Sains, Masyarakat dan Media

Sains adalah sebuah bidang yang menarik karena mengungkap rahasia alam. Bagi sebagian orang yang mendalami sains secara khusus, misalnya mahasiswa dan dosen, sains juga berarti berhadapan dengan fenomena fisis dan matematis. Albert Einstein harus berkutat dengan persoalan matematis yang—menurut sebagian besar mahasiswa yang pernah saya temui—bikin gila. Belum lagi orang-orang besar jaman modern seperti Feynman dan Hawking.

Gerhana Matahari Cincin, Januari 2009 (image credit: http://antwrp.gsfc.nasa.gov)

Gerhana Matahari Cincin, Januari 2009 (image credit: http://antwrp.gsfc.nasa.gov)

Bagi kalangan “awam” atau masyarakat umum, sains juga menarik. Sepanjang pengalaman saya sebagai mahasiswa Astronomi dan mahasiswa Fisika, ada sangat banyak fenomena yang begitu menarik perhatian kalangan umum. Mulai dari efek gravitasional Bulan terhadap pasang-surut air laut, hingga keberadaan Supermassive Black Hole di pusat Galaksi. itu baru untuk Astronomi. Bagaimana dengan Kimia, Biologi, Fisika? Pastinya jauh lebih banyak.

Informasi-informasi sains sudah semestinya sampai ke khalayak ramai dari para pakarnya. Jika yang membicarakan sains bukan seorang pakar, dipastikan akan terjadi bencana. Tentunya masih banyak orang yang ingat bagaimana seorang “profesor” asal Brasil meramalkan tentang gempa besar di kawasan barat Indonesia Desember 2007 lalu. Kenyataannya, dari berita yang saya baca tak ada yang bisa memastikan orang itu “profesor” di bidang apa. Informasi yang terakhir saya dapatkan malah menyebutkan bahwa “profesor” itu sebenarnya hanyalah tukang ramal alias dukun. Heran, dan sungguh celaka, ternyata banyak orang lebih percaya sama omongan “profesor tak jelas” ini ketimbang bantahan dari orang yang benar-benar pakar.

Namun di sisi lain, setelah informasi disampaikan oleh pakar pun, ketika sampai ke khalayak informasinya sudah “sesat”. Beberapa tahun lalu pernah beredar informasi tentang berubahnya posisi bintang, yang berarti berpengaruh juga terhadap bentuk dan tanggal munculnya zodiak. Informasi ini konon disampaikan oeh seorang dosen di Astronomi ITB. Sebenarnya informasi ini benar: bintang memang bergerak relatif terhadap pengamat di bumi. Gerakan ini sangat kecil, sehingga pengaruhnya baru terlihat setelah ribuan tahun. Dan memang rasi-rasi bintang mengalami akibat dari hal ini, misalnya rasi Taurus akan berbeda bentuknya sekarang dibandingkan 5000 tahun lalu.

Namun efek dari informasi ilmiah ini benar-benar tak dapat diduga: orang-orang tiba-tiba ribut tentang zodiak, perubahan nasib dan semacamnya!

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam dua kasus ini. Pertama, soal interests sebagian besar masyarakat kita yang cenderung ke mistis dan hal-hal yang tampak fenomenal. Pengaruh agama-agama kuno di Indonesia masih begitu melekat di benak warga Indonesia.

Jangan heran jika banyak orang lebih tertarik dengan isyu suara Adzan yang didengar oleh Neil Armstrong setelah mendarat di Bulan, ketimbang aspek-aspek ilmiah pendaratan di bulan tersebut. Juga, ketika LHC diberitakan menghasilkan sebuah “mini Black Hole”, ada sekian banyak orang yang meributkan “kiamat” yang akan terjadi akibat efek LHC tersebut. Apakah banyak orang itu memperhatikan rilis resmi dari CERN yang mengelola LHC? I don’t think so

Kedua, soal cara media massa menyampaikan informasi. Kebanyakan media bertindak sebagai lahan bisnis ketimbang sebagai sarana penyampai informasi. Salah Rupert Murdoch? Entah, tapi yang jelas media malah jadi menyesatkan. Informasi tentang gerhana matahari cincin bulan Januari 2009 lalu disinyalir banyak yang keliru. Informasi gempa a la profesor gadungan asal Brasil, selain mendapat porsi besar, juga dikasih bumbu-bumbu. Informasi kiamat 2012 juga begitu. Akibatnya, alih-alih mencerdaskan rakyat, yang ada malah masyarakat tidak mendapatkan informasi ilmiah yang sebenarnya.

Lalu Bagaimana?

Saya pikir, kepedulian setiap orang yang bergelut dengan sains dibutuhkan di sini. Sarana untuk membuat blog banyak tersedia, dan juga membuat website pribadi juga sangat mudah untuk dilakukan, dengan demikian mahasiswa dan dosen sains (lebih tepatnya barangkali FMIPA) punya kesempatan besar untuk memberikan informasi tentang bidang yang digelutinya kepada khalayak ramai. Sarana yang lebih luas lagi tentunya dengan memanfaatkan media massa, misalnya dengan memasang artikel di koran atau tampil di televisi/radio.

Tentunya, biarpun “sudah ahlinya”, masih perlu juga hati-hati. Subyektivitas dalam sains perlu dihindari, jadi ketika menulis, sebisa mungkin dengan memanfaatkan referensi yang ada. Dan ketika menyampaikan opini pun, opininya juga bukan opini berdasarkan keinginan pribadi semata.

Selain itu, perlu juga menjauhkan masyarakat ini dari hal-hal berbau klenik, takhayul dan full of conspiracy. Sebagai muslim, sepantasnya saya miris mendapati bahwa banyak sekali masyarakat muslim Indonesia yang masih berkutat dengan takhayul ini. Tidakkah kita pantas heran dengan sikap sebagian besar orang yang sibuk-sibuk mendengar ramalan suku Maya—yang dibumbui dengan potongan-potongan pendapat ilmiah—tentang kiamat tahun 2012? Jelas-jelas Tuhan tak memberi tahu kapan datangnya kiamat, dan juga sudah jelas diberi tahu bahwa tak seorang pun akan tahu kapan kiamat terjadi, masih saja mereka percaya ramalan. Apalagi peradaban Maya sendiri sudah punah hampir seribu tahun lalu.

Umat Islam membutuhkan ulama yang juga scientist. Dengan demikian, counter takhayul dapat dilakukan dengan memberikan alasan yang sangat rasional.

Penutup

Saya sendiri menyadari bahwa saya belum banyak berbuat. Tulisan-tulisan saya terkait bidang ilmu yang saya geluti masih sangat sedikit, dan juga masih kurang berkualitas dibandingkan tulisan-tulisan sejenis di berbagai blog/website yang dikelola orang lain. Namun setidaknya saya telah mencoba untuk berbuat apa yang saya bisa, dan tak ada yang salah kalau saya mengajak rekan-rekan mahasiswa sains yang membaca tulisan ini untuk melakukannya juga.

Kemajuan sains untuk kemanusiaan. Live long and prosper!

2 thoughts on “Sains, Masyarakat dan Media

  1. “Pengaruh agama-agama kuno.. masih begitu melekat..” pengamatan yang baik karena setahu saya ini masih jadi permasalahan utama. Jangan lupa, urban legend yang dibangun oleh modernisasi.

    Setahu saya media digital masih belum efektif untuk masyarakat. Masih sedikit masyarakat ponari yang bisa ngeblog, toh. Baiknya, penetrasi ke media tradisional masih harus diperhatikan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s