Dan Beginilah Kita …

Beginilah kita, umat Islam, hari-hari ini. Satu sisi, saudara-saudara kita ditindas di Palestina dan berbagai belahan lain dunia. Sisi lain, ada sesama saudara kita yang masih mempertengkarkannya.

Sebagian kalangan mengatakan bahwa Hamas bersalah atas penderitaan yang terjadi di Palestina. Ada beragam alasan: Hamas telah menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata (yang sebelumnya disepakati pasca pembantaian oleh Israel pada awal 2008 lalu).

Hamas

Hamas on the Wall

Ada sebuah jawaban yang bagus:

Gencatan apa yang harus diperbarui oleh Hamas pada saat Israel tidak pernah komitmen dengan syarat-syaratnya? Yakni menghentikan tindakan permusuhan dan kekerasan, membebaskan Jalur Gaza dari blokade, membuka perlintasan, memindahkan gencatan senjata ke Tepi Barat? Gencatan senjata apa yang harus diperbarui Hamas, sementara Israel terus membunuhi warga Palestina setiap hari. Gencatan senjata seperti apa yang harus diperbarui Hamas, sementara warga Jalur Gaza tidak pernah mendapatkan makanan, obat-obatan, bahan bakar, pasokan listrik, bahkan air bersih. Gencatan senjata seperti apa yang harus diperbarui Hamas, sementara blokade masih mengepung Jalur Gaza dan perlintasan tidak pernah dibuka? Sebelum gencatan senjata berakhir, Israel melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sebanyak 185 kali, mereka membunuh 21 warga sipil, melukai 35 orang, menahan 38 orang … lantas kenapa harus memperpanjang gencatan senjata.

Sumber: Info Palestina

Ada pula yang mengemukakan alasan lain: misalnya malah menggugat sikap Hamas yang menerima gencatan senjata dahulu. Serta yang lainnya menyebut bahwa gara-gara Hamas telah keliru ketika menyepakati demokrasi dengan mengikuti pemilu Palestina tahun 2006 lalu. Sebagian lagi menggugat afiliasi-tak-langsung Hamas dengan Ikhwanul Muslimin, dan sikap Hamas yang cenderung tak suka kompromi.

Allahu Akbar! Tidak cukupkah satu setengah juta orang warga Gaza menderita oleh Yahudi durjana (belum termasuk entah-berapa-juta warga Palestina yang menderita sejak 1948), sehingga mereka semua tega untuk ribut mencari kambing hitam, bahkan dengan disertai dalil dari Al Quran dan Sunnah yang suci? Sudahkah ada usaha dari mereka yang berbicara itu? Sudahkah mereka ikut berperang disana? Sudahkah mereka mengirimkan tenaga relawan medis mereka? Sudahkah mereka menyumbangkan harta mereka? Sudahkah mereka melantunkan do’a-doa di penghujung shalat mereka?

Bukankah sesama muslim itu bersaudara, ya Akhi …, ya Ukhti …, ya Muslimuun???

14 thoughts on “Dan Beginilah Kita …

  1. menurut saya solusi untuk Palestina ada dua:
    1. solusi jangka pendek yang berupa memberikan bantuan obat-obatan, senjata (yang ini lebih mantap, aka jihad), dll.
    2. solusi jangka panjang, yaitu dengan memasukkan Palestina dan negeri Muslim lain ke dalam institusi yang bernama Daulah Khilafah Islamiyah, yang akan melindungi kaum muslim dari berbagai penjajahan oleh kaum kafir.

    -bersabarlah wahai Gaza dan kaum Muslim lainnya, Khilafah akan melindungi semuanya-

    Like

  2. Kalo sekarang kita bantu saja rakyat palestina semampunya, dengan doa atau kalo ada rizki financial, bisa juga karena memang mereka membutuhkan makanan dan obat-obatan. Jika mampu sebagai relawan kesehatan juga bagus.

    Bantuan senjata saya pikir belum tentu menyelesaikan masalah, hanya akan membuat yahudi malah lebih beringas sehingga akan menimbulkan jauh lebih banyak korban. Toh teknologi persenjataan mereka jauh lebih bagus, mungkin lebih komplit dengan sokongan persenjataan dari AS. Kerugian tentu kembali ke rakyat palestina lagi.

