The Quantum Theory of Jengkol

“Belajar fisika kuantum dan teori relativitas itu seperti makan krupuk jengkol.”

Kerupuk jengkol! Dimakan sama nasi hangat dengan lauk ikan goreng, sambalado dan daun singkong saja sudah nikmat. Kerupuk jengkol buatan Pariaman, Sumbar, memang dahsyat…

Tapi jengkol itu ada efek sampingnya. Ginjal bekerja keras menetralkan racun dalam darah yang meningkat pesat gara-gara si jengkol. Itu sebabnya buang air kecil baunya jadi 2 kali lebih parah dari biasa. Selain itu, kata guru biologi SMP saya, jengkol (dan lobak) itu tak ada gizinya.

Kenapa saya bilang belajar fisika kuantum dan relativitas itu seperti makan kerupuk jengkol? Fisika kuantum itu menarik. Kita mempelajari tingkah elektron, menganggap elektron itu sebagai gelombang dan kemudian melihat apa yang terjadi jika elektron itu dilewatkan ke medan magnet. Relativitas juga begitu, menganggap bahwa sebuah benda massa dapat melengkungkan ruang dan dengan demikian cahaya akan berbelok ketika melintasi ruang-waktu itu.

Dengan fisika kuantum, orang bisa mempelajari nanomaterial dan teknologi nuklir. Dengan relativitas, orang jadi tahu kenapa orbit Merkurius itu aneh, mempelajari bagaimana sifat Blackhole dan bahkan meramalkan akhir alam semesta.

Tapi ada efek sampingnya. Di fisika kuantum, persamaan Schroedinger saja sudah cukup untuk bikin pusing, dan ditambah pula dengan operasi matematis untuk operator (yang berbeda dengan matematika biasa). Di relativitas, “bersenang-senanglah” dengan simbol Christoffel, tensor Riemann, dan tensor Einstein yang keramat itu.

Seperti makan jengkol, kalau buat saya.

Itu sebabnya tak ada mahasiswa yang mau ambil bidang fisika teoritis di Fisika Unand. Mending ambil bidang fisika bumi yang (relatif) jauh lebih gampang. Mungkinkah diantara mereka tak ada yang suka makan jengkol? Atau saya yang keterlaluan—makan krupuk jengkol kok sambil mikirin Operator Energi dan Momentum?

This Post was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

9 thoughts on “The Quantum Theory of Jengkol

  1. hihi lucu ed ko. uni pingin baco buku ttg fisika yg gampang dimengerti, jadi indak paniang tapi asyiik😀 ado ndak?

    payah menarangkan ka anak2 kalo pakai bahaso ilmiah nan rumit tuh

    Like

  2. Cubo cari Kartun Fisika, penulis Larry Gonick, terbitan Gramedia (KPG) ni Meiy. Atau seri buku For Beginner, kalau ndak salah terbitan Gramedia juo (tapi menurut awak seri For Beginner ko justru membingungkan).

    Like

  3. Heuheuheuheuee….
    Jengkol adalah makanan paporit gua waktu di padang! padahal ama pete cina aja anti banget :p

    kerupuk jengkol emang nikmatnya tiada tara!! ahahaha…. Einstein pernah makan jengkol ga yah? :p

    Like

  4. oi ed..
    wa lagi bingung ni ttg optical emission spectrocopy (untuk perkiraan konsentrasi spesies dalam plasma chamber), berhubungan ama fisika kuantum soalnya..
    bingung wa ttg spektrum cahaya untuk argon di panjang gelombang 3889 angstrom dengan transisi 2s3S – 3p3P0 itu artinya apa ya? mungkin bisa bantu? :uhm:
    soalnya wa browsing sana-sini koq nyasar ke web astronomi yak? hehe…

    salam kuantum wkwkwk

    Like

  5. Walah… kk Bootleg yang ST MT Ph.D aja gak bisa menjawab apalagi awak :no:
    Jangan-jangan menguji nih?

    Tapi mungkinkah ini jawabnya?

    2s dan 3p itu quantum number–bootleg yang dari teknik kimia tentulah lebih tau maksudnya.
    3S dan 3P0 itu deskripsi spektroskopiknya. Apa maksudnya, awak juga gak ngerti.

    Sebagai contoh, dikatakan bahwa Oksigen memiliki deskripsi spektroskopik 3P2.

    Sumber:
    Gasiorowicz, Stephen. Quantum Physics (2nd ed.). John Wiley & Sons, USA (1996)

    Itu hanya dugaan awak saja kk. Di Fisika Kuantum yang awak pelajari, bahasannya nggak sampai ke sini (tentang struktur atom dalam term fisika kuantum)—ini kayaknya kerjaan anak S2. Mendingan tanya ke Galih Dodol aja kk😛

    Like

  6. yang dimaskud pak bootleg itu profil emisi spektrum pada panjang gelombang 3889 angstrom. bisa dicari deh energi pada panjang gelombang sekian identik dengan aktivitas apa. mungkin kode transisinya bisa memberi petunjuk. di astro biasanya kepake buat analisis spekstroskopi. nah lho kok nyambung ke spekstroskopi?

    kalau mau menggabungkan teori relativitas umum dengan teori quantum coba belajar loop quantum gravity. sama saja dengan makan jengkol busuk, mematikan.😀.

    Like

  7. @ni meiy:😀

    @pak datuak: hehe, indak juo do pak. Anak SMA pun kalau nio bisa tuh baraja kuantum😛

    @anton: yup, setelah awak baca lagi bukunya, penjelasan anda cocok dengan pemahaman awak🙂

    Loop quantum-gravity? Bilo-bilo lah Ton😦
    Tapi lumayan juga tuh kalau paham yang begituan. Siapa tau kelak bisa memecahkan Theory of Everything, dapat nobel fisika lho😛.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s