Dua Puluh Tiga

Friday the 13th adalah serial horor kesukaanku waktu masih kecil. Masih jaman-jaman TK dulu deh. Biasanya aku nonton ditemani bapakku, jadnya nggak takut pas nonton. Masalah muncul ketika saatnya untuk masuk kamar dan tidur, karena menjelang tidur justru wajah manusia serigala dalam tayangan itu datang menghantui.

Tapi disini aku tidak sedang ingin menceritakan serial horor ini. Friday, April 13th, 23 tahun lalu adalah hari kelahiranku. Hm, not too special sih (untuk menjaga konsistensi dengan postinganku yang ini). Hanya saja setiap 13 April aku ingat kenangan masa kecil.

Sejak dulu, orang tuaku membiasakan adanya perayaan ultah kecil-kecilan bagi keempat anaknya. Tujuannya? Ya biar anak-anak pada senang. 13 April buatku, 1 Mei buat kakak pertama, 6 Mei buat adik dan 21 Oktober buat kakak kedua.

Dulu aku pernah dapat tas, sepatu, baju. Namun yang paling sering (dan biasanya ditunggu-tunggu) adalah satu pak buku tulis merek Big Boss. Kenapa? Karena buku tulis ini gambarnya bagus-bagus. Yang paling kusuka adalah buku tulis yang bergambar kepala suku Indian dan yang bergambar kepala macan. Macho… Untuk kado buku Big Boss ini, hampir setiap tahun Papa membelikannya.

Yang membelikan kado tidak hanya Papa dan Mama, tapi juga saudara-saudara yang lain. Jadi setiap tahun, pihak yang berulang tahun mendapatkan setidaknya 5 buah kado. Semua senang, semua gembira. Padahal, kue yang dibuat hanyalah kue ongol-ongol dari tepung Hung Kwe (Para ibu mestinya kenal sama tepung ini. Aku masih inget, bungkusnya bergambar burung Enggang). Minuman dari sirup ABC, dan acara hiburan sekedarnya, kalau ada anggota keluarga yang mau menyanyi atau baca puisi.

Setelah kami beranjak dewasa, kebiasaan perayaan ultah ini masih berlanjut tapi dengan suasana yang lebih memudar. Ada sedikit gengsi lah, udah gede masih ngerayain ultah kayak anak kecil. Tapi, setelah aku ‘dimutasikan’ ke Bandung, kenangan masa kecil ini selalu muncul di malam 13 April, dan membuatku ingin berjalan-jalan menembus ruang-waktu kesana.

Kedekatan dan harmonisme keluarga. Itu mungkin yang ingin diajarkan Papa dan Mama kepada kami, anak-anaknya. Dan terasa saat ini, saat jauh dari keluarga.

Ketika kelak aku berkeluarga, aku juga akan mengajarkannya kepada putra-putriku.

BTW, usia udah 23 tahun tapi masih kuliah. Padahal ada temen, usia sama tapi beberapa hari yang lalu baru saja melahirkan putra pertamanya. Duh, jadi iri…

This Post was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s