islam, namanya Sultan Alif. Ini catatan pertama raja Islam berkuasa di Minangkabau, namun Islam sendiri barangkali sudah masuk ke Minangkabau jauh sebelumnya. Raja Sriwijaya sudah berkomunikasi dengan pimpinan dinasti Umayyah di Damaskus, dan karena Minangkabau ketika itu dikuasai Sriwijaya, tentunya ada sedikit persentuhan masyarakat Minangkabau ini dengan Islam. Hanya saja tidak terdapat bukti-bukti.

Selain itu, sejak abad 8 M pemukiman-pemukiman pedagang Arab dan India muslim sudah berkembang di Sumatera, terutama di wilayah Aceh yang strategis. Bahkan, kerajaan Islam pertama di Sumatera muncul yakni Samudera Pasai di Aceh tahun 1270. Diyakini dari Aceh lah Islam masuk ke Minangkabau. Aceh juga menguasai pesisir Sumatera Barat sejak abad 13 (atau 14?), mulai dari Aia Bangih (sekarang di Kabupaten Pasaman Barat) hingga ke Indopuro (sekarang kabupaten Pesisir Selatan).

Sejarah Islam Minangkabau sebenarnya sedikit terdistorsi. Dikatakan bahwa Syekh Burhanuddin ulama Minangkabau pertama yang menyebarkan Islam, tapi nyatanya Syekh Burhanuddin itu ada 2 orang. Yang pertama dimakamkan di sebuah tempat di timur Sumatera Barat sekarang, sedangkan Syekh Burhanuddin yang lain (dan lebih terkenal) dimakamkan di Ulakan, Pariaman. Syekh Burhanuddin yang pertama tampaknya lebih meyakinkan sebagai penyebar Islam pertama, karena makamnya diperkirakan sudah ada semenjak abad 13.

Tampaknya memang harus dilihat kenyataan bahwa Islam cukup lambat berkembang di Minangkabau. Tapi cukup menarik juga bahwa pada akhirnya Islam menjadi agama keseluruhan orang Minangkabau. Islam kemudian menyatu dengan adat Minangkabau, dimana ulama mendapat tempat sejajar dengan penghulu. Ulama-ulama asal Minangkabau juga terkenal ke seantero negeri. Konon, orang Minang lah yang dahulu meng-Islamkan masyarakat di pulau Mindanao, Filipina.

Namun Islam yang seperti apakah yang dianut itu? Nyatanya, ketika beberapa orang Tuanku (gelar adat Minang untuk ahli agama) pulang dari berhaji dan belajar di Makkah, mereka menilai Islam di Minangkabau perlu dimurnikan. Lahirlah gerakan Paderi yang kelihatannya terobsesi dengan gerakan Wahabi di tanah Arab. Gerakan ini menimbulkan ketegangan antara “kaum tua”, yakni penganut dan ulama Islam yang “status quo”, dengan kaum muda yang menginginkan pemurnian ajaran Islam.

Perang antara kaum Paderi dan kaum Adat (pro status quo) tak terelakkan. Namun kaum adat kelihatannya tak mampu mengimbangi gerakan Paderi, dan kemudian mereka meminta bantuan Belanda. Ketika menyadari bahwa Belanda adalah bajingan licik, kaum adat berdamai dengan kaum Paderi. Perdamaian ini menghasilkan kesepakatan Marapalam, dengan salah satu isinya: jargon “Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah.”

Paderi sendiri akhirnya dapat dikalahkan oleh Belanda, dan penjajah Eropa ini bercokol di Minangkabau hingga orang Jepang datang tahun 1940an. Walau demikian, Islam berkembang terus dan menemukan bentuk “modernisasi” yang tepat. Reformasi Islam a la Jamaluddin al Afghani dan Muhammad Abduh yang terakhir mendapat tempat di Minangkabau, dibawa oleh ayahnya Buya Hamka dan rekan-rekannya. Buya Hamka belakangan mengusung Muhammadiyah, yang hingga sekarang merupakan ormas Islam terbesar di ranah Minang.

Dari berbagai sumber. Mohon koreksi jika terdapat kesalahan :notworthy:

Islam dan Ilmu

Nostalgia memang tak ada salahnya. Sebuah kenangan nostalgia biasanya bahkan mampu menghadirkan semangat baru untuk melakukan hal-hal yang lebih baik lagi.

