Open Mind to Terabithia

Bridge to TerabithiaBridge to Terabithia. Film keluarga yang bagus, mengajak para orang tua untuk menghadirkan sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anaknya. Anak-anak menyukai fantasi, dan mereka tak menyukai kekerasan dan yang berbau serius.

Jess Aarons, anak lelaki yang selalu merasa tersingkir. Di rumahnya, dia tak mendapat perhatian banyak dari orang tuanya, sedangkan di sekolah dia tak punya teman, dan seringkali dijahili. Jess senang menghabiskan hari-harinya dengan melukis, sekedar menumpahkan fantasinya. Lalu keadaan berubah ketika hadir murid baru di sekolah, Leslie Burke.

Orang tua Leslie adalah pengarang, dan ini berpengaruh pada Leslie yang sangat senang bermain sambil berfantasi. Leslie tidak diajarkan mengenal televisi, karena menurut orang tuanya, televisi bisa merusak pikiran anak sepertinya.

Dan Leslie pun berteman baik dengan Jess. Bermain bersama, berfantasi bersama. “Just close your eyes and keep your mind wide open,” kata Leslie. Mereka ciptakan dunia fantasi mereka: Terabithia, di hutan tempat bermain mereka. Menghadapi monster pohon dan prajurit tupai yang hendak menghancurkan Terabithia. Tampak konyol mungkin bagi orang dewasa, tapi apakah ada hal yang terlalu konyol bagi anak-anak?

Bridge to TerabithiaPersahabatan mereka, fantasi mereka, itu yang membuat orang tua Jess berubah, terlebih ketika Leslie meninggal dunia karena mengalami kecelakaan saat bermain. Jess menemukan seorang teman baik saat dia disia-siakan, dan sekarang teman baik itu pergi. Dia sangat kehilangan. Namun beruntung, orang tua Jess menyadari bahwa betapa mereka selama ini telah berbuat buruk terhadap putra mereka sendiri.

Menatap hari-hari ini, ketika ramai kabar tentang kekasaran orang tua terhadap anak kandungnya sendiri, sampai darah muncrat ke tangan ayah yang membanting putrinya yang masih balita. Ketika sajian televisi tak satupun memberikan vitamin pencerdasan bagi mereka yang otaknya sedang dalam masa perkembangan. Ketika media digital menggantikan permainan gobak sodor, bentengan, lompat tali.

Tak heran ketika siswa SMP pun berani menonton film dewasa, bahkan mencabuli bocah tetangganya yang masih SD. Saat di SMA, emosinya begitu cepat tumbuh sehingga mereka senang tawuran. Dan bisa jadi, perilaku korupsi orang-orang dewasa pun merupakan pengaruh dari masa kecil mereka.

Anak mestinya bebas bergerak di dunia mereka (tentunya, dengan catatan orang tua yang baik tidak akan membiarkan anaknya tersesat). Dengan demikian, mereka membangun jalan mereka, tumbuh dengan idealisme, dan ketika dewasa, mereka sanggup menata dunia yang baik bagi banyak orang.

Jesse Aarons: Leslie Burke told me to keep my mind wide open.
Ms. Edmonds: And she’s right. With a mind like yours wide open, you could create a whole new world.

This Post was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

10 thoughts on “Open Mind to Terabithia

  1. Wah Ed makasih info film bagusnya nih, beruntunglah uni bw pagi ini kerumah mu.Televisi sekarang sangat susah dipisahkan sejak bayi sudah disodori “parintang” yaitu televisi. Anakku 3 th baru bangun tidur kata pertamanya “susu , nonton”…..

    Like

  2. “Ketika media digital menggantikan permainan gobak sodor, bentengan, lompat tali.”

    batuan bana edward kini indak ado anak anak ketek main basomo samo dilapangan alah digantikan dek era digital. main game jo nonton tv sajo hobinyo indak kenal jo permainan masa kanak kanak yang umumnyo mengajarkan nilai nilai kebersamaan dan penghargaan terhadap kemenangan dan juga yang kalah….

    Like

  3. waah si ed masih lajang se alah baiko rancak pikirannyo ttg pendidikan

    postingan rancak ed, mokasi pencerahan utk ibu2 kaya uni ko. film ko bisa di bali kan…

    Like

  4. @Benx
    Walah… ketahuan… hehehe…
    Ampun bang… awak cuma donlod kok bang…

    BTW, di Amrik sudah dirilis sajak Februari. Di Indonesia antahlah…

    Like

  5. kemaren sempet kepengen beli film niy, tapi entah kenapa gak jadi (*karena lebih tertarik film yang lain*), tapi setelah baca rekomendasinya jadi kepengen beli lagi niy…

    Like

  6. Alah jadi manonton film ko? Yo sabana rancak filmnyo, asal…. dengan catatan…. sebagai orang dewasa kita bisa melepaskan ego dewasa dalam diri kita. Tontonlah film ini dan cobalah sejenak menjadi anak-anak….. pasti 2 jempol🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s