Korupsi Ala Mahasiswa

Saya sering mambaca koran Singgalang, terutama yang edisi Minggu. Edisi Minggu ada rubrik buat anak muda, terutama mahasiswa, dan saya senang menyimak pendapat mahasiswa tentang berbagai hal. Entah itu tentang kenaikan harga pangan, budaya, maupun hal remeh temeh macam pacaran.

Ada satu kolom di rubrik khusus anak muda ini, yang biasanya merupakan adu pendapat dua responden. Jadi dua orang mahasiswa, ditanyai beberapa pertanyaan menyangkut suatu topik yang sedang hangat. Pada Singgalang Minggu edisi 13 April, topiknya adalah tentang mencontek. Pertanyaannya menyangkut kebiasaan nyontek di kalangan mahasiswa. Mungkin redaksi memilih topik ini karena beberapa kampus di Padang sedang atau akan memasuki masa ujian tengah semester.

Responden yang ditanya adalah dua mahasiswi, dua-duanya cantik dan pake jilbab. Saya tak tahu dari kampus mana mereka berasal, yang jelas dua-duanya pernah mencontek setiap kali ujian. Bahkan, salah satu dari mereka ketika ditanya “pernah nyontek nggak?”, menjawab “pernah dong, boong banget kalau nggak …” Saya simpulkan dari jawaban itu, dia bangga pernah mencontek. Nggak malu ih dengan jilbabnya. Lagian, cantik-cantik kok curang. Jangan-jangan cantiknya palsu tuh…

Cerita lain. Senin 7 April 2008, saya ikut ujian salah satu mata kuliah. Selesai ujian, ngobrol-ngobrol di koridor jurusan dengan beberapa peserta ujian yang lain. Salah satu diantara mereka, mahasiswi (well, di FMIPA Unand, mahasiswi itu dominan dan mahasiswa terpaksa resesif), mengaku bahwa ini pertama kalinya (sejak kuliah) dia ikut ujian tanpa mencontek. Itupun karena dia tidak mendapatkan kesempatan nyontek, jadi bukan karena ingin berubah jadi ‘lebih baik’.

Kebetulan saya datang setelah ujian dimulai, terlambat beberapa menit gara-gara kebiasaan buruk: tidur setelah menunaikan shalat Subuh. Keterlambatan saya tampaknya dia sesalkan, karena dia bilang “uda datang talambek salahnyo, kalau indak kan bisa Ca (namanya sebut saja Ica) piliah kursi dakek tampek uda supayo bisa tanyo-tanyo.” Wah, ternyata dia pun sempat berharap bisa mencontek dari saya. And I smiled grimly…

Mencontek nampaknya memang biasa di kalangan mahasiswa, bahkan di kampus ngetop seperti ITB sekalipun. Lumayan banyak kok orang-orang busuk macam gitu di ITB. Saya tak bisa berikan data eksak, tapi silakan saja buktikan sendiri kalau tak percaya.

Dengan demikian, siapakah yang bisa menjamin jika suatu saat mahasiswa tukang nyontek itu jadi pengusaha sukses, dia tidak akan mencari cara ilegal supaya dapat keringanan pajak untuk perusahaannya? Siapa yang percaya Indonesia bisa bebas dari korupsi?

Kemudian, tampaknya orang kuliah sekedar untuk mendapatkan nilai bagus. Kalau perlu semuanya A, diwisuda dengan predikat Cum Laude, tanpa peduli bahwa pengetahuannya sebenarnya nol. Nggak ada bedanya dengan “Doktor Kucing”.

Dan lagi, ini merupakan efek buruk dari sebuah sistem pendidikan yang mengandalkan evaluasi pendidikan dengan metode ujian tulis. Dalam beberapa hal ujian tulis memang perlu, karena praktis. Jadi misalnya untuk SPMB, mungkin memang lebih baik pakai ujian tulis. Tapi dalam beberapa kasus, mengandalkan ujian semacam ini tidak ada gunanya. Sebagian orang punya seribu satu cara untuk bisa lolos ujian dan mendapat nilai tinggi. Tujuan pokok dari sebuah evaluasi pun jelas gagal.

