Aso Palarai Ratok

Ada iklan dari teman-teman yang ikutan UKM (Unit Kesenian Minangkabau) Institut Teknologi Bandung:

Dalam rangka memperingati DIES NATALIS 32 UKM ITB, kami dengan bangga mempersembahkan

PAGELARAN SENI DAN BUDAYA MINANGKABAU

ASO PALARAI RATOK

Sabtu, 28 April 2007
Jam 18.30 WIB – selesai

@SABUGA ITB

Ada lanjutannya:
TIKET ACARA PAGELARAN UNIT KESENIAN MINANGKABAU
@ SABUGA ITB, 28 April 2007

Rp. 15.000

STAND PENJUALAN DI GERBANG GANESHA ITB
PUKUL 09.00 – 17.00 WIB

Juga tersedia di:

  • Rumah Makan Pondok Kapau (Jl. Dipati Ukur, Bandung)
  • Rumah Makan Pagi Sore (Jl. Tubagus Ismail, Bandung)

SEBAGIAN DANA AKAN DISUMBANGKAN UNTUK
KORBAN BENCANA GEMPA SUMATERA BARAT

Bade ngiluan? Hayu atuh …
———————————————-
Mo nambahin sedikit.
Semasa di kampung halaman dulu, aku lihat hanya segelintir saja orang-orang yang menggeluti seni tradisional. Tukang kaba, randai, talempong, dan tari-tari tradisional jarang sekali diminati, dan kalaupun ada, itu pun orang tua-tua.

Pernah di nagari tempat asalku diadakan acara bakaba samalam suntuak, dimana sepanjang malam didendangkan cerita klasik dengan diiringi alunan saluang. Dahsyat? Tentu. Itu acaranya nonstop. Bayangin aja si peniup saluang, seorang kakek tua, dia meniup saluangnya tanpa berhenti sepanjang malam.

Dulu aku nggak terlalu memusingkannya, walau cukup berminat menyaksikan. Sekarang kepikiran, kenapa sedikit sekali pemuda-pemuda Minang di kampung yang meminati berbagai produk budaya tradisional yang sebenarnya sarat muatan kemanusiaan ini?

Mungkin karena di sekolah-sekolah budaya Minangkabau ini tak diajarkan secara menyeluruh? Dulu, waktu SD dan SMP memang ada pelajaran Budaya Alam Minangkabau. Namun muatannya terlalu sedikit dan rasanya tidak cukup mendorong murid untuk menyukai seni budaya nenek moyang mereka.

Aku sendiri merasakan “indahnya” seni Minangkabau setelah beberapa lama di perantauan. Hmmm …

3 thoughts on “Aso Palarai Ratok

  1. budaya Indonesia gak mengasyikkan ato tidak dibuat asyik. ntar aku reply deh di blog (setelah lulus dulu tapi :p hehe…).aku juga miris ngeliat keadaan sekarang kayak gitu.

    Like

  2. Wah bang Lontong, kalo kupikir sih karena “gak dibuat asyik”. Aku liat anak2 UKJ begitu semangatnya belajar bahasa Jepang, sampai hapal lagu dan bisa menari tarian tradisional Jepang. Karena mereka mengemas budaya itu dengan baik.

    Di UKM juga begitu. Anak2 Minang rantau pada suka tarian dan nyanyian tradisional di sini, di perantauan, karena baru kerasa asyiknya. Aku gak yakin dulu (ketika masih di kampung) pemuda2 perantau ini punya minat yang besar terhadap kebudayaan daerah mereka.

    Like

  3. HATI – HATI MAKAN DI RUMAH MAKAN PONDOK KAPAU Simpang dago
    Pengalaman pribadi setelah makan padang disitu, langsung sakit perut. dan ternyata teman – teman saya pun sama, setelah ditelusuri. sepertinya air minumnya tidak di masak dengan benar, selain rasanya kurang enak juga warnanya tidak jernih. yang membuat saya kesal selama makan juga kurang enak rasanya keasinan. dan pelayanannya tidak ramah, karena saat saya complain, pelayan tersebut dengan wajah yang kurang menyenangkan menjawab pertanyaan yang saya ajukan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s