Gelar Budaya Aceh

Aaahhh…. tak tahan juga akhirnya buat posting, padahal udah niat puasa ngeblog selama 3 minggu. Tapi mudah-mudahan ini jadi postingan terakhir untuk bulan ini …😦

Dalam sebulan terakhir, ada beberapa pertunjukan kebudayaan yang ditampilkan unit-unit kegiatan mahasiswa. Sekitar awal April ada pertunjukan budaya Bali dari MGG (Maha Gotra Ganesa). Lalu, akhir April UKM (Unit Kesenian Minangkabau) ITB beraksi. Awal Mei ini kampus disuguhi Gelar Budaya Aceh IV yang diadakan Unit Kebudayaan Aceh (UKA) ITB.

Acaranya MGG saya tidak nonton. Acaranya UKM, pastinya nonton lah. Hmm… semakin hari semakin keren penampilannya anak UKM, apalagi tanggal 28 April itu mereka beraksi di Sabuga ITB, salah satu gedung pertunjukan yang bagus di Bandung. Tapi pada kesempatan ini, saya hanya mau menulis tentang acaranya UKA, yang diadakan 5 Mei (tadi malam), di lapangan basket Campus Center ITB.

Acara ini merupakan kolaborasi dengan berbagai lembaga seni pelajar/mahasiswa seperti mahasiswa IAIN Ar Raniry Banda Aceh dan dari TPA (Taman Pelajar Aceh) Yogyakarta. Ditambah dengan hadirnya Rafly (penyanyi Aceh yang ngetop lewat lagu kenangan tsunami-nya), klop lah acara ini.

Menarik sekali memang kebudayaan orang Aceh ini. Mereka sangat pantas untuk bangga dengan budaya mereka yang begitu menghormati harga diri dan – yang paling penting – sangat lekat dengan nilai-nilai syariat. Hampir tak ada tarian yang tidak mengandung ucapan basmalah, syahadat, hamdalah dan sebagainya. Beberapa tarian juga memiliki makna ilustrasi peribadatan dan dakwah. Tak ada wilayah lain di Indonesia yang seni budayanya sebegitu religius. Bahkan Minangkabau sekalipun, yang punya jargon “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, seni budayanya tidaklah sereligius Aceh.

Beberapa tarian Aceh ternyata bentuknya sangat identik. Gerakan yang paling umum adalah duduk, bertepuk tangan dan menepuk dada, seperti pada tari Saman. Pada malam tanggal 5 Mei itu, tari-tari yang seperti itu antara lain tari Saman Gayo (bukan tari Saman yang biasa), Likok Pulo, Tareek Pukat, Rapa’i Geleng, Ratoeh Duek dan Rateeb Meusekat. Gerakan-gerakan pada tarian ini sebenarnya berbeda, tapi memiliki kesamaan pada harmonisme dan sangat dinamis.Gerakannya cepat dan serempak, dan ini yang membuat saya takjub. Tarian orang Minang memang memiliki ciri seperti ini juga, tapi tarian Aceh ini terasa sangat khas.

Tari yang gerakannya berbeda antara lain tari Ranup Lampuan dan Seudati. Ranup Lampuan tari yang sungguh terasa lembut, dan tari Seudati sangat jantan. Mungkin karena karakter pemainnya berbeda, Ranup Lampuan dibawakan oleh perempuan, sedangkan Seudati semua penarinya lelaki. Peruntukannya juga berbeda, Ranup Lampuan merupakan tarian penyambut tamu sedangkan Seudati adalah tari perjuangan. Tari Seudati konon dulu pernah dilarang oleh penjajah Belanda, karena syair-syairnya yang membangkitkan semangat juang.

Sayang belum ada foto-foto yang bisa diupload kesini. Insya Allah menyusul nanti.

Selamat buat Aceh … Semoga pembangunan negerinya berjalan dengan lancar. Wujudkan Aceh yang madani dengan syariat, dan seni budaya ini tetap terjaga, tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.

This Post was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

2 thoughts on “Gelar Budaya Aceh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s