Tentang Bukittinggi

Berikut ini beberapa hal tentang Kota Bukittinggi.

  • Posisi astronomisnya 0o 22′ — 0o 29′ LS dan 99o 52′ — 100o 33′ BT. Memang tidak terlalu jauh dari khatulistiwa, kira-kira 4 jam perjalanan dengan bus kalau mau ke museum khatulistiwa di Bonjol, kabupaten Pasaman.
  • Bukittinggi berada pada ketinggian sekitar 920 m dpl. Jadi wajar saja kalau udaranya dingin, bisa mencapai 15oC pada malam hari. Selain itu, keberadaan gunung Marapi (2850 m dpl) dan gunung Singgalang (2688 m dpl) yang mengapit kota ini juga turut memengaruhi iklim.
  • Di sebelah barat, terdapat ngarai Sianok yang kedalamannya mencapai 100 m, dan di dasar ngarai mengalir Batang Sianok, sebuah sungai kecil. Ngarai ini seakan menjadi tapal batas sebelah barat Bukittinggi dengan kabupaten Agam, dimana satu sisi tebing merupakan wilayah Bukittinggi, dan sisi lainnya sudah masuk wilayah Agam. Tentara Jepang membangun beberapa bunker di ngarai ini, mirip seperti Gua Jepang yang ada di Bandung.
  • Menurut pembagian wilayah secara adat, keseluruhan wilayah Bukittinggi sekarang merupakan satu buah nagari1, yakni nagari Kurai. Nagari Kurai ini terdiri atas lima buah jorong2, yakni Mandiangin, Koto Salayan, Guguak Panjang, Tigo Baleh dan Aua Birugo. Menurut cerita, jorong yang pertama kali dibentuk adalah jorong Tigo Baleh. Nama ini diambil dari jumlah pemuka adat yang membentuk jorong itu, yang berjumlah 13 orang. Tigo baleh artinya tiga belas.
  • Nama Bukittinggi berasal dari istilah bukik nan tatinggi, artinya “bukit yang paling tinggi”. Ceritanya begini: Wilayah nagari Kurai terdiri atas kira-kira 27 bukit (anda yang pernah ke Bukittinggi mungkin pernah dengar nama Bukik Jirek, Bukik Cangang, Bukik Apik—itu adalah beberapa diantaranya). Oleh masyarakat Kurai itu, salah satu bukit yang paling tinggi dan juga paling besar (nama bukitnya Bukik Kubangan Kabau) dijadikan pusat berbagai kegiatan, seperti musyawarah adat dan juga pasar. Karena itulah istilah bukik nan tatinggi atau bukik tinggi jadi sering dipakai, dan menjadi sebutan lain untuk Kurai.
  • Pada jaman Belanda, Bukittinggi disebut dengan nama Fort De Kock, mengikuti nama sebuah benteng yang didirikan di bukit Jirek tahun 1826. Tapi masyarakat pribumi tetap menyebutnya Bukittinggi. Tentu saja, siapa yang mau lidahnya melintir gara-gara menyebut sebuah kata yang susah disebut? Pemerintah Bukittinggi modern menjadikan tahun pendirian benteng De Kock sebagai Hari Jadi Kota Bukittinggi.
  • Kweekschool atau Sekolah Raja, dibangun 1 April 1856. Sekolah ini merupakan sekolah guru, dan muridnya diambil dari pribumi. Tentu saja Belanda ingin guru-guru yang dicetak di sana adalah guru yang loyal pada penjajah dan mau menyebarkan budaya Eropa pada masyarakat pribumi, walau usaha ini tak sepenuhnya berhasil. Asyiknya sekolah ini, semua muridnya dapat uang saku bulanan, kira-kira 10 gulden per bulan, dan juga disediakan alat-alat tulis. Ibrahim datuak Tan Malaka (lebih dikenal dengan nama Tan Malaka) dulu sekolahnya disini, sebelum melanjutkan pendidikan ke Belanda. Sekarang, gedung bekas Kweekschool dijadikan gedung SMA 2 Bukittinggi
  • Pasar Atas Bukittinggi, tempat yang wajib dikunjungi semua orang yang berkunjung ke Bukittinggi, dulunya adalah pasar tradisional biasa, tempat masyarakat Kurai berjual beli di bukit Kubangan Kabau. Oleh Belanda, pasar ini dirombak sesuai dengan selera mereka, dengan membangun beberapa loods (“los” dalam Bahasa Indonesia, artinya petak-petak yang diisi beberapa pedagang yang menjual satu jenis barang). Diantara los yang masih ada di ingatan orang Bukittinggi misalnya Los Maco, yang sekarang jadi tempat berdagang pakaian bekas, tapi dulunya merupakan kompleks perdagangan maco alias ikan asin.
  • Selain Pasar Atas, Belanda juga yang mengembangkan Pasar Bawah, Pasar Aua Tajungkang dan Pasar Banto, untuk mengakomodasi perkembangan kota Bukittinggi masa itu yang menjadi pusat pemerintahan Belanda untuk wilayah dataran tinggi Sumatera Barat. Apalagi pada masa Tanam Paksa, Bukittinggi menjadi pusat distribusi kopi di Sumatera. Namun pasar-pasar ini juga yang sering menjadi biang perseteruan Belanda dengan pribumi, karena Belanda semena-mena menyabot tanah dan menetapkan pungutan untuk pedagang.
  • Belanda juga membangun tempat pelesiran di bukit Kubangan Kabau. Sebuah kebun binatang sebagai tempat indehoi para istri pejabat dan anak-anak bule, dibangun tak jauh dari Pasar Atas dan benteng De Kock. Selain itu juga dibangun Jam Gadang, yang sekarang menjadi ikon kebanggaan kota Bukittinggi. Keduanya dibangun pada dua dekade awal abad 20.

