Masa Depan Minangkabau

Kemarin terlibat pembicaraan selintas dengan seorang teman di kost. Beliau mahasiswa Sastra Minangkabau Unand. Salah satu statement dia, adat minang gak bakalan bisa bertahan, kalau melihat kondisi yang sekarang.

Klise sih memang. Udah banyak orang ngomong begitu, dan sewaktu di Bandung pun saya sudah bicarakan hal itu dengan beberapa teman sesama mahasiswa rantau. Bahkan, pemerhati masalah Minangkabau udah sejak berpuluh tahun lalu meramalkannya.

Berikut summary dari omongan kami. Cuma omongan anak muda yang… yah… cuma kaleng-kalengnya ajah…

Persoalannya bukan hanya generasi muda saja. Banyak generasi muda tak tertarik dengan budaya daerahnya. Jangankan mau belajar pantun pasambahan yang dulu sering dipakai sebagai pembuka pesta makan-makan, nonton randai (yang notabene cuma sekedar hiburan) aja mereka gak minat. Globalisasi begitu kuat mencengkeram mereka, dan pergaulan yang semakin lama semakin bebas.

Namun, yang tua-tua pun hampir sama buruknya. Di nagari saya, pak wali nagari bercerita. Beliau menegur remaja yang lagi mojok sama pacarnya ditempat sepi, di kampung. Tapi ternyata orang tuanya si remaja gak terima, dan bilang “Sadonyo ka ditagah se dek wali nagari ko mah. Anak kan lah bi gadang-gadang tu nyoh…” Heran saya, sebab kalau dimasa lalu (jaman saya masih kecil), orang yang kedapatan mojok biasanya dipermalukan didepan umum. Dengan hukuman macam itu, orang tua selalu mewanti-wanti anak remajanya agar tak berperilaku macam-macam. Orang tua kan gak mau dapat malu karena ulah anaknya. Sekarang, bukannya malu sama kelakuan anaknya, bukannya menasihati anaknya, malah orang yang berbuat baik yang diprotes.

Itu satu persoalan: tatanan budaya masyarakat memang sudah berubah. Persoalan lainnya, bentrokan antara aturan adat dengan aturan-aturan lain, misalnya KUHP. Baru-baru ini, beberapa pemuka adat ditangkap oleh jaksa. Pemuka-pemuka adat ini melaksanakan hukuman adat terhadap seseorang yang dianggap melanggar, dimana si pelanggar dikucilkan dari pergaulan kampung. Ini kan wajar saja, sebab itulah memang tugas para Datuak. Lalu apa pula urusan jaksa dengan tuduhan “pencemaran nama baik” menangkap para datuak ini?

Ada banyak soal-soal lain. Hubungan pemerintah nagari dan lembaga adat dengan pemerintah kabupaten/kota, pasukuan yang tidak lagi punya datuak, persoalan tanah ulayat, hubungan hukum Islam dengan hukum adat, dsb…

Kalo kondisi ini dibiarin, Sumatera Barat akan kehilangan identitas. Kalo mau diperbaiki, terlalu banyak yang mesti dikerjakan, dan seringkali malah timbul masalah baru.

Trus napa?? Kami berdua akhirnya hanya bisa terdiam, dan segera beralih ke pembicaraan lain…

Penjelasan.

  • pasukuan:
    kaum, kumpulan orang dalam satu suku. Di Minangkabau, masyarakat dibagi dalam suku-suku, seperti halnya marga kalau di tanah Batak.
  • datuak:
    “pemuka adat” dalam satu pasukuan.
  • nagari:
    satuan masyarakat yang menempati suatu wilayah, yang terdiri dari beberapa suku. Mirip dengan desa, tapi sebenarnya punya perbedaan signifikan. Penyelesaian masalah dalam satu nagari dilakukan dengan musyawarah para datuak dari masing-masing pasukuan yang ada dalam nagari itu. Saya memandang salah satu masalah dalam penerapan pemerintahan nagari di Sumatera Barat adalah campur aduknya sistem egaliter ala Minangkabau ini dengan sistem pemerintahan daerah yang resmi dipakai di Indonesia.
  • randai:
    drama musikal khas orang Minang.
  • pasambahan: (Ind: persembahan)
    ritual khusus untuk menghormati tamu. Dalam pesta pernikahan misalnya, sebelum acara makan-makan dimulai, terlebih dahulu perwakilan tuan rumah dan perwakilan tamu saling berbalas pantun (pantun pasambahan). Ini bisa lama lho, nasinya udah dingin dan orang udah makin lapar, mereka masih saja asyik berpantun, hehe. Dulu waktu kecil saya pernah mengalaminya, dan -namanya juga anak-anak- bosannya minta ampun. Sekarang udah gak pernah lagi liat orang saling berbalas pantun sebelum makan itu.

7 thoughts on “Masa Depan Minangkabau

  1. Kata dosen Politik sih begini: Indonesia merupakan negara berdasarkan atas hukum, artinya hukum di Indonesia itu juga mengakui (dan berdasarkan) hukum-hukum ‘warisan’ (seperti hukum adat dan hukum agama). Namun pada tahun-tahun belakangan ini Indonesia menjadi negara hukum -murni- akibat terjadinya perubahan mendasar dalam konsep ketatanegaraan. Mungkin dengan perubahan ini akan ada pengaruh besar yang dirasakan oleh penduduk Indonesia -dan Indonesia menjadi lebih modern?-

    Kenapa adat ditinggalkan, bisa jadi ada keterkaitan dengan bagaimana adat tersebut diwariskan dan dipraktekkan. Saya kira metode pembelajaran adat sudah kalah dengan sistem pembelajaran formal lainnya, kesan kuno masih melekat. Ditambah lagi dengan adanya perubahan sistem administratif yang nota bene memerupakan bagian besar dari adat itu sendiri. Beberapa ketentuan adat juga terlalu saklek sehingga adat tidak lagi menjadi tempat berteduh yang nikmat bagi penggunanya.