    Solusi jangka panjang ya setuju dengan adanya daulah islamiyyah. Dan untuk menuju ke sana kita harus bersama-sama kembali ke pada quran dan sunnah.

    Saya baru baca juga artikel yang cukup bagus. Lihat bagian problema kedua, dengan tanda bold.
    http://rumaysho.wordpress.com/2009/01/08/modal-utama-untuk-meraih-kemenangan-di-palestina/

    Semoga Saudara kita di palestina diberi kekuatan dan kesabaran.

    Like

  3. Terima kasih komentarnya. Saya cenderung setuju dengan isi link yang diberikan saudara Ari.

    Yang penting buat saya, jangan ribut mencari-cari persoalan, karena kita semua meyakini kebenaran Islam dan sama-sama berjuang untuk itu. Jika ada yang keliru, ralatlah dengan cara yang baik.

    Like

  4. Iya, saya juga cenderung setuju dengan isi link setelah membaca sekilas. Permasalahan yang mungkin jauh lebih besar adalah apakah kaum muslimin telah menegakkan hak-hak Allah -bahkan yang sifatnya sederhana sekalipun-, karena nyata bahwa kebenaran dalam kondisi kalah saat ini.

    Saya pernah membaca sebuah artikel pendek, sekitar setahun lalu. Setiap kali Gaza dibuka, mengalirlah para warga Palestina untuk membeli kebutuhan pokoknya di Mesir. Sangat disayangkan bahwa yang produk yang diborong, terbesarnya adalah rokok. Mungkinkah ini pertanda juga?

    Like

    • Kecenderungan setuju saya adalah pada sikap untuk lebih mementingkan persatuan umat, yang sepintas juga tertulis di blog itu. Apakah hanya karena sebagian warga Palestina merokok lalu pantas untuk mendapat cercaan dari kita, menyatakan bahwa mereka sedang dihukum Allah?

      Pak Ilham “the sun” yang saya hormati, saya setuju dengan anda untuk mendo’akan semoga umat Islam ini bisa kembali berIslam dengan kaffah, beribadah dengan benar. Seperti demikian juga yang saya tangkap dari isi blog yang diberikan pak Ari. Tapi sebagian lain muslim ini … seakan-akan mereka berkata pada warga Palestina “itulah, gara-gara kalian bermaksiat rasakan akibatnya!”

      Na’udzubillah … Dan lagi, apakah benar semua warga Palestina seperti itu? Saya tak yakin. Saya percaya mereka ber-Islam bahkan lebih baik daripada kita-kita di Indonesia ini.

      Like

  5. Oh ya, ini informasi saja.
    Mengenai sayap militer HAMAS: ‘Izzuddin al Qassam ini ada petikan dari situsnya,

    The organization of EQB is that of a network of specialized cells operating all over the Gaza Strip and West Bank. The cells work independently of each other under the instructions of the Brigades leadership. Recruits are required to fit the moral requirements of piety, integrity, and steadfastness as well as the physical and educational requirements for the tasks to be assigned to them.

    Jadi HAMAS bukan organisasi sembarangan, dan angkatan perangnya mengikuti seleksi, bukan diambil begitu saja dari para orang-orang. Emangnya hansip?

    Like

  6. Selain itu, apakah warga Palestina harus kita minta “bersabar saja dan beribadah dengan baik, pasti ntar ditolong Allah SWT”, atau “bersabar saja sampai ada khalifah”? Ketika sedang shalat mereka di bom, khalifah belum muncul-muncul mereka sudah habis …

    Apakah mereka harus diam dan bersabar saja, karena Israel terkutuk itu punya senjata lengkap dan tentaranya lebih banyak?
    Hey! Tidakkah kita ingat bagaimana cemasnya Rasulullah SAW ketika melihat pasukan kecilnya yang berjumlah 300 orang harus berhadapan dengan ribuan orang kafir Quraisy di Badar? Toh Allah memberi pasukan itu kekuatan, dan pasukan kecil itu menang!
    Jadi mengapa pula kita takut Yahudi durjana itu makin beringas kalau Palestina dikasih bantuan senjata?