Ibnu Sina

Ibnu Sina

Begitu pula di dunia keilmuan dalam masyarakat Islam. Khazanah keilmuan yang pernah sedemikian berkilau di masa lalu semestinya memang tak boleh dilupakan. Begitu banyak cahaya cemerlang itu, mulai dari Jabir ibn. Hayyan di abad ke-8 Masehi hingga Ibn. Mundzir di abad ke 14 Masehi. Namun hal itu akan kosong saja artinya, jika hal yang lebih penting lagi—menghadirkan kembali kecemerlangan tersebut—dilupakan.

Ketika Profesor Abdus Salam meraih nobel Fisika, momentum kebangkitan itu semestinya sudah dimulai. Prof. Dr Abdus Salam dilahirkan di Pakistan, 29 Januari 1926. Beliau meraih Ph. D dari Cambridge University, Inggris dalam usia 26 tahun, dan meraih nobel Fisika—penghargaan tertinggi bagi seorang Fisikawan—tahun 1979 atas kontribusinya terkait hubungan gaya nuklir (inti atom) dengan elektromagnetisme. Kepeduliannya tentang perkembangan ilmu di dunia Islam tak perlu diragukan.

Cuma, sayangnya kita, umat Islam, terlalu banyak bernostalgia dan cenderung kurang dalam berbuat. Iklim ilmiah belum kunjung terbentuk di negeri muslim, dan malah ada sebagian kalangan muslim yang menyatakan ilmu-ilmu yang berkembang sekarang tak layak dipelajari karena “berasal dari pemikiran Barat yang kafir.”

Bagaimana mungkin bagi sebagian umat Islam teori geosentris dianggap sebagai kebenaran, sedangkan semua hukum-hukum Fisika yang berlaku sekarang jelas menolaknya? Di Arab Saudi, penentuan hilal awal bulan memancing kontroversi karena kaidah dan teori yang digunakan oleh astronom seluruh dunia diabaikan. Kalau ulama Saudi sudah bilang melihat hilal, maka hilal lah dia, biarpun data-data posisi Bulan dan matahari (biasanya dari Amerika Serikat) menunjukkan hal yang berlainan. Contoh kasus tahun 2008, saat Idul Fitri di Indonesia beda dengan di Arab Saudi.

Gonjang-ganjing politik, perang dan diktatorisme yang masih membelit dunia Islam makin memperburuk suasana.

Di Indonesia sendiri juga masih mirip-mirip keadaannya. Politik dan ekonomi yang carut-marut, siaran televisi yang busuk, iklim ilmiah minim di kampus-kampus, ditambah dengan kesempitan berpikir. Satu kisah: saya pernah mendengar dari adik saya yang kuliah di IAIN Imam Bondjol (IAIN IB) Padang, tentang penolakan sebagian kalangan untuk mengubah IAIN IB menjadi sebuah Universitas Islam Negeri (UIN), seperti yang sudah dilakukan terhadap IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Diantara alasannya adalah, identitas Islam yang dikhawatirkan lenyap. Dengan berubah menjadi universitas, bidang ilmu yang dipelajari tidak hanya yang terkait langsung dengan Islam. Jangan-jangan nanti UIN malah lebih terkenal dengan jurusan ilmu pasti alih-alih ilmu mu’alamat.

Saya memandang alasan itu sedikit lucu. Sekulerisme keilmuan—yakni dikotomi “ilmu umum” dan “ilmu Islam” itu adalah pandangan picik yang seharusnya sudah lama dihilangkan. Ada banyak muslim yang menolak sekulerisme politik, tapi kenapa sekulerisme ilmu masih dibela? Tak ada salahnya mempelajari sistem ekonomi kapitalis di kampus Islam, yang perlu dilakukan adalah memberikan pembanding yang proporsional dari sudut pandang pemikiran Islam.

Saya sendiri malah membayangkan, suatu saat sistem ekonomi syariah dan sistem hukum Islam menjadi satu pelajaran wajib (atau jadi mata ajar pilihan pun boleh lah) bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum di Universitas Andalas dan universitas “umum” lainnya.

Hal yang cukup menggembirakan barangkali ada banyak sekali calon-calon Doktor di universitas-universitas terkemuka dunia berasal dari negeri-negeri Muslim. Mahasiswa asal Indonesia yang belajar di luar negeri saja sudah begitu banyak (beberapa diantaranya teman-teman saya :ninja: ). Tentu kontribusinya kita tunggu. Semoga mereka bersedia pulang ke negerinya ini. Semoga, diantara mereka ada yang akan meraih nobel berikutnya 🙂

Tulisan ini otokritik buat saya juga, yang ribut kesana-kemari sedangkan dalam berbagai hal masih keteteran. Semoga Allah SWT menjauhkan saya dari sikap ghurur (merasa sudah benar padahal aslinya tertipu), dan senantiasa memberikan petunjuk.