Es Lilin

Lagu berirama tradisional Melayu dari Siti Nurhaliza. Liriknya lucu.
Sebagai orang dari rumpun Melayu, senang aku mendengarnya.

Ini Es Lilin aduh…sudah terpuji
Rasanya manis aduh… sedap sekali
Dibeli orang aduh… di sana sini
Masyhur namanya aduh… serata negeri

Es Lilin aduh… roti srikaya
Sayang sekali aduh… gulanya kurang
Mahu kahwin aduh… dengan si dia
Apa nasib aduh… disambar orang

Es Lilin ini aduh… enak rasanya
Sudikah benar tuan.. tuan dan nyonya
Buat bekalan aduh… anak di rumah
Ini Es Lilin aduh… bermacam warna

Es Lilin aduh… kelapa muda
Hujan datang aduh… angin meniup
Mahu kahwin aduh… duit tak ada
Baik membujang aduh… selama hidup

Es Lilin aduh… sungguh enaknya
Sayang sedikit aduh… kurang lemaknya
Maksud kahwin aduh… dengan anaknya
Sudah nasib aduh… dapat bapanya

Advertisements

3TU 4 UKM

Ada rasa puas tersendiri setelah menyaksikan acara puncak Dies Natalis UKM ITB, Sabtu (20070428) malam kemarin. Benar-benar sebuah pertunjukan dahsyat dari “seniman” yang aslinya adalah mahasiswa/i eksakta.

Acara dimulai sekitar jam 7 malam, dan berakhir jam 12 malam. Keseluruhan acara berupa gabungan drama – tari – musik. Boleh lah kalau disebut randai modern. Tajuk utama Dies Natalis UKM ITB tahun ini adalah Aso Palarai Ratok, dan tema pentas seni Gabak Manyalubuang Singkarak. Tema ini dipilih terkait dengan berbagai bencana yang menerpa ranah Minang beberapa waktu belakangan.

Review kutulis dalam 3 kategori: tari dan musik, performance artis dan faktor eksternal. Continue reading

Wisata Rohani

Agak mirip dengan postingan beberapa waktu sebelumnya (yang tentang Masjid Agung Bandung). Ini kepikiran lagi ketika lihat selebaran yang ditempel di sekitaran kost-an, dari pengurus masjid di daerah sana. Isinya, undangan untuk ikut dalam Wisata Rohani ke masjid kubah emas di Depok.

Hanya ingin mempertanyakan lagi apa itu wisata rohani? Kegiatan wisata biasanya digunakan untuk refreshing, menyegarkan otak dan tubuh yang sengsara dilanda kesibukan hari-hari. Wisata rohani, bisa berarti kegiatan wisata dengan tema religius. Atau, kegiatan wisata untuk menyegarkan suasana rohani.

Sampai disana tak ada masalah, barangkali. Nah, sekarang bagaimana kalau tempat beribadah dan tempat-tempat suci dijadikan obyek “wisata rohani”?
Continue reading

Aso Palarai Ratok

Ada iklan dari teman-teman yang ikutan UKM (Unit Kesenian Minangkabau) Institut Teknologi Bandung:

Dalam rangka memperingati DIES NATALIS 32 UKM ITB, kami dengan bangga mempersembahkan

PAGELARAN SENI DAN BUDAYA MINANGKABAU

ASO PALARAI RATOK

Sabtu, 28 April 2007
Jam 18.30 WIB – selesai

@SABUGA ITB

Ada lanjutannya:

TIKET ACARA PAGELARAN UNIT KESENIAN MINANGKABAU
@ SABUGA ITB, 28 April 2007

Rp. 15.000

STAND PENJUALAN DI GERBANG GANESHA ITB
PUKUL 09.00 – 17.00 WIB

Juga tersedia di:

  • Rumah Makan Pondok Kapau (Jl. Dipati Ukur, Bandung)
  • Rumah Makan Pagi Sore (Jl. Tubagus Ismail, Bandung)

SEBAGIAN DANA AKAN DISUMBANGKAN UNTUK
KORBAN BENCANA GEMPA SUMATERA BARAT

Bade ngiluan? Hayu atuh …
———————————————-
Mo nambahin sedikit.
Semasa di kampung halaman dulu, aku lihat hanya segelintir saja orang-orang yang menggeluti seni tradisional. Tukang kaba, randai, talempong, dan tari-tari tradisional jarang sekali diminati, dan kalaupun ada, itu pun orang tua-tua.

