Filosofi Diri

Ada satu kalimat dari dosen mata kuliah Filsafat Ilmu (salah satu mata kuliah pilihan di ITB), pak Armahedi Mahzar. “Jika saya mengajar dan anda mengikuti semua apa yang saya ajarkan, berarti saya sudah gagal”. Beliau menyatakan hal ini dengan mengacu ke mata kuliah yang beliau ajar, sebuah mata kuliah sosial, berbeda dengan mata kuliah sains dan teknik yang umum di ITB.

Kalau di jurusan yang ada di ITB (yang semuanya berbasis sains dan teknologi kecuali SBM – Sekolah Bisnis dan Manajemen), dosen-dosen mengajar dan mahasiswa mengikuti apa yang diajarkan. Misalkan dosen fisika kuantum mengajar tentang operator Hamiltonian, maka mahasiswa mesti memahami dan menggunakan operator Hamiltonian itu dalam soal. Sebab, sains sifatnya eksak (dalam kerangka acuan tertentu). Dosen justru berhasil kalau mahasiswanya bisa menggunakan formula yang dia ajarkan.

Berbeda dengan filsafat dan mungkin juga ilmu-ilmu sosial lain, semua tergantung pada personalnya. Apa yang diajarkan dosen tidak eksak, dan mahasiswa mesti kritis dan kreatif dalam menerimanya. Jadi kalau mahasiswa ngikut aja apa kata dosen, berarti dosennya gagal.

Aku sepakat sama pak Armahedi, namun sehabis kuliah aku jadi berpikir, kenapa aku merasa mahasiswa sekarang banyak yang berpikirnya pragmatis? Salah satu sebabnya, karena seperti yang dibilang pak Armahedi tadi: dosen ngajar dan mahasiswa ngikut aja. Mestinya prinsip pak Armahedi tadi tu dipakai juga buat dosen-dosen sains dan teknik.

Contoh kasus beberapa dosen di fakultas MIPA. Ngajar, tapi tidak kualitatif, lebih menekankan ke aspek matematis ketimbang fisis padahal ilmu di MIPA adalah ilmu natural yang pengetahuan kuantitatif (seperti rumus dan angka-angka) harus didasari oleh pengetahuan kualitatif (penjelasan fisis). Selain itu, soal ujian diambil dari soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Alhasil mahasiswa hanya berpikir bagaimana menyelesaikan rumus, dan menjelang ujian, waktu belajar hanya digunakan untuk meminjam dan membaca lembaran soal milik senior dan meminta solusi soal tersebut. Dengan sedikit kemampuan menghafal rumus, nilai A sudah bisa didapat. Praktis, dan karena terbiasa dengan hal itu, mahasiswa pun jadi pragmatis.

Pertanyaan-pertanyaan “mengapa” kini jarang terlontar. Mengapa gelombang gravitasi bergerak dengan kecepatan cahaya? Mengapa akibat adanya aliran gelombang gravitasi, partikel-partikel yang tersusun membentuk lingkaran berubah bentuk menjadi elips? Nggak ada yang menanyakan hal ini di kelas Astrofisika Relativistik yang aku ikuti. Semua ngikutin aja kata bu dosen yang menjelaskan teori gelombang gravitasi itu dengan persamaan medan Einstein dan menuliskan penurunannya di papan tulis dengan menggunakan transformasi Lorentz.

Dan bodohnya, aku termasuk orang yang gak nanya… Nah lho, kena deh…

Ngomong nulis apa sih aku ini?

Sebenarnya tahun ini aku cukup beruntung mendapatkan dosen yang ngajar secara kualitatif seperti pak Freddy Haryanto (Termodinamika), pak Zaki (Fisika Kuantum) dan bu Premana (Astrofisika Relativistik). Permasalahn klasiknya sih, aku terlalu pemalas, tapi masih dengan santainya menggugat sistem dan menjadikannya kambing hitam. Duh…

Ayo ayo… harus berubah nih! Gak boleh malas!

Hehe, judulnya nyambung gak ya?

One thought on “Filosofi Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s