Bemo + Oto Kerajaan

Entah kenapa saya jadi kangen naik bemo, kendaraan roda tiga yang tampilan depannya monyong. Kira-kira sudah 7 tahun nggak naik kendaraan ini.

Saya nggak tahu pasti bemo ini bikinan mana, tapi waktu bemo masih jaya di Bukittinggi, saya pernah lihat ada lambang Daihatsu pada stir bemo yang saya tumpangi. Kata Bapak saya, bemo memang keluaran Daihatsu.

Bemo beda dengan bajaj, kendaraan bikinan India yang lekat dengan Jakarta. Kalau bajaj lebih mirip motor beroda tiga dan nggak punya stir melainkan pakai stang kayak skuter. Kalau bemo lebih mirip mobil, ada stirnya. Bemo bisa memuat 8 orang (+ 2 orang di bagian depan), sedang bajaj maksimal 4 orang dengan sopir.

Bemo

Sejak tahun 1999/2000, bemo resmi menghilang dari Bukittinggi. Sayang sekali, padahal saya kalau kebetulan disuruh ibu nemenin belanja ke Pasa Bawah atau Pasa Banto, bemo jadi tumpangan favorit. Walaupun suaranya riuh dan asapnya minta ampun banyaknya, ada sensasi tersendiri ketika menaikinya.

Kalau di kota Padang, tahun lalu saya masih lihat ada bemo. Beberapa tampak masih bagus bemonya, nggak butut kayak angkot jurusan Cicaheum – Ciroyom di Bandung.

Selain bemo, saya juga ingat sama oto karajaan yang dahulu jadi moda angkutan dari Bukittinggi ke nagari-nagari di sekitar ngarai Sianok. Disebut oto karajaan (mobil kerajaan) karena tampangnya yang antik. Lha iya mobilnya itu Chevrolet keluaran 1940-an. Kendaraan sejenis juga digunakan kakek saya (beliau ini pengusaha angkutan) untuk angkutan dari Bukittinggi ke daerah sekitarnya tahun 1960an.

Oto karajaan ini sangat tangguh. Walau usianya sudah begitu tua, body mobil sudah ditambal sana sini (bahkan rangka mobil sampai ada yang diganti kayu), suara mesinnya ganas, tapi masih sanggup mendaki dengan kemiringan ~60 derajat sejauh ~500 meter! Jalur angkutan ini memang sangat sulit, melintasi ngarai dan salah satu rintangan yang harus dilewati adalah tanjakan curam dari dasar ngarai menuju Bukittinggi.

Terakhir kali saya naik angkutan ini 13 tahun lalu, menuju daerah sentra produksi karak kaliang, makanan khas Bukittinggi selain kerupuk Sanjai. Karak kaliang memang diproduksi warga yang berdomisili di ngarai Sianok, dan oto kerajaan ini menjadi wahana penting pengembangan usaha mereka. Sungguh tak terbayangkan, mobil tua begitu dipaksa mendaki/menuruni jalanan curam. Saya yang saat itu masih bocah merasa takut juga, berharap cemas agar rem dan mesin mobil tak mengalami sesuatu yang mengerikan.

Sekarang, oto kerajaan ini sudah dicabut izinnya (kalo gak salah, berbarengan dengan pencabutan izin bemo). Angkutan ke ngarai Sianok diganti dengan mobil kijang milik perusahaan Ikabe. Sensasi jalan-jalan ke ngarai Sianok jadi berkurang deh, tapi kalau izin jalan mobil itu tidak ditarik malah bisa bahaya.

Gambar dari sini: http://www.expat.or.id/

This Post was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

5 thoughts on “Bemo + Oto Kerajaan

  1. udah tua banget tu bemo-nya…saya setuju kalo izinnya dicabut, asalkan diganti sama transpotasi publik yang lebih layak. Gimana masyarakat mau betah naik transportasi publik, kalo alat transportasinya aja kayak gitu..

    Like

  2. Krupuk Sanjai itu krupuk dari bahan singkong. Dinamakan krupuk sanjai karena yang bikin tinggal di nagari (desa) bernama Sanjai, di kota Bukittinggi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s