    Saya tak meragukan pertolongan Allah, dan saya juga tidak membenci pemerintahan Islam (so-called khilafah atau apapun lah). Saya hanya berpendapat bahwa keseimbangan itu perlu. Sabar-sabar, awak mati juga dibantai, apa gunanya?

    Like

  7. doa dan cinta utk palestina yo ed. uni nulis juga tuh, baco yo, sabak mato mambaco postingan ed iko.

    Like

  8. Hmmm… Mungkin saya keliru dalam menyampaikan sehingga tampaknya ada salah persepsi. Saya tidak berkata bahwa warga Palestina bermaksiat, entah itu sebagian atau seluruhnya. Ini tentang umat muslim secara keseluruhan kok. Ini gambaran saja, bahwa pun dalam keadaan seperti ini sebagian orang mampu bermaksiat; apalagi dalam kondisi tenteram seperti di Indonesia saat ini misalny. Dan kekalahan yang saya maksud adalah kekalahan umat Islam sebagai suatu kesatuan. Makanya saya bilang ini sebagai pertanda!

    Dan boleh jadi ini bukan tentang maksiat orang lain tetapi maksiat diri sendiri yang Allah balaskan melalui muslim yang lain *teringat kisah Nabi Musa dan semut yang menggigitnya*. Boleh jadi karena kesyirikan orang Indonesia, Palestina yang dijadikan Allah sebagai akibatnya. Saya pikir satu tubuhnya umat muslim bukan sekedar dari merasakan sakit ketika yang lain sakit, tetapi juga apa yang menjadi penyebab rasa sakit itu. Seperti misalnya mata yang tidak awas membuat seseorang tersamdung. Mata tidak secara langsung merasa sakit, tetapi badan yang lukalah yang justru merasa sakit.

    Soal Palestina, boleh jadi ini memang hukuman, peringatan, atau cuma suatu cobaan iman yang berat. Tergantung yang menerimanya, kalau menurut saya. Permasalahannya, apakah umat Islam belajar dari kejadian ini? Saya pikir solidaritas dalam hal kemanusiaan saja belum cukup. Tetapi dukungan soal sikap yang jelas dan benar-benar nyata oleh umat Islam buat umat Islam.

    Soal, bersabar? Hmmm…. sabar bukan berarti diam saja kalau menurut saya. Sabar adalah sebuah ibadah agung di mana usaha terbaik perlu bahkan harus mengiringinya. Dan saya memaknai sabar dengan sabar, bukan dengan pasrah ^_^
    Jadi buat warga Palestina, berjuanglah sekuat tenaga!

    Soal khilafah,… hmmm, saya cenderung tidak setuju malah kalau itu terlalu dikejar. Saya pikir itu adalah bonus buat muslim setelah benar-benar menegakkan hak-hak Allah di muka bumi. Jadi yang penting adalah memberikan pemahaman berislam yang benar, menurut saya.

    Maaf… kalau terlalau panjang ^_^

    Like

  9. Terima kasih Pak Ilham. Yang saya maksudkan juga bukan antum kok. Dalam beberapa kesempatan, saya menemukan “kasus” penimpaan kesalahan pada satu kalangan—dalam hal ini HAMAS—seperti yang saya tuliskan dalam postingan saya diatas.

    Mari sama-sama kita perjuangkan (dengan jalan halal apapun dan sekecil apapun) agar pemimpin-pemimpin dunia Islam—yang semuanya saya pandang korup dan tak bisa berbuat apapun untuk saudaranya di Palestina—diganti dengan pemimpin-pemimpin yang amanah, menegakkan hak-hak Allah, serta mengayomi umat. Jika baik pemimpin, tentulah rakyatnya akan lebih baik lagi.

    Sekali lagi terima kasih tausiyahnya …

    Like

  10. beginilah kita bang.

    inti kebangkitan di palestina…supportingnya mungkin bukan arab, tapi kita..indonesia.

    *banyak pr kita

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s