Segitu dulu. Kalau ada yang tahu lebih banyak tentang Bukittinggi, bagi-bagi ilmunya dong. Begitu juga dengan sejarah kota-kota Sumbar yang lain seperti Padang (pusat pemerintahan Belanda untuk pesisir barat Sumatera) dan Sawahlunto (kota tambang batu bara bikinan Belanda).
—–
1 Nagari, merupakan satu kesatuan pemerintahan adat yang ‘independen’. Dalam satu nagari terdapat banyak kaum/pasukuan, dan pemerintahan dijalankan dengan sistem demokrasi. Perlu diketahui bahwa ‘demokrasi’ yang sebenarnya tidak mengenal pimpinan tunggal seperti presiden, yang ada hanya perwakilan masyarakat. Kebijakan diambil dengan cara musyawarah. Menurut AA. Navis, sistem nagari di minangkabau sangat mirip dengan sistem Polis (negara-kota) di Yunani kuno. Jika anda mempelajari sejarah Yunani kuno, anda akan menemukan kemiripan ini, dan mungkin anda akan tertarik jika mengetahui bahwa masyarakat Minang menyatakan dirinya keturunan Alexander dari Macedonia.

2 Jorong, merupakan kesatuan pemerintahan setingkat di bawah nagari. Jorong (beberapa dialek Minangkabau menyebutnya korong) terbentuk secara natural justru sebelum sebuah nagari ada. Penggabungan beberapa jorong yang dibentuk oleh masyarakat dari nenek moyang yang sama, itulah yang disebut nagari.

7 thoughts on “Tentang Bukittinggi

  1. assalamualaikum

    bang edward, sekarang tinggal di bukit tinggi?

    pulang kampung?

    pengen sekali-kali jalan ke bukit tinggi, kabarnya indah luar biasa🙂

    Like

  2. ‘Alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu…

    Iya Rif, di Bukittinggi selama beberapa hari dalam sebulan, selebihnya menetap di kota Padang.

    Indah? Iya dong… Ayo datang ke sini😛

    Like

  3. Salam kenal, tukeran link yuk bang.. Saya dulu juga pernah tinggal di Sumbar. Di daerah Padang tapi. Dah seperti apa sekarang Sumbar? Maklum sejak SD pindah k Jawa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s