Hujan Bulan Juni

Si Isman yang pertama kali ngenalin saya sama puisi ini.

Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Nah, masalahnya sekarang, kenapa hujan bulan Juni tak lagi bijak, tabah dan arif? Tak lagi dirahasiakannya rintik rindunya pada pohon berbunga, sehingga sang hujan masih sering turun dan bikin bingung pegawai BMG (ini terungkap dari wawancara Metro TV dengan orang BMG pertengahan Mei lalu). Pun, tak lagi dibiarkan yang tak terucap diserap akar pohon bunga, sehingga banjir masih terjadi di beberapa tempat.

PEmmm…. bukan hujannya yang gak bijak. Maaf tadi salah menuduh. Jelas-jelas sebagian manusia yang gak bijak: menebang hutan sembarangan, buang sampah di sungai, membeton jalan tapi tak bikin saluran air (yang tinggal di gang-gang sempit di kota Bandung, perhatiin deh, saluran air/got kecil itu barang langka), emisi karbon pemicu pemanasan global, dan sebagainya. Jadi, hujan bulan Juni tetap bijak.

BTW, maksud dari puisinya Sapardi tadi itu apa ya? Apa yang sedang beliau ekspresikan dengan hujan bulan Juni? Ada yang tau? Terus terang, walau saya suka baca puisi tapi seringkali susah menerjemahkan maksud dari puisi-puisi yang saya baca. Kalau puisinya Taufik Ismail mungkin masih mendingan, karena beliau mengutarakan maksudnya dengan gamblang. Kalau Sapardi, Chairil Anwar dsb? Baca puisinya si Isman, Uni Ur dan Uni Meiy aja saya suka bingung😛

This Post was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

4 thoughts on “Hujan Bulan Juni

  1. wah, Sapardi! favorit saya juga tuh…
    artinya? sama nggak tahu…tapi kalo ‘dirasa’ indah aja, ed…entah kenapa. kekuatan kata-kata, mungkin.
    Atau mungkin…saaat bulan juni biasanya ujan sedikit dan merintik, seolah ragu untuk meninggalkan alam…tentang kerinduan dan perpisahan kali ya? *sok tau*

    Like

  2. Ada yang pernah mengartikan ini seperti seseorang yang berada bukan pada tempatnya, tetapi tabah menjalaninya (pergantian musim yang normal,jaman dulu barangkali, bulan juni biasanya musim pancaroba. Hujan yang turun di bulan itu cukup langka dan menjadi tanda tanya). Saya juga kurang tahu arti sebenarnya, kita tanya pak Sapardi aja🙂

    Like

  3. udah dua kali liat puisi ini minggu ini, pertamax dapat dr milis sarikata, keduax ini hehehe

    salut utk ini ed:…”Emmm…. bukan hujannya yang gak bijak. Maaf tadi salah menuduh. Jelas-jelas sebagian manusia yang gak bijak: menebang hutan sembarangan, buang sampah di sungai, membeton jalan tapi tak bikin saluran air (yang tinggal di gang-gang sempit di kota Bandung, perhatiin deh, saluran air/got kecil itu barang langka), emisi karbon pemicu pemanasan global, dan sebagainya. Jadi, hujan bulan Juni tetap bijak.”

    uni juga suko sapardi diak, tapi puisi tetaplah ambigu, hanya penyair yg bersangkutan yg benar2 tahu arti realnya.

    kalo uni bukan penyair, hanya sekedar nulis, melepaskan yg terasa, terpikir, dsb…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s