Saya lebih senang bertemu dosen yang suka menyuruh mahasiswanya presentasi di depan kelas sebagai ganti ujian tulis (dengan syarat topik yang harus dipresentasikan mahasiswa sudah dijelaskan terlebih dulu oleh sang dosen—bukan seperti seorang dosen dengan inisial SDW). Presentasi mendorong mahasiswa untuk lebih banyak belajar, dan mengandalkan diri sendiri. Kalau ada kesalahan, dosen bisa langsung mengoreksi. Dengan demikian mahasiswa langsung dapat feedback dari dosen.

Alhamdulillah, saya senang bahwa saya tak pernah nyontek selama kuliah. Eh, kecuali satu, dan itupun karena saya mengira ujiannya open book, jadi saya santai saja buka buku saat ujian. Ternyata pengawasnya lihat dan nyuruh buku saya ditutup, dan saya hanya bisa berharap dia tidak mencatat nama saya sebagai pelaku kecurangan.

Ya gitu. Saya senang, walau nilai ujian saya harus babak belur. Malas belajar dan tak mau nyontek memang berakibat nilai ujian jeblok. Masih lebih baik ketimbang orang malas yang sukses dengan cara yang bodoh.

This Post was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

7 thoughts on “Korupsi Ala Mahasiswa

  1. Aslkm….nyontek masuk bab korupsi juga ya kawan ? sy nggak pernah nyontek, tp dicontek pernah..hehe

    ado blog juo di WP yo ed ? baa kaba kota awak kini ? aman ? ka pilkada walikota kabanyo yo ?

    Like

  2. Definisi korupsi adalah “melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya”. Jadi mencontek adalah bentuk lain korupsi.

    Kota Padang ka pilkada tahun muko. Bukittinggi masih lamo lai. Padang Panjang, Pariaman dsb dalam waktu dakek ko.

    Like

  3. sip ed, sulit utk bertahan di situasi sepreti itu, namun itulah saatnya iman dibuktikan.

    uni juga paling anti nyontek, biar nilai jelek. ada teman sudah pintarpun nyontek juga, baginya yg penting nilainay selalu tertinggi, entah sistem yg bodoh๐Ÿ˜ฆ

    Like

  4. em hem SDW? kek pernah denger hihihihii, pasti yang ngajar fisgal hihihii, semangat ed, lebih baek hasil jelek tapi nggak nyontek, karena dengan begitu kita tau sampe mana kemampuan kita. jadi kalo pas dapet bagus kita yakin itu buah kerja keras kita, bukan orang laen.

    Like

  5. assalamu’alaikum, edward taufiqurrahman….
    lah lamo wak ndak basobok, trakhir di ITB ….

    tergantung iman dan kemampuan ed…
    kalo mampunya hanya tuk nyontek gmana lagi….,udah jadi budaya, sptnya..
    terutama daerah-daerah yg kualitas pendidikannyo masih rendah, sumatera barat contohnya. bukan orang nyo, tapi sakola ato tampek kuliahnyo.
    TAPI ….
    kalo inyo mamanfaatkan nyontek tuk cari nilai tinggi, tu baru namonyo kurang aja. siap (nyontek, caliak jimat, caliak buku) nilai tinggi lo tu…, yg mode tu paralu di wak tanggaan sarawanyo tu (karano nyo gadang sarawa, ngaku2 hebat tapi cadiak buruak) he..he..he..

    Like

  6. ya, saya akui banyak juga orang2 yang mencontek di ITB, tapi dengan tegas hampir semua dosen, akan menindak tegas orang busuk seperti ini. teman saya pernah kedapatan mencontek, dia nya diusir dari kelas dan mendapati nilai akhir E.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s