Dad

Sebagai lelaki, tentu saya kelak akan menjadi ayah, jika saja الله memberikan kesempatan untuk menikah dan memiliki anak. Bagaimana rasanya? Entah, saya belum berani membayangkan akan jadi ayah yang seperti apa. Namun dari apa yang telah saya pelajari dan rasakan (sebagai seorang anak), pastinya menjadi ayah tidaklah sederhana. Sama rumitnya seperti seorang perempuan menjadi ibu.

Di rumah, saya lebih dekat sama ibu ketimbang ayah. Berbicara dari hati ke hati lebih enak sama ibu. Termasuk, ketika pertama kali merasakan ‘sensasi’ kedekatan dengan perempuan di masa remaja, saya langsung bicara sama ibu, dan sama sekali gak ngobrol ke ayah. Dengan ayah, hubungan lebih kepada hal-hal yang ‘cowok banget’, seperti memperbaiki rumah, membuat kandang buat hewan peliharaan, atau setidaknya beliau bercerita tentang ‘kegagahannya’ di masa muda.

Selebihnya, ayah saya tak senang saya terlalu lama berdiam di rumah. Kalau hari libur, pasti saya disuruh keluar, gak boleh berdiam diri terus-terusan di rumah. Main sepeda kek, main bola kek, nongkrong di warung kek, apapun lah, asal nggak ngendon di rumah. “Bantuak padusi se ang kalau di rumah taruih,” (“kayak cewek aja kalo di nongkrong di rumah“) begitu kata beliau.

Yeah, cowok memang tak berminat pada hal-hal yang dianggap remeh. Seorang ayah bertanggung jawab terhadap nafkah dan rasa aman dalam keluarga. Hal-hal yang sifatnya psikologis, lebih baik diurus oleh ibu. Intuisi perempuan memang lebih baik, dan karena itu mereka lebih jago untuk urusan ini. Dan lagi, hubungan ayah dengan anak lelaki (yang beranjak dewasa) juga akan dipengaruhi ego dan pride. Misalnya, lelaki remaja akan merasa sedikit canggung berjalan ke masjid buat shalat Jum’at bersama ayahnya.

Tapi, jika dikatakan bahwa lelaki tak punya hati, atau hati seorang ayah gak peduli sama anaknya, pastinya itu salah besar. Seperti yang saya bilang tadi, ada pride dan ego yang menghalangi ungkapan hati seorang ayah ke anak lelakinya, dan begitupun sebaliknya. Ketika mengucap salam perpisahan ke ayah saat saya hendak berangkat ke Bandung 5 tahun lalu, saya berusaha keras untuk menahan air mata, padahal sebelumnya, ketika bersalaman sama ibu dan saudara-saudara saya (yang semuanya perempuan), tangis ini tumpah tanpa sanggup dibendung. Dan saya tahu bahwa ayah saat itu melakukan hal yang sama. Saya bisa melihat rona sedih di mukanya, dan saya tahu beliau juga berusaha untuk tidak menangis. Tapi beliau saat itu hanya tersenyum, dan nada tegas tak hilang ketika beliau mengatakan selamat jalan.

Ada sebuah film buatan perusahaan film Turki yang bercerita tentang hubungan ayah dan anak lelaki. Judulnya Babam ve Oglum — lihat sinopsis di IMDB. Saya tak tahu apakah film ini beredar di Indonesia atau tidak (saya nonton film ini sebagai hasil download dari internet). Yang jelas, film ini sangat bagus dan menyentuh. Tentang seorang bapak bernama Huseyn yang berselisih dengan anaknya, Sadyk. Namun pada kenyataannya sang anak tetap ada di hati sang ayah.

Sadyk kemudian tinggal di kota, meninggalkan kampung halamannya. Sang ayah menyekolahkan anaknya ke universitas di Istambul untuk mempelajari pertanian, sehingga bisa meneruskan usaha pertanian keluarga. Tapi Sadyk kemudian menjadi aktivis, setelah tamat dia jadi jurnalis yang banyak mengkritik pemerintah. Huseyn tak suka, dia ingin anaknya bekerja melanjutkan usaha pertaniannya. Dan akhirnya Huseyn bertengkar dengan Sadyk, lalu Sadyk memutuskan untuk pergi dari kampung dan menetap di kota.

Hanya saja, Sadyk akhirnya kembali ke kampung setelah beberapa kejadian menimpa. Istrinya meninggal dunia ketika melahirkan anak pertama mereka yang diberi nama Deniz. Bertepatan dengan itu, terjadi kudeta militer, Sadyk ditangkap dan mengalami penyiksaan di penjara. Setelah bebas, Sadyk mengalami penyakit paru-paru akibat siksaan di penjara itu, dan klaim dokter usianya takkan lama lagi. Karena itu Sadyk pulang ke kampung dengan membawa Deniz, agar Deniz tetap memiliki keluarga yang menyayanginya.

Awalnya Huseyn tetap tak bisa menerima kehadiran Sadyk. Tapi itu tak lama, karena memang hati tak bisa lama-lama menahan dusta. Ketika akhirnya Sadyk harus masuk rumah sakit, kemudian meninggal dunia, Huseyn sangat terguncang. Ia menyesal kenapa dulu tidak menahan Sadyk yang pergi dari rumah. Ditambah lagi dengan kehadiran Deniz yang baru berusia 7 tahun namun harus kehilangan ayahnya, cerita jadi semakin mengharukan.

Di film ini diungkapkan sisi-sisi emosional hubungan ayah dengan anak lelaki. Antara Huseyn dengan Sadyk, antara Sadyk dengan Deniz. Hubungan yang biasanya tak ditampakkan secara terbuka. Kisah cinta suami dengan istri jelas sekali terlihat sisi emosionalnya, namun sisi emosional hubungan ayah dengan anak lelaki (dan mungkin juga hubungan dengan saudara lelaki) lebih jarang terungkap.

Diiringi Titip Rindu Buat Ayah (Ebiet G. Ade)
Mengenang 5 tahun merantau ke Bandung (31 Mei 2002 – 31 Mei 2007).

This Post was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

One thought on “Dad

  1. Ayah terkadang keras dan mungkin terkesan egois. Tapi beliau sangat melindungi keluarga.

    Walaupun seorang lelaki, ayah tetap punya perasaan halus. Hal itu terbukti ketika saya merantau dan ketika kakak saya berhasil menjadi sarjana. Air mata beliau memang tidak keluar, namun tampak sekali beliau berusaha keras untuk menahannya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s