Pernah di nagari tempat asalku diadakan acara bakaba samalam suntuak, dimana sepanjang malam didendangkan cerita klasik dengan diiringi alunan saluang. Dahsyat? Tentu. Itu acaranya nonstop. Bayangin aja si peniup saluang, seorang kakek tua, dia meniup saluangnya tanpa berhenti sepanjang malam.

Dulu aku nggak terlalu memusingkannya, walau cukup berminat menyaksikan. Sekarang kepikiran, kenapa sedikit sekali pemuda-pemuda Minang di kampung yang meminati berbagai produk budaya tradisional yang sebenarnya sarat muatan kemanusiaan ini?

Mungkin karena di sekolah-sekolah budaya Minangkabau ini tak diajarkan secara menyeluruh? Dulu, waktu SD dan SMP memang ada pelajaran Budaya Alam Minangkabau. Namun muatannya terlalu sedikit dan rasanya tidak cukup mendorong murid untuk menyukai seni budaya nenek moyang mereka.

Aku sendiri merasakan “indahnya” seni Minangkabau setelah beberapa lama di perantauan. Hmmm …

Dua Puluh Tiga

Friday the 13th adalah serial horor kesukaanku waktu masih kecil. Masih jaman-jaman TK dulu deh. Biasanya aku nonton ditemani bapakku, jadnya nggak takut pas nonton. Masalah muncul ketika saatnya untuk masuk kamar dan tidur, karena menjelang tidur justru wajah manusia serigala dalam tayangan itu datang menghantui.

Tapi disini aku tidak sedang ingin menceritakan serial horor ini. Friday, April 13th, 23 tahun lalu adalah hari kelahiranku. Hm, not too special sih (untuk menjaga konsistensi dengan postinganku yang ini). Hanya saja setiap 13 April aku ingat kenangan masa kecil.

Sejak dulu, orang tuaku membiasakan adanya perayaan ultah kecil-kecilan bagi keempat anaknya. Tujuannya? Ya biar anak-anak pada senang. 13 April buatku, 1 Mei buat kakak pertama, 6 Mei buat adik dan 21 Oktober buat kakak kedua.

Dulu aku pernah dapat tas, sepatu, baju. Namun yang paling sering (dan biasanya ditunggu-tunggu) adalah satu pak buku tulis merek Big Boss. Kenapa? Karena buku tulis ini gambarnya bagus-bagus. Yang paling kusuka adalah buku tulis yang bergambar kepala suku Indian dan yang bergambar kepala macan. Macho… Untuk kado buku Big Boss ini, hampir setiap tahun Papa membelikannya.

Yang membelikan kado tidak hanya Papa dan Mama, tapi juga saudara-saudara yang lain. Jadi setiap tahun, pihak yang berulang tahun mendapatkan setidaknya 5 buah kado. Semua senang, semua gembira. Padahal, kue yang dibuat hanyalah kue ongol-ongol dari tepung Hung Kwe (Para ibu mestinya kenal sama tepung ini. Aku masih inget, bungkusnya bergambar burung Enggang). Minuman dari sirup ABC, dan acara hiburan sekedarnya, kalau ada anggota keluarga yang mau menyanyi atau baca puisi.

Setelah kami beranjak dewasa, kebiasaan perayaan ultah ini masih berlanjut tapi dengan suasana yang lebih memudar. Ada sedikit gengsi lah, udah gede masih ngerayain ultah kayak anak kecil. Tapi, setelah aku ‘dimutasikan’ ke Bandung, kenangan masa kecil ini selalu muncul di malam 13 April, dan membuatku ingin berjalan-jalan menembus ruang-waktu kesana.

Kedekatan dan harmonisme keluarga. Itu mungkin yang ingin diajarkan Papa dan Mama kepada kami, anak-anaknya. Dan terasa saat ini, saat jauh dari keluarga.

Ketika kelak aku berkeluarga, aku juga akan mengajarkannya kepada putra-putriku.

BTW, usia udah 23 tahun tapi masih kuliah. Padahal ada temen, usia sama tapi beberapa hari yang lalu baru saja melahirkan putra pertamanya. Duh, jadi iri…