Jangan Lagi Jual Tampang

Hal paling memuakkan kalau sedang naik angkot (atau berkeliaran di jalanan) saat ini adalah: melihat tampang caleg yang mengiklankan diri di pinggir jalan. Begitu juga kalau sedang ngeliatin halaman iklan di koran-koran.

Salah satu iklan di pinggir jalan di kecamatan Kuranji, Padang, ada yang berbunyi “Si XXX, caleg nomor urut X dari partai XX, putri Kuranji, mohon doa restu bla-bla …” Kebanyakan iklan caleg pinggir jalan bunyinya seperti itu, ditambah tampilan foto caleg bersangkutan dengan ukuran besar. Tak ada iklan yang menyampaikan visi dan misi, baik visi-misi pribadi maupun visi-misi partainya.

Ngapain mereka jadi caleg? Teuing atuh, teu terang ku abdi … Padahal dengan menyampaikan visi-misi, rakyat kita akan dengan cerdas memilih. Sudah bukan zamannya lagi memilih orang karena alasan kekerabatan dan nama besar.

Apa solusi dari para caleg untuk pupuk yang menghilang dari pasaran? Harga komoditas pertanian berpotensi ekspor sedang turun, mengenai penebangan liar di hutan-hutan (yang disinyalir jadi sumber bencana banjir dan longsor), di kota Padang banyak maling dan rampok. Apa yang mereka pikir soal ini?

Belum lagi pertanyaan yang berat semacam solusi daerah untuk resesi ekonomi dunia.

Saya tak tahu, dan mungkin juga ada orang lain yang tak tahu. Makanya, biar kita-kita tahu, sampaikan dong. Masa’ kita yang harus cari tahu sendiri, lha yang butuh siapa?

Jadi, jangan pilih caleg yang megiklankan dirinya tanpa menyampaikan jawaban untuk pertanyaan “kenapa dia layak untuk dipilih”.

3 thoughts on “Jangan Lagi Jual Tampang

  1. Aku punya solusi untuk pupuk dy..mari kita bercocok tanam dengan menggunakan sistem Organik ! tanpa pupuk kimia dan pestisida sehingga ramah lingkungan dan sehat hehehehe🙂

    Like

  2. Kampanye, Man? bwehe..

    Setuju, Dy. Mungkin harus ada satu orang/golongan yang menang telak dengan cara spt Eddy sebutkan. Kalau ga, orang akan berpikir: dg cara biasa bisa menang, buat apa pakai cara lain yg lebih? Pragmatisme politik dan prinsip ekonomi. Kita masih baru di birokrasi-demokrasi cem gini, lgsg loncat lagi…

    Like

  3. Kalau main game Civilization (game wajib buat politisi ini mah:mrgreen: ), setiap perubahan haluan politik di negara kita akan diikuti dengan masa Anarchy (chaos) sejenak. Yang terjadi di Indonesia barangkali semacam itu: kita baru kenal demokrasi-cenderung-liberal semacam ini setelah puluhan tahun berada dalam sebuah demokrasi yang otoriter. Hanya saja chaosnya berupa euforia, bukan kerusuhan seperti dalam game itu.

    Demokrasi-cenderung-liberal ini yang bikin partai jadi bejibun, dan bermunculan caleg-caleg gak jelas.

    Kalau di Civilization IV, aku lebih senang memakai sistem monarki ketimbang demokrasi. Tapi ya … gak ada bedanya sih kalau disana mah. Teteup wae kalah terus:mrgreen:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s