    Kemungkinan lain adalah menyangkut masalah praktis: adat dalam tataran instrumen sudah tidak bisa mengikuti perkembangan jaman yang demikian cepat, akibatnya adat akan ditinggalkan, yang tersisa hanya konsep ideal ‘yang tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas’. Kasus ini mirip dengan yang terjadi dengan kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang sekarang bertahan demi menjaga keabadian budaya saja (quote: Sultan Hamengkubuwono X, tayangan Kick Andy).

    Yah, kita ada pada era di mana budaya lokal sudah jauh tergerus oleh budaya asing yang dianggap lebih superior. Gimana lagi? Kecuali budaya lokal bisa membuktikan keluhurannya kembali. Revitalisasi tidak sekedar wacana?

    Like

  2. asl..sanak..salam kenal dari ambo Alex
    Kalau dipelajari, banyak nilai2 positif yg ada pada Adat minang, kita lihat saja sejarah minangkabau, mulai sajak zaman bagolak sampai reformasi, tapi persoalannya sekarang ini adalah, pelaku2 adat itu sendiri, malahan kalau datuak di kampung saya itu adalah jabatan strategis yg menghasilkan profit & income. Tukang peras anak kemenakan (memang tidak bisa di generalisir), karna tidak semua seperti itu.
    Saya setuju kita kembali kepada Adat yg berarti kembali kepada Syarak dan berarti pula kembali ke Kitabullah. Dengan catatan sesuatu adat yg bertentangan dgn Syarak tidak dipakai. lihat jg blog saya ttg pembahasan ini.
    terimakasih.

    Like

  3. @ Anton:
    Sepakat sekali, dan itulah yang membuat persoalan ini ibarat makan buah simalakama. Dimana-mana banyak orang yang ingin melestarikan budaya asli Indonesia, tapi bagaimana dengan perkembangan zaman? Apakah masyarakat pedalaman Papua harus tinggal di hutan sampai seribu tahun kedepan demi mempertahankan budaya mereka? Apakah orang Minang mesti menunggu bertahun-tahun untuk membangun sebuah rumah gadang, karena harus mengikuti ritual-ritual yang diajarkan adat?

    Jadi memang mau tak mau adat minang (dan juga daerah lain di Indonesia) harus berubah. Bagaimana perubahannya, kita serahkan ke pemangku adat dan pemerintah Sumbar ini. Mestinya orang-orang itu adalah orang-orang yang bervisi masa depan.

    @ Alex.
    Saya sepakat juga sanak. Pelaku adat ini ternyata banyak yang tidak terpelajar, dan ini menjadi katalisator memburuknya kondisi Minangkabau ini.

    Saya baca blog sanak dulu ya. Makasih udah berkunjung.

    Like

  4. edwards, bukti minat saya atas kebudayaan minang adalah sampainya saya pada blog anda ini.
    begini ed, wak ko urang minang, gadang di parantauan bahkan laia di rantau.
    tapi karano rang gaek selalu mengajari wak adat minang, jadi saketek banyak ambo tau tentang minang. kalau bisa dibilang saya bahkan bangga dg orang tua saya yg masih memegang teguh adat, sementara beberapa kawan saya seperantauan (sama-sama orang minang) tidak tahu dan bahkan tidak ingin tahu tentang asal-usulnya.
    tapi saya yakin kalau banyak orang macam anda dan saya (yg juga sedang belajar ttg adat ini) adat minang tetap akan terjaga. I wish..

    Like

  5. Kalau uni tak begitu cemas akan hilangnya adat, sebab uni yakin kebenaran tidak kan hilang di muka bumi, selama adat minang masih basandi syarak, syarak basadi kitabullah….:) yg baik gak bakal ilang.

    Like

  6. Memang ni Meiy. Upacara-upacara adat mungkin tak masalah jika hilang, bahkan saya sepakat kalau upacara yang tak ada gunanya dibuang saja. Tabuik Pariaman itu bukankah acara sia-sia? Bikin barang trus dibuang, demi menyenangkan hati turis. Adat dan kebiasaan apa itu?

    Yang penting identitas minangnya ya Ni Meiy. “Orang minang yang relijius” itu yang tak boleh hilang. Komponen adat yang sifatnya seremonial, itu yang tidak penting.

    Like

  7. Saya juga prihatin dgn mulai lunturnya adat istiadat daerah terkhusus minang.. Tapi kalau mau bertahan, memang sebaiknya diajarkan cara berbalas pantun, bermain silat, petatah petitih dan asal usul juga hukum adat dan kehidupan surau pada anak didik sejak mulai sd hingga smu.. Apa ini sudah ada atau blum? Saat sy lahir, sekolah hingga sma di padang lalu merantau ke jawa, sy tidak dibekali sklah dgn adat istiadat.. Mmg waktu itu orde baru lg kuat2nya.. Tuk sekarang yg otonomi daerah seharusnya adalah peluang emas untuk kembali ke jati diri keminangan kita.. Keberhasilan orang minang dulu pasti dibekali nilai2 minang.. Orang minang sekarang sepertinya tidak lagi.. Orang sekarang cenderung individual dan opportunistis bermental materialis penghamba uang bukan lg orang minang yg idealist yg byk ide, byk akal dan pemikir.. Kembali ke surau adlah salah satu kunci pembuka stagnannya orang minang memproduksi tokoh2 utama.. Minimal 2x seminggu anak2 minang harus hidup disurau tuk memperkuat jati diri atau minang cuma jadi nostalgia belaka tanpa bisa kembali jaya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s