Pembunuh

[OOT]Setelah sekian lama vakum, ku mulai ingin menulis lagi[/OOT]

Dulu, waktu aku masih SMA, ada beberapa alumni yang kuliah di STPDN – kini IPDN – berkunjung ke sekolah. Promosi tempat kuliah mereka, begitu lah kira-kira. Saat itu yang menarik adalah, katanya biaya kuliah disana ditanggung oleh pemerintah. Hanya saja waktu itu aku beranggapan, abis kuliah disana ntar kerja di kantor pemerintahan. Aku mau-mau saja jadi PNS, tapi kalau di kantor walikota atau kantor camat, kayaknya entar dulu deh.

Sampai sekarang, kupikir kuliah di STPDN atau IPDN itu buat bikin calon-calon birokrat. Makanya nggak habis pikir, kenapa disana harus ada disiplin ala militer? Mana kebablasan lagi, sampai-sampai selalu ada yang mati tiap tahun disana…

Aku pernah jalan-jalan bareng anak-anak BEM ke AKMIL Magelang. Disana yang namanya kekerasan itu udah biasa. Saat berkunjung itu aku melihat sebarisan prajurit botak, tanpa baju (tapi tetep pake celana), sambil mengangkat senapan berlari-lari kecil keliling kompleks. Di tempat lain ada yang lagi disuruh push up, latian beladiri dsb. Aku nanya ke salah seorang taruna, apa didikan sana nggak terlalu keras? Dia jawab, itu resiko militer. Di medan perang bahkan keadaannya bisa lebih keras lagi, katanya.

Nah, untuk Akmil, aku maklum. Tapi STPDN eh IPDN?

Kuliah dengan sistem ketat dan penuh aturan itu entah apa gunanya. Kelak ketika lulus praja IPDN tidak menghadapi musuh bersenjata dan mengandalkan kekuatan fisik, tapi musuhnya adalah orang-orang berakal bulus, semacam penebang kayu liar yang suka bagi-bagi duit haram ke kantor bupati agar usaha nista mereka nggak diganggu. Filsafat jauh lebih pas buat praja ketimbang latihan baris-berbaris dibawah terik matahari sambil dibentakin dan dihajar senior.

Apalagi, melihat namanya: Institut Pemerintahan Dalam Negeri, maka output IPDN itu tetap orang-orang sipil. Bukan militer. Kupikir, sipil gak butuh cara-cara militer dalam menyelesaikan masalahnya. Lalu, kalo sipil dikasih didikan militer, dia bisa jadi arogan. Dan yah, tampaknya itulah yang terjadi: arogansi senior terhadap junior. Maka, junior harus pasrah dipukulin sampai mati sekalipun … Mendiang Cliff, praja asal Sulawesi yang meninggal baru-baru ini, baru merupakan satu contoh saja.

Bubarin lah IPDN tuh … Kalo kata koran Tempo (Kamis 5 April 2007) dalam karikaturnya, IPDN = Institut Pembunuhan Dalam Negeri. Birokrat kok mbunuh orang …

Image credit: http://www.tempointeraktif.com

This Post was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

2 thoughts on “Pembunuh

  1. kalo Akabri , mereka kan di lini depan, kalo ketangkep musuh, kudu tangguh kan…
    kalo si calon-pamong-paraja-better-go-to-hell aja deh!rektornya harus diganti dari orang pendidik, bukan mendagri kali ya…”pembina” alsumni STPDN juga diusir-usirin aja…biar ngga ada budaya gue-ditonjok-senior-gue-bales-nampar-junior-gue

    oh yea, thanks u lah singgah di tampek uni yo…;))

    Like

  2. To Si kiky Coba loe cari deh Rekaman HP kekerasan anggota TNI di Ambon, baru loe tau TNI tu sama aja coba loe cari deh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s