Spirit Qurban

Sebualn lagi ri rayo haji atau Lebaran Haji atau Idul Adha. Dan tadi, pas shalat Jum’at, khatib juga berceramah tentang hari raya ini. Dan akibatnya, seusai shalat Jumat itu saya jadi tergerak untuk posting tentang hal ini.

Bukan tentang perbedaan kapan Idul Adha dilaksanakan, apakah NU dan Muhammadiyah bakal berbeda lagi. Soal itu biarlah pakar2 yang menyelesaikan, dan saya memutuskan untuk ikut apa kata Departemen Agama saja. Saya ingin mengangkat soal Qurban, satu dari 2 momen penting dalam Idul Adha. Momen yang satu laginya tentu saja Haji.

Qurban itu penting karena dia adalah kegiatan sosial. Keikhlasan orang yang berqurban, dan rasa senang dari kaum yang berhak menerima pembagian daging qurban, adalah 2 parameter apakah qurban itu sukses atau tidak. Namun saya berpikir, apakah qurban di Indonesia sukses?

Pasalnya begini. Saya bukannya meragukan keikhlasan kebanyakan orang ketika dia berqurban. Saya yakin mereka, ketika menyerahkan uang atau ternaknya ke panitia qurban, menyatakan niat berqurban karena Allah SWT. Hanya saja, ketika daging qurban dibagikan, ada saja yang merusak spirit keikhlasan itu. Mungkin saja sifat tamak yang tiba-tiba muncul, sehingga si peserta qurban tega mencuri daging yang sedang ditimbang atau sedang dipotong-potong. Keikhlasannya diawal qurban mungkin bisa untuk tak diragukan, namun ketamakannya merusak segalanya.

Atau, mungkin saja ada ketidak adilan yang terjadi. Panitia qurban – yang tugasnya menyortir daging – ada juga yang mencuri. Ada banyak keluhan dimana lidah sapi sudah dipotong entah oleh siapa, sehingga orang yang berhak atas kepala sapi itu jadi mendongkol. Kadang hati dan jantung juga ada yang nyolong. So, keikhlasan si panitia qurban pantas untuk diabaikan karena nilainya kecil, sedangkan penerima qurban rusak karena mendongkolnya itu.

Selain itu, ada banyak kaum yang berhak mendapatkan pembagian daging qurban, malah tak dapat. Sedangkan pak kepala kampung yang hidupnya berada, selain mendapat kupon pembagian, juga dikasih kepala sapi (tahukan anda bahwa kepala sapi itu dagingnya banyaaak banget, belum lidah dan otak sapi yang nikmat untuk digulai). Kepala kampung dan keluarga kenyang dengan daging, sedang si miskin tetap merana di pondoknya.

Dari pengamatan saya, itulah realitanya qurban di Indonesia. Tentu saja tidak semuanya seperti itu, Insya Allah masih banyak yang beres-beres aja qurbannya.

Mudah-mudahan Idul Adha tahun ini, setidaknya di daerah saya, tak ada sapi yang ngamuk ketika hendak dipotong. Kata orang tua-tua, sapi/kambing juga nggak ikhlas dipotong kalau orang yang mau motongnya juga nggak ikhlas. Makanya, kalau sapi ngamuk ketika mau diqurbankan, si sapi hanya mencerminkan tingkah orang yang berqurban, panitia qurban dan penerima qurban itu. Bahwa saat itu ada keburukan yang lebih buruk dari tahi sapi.

Na’udzubillaahi min dzaalika…

Wallahu a’lam.

This Post was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

One thought on “Spirit Qurban

  1. Walaupun begitu kita tidak bisa me-generalisir, belakangan saya masih melihat proses kearah proses itu, mulai ganti estafet yg dilakoni oleh anak2 muda intelektual kampus, spt dikampung saya ketika lebaran kemaren, saya melihat arah kesana, bahkan mereka berusaha masuk kewilayah walinagari. ini adalah awal yg baik,mudah2an masih banyak lagi M.Natsir-M.Natsir yg lain.amin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s