Tak Mau Dihukum

Misalkan anda naik sepeda motor tanpa helm dan tanpa sengaja terjerat razia orang jelek tertib lalu lintas. Tambah lagi anda tak bawa SIM dan sejenisnya. Maka terjadi kemungkinan 3 kasus:

  1. Polisi yang merazia melihat anda yang dengan muka memelas minta dikasihani. Kalau anda cewek manis, ada kemungkinan besar si polisi jadi kasihan, dan membiarkan anda pergi.
  2. Polisinya ngasih surat tilang dengan alternatif ‘uang damai’.
  3. Polisi ngasih surat tilang saja dan menolak mentah-mentah uang damai anda.

Saya yakin ada banyak orang yang akan senang kalau kasus pertama terjadi, dan pastinya misuh-misuh kalau kasusnya yang kedua atau ketiga.

Yah, memang sulit sepertinya untuk benar-benar taat hukum. Pada kasus ketiga, hukum ditegakkan (terlepas dari apa yang terjadi pada proses pengadilannya), tapi saya yakin banyak orang yang tak suka, sekalipun orang tersebut jelas-jelas melanggar hukum. Saya yakin ada banyak pengendara yang lebih senang dengan alternatif damai ketimbang repot-repot ngurusin surat tilang. Kalau sedang beruntung ya … senang banget lah kalau terjadi kasus pertama.


Ada cerita yang tak langsung berhubungan sebenarnya dengan ‘pelanggaran hukum’, tapi mirip lah sama pemaparan saya diatas.

Saya pernah memeriksa kesehatan di sebuah poliklinik di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Itu menjelang akhir bulan, dan saya anak kost. Jadi … anda pasti paham lah situasinya. Masih ada sisa uang di kantong saya sih.

Sebelum diperiksa kan mesti mendaftarkan diri dulu, dan sama pihak RS dikasih kartu berobat, jadi kalau kapan-kapan periksa lagi gak perlu mendaftar ulang, cukup menunjukkan kartu. Biaya administrasinya ternyata lumayan juga buat ukuran kantong saya saat itu. Kantong akhir bulan gitu lho …:mrgreen:

OK deh, kita lewatkan rinciannya. Setelah nunggu antrian sejenak, nama saya dipanggil masuk ke ruangan dokter. Sret sret, selesai, pak dokter bisik-bisik sama seorang suster. Kemudian si suster langsung bilang ke saya untuk bayar sebesar sekian puluh ribu rupiah, dikasih resep apotik dan sebuah kertas entah, lalu ditunjukin jalan menuju tempat bayar. Kaget sih, uang saya cuma ada Rp 7.000 di kantong, tapi kalem saja. Di kasir, ternyata si kasir mintanya dilebihin dikit. Jadi saya mesti bayar “sekian puluh ribu tambah dikit” rupiah. ‘Tambah dikit’ nya itu buat apa, saya tak tahu …

Saya bilang ke si kasir “Uang saya cuma Rp 5.000 pak …” Itu benar dan gak bohong: di kantong cuma tersisa Rp 7000, dikurang Rp 1500 kan jadinya Rp 5.500. Rp 1500 itu untuk ongkos angkot—gak mungkin saya jalan kaki dari RSHS ke Kebon Bibit (lokasi kost saya) tengah hari begitu. Lima ratus lagi ya buat beli Aqua lah. Jadi ya bener cuma Rp 5.000 yang bisa dipakai.

“Bener cuma lima ribu?” tanya si bapak kasir. “Bener kok pak …” jawab saya. Si bapak mungkin juga melihat penampilan saya—kaos oblong berlogo Inter Milan yang rada lusuh di bagian kerahnya, celana SMA yang ditambal dengan hansaplast karena robek, sandal eiger palsu yang banyak dijual di gerbang masjid Salman ITB setiap Jumatan, tas Eiger (yang ini asli) butut. Plus rambus kribo rada butek terbakar matahari dan kacamata belepotan debu. Akhirnya …

Si bapak cuma bilang “Siniin deh lima ribunya …”

Ya udah deh, saya kasih dengan hati senang …:mrgreen:

Resep apotiknya saya buang karena selain duit dah habis, saya toh gak terlalu butuh obatnya (saya termasuk malas minum obat). Di angkot pulang, saya gak tau mau makan siang (dan juga nanti malamnya) pakai apa, tapi untung saat itu di Himastron ada acara, dan so pasti ada makan-makannya. Jadi terselamatkanlah saya hari itu.

2 thoughts on “Tak Mau Dihukum

  1. itulah mengapa senior selalu sewot kalau H* jarang ngadain acara. Imbasnya kan pada pengeluaran uang makan…heuheuheu..
    Semakin sering ada acara (tentu saja ada agenda makannya doung) maka secara tidak langsung H* (baca: Pengurus) telah menyelamatkan keuangan anggota H*…heuheuhue..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s